
Yang pertama melihat Naura datang adalah Marsha. Dengan wajah kagetnya dia berkata. "Biasanya, saat ibu mengundang kamu datang untuk makan bersama, kamu tidak pernah mau. Hari ini, ibu tidak ada dirumah dan kamu datang dengan sendirinya?"
Naura masuk dengan langkah lebar, mengambil mangkuk yang ada didepan Marsha, lalu menjatuhkannya ke lantai. "Ibuku disandera orang, kamu masih bisa makan dengan enak?!"
Seketika Marsha melotot dan wajah kagetnya bertambah jelas. "Apa? Ibu disandera orang?"
"Penyandera tidak menelpon kamu?" Tanya Naura sambil menyipitkan matanya menatap Marsha.
"Tadi, ibu mengatakan ada janji dengan temannya pergi ke salon dan meminta kami tidak menunggunya untuk makan. Mana mungkin disandera orang?" Ucap Marsha dengan ekspresi wajah tidak percaya.
"Ada orang yang menelpon aku dan mengatakan kalau ibu disandera. Orang itu menyuruh aku dalam waktu dua jam menyiapkan uang sebesar lima puluh miliar. Kalau tidak, dia akan membunuh ibu." Ucap Naura dengan cemas.
Setelah Marsha mendengar ucapan Naura, reaksi pertamanya bukan mencemaskan Merlin, dia mengerutkan alisnya. "Lima puluh miliar?Banyak sekali! Akhir-akhir ini, perusahaan sedang kekurangan modal. Mana mungkin dalam waktu sekejap bisa menyiapkan uang sebanyak ini?!"
Raut wajah Naura menjadi semakin dingin. "Kalau tidak ada uang, bisa cari jalan lain kan?! Ibuku sudah lama tinggal di keluarga Affandi dan melakukan banyak pekerjaan! Apakah demi menolongnya, kalian tidak rela mengeluarkan uang lima puluh miliar?!"
Perkataan Naura tidak enak didengar. Tapi, dia berpikir seperti ini, Merlin di keluarga Affandi yang kehidupannya terlihat seperti istri orang kaya, kalau dibandingkan dengan istri-istri orang kaya di keluarga lain, Merlin termasuk istri yang tidak terlalu berfoya-foya.
Sebagian besar waktunya, Merlin hanya menyiapkan kebutuhan makanan dan pakaian saja.
Meskipun uang lima puluh miliar bukan jumlah yang kecil, Fajar harus bisa mendapatkannya.
Tapi, Fajar belum tentu mau mengambilnya.
Marsha jelas saja sangat marah mendengar ucapan Naura. Tapi, dia tetap berusaha menahan kemarahannya. "Kalau kita punya uang, tentu saja kita mau akan memberikan lima puluh miliar. Tapi sekarang ini masalahnya kita tidak punya uang!"
"Kalau memang tidak punya uang, kumpulkan saja kekurangannya!" Naura terlalu malas bertengkar dengan Marsha. Dia kemudian menoleh ke arah Fajar dan memanggilnya. "Yah!"
Fajar mengerutkan keningnya. "Kalau memang begini, tidak peduli bagaimana caranya, aku akan mencari uang tebusan lima puluh miliar. Tapi hanya dalam waktu dua jam, dimana aku bisa mencari uang sebanyak itu?"
Naura sedikit kaget. Dia merasa tidak menyangka kalau Fajar bersedia mencarikan uang.
"Tebus saja seadanya." Ucap Naura lalu menundukkan kepala melihat ponselnya.
Dia baru teringat, selain Evelyn, dia tidak punya teman lain lagi.
Fajar sudah mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon.
Sedangkan Naura berjalan menyingkir, menelepon Evelyn.
Tidak perlu menunggu lama, Evelyn langsung mengangkat telepon darinya. "Ada apa? Kamu sudah makan belum?"
Naura menggigit bibirnya. "Ev, aku mau pinjam uang."
"Boleh, kamu mau pinjam berapa?" Tanya Evelyn dengan ramah. Kalau Naura mengatakannya, pasti Evelyn akan meminjamkannya.
Lagi pula, ini masalah yang sangat besar dan penting. Naura hanya bisa mengeraskan kulit kepalanya. "Kamu.....ada berapa?"
"Ada, lima atau enam miliar? Aku tidak begitu ingat, aku akan melihatnya dulu....." Jawab Evelyn sambil melihat di saldo rekening di akun banknya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Evelyn tiba-tiba menyadari sepertinya ada sesuatu yang salah. Dia pun bertanya kepada Naura. "Kenapa kamu mau pinjam uang sebanyak itu? Apa yang terjadi?"
"Ibuku diculik. Butuh uang tebusan sebesar lima puluh miliar."
"Kalau begitu, kamu lapor polisi saja!"
"Harus menebusnya dulu agar ibuku dilepaskan, baru bisa lapor polisi." Naura sangat khawatir terjadi sesuatu pada Merlin dan dia takut kalau para penculik akan membunuh Merlin.
Evelyn sebenarnya ingin mengatakan, menyuruh Naura membiarkan ibunya mati saja.
Tapi, Evelyn sangat mengenal bagaimana Naura. Masalah sebesar ini kalau Naura tidak mengetahuinya ya biarkan saja. Tapi sekarang, Naura sudah mengetahuinya, pasti dia akan menyelesaikan masalah ini sampai selesai.
"Baiklah, aku akan memberikan uangnya kepadamu."
"Terimakasih banyak."
Di belakang Naura, Fajar dan Marsha terus menamati pergerakannya.
