
Naura menatap layar pada ponselnya, melihat pesan balasan dari 'Samuel'.
["Ya."]
Sangat singkat!
Sebagai pengidap jiwa miskin, Naura merasa dirinya perlu menambahkan 'Samuel' ke akun chattingnya. Kalau dirinya ada urusan untuk mencarinya, dia bisa langsung mengirim pesan melalui akun chatting, sehingga tidak perlu mengeluarkan uang untuk sering mengisi pulsa.
Naura mencari sejenak kontak 'Samuel' di akun chatting miliknya dan menyadari tidak ada kontak 'Samuel' di sana.
Yang benar saja? Apakah orang ini bahkan tidak menggunakan akun chatting?
Naura meletakkan ponselnya, kemudian bangkit berdiri dan pergi ke dapur.
Baru saja Naura selesai memotong sayur, dia mendengar suara mesin mobil dari luar.
Pasti 'Samuel' sudah pulang.
"Naura."
Suara ini........
Naura menolehkan kepalanya, terlihat Christian yang sedang berjalan masuk sambil menyengir. Ditangannya terdapat sebuah kotak kecil yang indah.
Di atas kotak itu terlihat ada logo toko kue dan toko kue itu yang sering dikunjungi oleh Evelyn.
"Aih, hari ini aku tidak membawa mobil dan tidak bisa pulang ke rumah. Saat di jalan tadi, kebetulan bertemu dengan dia menumpang dengannya untuk menginap disini satu malam. Maaf merepotkanmu harus memasak satu porsi lagi. Ini, aku bawakan kue untukmu sebagai ucapan terimakasih."
Cocok menjadi Direktur di perusahaan entertainment. Ucapannya ini tidak ada celah sama sekali.
Tapi, Naura tidak terbiasa sok akrab dengan Christian.
"Terimakasih."
Christian yang tampan, membuat siapa saja menyukainya. Ditambah lagi sikapnya yang sangat sopan seperti ini, tentu saja Naura hanya bisa tersenyum menerima kue darinya.
Naura dengan jahilnya mengirim foto kue itu pada Evelyn.
Dengan cepat Evelyn membalas pesannya, mengirim [emoticon kesal] ["Kamu tidak mengajakku pergi membeli kue?!!!"]
Naura membalas pesannya. ["Christian yang membelinya, seperti toko yang sering dikunjungi seseorang kan? Entah seseorang itu pernah bertemu dengannya....."]
Evelyn mengirim sebuah foto ["mengangkat pedang sepanjang tiga puluh meter.jpg"]
Naura tidak lagi menggodanya dan teringat dengan ucapan Evelyn sebelumnya yang ingin merayakan dengannya. ["Apa kamu mau datang kesini untuk makan?"]
["Tidak!"] Balas Evelyn dengan singkat.
Ada Christian juga, jadi Evelyn tidak mungkin mau datang.
__ADS_1
...
Saat makan, Christian yang masih terus memikirkan masalah pabrik perusahaan Affandi, kembali mengungkit masalah ini.
Naura makan dengan menundukkan kepalanya, tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun. Hanya terus diam seperti orang bisu.
Setelah bicara beberapa lama, Christian teringat kalau Naura juga bagian dari keluarga Affandi. Dia langsung bertanya kepada Naura. "Naura, bagaimana dengan masalah. perusahaan kalian?"
Mendengar ucapan Christian yang sok akrab dengan Naura, Aaron langsung memicingkan matanya, mengangkat kepala dan menatap Christian. "Pergilah setelah selesai makan!"
Wajah Christian menjadi penuh kebingungan. Kapan dirinya menyinggung Tuan Besar ini?
Naura yang sudah terbiasa dengan sikap 'Samuel' yang berubah-ubah, dia menggelengkan kepala. "Aku tidak terlalu mengerti. Lagipula, aku di perusahaan hanya mengerjakan hal-hal yang sepele saja."
Selesai Naura bicara, tiba-tiba 'Samuel' yang duduk dihadapannya menatapnya dengan sorot matanya yang hitam terlihat misterius. Menunjukkan sebuah tatapan sarat akan dia mengetahui semuanya.
Kenapa Naura merasa, 'Samuel' seperti mengetahui kalau dirinya sedang berbohong?
...
Selesai makan, 'Samuel' langsung mengusir Christian.
Christian bersandar pada pintu tidak ingin pergi. "Sudah selarut ini dan juga sedingin ini, tidak bisakah kamu membiarkanku semalam saja menginap disini?"
Naura sulit mempercayai Christian yang ada dihadapannya saat ini, tingkahnya seperti anak kecil yang bersandar di pintu, tidak ingin melepaskan tangannya yang berpegangan erat pada pintu, dia adalah Christian Raymond, seorang Direktur yang sangat terkenal dari perusahaan AD Entertainment.
Setelah Christian pergi, di ruang tamu hanya menyisakan Naura dan 'Samuel'.
Naura melihat sekilas ke arah pintu, benaknya merasa sedikit bingung.
Kenapa Aaron belum kembali? Sebenarnya, dia sering pergi keluar kemana?
