Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#102


__ADS_3

Sore harinya, konperensi pers Perusahaan Affandi.


Seorang wartawan bertanya: "Perusahaan Affandi adalah perusahaan senior di Kota B, berwirausaha sudah begitu lama dan selalu dipercaya oleh para konsumen. Namun dengan masalah yang seperti ini, apalah ada yang ingin Direktur sampaikan sebagai pimpinan Perusahaan Affandi yang sekarang?"


Naura bersembunyi disudut ruangan dan menyaksikan secara langsung konperensi pers tersebut.


Fajar terlihat tidak berdaya dan wajahnya terlihat penuh rasa bersalah. "Ini adalah keteledoranku yang telah membuat kalian semua kecewa..."


Mungkin karena Fajar sudah mempersiapkan diri sebelumnya, sehingga diawal konperensi pers berlangsung normal.


Namun di tengah-tengah, tiba-tiba ada seorang wartawan lain bertanya: "Di internet ada yang mengatakan bahwa Perusahaan Affandi adalah kubangan lumpur, produk yang dihasilkan tidak bermutu, kemampuan pimpinan Perusahaan yang sekarang tidak sebanding dengan pimpinan sebelumnya dan begitu juga dengan kedua putri anda. Yang satu meracau dimana-mana, dan yang satu lagi suka membuat sensasi. Juga putra anda yang bersekolah di luar negeri, sukanya balapan dan menggunakan narkoba.....Apakah ada yang ingin anda katakan terkait masalah ini?"


Seketika Naura tersedak salivanya sendiri.


Suka membuat sensasi? Apa yang dia maksud itu aku?


Naura pun teringat akan masalah sebelumnya saat dia membiarkan fotografer liar memfotonya diam-diam, lalu Fajar menyuruhnya untuk mengaku ke media bahwa dirinya suka mencari sensasi.


Para wartawan ini benar-benar sangat pintar mengambil setiap celah kesempatan.


Dalam siaran langsung, raut wajah Fajar seketika menjadi sangat tidak enak. Orang-orang yang sedang menyaksikannya di layar pun dapat merasakan kecanggungannya.


Menuai apa yang telah ditabur, kira-kira begitulah deskripsi Fajar sekarang.


Mengenai masalah suka mencari sensasi, yang penting Naura yakin pada dirinya sendiri, itu sudah cukup.


...


Saat jam pulang kerja, akhirnya Naura melihat Marsha.


Wajah Marsha yang pucat terlihat menakutkan. Saat dia melihat Naura, matanya pun langsung melotot penuh kebencian. "Dasar ******!"


Naura tertawa dingin. "Semua orang sudah tau Keluarga Affandi memiliki Nona yang kehidupan pribadinya berantakan dan suka membuat onar dimana-mana, siapa yang ******?"


'Pelecehan seksual' yang tertoreh dinamanya, membuat Marsha di tahan di penjara semalaman dan dia baru saja dibebaskan. Dia menumpahkan semua kekesalannya yang menumpuk kepada Naura.


"Kamu pasti sengaja kan? Kamu pasti memberitau Samuel tentang apa yang akan aku lakukan, jadi dia bisa begitu mempermalukanku!" Mata Marsha dipenuhi oleh kedengkian, seperti sangat dendam dan ingin membunuh Naura.


Walaupun Naura tidak mengerti apa yang Marsha katakan, namun dia juga dapat mendengar dari nada bicara Marsha bahwa 'Samuel' sama sekali tidak berhasil terpikat padanya dan sebaliknya malah mempermalukannya.

__ADS_1


Tapi, haruskah Marsha melimpahkan masalah seperti ini kepadanya?


Naura berjalan mendekatinya dan berbicara dengan berbisik disamping telinga Marsha. "Kamu sudah gila ya? Kalau iya, cepat minum obat. Jangan bisanya menggigit orang dimana-mana."


Dimata orang-orang yang berapa di sekeliling mereka, adegan ini terlihat seolah Naura yang bicara pada Marsha dengan begitu lembut.


"Naura, dasar kamu perempuan ******!" Kemarahan Marsha seketika meledak dan dia mengangkat sebelah tangannya untuk menampar Naura.


Naura sudah mengantisipasi untuk mundur sehingga Marsha memukul udara kosong.


Sekarang ini adalah jam pulang kerja, sehingga para karyawan berlalu-lalang.


Di mata karyawan yang melewati mereka, adegan ini terlihat seolah Marsha sedang menindas dan berbuat kasar kepada Naura.


Ada orang dengan suara kecil berkomentar. "Sudah seperti ini, dia masih berani datang ke kantor..."


"Benar sekali! Kalau dia masih menjadi manajer departemenku di perusahaan ini, aku akan langsung mengundurkan diri. Melihatnya saja, aku sudah merasa kesal!"


"Kebetulan sekali, kontrak kerjaku juga sudah hampir selesai."


Mendengar perkataan mereka, Marsha dengan geram langsung berjalan menghampiri, menahan mereka. "Apa maksud kalian, hah?! Ini adalah perusahaan keluargaku, kenapa aku tidak berani datang?!"