Saat mendengar Naura mengatakan "Harus menebus dulu orangnya", Marsha langsung tersenyum.
Marsha berjalan kesamping Fajar lalu bicara dengan suara kecil. "Aku tau, Naura tidak mungkin tidak peduli dengan ibu."
Fajar menganggukkan kepala.
Dua orang, ayah dan anak itu, entah kenapa tersenyum?
...
Naura dengan panik berjalan mondar mandir.
Tiba-tiba, Marsha memanggilnya. "Naura, aku ingat kalau kamu membawa blackcard milik keluarga Ardinata!"
Naura dengan bingung melihat kearahnya.
Marsha lanjut bicara. "Sekarang ini, kita sedang menghadapi masalah besar yang menyangkut nyawa ibu. Apa ibu bisa diselamatkan hidup-hidup, semuanya bergantung dari kamu. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin."
Naura terlalu panik sampai melupakan blackcard milik Aaron yang masih dibawanya!
"Aku segera kembali mengambilnya!" Saat ini, Naura tidak mempedulikan hal lain. Sekarang yang paling mendesak adalah menebus Merlin dari tangan penculik.
"Kalau begitu, kami akan mengantarmu untuk mengambilnya lalu pergi ke tempat penculik itu." Saran Fajar.
Waktu dua jam yang diberikan sudah hampir habis. Naura tidak punya banyak waktu untuk berpikir lagi den demi memperjuangkan waktunya, dia langsung mengiyakan saran Fajar.
Mereka bertiga dengan cepat pulang ke rumah megah Aaron Daffa.
Aaron dan 'Samuel' masih belum kembali, Naura keluar setelah mengambil blackcard-nya.
Naura berjalan sambil mengeluarkan ponselnya untuk menelepon polisi.
__ADS_1
Sebelumnya, dia mendapat telepon dari penculiknya, terlalu merasa cemas, sampai-sampai dia lupa untuk lapor ke polisi.
Marsha melihat Naura sedang menelepon, dia merasa cemas. "Kamu sedang menelpon siapa? Apa penculik yang tadi meneleponmu lagi?"
"Telepon polisi! Lapor polisi!" Naura merasa, uang lima puluh miliar ini tidak bisa diberikan begitu saja ke penculik.
Ibunya harus diselamatkan, uang lima puluh miliar ini juga tidak bisa diberikan ke penculik.
Marsha mendengar ucapan Naura ingin lapor ke polisi, dia terlihat kebingungan. "Lebih baik, jangan lapor polisi dulu! Tebus ibu dulu, baru bicarakan lagi! Kita harus melihat wajah penculiknya, setelah itu baru lapor polisi agar lebih mudah untuk menangkapnya!"
"Tidak bisa! Aku harus lapor ke polisi dulu!"
Marsha tidak menyangka kalau Naura begitu keras kepala. Dia langsung merebut ponselnya dan mematikan sambungan teleponnya, lalu memarahinya. "Untuk apa buru-buru lapor polisi? Apa kamu ingin membuat ibumu sendiri terbunuh? Kalau sampai penculik tau, lalu mereka membunuhnya? Aku tau ibu memperlakukan aku lebih baik daripada kamu, tapi kamu juga jangan menyakitinya! Tidak peduli bagaimanapun ibu, dia yang telah melahirkan dan merawatmu!"
Ucapan Marsha terdengar sangat meyakinkan, sampai membuat Naura hampir mempercayainya.
"Diam!"
Walaupun ucapan Marsha itu benar, tapi Naura memilih untuk tidak ingin mendengarnya.
Tidak peduli apapun, Merlin memang ibu kandungnya.
Saat itu juga, penculik menelpon kembali.
Penculik itu menyebutkan nama alamatnya kemudian berkata "Hanya kamu yang bisa datang kesini! Kalau sampai ada orang lain apalagi polisi yang datang, kami akan.....MEMBUNUHNYA!"
Naura menyalakan loudspeaker-nya. Fajar dan Marsha mendengar perkataan penculik itu.
Naura merasa ada yang aneh.
Naura merasa kalau sejak awal tadi, penculik itu hanya menyerang dirinya saja. Sama sekali tidak menyebut nama Fajar maupun Marsha.
Hanya karena dia Nyonya Ardinata, penculik itu mengira kalau dia punya banyak uang, lalu menculik ibunya?
Meskipun perkataan itu masuk akal, tapi sikap penculik itu terasa berlebihan.
Marsha bertanya lebih dulu. "Kenapa dia hanya mau kamu sendiri yang pergi?
"Ini tidak aman!" Sahut Fajar. "Kamu pakai mobil Marsha, kami akan mengikutimu dari belakang."
Fajar dan Marsha, saat ini, mereka menunjukkan antusias dan kesungguhannya dalam upaya menolong Merlin.
Meskipun Naura merasa ada yang aneh, tapi dia tetap tidak merasa curiga atau apa. Lagipula, Merlin dan mereka sudah hidup bersama selama dua puluh tahun lebih.
"Kamu bisa menyetir tidak?" Lanjut Fajar bertanya lagi.
Naura menggigit bibirnya dan dengan tersenyum menjawab. "Bisa."
Selama empat tahun kuliah, Naura sudah mulai membekali dirinya sendiri. Dia bisa mengerjakan skrip kecil dan kadang dia mendapatkan uang banyak. Tapi kadang juga mendapatkan sedikit saja.
__ADS_1
Selain biaya kuliah dan biaya hidupnya, dia juga mengeluarkan uangnya sendiri untuk belajar menyetir.
...__________...