
Saat hampir sampai ke pintu perusahaan, Naura teringat kejadian sebelumnya saat banyak wartawan yang menghadangnya. Dari dalam tasnya, dia mengeluarkan masker dan topi.
Di musim dingin, Naura memang sering terbiasa membawa masker di tasnya. Tapi, tidak menyangka dapat berguna disaat-saat seperti ini.
Naura saat keluar dikelilingi oleh wartawan yang langsung melemparinya berbagai pertanyaan.
"Apakah anda merupakan pekerja di perusahaan Affandi? Apa posisi yang anda miliki di perusahaan Affandi ini? dengan rahasia gelap pabrik Affandi, apakah kalian para pekerja mengetahui dengan jelas hal ini?"
"Maaf, no comment." Jawab Naura kemudian dia tidak sengaja menoleh dan melihat Marsha sedang berjalan keluar.
Naura melanjutkan ucapannya. "Pertanyaan kalian, mungkin manajer departemen kami bisa membantu untuk menjawab kalian."
Para wartawan itu kemudian langsung melihat ke arah Naura melihat, dan melihat Marsha.
Meskipun tubuh Naura sangat ramping dan ideal, mata yang terlihat juga sangat cantik. Tapi, penampilannya sangat biasa, sedikitpun tidak terlihat seperti karyawan penting.
Tapi penampilan Marsha yang terlihat mewah, terlihat kalau dia merupakan orang yang memiliki posisi yang tidak rendah di perusahaan.
Wartawan merupakan orang-orang yang cerdas, mereka langsung berjalan dan mengerumuni Marsha.
Naura kemudian kembali berjalan. Dia berjalan tidak terlalu jauh, tapi dia berjalan ke sudut tempat dimana orang-orang tidak melihat dia, dan melihat Marsha yang sedang dikerumuni oleh banyak wartawan.
"Apa boleh tau, anda memiliki posisi apa di perusahaan Affandi? Terhadap rahasia gelap perusahaan ini yang telah terungkap, apakah ada yang ingin dibicarakan? Kapan anda berencana untuk mengklarifikasi masalah ini ke publik?"
Pada awalnya, para wartawan itu masih mengelilinginya dan bertanya tentang masalah pabrik perusahaan.
Tapi, tidak tau siapa yang tiba-tiba mengenali Marsha yang sebelumnya pernah direkam dalam video tak senonoh, baru kemudian berubah menanyakan masalah itu.
"Apakah kamu pemeran dalam video tidak senonoh di internet waktu itu?"
"Kehidupan pribadimu sangat kacau, apakah kamu masih bisa mengatur perusahaan?" Wartawan ini jelas tidak tau kalau Marsha adalah putri dari Fajar Affandi.
Lagipula, mereka bukanlah wartawan infotainment. Hanya sekedar tau tentang masalah itu saja, dan tidak beberapa memperhatikannya.
Tapi, ada wartawan yang dengan cepat merespon, mencari masalah video itu di internet. Lalu langsung memulai live broadcast di depan pintu perusahaan.
"Hallo semua, saya reporter....... Sekarang ini saya sedang berada di depan pintu perusahaan Affandi, dan wanita yang sedang berdiri di belakang saya, yang dikelilingi wartawan adalah manajer tingkat menengah dari perusahaan Affandi. Menurut berita, manajer ini terjerat dalam skandal video tidak senonoh beberapa waktu lalu. Untuk hal ini........"
Tiba-tiba Marsha merampas microphone dari tangan reporter itu saat reporter itu belum selesai bicara. Dia kemudian menyalakan microphone-nya.
Marsha tidak memiliki gambaran kalimat yang ingin dikatakan saat ini. Tapi, dia berkata dengan tidak pantas. "Apa yang kamu katakan? Tidak bisakah kamu reporter dengan serius melaporkan sebuah fakta? Bagaimana hal-hal yang tidak berdasar ini dilaporkan?!"
Selesai bicara, Marsha melempar microphone itu.
Wartawan lain mengambil kesempatan saat Marsha melalukan hal diluar dugaan ini. Dengan cepat memotretnya.
__ADS_1
Kilatan dari kamera sangat menyilaukan mata. Marsha menutupi wajahnya menggunakan tangannya. "Jangan potret! Aku bilang jangan potret! Penjaga! Dimana penjaga?! Cepat bawa mereka pergi dari sini!" Teriak Marsha dengan sedikit histeris.
Wartawan tadi yang microphone-nya dilempar, mengambil kembali microphone-nya. Dan ternyata masih berfungsi, dengan segera melanjutkan live broadcasting-nya. "Orang yang baru saja melempar microphone saya adalah manajer perusahaan Affandi. Saya baru tau kalau dia merupakan putri dari Presiden Direktur perusahaan Affandi, yang bernama Marsha........"
...
Melihat Marsha yang terlihat buruk, Naura merasa tidak tertarik lagi untuk menikmati. Dia kemudian pergi ke halte dan menaiki bis pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, saat masuk ke dalam, dia langsung melempar tasnya kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Merasa sangat lelah hingga tidak ingin bergerak sedikitpun.
Padahal, hari ini dia tidak melakukan hal apapun. Kenapa merasa selelah ini?
Mungkin saja karena hatinya yang lelah.