Naura melihat sekilas pada 'Samuel'. "Aku naik dulu." Ucapnya kemudian membalikkan badan ingin naik keatas.
Tapi, tiba-tiba 'Samuel' memanggilnya. "Naura."
Seketika Naura menghentikan langkah kakinya dan menatapnya. "Ada apa?"
Dia ynag memang memiliki kulit yang putih, dibawah pancaran cahaya lampu yang menyala terang, wajahnya semakin terlihat seperti dilapisi bedak tipis. Dan sepasang mata kucingnya, menatap laki-laki tampan itu, Naura terlihat lembut.
Ya! Sedikit menggoda!
"Soal perusahaan Affandi....." Baru berucap setengah, Aaron sengaja berhenti sejenak, melihat tatapan Naura yang seketika sedikit melebar dan terlihat sedikit gugup, Aaron langsung tersenyum. "Apa kamu butuh bantuan?"
Saat laki-laki tampan itu mengucapkan setengah kalimat depan itu, jantung Naura berdetak cepat. Naura mengira kalau laki-laki itu sudah mengetahuinya.
Setelah mendengar kalimat selanjutnya, seketika hatinya merasa tenang. Tapi, raut wajahnya masih terlihat tidak terlalu nyaman. Naura sedikit tersenyum paksa. "Ayahku dan yang lainnya, bisa mencari jalan keluarnya sendiri. Bagaimanapun muncul masalah seperti ini di dalam pabrik, itu sama saja dengan berita buruk untuk perusahaan. Harus mereka sendiri yang menyelesaikannya."
'Samuel' memiringkan kepalanya, menjawab pelan sambil tersenyum kecil. "Ya."
__ADS_1
Naura menganggukkan kepalanya, kemudian segera naik ke atas dengan perasaan tertekan.
Setelah masuk kedalam kamarnya, baru dia merasa sedikit tenang.
Bagaimanapun, dia bagian dari keluarga Affandi. Dia sudah memperkirakan masalah perusahaan Affandi ini. Semakin sedikit orang yang mengetahui, maka akan semakin baik.
Evelyn adalah sahabat terbaiknya, tentu saja Naura tidak perlu menyembunyikan hal ini darinya.
Tapi, 'Samuel' berbeda. Tidak peduli dia pernah membantunya, bagaimanapun dia bagian dari keluarga Ardinata.
Terkadang, orang dewasa akan serumit ini dan juga sulit untuk mempercayai seseorang.
...
Keesokan paginya, Naura terbangun dan bersiap untuk pergi.
Saat melewati ruang kerja Aaron, seketika langkah kakinya terhenti.
Keberadaan Aaron terlalu tersembunyi. Sudah dua hari ini, Naura tidak menanyakan kabar Aaron dan juga tidak ada orang yang memberitaunya.
Bahkan, 'Samuel' lebih terlihat seperti sang tuan rumah.
Walaupun Naura merasa bingung, tapi karena dia harus pergi ke perusahaan Affandi untuk bekerja, akhirnya Naura memutuskan untuk tidak memikirkannya.
Setibanya di perusahaan, saat Naura berjalan melewati departemen sosial, dia melihat beberapa karyawan sedang tertidur bersandar diatas meja dan juga melihat dua rekan kerjanya yang baru keluar dari pantry membawa kopi dengan kantung mata yang menghitam, seperti mata panda.
Sepertinya kemarin malam, rekan-rekan kerjanya dari departemen sosial lembur semalaman.
Meskipun mereka telah lembur semalaman, tapi masalah di pabrik Perusahaan Affandi juga sudah membesar. Tidak seperti masalah video tidak senonoh dari Marsha, yang bisa ditutup dengan mudah.
Naura baru saja duduk di kursi kerjanya, ada seseorang yang datang dan memberitaunya untuk pergi rapat.
Hari ini, Naura datang hanya untuk melihat kehebohan apa yang terjadi. Jadi, dia ikut memasuki ruangan rapat.
Ternyata hanya memberi beberapa tugas untuk menstabilkan pelanggan.
Setelah rapat dibubarkan, Naura bersiap mengikuti yang lainnya untuk keluar dari ruang rapat bersama.
Tiba-tiba, sekertaris Fajar datang menghampirinya dengan sedikit menundukkan kepalanya. "Nona Naura, Pak Presdir memintamu menemuinya sebentar."
"Ada perlu apa?" Tanya Naura sambil melangkah pelan keluar dari ruang rapat.
Sekertaris itu teringat saat sebelumnya Fajar menyuruhnya mencari Naura, tapi Naura sangat tidak menghargainya dan langsung berjalan pergi begitu saja. Sekertaris itu kemudian mengulurkan tangan, menahan bahunya. "Sebaiknya, kamu pergi saja sebentar untuk menemui Pak Presdir. Kemarin malam, Pak Presdir juga tidak tidur semalaman..."
"Kalau begitu singkirkan tanganmu!" Naura juga ingin melihat Fajar yang terlihat menyedihkan.
Dia tidak bisa untuk tidak mengakui, jika sebenarnya dia memiliki hati yang buruk.
...__________...
__ADS_1