
Setelah Aaron menyanggupi membantu Perusahaan Affandi, dengan cepat dia segera bertindak.
Terlebih dahulu, dalam sekejap semua berita negatif tentang Perusahaan Affandi hilang. Beberapa perusahaan yang ingin bekerja sama dengan Perusahaan Affandi kembali memiliki niat ingin bekerja sama.
Hanya dalam waktu sebentar, Perusahaan Affandi telah kembali ke posisi awal. Bahkan sampai ada orang yang berinisiatif datang untuk menanamkan modal.
Naura melihat dengan jelas semua ini dan suasana hatinya menjadi sangat kacau. Karena dia mengira kalau Aaron hanya berucap saja. Tidak menyangka, Aaron benar-benar turun tangan, bahkan membatu sampai seperti ini.
Di internet sesekali muncul komentar mengenai pabrik gelap Perusahaan Affandi, tapi dengan cepat komentar itu langsung hilang.
Media dan Weibo seakan kehilangan ingatan, lupa akan masalah ini, juga tidak ada orang yang mengungkit lagi.
Sedangkan Evelyn yang berada di luar negeri untuk promosi film terbarunya, juga sudah kembali. Kebetulan Naura hari ini menerima gaji dan ingin mengajak Evelyn keluar makan.
Sepulang kerja, yang menjemput Naura bukan Ivan, melainkan supir lain.
Begitu Naura naik ke mobil, dia langsung menyebutkan nama restoran ke supir. "Antar aku ke restoran itu, setelah itu tidak perlu menjemputku, aku akan pulang sendiri."
Samuel yang sudah mendapat banyak uang, sedang menghitung buku PR murid SD. Kemudian membalikan kepala melihat Naura. "Kamu mau kemana?"
"Makan dengan teman."
"Kalau begitu, aku ikut pergi."
Sebenarnya Naura tidak terlalu ingin membawa dia pergi, tapi akhirnya tetap membawa dia pergi.
Sesampainya direstoran, Evelyn begitu melihat Samuel, langsung bertanya kepada Naura. "Anak siapa ini? Aku tidak tau kerabat dari keluarga Affandi ada gen yang begitu baik seperti ini."
Samuel adalah seorang anak yang tampan, rambutnya sedikit bergelombang, kulitnya putih, terlihat polos seperti anak kecil, dan saat tersenyum sangat manis sekali.
Samuel memperkenalkan dirinya. "Aku Samuel. Samuel Ardinata.
"Pfft..." Evelyn yang baru meneguk teh langsung menyemburkan tehnya keluar.
Naura mengambil beberapa lembar tisu dan memberikannya ke Evelyn.
Dia belum memberitau Evelyn perihal Aaron Daffa. Jadi wajar kalau Evelyn langsung terkejut saat mendengar ucapan Samuel.
Samuel sendiri sama sekali tidak tau apa-apa, jelas saja dia juga ikut sangat terkejut melihat reaksi Evelyn.
Setelah dia duduk, dengan wajah penuh kebingungan bertanya kepada Naura. "Kenapa dengan namaku?"
"Tidak apa-apa. Namamu Bagus sekali." Jawab Naura sambil menepuk-nepuk pelan kepala Samuel.
Samuel hanya menanggapi "oh" kemudian duduk dengan tenang, sama sekali tidak seperti biasanya saat dia bersama dengan Naura.
Naura merasa, orang yang berasal dari keluarga Ardinata ini, satu persatu sangat pintar berakting.
"Samuel, adik sepupu Aaron." Selagi Naura merangkai kata-kata, Evelyn dengan mata yang masih melotot mendengarkan ucapan Naura. "Samuel yang dulu kamu lihat itu, dia adalah Aaron yang asli."
"Hah?" Evelyn mendengar dengan wajah tanpa ekspresi. Kemudian mengerutkan alis dan berkata: "Maksud kamu, 'Samuel' yang dulu itu adalah Aaron Daffa, sedangkan anak kecil ini baru Samuel yang asli?"
"Iya, seperti itu." Naura menganggukkan kepala, lalu tanpa sadar mengalihkan pandangan dan melihat wajah Samuel memerah. "Kenapa wajah kamu merah?"