Salah satu diantara mereka sepertinya sudah memandang Marsha dengan sebelah mata sejak awal. Saat dia berjalan, dia masih pura-pura tidak sengaja menaikkan kakinya kehadapan Marsha untuk menjegalnya.


Marsha yang melihat mereka pergi, bermaksud untuk menarik mereka sehingga dia tidak memperhatikan kakinya. Dengan demikian, dia pun terjatuh ke lantai dengan begitu luar biasanya dihadapan orang banyak.


Tubuh Marsha terhantam dengan keras jatuh ke lantai dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Dia menjulurkan tangan, mencoba dua kali untuk bangun, namun tetap tidak bisa bangkit berdiri. Dengan napas yang menderu, dia berteriak dengan nyaring. "AKU BERSUMPAH AKAN MENGELUARKAN KALIAN SEMUA!!"


Apakah dia tidak dengar? Beberapa orang itu barusan berkata bahwa mereka memang sudah ingin mengundurkan diri. Sepertinya, tidak perlu menunggu dikeluarkan olehnya.


Sudut mata Naura menyapu sekilas dan menangkap sosok Fajar yang sedang berjalan menghampiri dari pintu lift. Naura pun memutar kakinya dan menghampiri Marsha. "Kenapa kakak begitu tidak berhati-hati? Sakit ya? Lantainya sangat dingin. Ayo, aku bantu berdiri."


Marsha menepis tangan Naura dan mendorongnya dengan tidak bertenaga. "Tidak usah pura-pura baik!"


Naura mengambil kesempatan ini dan sengaja terjatuh ke lantai, namun dia dengan diam-diam kembali berdiri.


Fajar sudah mendekat. "Ada apa?" Tanyanya dengan suara dalam.

__ADS_1


"Ayah..." Marsha yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh Fajar, dia yang ditahan semalaman di kantor polisi, tentu saja hatinya merasa sangat berduka. Begitu melihat Fajar mendekat, tangisan pun langsung keluar saat dia baru membuka mulutnya.


Beberapa hari ini, pada dasarnya Fajar sudah cukup merasa kesal. Marsha mengatakan ingin pergi untuk memikat 'Samuel', untuk membuat pria tampan itu membantunya.


Namun hasilnya, malah membuat dirinya sendiri terjeblos ke kantor polisi.


Kali ini, barulah Fajar sadar, tidaklah mungkin mengandalkan Marsha untuk membantu Perusahaan Affandi. Dalam hal ini, masih lebih berguna Naura.


"Bangun! Berdiri sendiri dan lihat bagaimana dirimu sekarang ini!" Fajar hanya melihat sekilas dan langsung memalingkan pandangannya. Dia merasa, hal ini terlalu memalukan.


Naura kembali mengulurkan tangannya di waktu yang tepat untuk memapah Marsha. "Kakak, ayo aku bantu berdiri..."


"Minggir! Jangan gunakan tangan kotormu itu untuk menyentuhku!" Marsha kembali menepis tangan Naura tanpa harus berpikir lebih dulu.


Naura pun menarik kembali kedua tangannya dengan tenang.


Tidak tau juga tangan siapa yang sebenarnya lebih kotor?🙄


Sekarang ini, Fajar ingin bergantung pada Naura untuk membantu Perusahaan Affandi. Bahkan, dia tidak sempat berbuat baik pada putrinya itu. Begitu dia mendengar ucapan Marsha, dia langsung memarahinya. "Kenapa bicara seperti itu pada adikmu?!"


"Ayah!" Marsha sudah bangkit berdiri dari lantai. "Kenapa dengan ayah?!"


Marsha ingat, kalau sebelumnya, Fajar juga sangat tidak menyukai Naura. Namun, tidak disangka sekarang ini dia malah memarahinya demi Naura.


"Sudahlah, pulanglah dulu sana!" Fajar tidak ingin banyak bicara di sini.


Dulu, dia merasa anak perempuan harus dimanja dan disayang. Apapun yang ingin dilakukan, dia perbolehkan. Namun, dengan masalah yang terjadi belakangan ini, membuatnya merasa kalau Marsha sudah luar biasa tidak terkendali.


"Kalau begitu, aku juga pulang dulu." Ucap Naura.


Fajar melihat ke arah Naura, raut wajahnya langsung melembut. "Iya, kamu pulanglah dulu dan bicarakan baik-baik dengan Aaron."


"Iya."


Naura segera keluar dari pintu Perusahaan Affandi. Dia menahan ekspresi wajahnya, namun terlihat kerutan lelah diantara alisnya.


Kalau Fajar bisa terus menerus kejam kepadanya, itu malah bukan masalah besar. Namun sekarang ini, sikap Fajar seperti ini karena dia teringat untuk memanfaatkan Naura disaat Fajar membutuhkan Naura. Hal ini justru malah membuat hati Naura terasa lebih sakit.


...__________...

__ADS_1


__ADS_2