Dia membuka akun sosial media di ponselnya. Kebetulan melihat "Dark Factory" "Video Tidak Senonoh Dark Factory" Kedua topik hangat ini berada di deretan paling atas, dan mendapatkan banyak komentar pedas.
Ada beberapa komentar yang ditujukan kepada perusahaan Affandi dan Marsha yang tenggelam dengan cepat.
Dengan cepat, Naura sudah melihat video Marsha yang ditahan di depan pintu perusahaan Affandi.
Di dalam video itu, Marsha terlihat seperti orang gila.
Komentar panas yang berada di urutan nomor satu di video itu adalah:
"Aku setuju! Untung saja aku bukan temannya. Bukankah, orang yang tidak waras seperti ini tidak akan dihukum jika membunuh?"
"Dia mungkin wanita yang sudah kehilangan akal sehatnya!"
"Dia cantik juga. Berapa harganya untuk diajak tidur?"
Sampai disini, Naura kemudian meletakkan ponselnya, malas untuk melihatnya lagi.
Selain beberapa pengawal yang berjaga di luar, rumah ini terasa sangat kosong. Entah Aaron dan 'Samuel' berada di rumah atau tidak.
Naura berpikir sejenak, kemudian mengirim pesan pada 'Samuel'. ["Apa kamu akan pulang untuk makan?"]
Kalau 'Samuel' tidak pulang untuk makan, maka Naura tidak akan memasak. Lagipula ada pengawal yang memasak.
Di tempat lain, kebetulan Aaron baru saja menyelesaikan rapat yang panjang selama tiga jam dan merasa sedikit lelah.
Baru saja dia kembali dan duduk di ruangannya, dia mendapatkan pesan dari Naura.
Saat dia akan membalasnya, dia melihat Christian dengan langkah besar berjalan masuk ke ruangannya.
"Aaron, kamu lihat ini!" Christian menyerahkan ponselnya ke hadapan Aaron.
__ADS_1
Aaron menunduk melihatnya. Iris matanya sedikit melebar, melihatnya hingga selesai. Lalu bicara dengan dingin. "Sejak awal, pabrik di bawah naungan perusahaan Affandi memang ada masalah. Orang yang ingin melawan perusahaan Affandi, bisa menggunakan ini untuk melawannya. Tapi sekarang, perusahaan-perusahaan ini tidak ada satupun yang bersih. Jadi, kalau hanya singgungan biasa, tidak akan ada orang yang berani melawan perusahaan Affandi seperti ini."
Christian menganggukkan kepala dan bertanya kepadanya. "Menurutmu dengan munculnya masalah ini, aknkah Tuan Besar Affandi itu kembali ke sini?"
"Ada kemungkinan." Jawab Aaron. Entah apa yang sedang dipikirkannya, nada bicaranya berubah semakin dingin.
Christian tidak menyadari perubahan ini. Dia bertanya lagi dengan sedikit bingung. "Masalah ini, muncul terlalu mendadak. Sebelumnya, tidak ada berita buruk sama sekali. Menurutmu, siapa yang melakukan ini?"
Siapa yang melakukan ini?
Sorot mata Aaron menjadi tajam. Kemudian dia menatap Christian dengan raut wajah yang datar. "Aku tidak akan memberitaumu."
Christian membelalakkan matanya. "Hanya dengan melihat berita, kamu langsung tau siapa yang membuat masalah ini?"
Aaron tidak menggubrisnya. Dia menyalakan komputernya dan mencari berita yang berhubungan dengan perusahaan Affandi.
Christian yang merasa tidak terima, dia kembali bertanya kepadanya. "Kalau begitu, kamu beri aku sedikit petunjuk, apakah dia itu pesaing di industri ini?"
"Bukan." Jawab Aaron dengan sangat singkat.
Di internet, dipenuhi dengan makian yang tertuju pada perusahaan Affandi yang tidak berarti sama sekali.
Aaron hanya melihatnya beberapa menit saja, kemudian mematikan komputernya lagi.
Dia baru ingat, tadi Naura mengirim pesan kepadanya.
Dia mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya ke Naura.
Christian masih ingin menanyakan sesuatu, tapi dia melihat Aaron sudah berdiri mengambil jaketnya dan berjalan keluar.
Christian juga melihat kalau baru saja Aaron sedang mengirim pesan, tapi dia tidak mihat isinya.
Orang yang bisa membuat Aaron mengirim pesan, tentu saja hanya Naura.
"Kamu sudah mau pulang untuk makan? Hari ini aku tidak membawa mobil. Aku menumpang mobilmu ke rumahmu ya?" Christian pernah memakan masakan Naura dan dia menjadi terus memikirkannya. Berencana ingin pergi lagi ke rumah Aaron untuk menumpang makan.
Aaron membalikkan kepala, sekilas menatapnya dan menolak dengan dingin. "Tidak sejalan! Tidak ada tumpangan!"
"Tidak perlu sedingin ini kepadaku. Aku hanya ingin pergi makan di rumahmu. Kita ini kan sahabat."
Aaron masih tetap menolaknya. "Tidak!"
Akhirnya, Christian tetap dengan tidak tau malu, naik ke mobil Aaron begitu saja.
...__________...
__ADS_1