"Malu lah." Sahut Evelyn yang masih dengan tatapan penuh kebingungan. "Bukan! Kenapa Aaron menyamar menjadi adik sepupunya sendiri? Apa dia bermasalah? Atau mungkin punya kepribadian ganda? Tidak benar, ini bukan poin utama! Poin utamanya adalah dia bukan seorang yang cacat. Lagipula, parasnya juga sangat tampan sekali!"
Samuel yang masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, saat ini akhirnya dia mengerti.
__ADS_1
Dia mengerutkan alis menatap Naura. Naura menuangkan minum ke gelasnya dan menyuruhnya untuk minum dengan patuh.
Naura kembali menatap ke Evelyn. "Pelan sedikit bicaranya."
Evelyn segera menutup mulutnya dengan sikap berlebihan dan menunjukkan gerakan seperti menarik resleting.
'Samuel' yang dulu ditemuinya adalah Aaron yang asli. Pria itu tidak hanya tidak jelek, tapi sangat tampan sekali. Tentang itu, seharusnya tidak masalah kan?!
Evelyn tau ada anak kecil disini, jadi dia tidak mengatakannya. Melainkan mengeluarkan ponsel, lalu mengetik pesan dan mengirimkan ke Naura. ["Kalau begitu, tidak impoten kan? Apa kamu sudah mencobanya?"]
Naura tidak menjawab pertanyaan dari Evelyn yang tabu ini.
Evelyn menatap Samuel dengan senyum yang menggoda. "Anak lucu, berapa umurmu?"
Wajah Samuel kembali memerah. "14."
"Oh. Umur 14 sudah setinggi ini, kalau nanti besar, pasti tampan juga."
Samuel juga tidak merendah diri. "Seharusnya begitu."
Naura sudah terbiasa dengan Samuel yang begitu percaya diri, dan sudah terbentuk kekebalannya.
Evelyn yang terkejut, dia memegangi perutnya sambil tertawa terbahak-bahak.
Naura memiringkan kepala, melihat Samuel dan memanggilnya. "Anak lucu?"
"Jangan panggil lagi..." Wajahnya memerah.
"Benar-benar malu?" Naura terkejut. Ternyata kalau dipuji orang lain, Samuel bisa malu.
Sifat Evelyn ceria, sedangkan Samuel seorang anak yang suka bicara. Mereka bertiga makan bersama dengan sangat gembira.
Setelah makan banyak, Samuel beranjak ke toilet. Naura baru ada kesempatan untuk bicara dengan Evelyn mengenai Aaron Daffa.
"Ada satu hal yang belum aku katakan kepadamu." Ucap Naura dengan serius. "Aaron pernah terluka karena tembak dan aku sendiri yang mengambilkan peluru itu dari tubuhnya. Selama proses pengambilan peluru itu, dia sama sekali tidak berteriak kesakitan ataupun pingsan."
Selesai Naura bicara, dia melihat wajah Evelyn yang sudah sedikit berubah.
Keluarga Ardinata adalah keluarga yang terkenal dan kaya raya. Kekayaannya turun temurun, dan urusan keluarga mereka juga sangat rumit.
Pistol, tidak sembarang orang bisa memiliki.
Evelyn mengerutkan alis. "Sebenarnya, apa yang dilakukan Aaron? Kenapa dia bisa terluka karena tembak?"
Sebelum ini, Naura masih terkejut dengan daya tarik Aaron Daffa sampai melupakan masalah ini.
Kenapa Aaron bisa terluka karena tembak? Naura pun berpikir.
Sebenarnya, apa yang dia lakukan?
"Mungkin saja, masalahnya rumit. Keluarga yang sangat kaya seperti keluarga Ardinata juga sangat memperhatikan harga diri. Tapi, beberapa tahun ini karena rumor negatif tentang Aaron, mempengaruhi citra diri keluarga Ardinata. Belum lagi keluarganya menyuruh dia menikah dengan Marhsa, meskipun akhirnya dia menikahi kamu. Tapi semua orang diluar sana, melihat Aaron benar-benar seorang yang tidak berguna juga tidak pantas menikahi putri dari keluarga Affandi."
Hubungan pertemanan mereka berdua sangat dekat, meskipun Evelyn mengatakan yang sejujurnya, Naura juga tidak akan mempermasalahkannya.
Dia menganggukkan kepala tanda setuju. "Tentang ini, aku juga pernah memikirkan. Tapi, aku tidak terpikir kenapa perjanjian pernikahan ini diputuskan oleh kakekku saat kakekku berada disini? Lalu tidak lama setelah perjanjian pernikahan ditetapkan, kakek pergi keluar negeri. Tentang hal ini, aku masih ingat."
Evelyn menanggapi. "Hal ini, aku juga pernah dengar dari orang lain. Saat itu, Aaron dengan ibunya dan diculik. Saat keluarga Ardinata menyelamatkan, ibu Aaron sudah meninggal. Meskipun dia hidup, tapi dia sudah dibuat cacat dan menjadi impoten. Kemudian tidak lama setelah itu, muncul berita tentang pernikahan dengan purti dari keluarga Affandi."
__ADS_1
Anggota keluarga dari Evelyn ada yang bekerja di pemerintah negara. Terhadap masalah ini, Evelyn tau lebih banyak dibandingkan orang lain. Saat itu, Evelyn lebih tau dari Naura karena telah mendengar beberapa berita dari keluarganya.
Tapi juga hanya tau beberapa hal saja.
Naura menganalisa dan berkata: "Juga bisa dikatakan, perjanjian pernikahan antara Aaron dan Marsha ada kemungkinan berhubungan dengan kasus penculikan itu?"
"Ada kemungkinan seperti itu." Evelyn berpikir dalam.
Naura terbenam dalam pemikirannya.
Perjanjian pernikahan antara Aaron dan Marsha, pasti tidak semudah itu. Apalagi dengan kepergian kakek ke luar negeri yang tiba-tiba, pasti ada hubungannya dengan itu.
"Kalau begitu, apa rencanamu selanjutnya?" Evelyn yang mendengar bahwa 'Samuel' adalah Aaron, dia ikut senang.
Tapi, setelah Naura mengatakan ini semua kepadanya, dia mulai merasa khawatir.
Keluarga-keluarga kaya itu, terlihat dari luar tampak begitu menakjubkan. Tapi dibalik itu, pasti ada banyak hal yang disembunyikan.
Sedangkan Aaron sebagai penerus, bisa menyembunyikan identitas dan keadaan dirinya selama ini, juga bukan sebuah peran yang mudah.
"Tidak tau. Lihat saja sambil jalan." Naura tersenyum.
Sejak dia masuk ke dalam keluarga Ardinata, kehidupannya seperti bukan miliknya lagi.
Sering kali, orang berjalan karena takdir.
Kamu tidak bisa berhenti, juga tidak bisa kembali. Kamu hanya bisa maju melangkah dengan terpaksa. Mungkin di depan ada jalan keluar, atau mungkin malah ada jurang di depan. Tidak bisa berbuat apa-apa.
Evelyn tidak tau harus berkata apa lagi. Mereka berdua pun terdiam.
Saat ini, Samuel kembali.
Di belakangnya ada seseorang yang berjalan mengikutinya.
Setelah Samuel berjalan mendekat, dia kemudian minggir ke samping, memberi jalan kepada orang yang ada dibelakangnya. "Kak Naura, ini kakak laki-lakiku."
Naura mengangkat kepala dan melihat wajah yang familiar.
"Kairav?!"
"Kairav?!"
Naura dan Evelyn terkejut.
Evelyn bertanya lebih dulu. "Kairav, kakak kamu?"
Samuel menganggukkan kepala. "Iya benar. Dia kakakku."
"Lalu kenapa nama belakang dia Robinson dan bukan Ardinata?" Naura pernah bertemu dengan Kairav beberapa kali. Tapi dia tidak menyangka kalau ternyata Kairav ada hubungan saudara dengan keluarga Ardinata.
Samuel memberi penjelasan. "Kakakku ikut nama keluarga ayahku, sedangkan aku ikut nama keluarga ibuku."
Kairav tersenyum kepada Naura. "Samuel kecil pasti nakal, ya. Maaf sudah merepotkan kamu."
"......Lumayan." Pikiran Naura, mendadak menjadi sedikit kacau.
...__________...
__ADS_1