Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#7


__ADS_3

Naura merasa sangat marah. Adik ipar sepupunya ini benar-benar sangat menyebalkan dan tidak tau malu. Ingin sekali memukul dan memakinya, tetapi melihat dia yang sedang terluka, Naura merasa tidak tega.


Kelembutan sikap Naura saat mengibatinya, membuat Aaron menjadi tergoda hingga ingin menyentuhnya.


Naura adalah istri SAHnya. Kalaupun ingin melakukan apa saja yang dia inginkan, itu wajar-wajar saja.


Tapi masalahnya, Naura mengenal dia sebagai 'Samuel' adik sepupunya. Bukan Aaron suami SAHnya.


Aaron sudah beberapa kali mencoba menggoda Naura, menciumnya dan ingin menyentuhnya jauh dari dugaan Naura. Tentu saja Naura sangat tidak terima.


Naura dengan kuat mendorongnya dan melangkah mundur untuk menjauhinya. "'Samuel! Kamu ini memang sangat kurang ajar! Tidak bisakah kamu menghormatiku sedikit? Aku ini kakak ipar sepupumu!" Ucap Naura dengan wajah dinginnya dan sangat marah menatap 'Samuel'.


Saat mengetahui bahwa 'Samuel' terluka akibat tertembak tadi, membuat Naura menjadi tidak begitu membencinya. Tapi ternyata, laki-laki menyebalkan ini masih saja bersikap tidak sopan kepadanya.


Aaron menyunggingkan sedikit senyumnya menatap Naura dan mengingat saat mencium bibir merahnya lalu dia mengusap bibirnya sendiri. "Kakak ipar, apa kamu mau tinggal bersama kakak sepupuku seumur hidupmu? Apa tidak mau mempertimbangkan aku?" Tanya Aaron dengan suara terdengar merdu dipendengaran Naura.


"Tidak mau!" Jawab Naura dengan sangat tegas menolaknya tanpa rasa ragu sedikitpun.


Naura memang terlihat sangat jelek. Kulit wajahnya yang gelap dan benyak jerawat dengan pakaian sedikit lusuh, terlihat seperti seorang nenek-nenek.


Tetapi, Aaron merasa penampilan Naura ini sangat menarik.


Naura merasa gelisah. Ia tidak bisa terus duduk diam saja disini hanya bersama 'Samuel' atau laki-laki ini akan bersikap tidak sopan lagi kepadanya.


"Sebaiknya kamu hubungi seseorang untuk segera menjemputmu! Kalau tidak, aku akan memanggil ambulance dan orang lain akan tau kalau kamu tertembak!" Ucap Naura mengancam 'Samuel'.


Meski Naura mengancamnya, tapi suaranya terdengar lemah dan sama sekali tidak merasa kalau Naura sedang mengancamnya.


Aaron hanya meliriknya dengan datar. Tidak menghiraukan ancaman Naura. Dia membaringkan tubuh tingginya lalu memejamkan mata ingin beristirahat.

__ADS_1


Naura menatapnya dengan bingung tidak tau harus bicara apa lagi. Dia hanya berdiri diam sambil menggigit bibirnya sendiri. Merasa tidak tega kalau harus membangunkan laki-laki ini dan menyuruhnya pergi.


Melihat 'Samuel' sudah tertidur, Naura pun berkesempatan pergi kepasar untuk berbelanja. Meski dia seorang Nona muda dari keluarga Affandi, tapi dia sama sekali tidak bernasib seperti layaknya seorang Nona muda.


Saat dia sakit, tidak ada orang dari keluarganya yang merawat dia. Saat dia lapar, tidak ada yang menanyakannya apakah sudah makan atau belum. Saat dia terluka pun, dia hanya bisa menahannya dan merasakannya sendiri. Dan kemampuan Naura dalam menjalani hidupnya ini sangat kuat.


Naura begitu membenci 'Samuel'. Tapi dia juga tidak ingin mengambil resiko membiarkan 'Samuel' mati ditempatnya jika tidak merawatnya.


Naura menjalani kehidupannya dengan sangat serius. Dia juga sangat rajin. Dia tidak akan membiarkan 'Samuel' kehilangan nyawa dan harus menguburkannya. Dengan terpaksa, dia membuatkan bubur dan sup untuknya.


Hari sudah malam. Naura membangunkan 'Samuel'.


"Bangun!"


Naura berdiri sejauh dua langkah dari tempat tidurnya. Takut kalau 'Samuel' akan melakukan sesuatu yang tidak sopan lagi kepadanya.


"Aku membuat bubur dan sup. Apa kamu mau makan?" Lanjutnya.


Naura berbalik dan mengambilkan semangkuk bubur juga sup lalu meletakkannya dimeja kecil disamping tempat tidurnya. Kemudian segera melangkah mundur menjauh.


Rumah yang disewanya ini sangatlah kecil. Selain dapur kecil dan toilet, ada tempat tidur berukuran satu setengah meter, ada meja kecil disamping tempat tidurnya, ada sofa tunggal dan juga ada rak buku bekas tapi masih terlihat bagus.


Dia tidak punya banyak barang. Itu saja sudah membuat rumahnya terlihat penuh.


Sejauh apapun Naura melangkah, tidak akan lepas dari pandangan Aaron.


Aaron melirik Naura dan dengan santai dia bangun duduk sambil membuka selimut. Dengan wajah tanpa ekspresianya, dia menunjukkan kain kasa yang menutupi lukanya sudah penuh dengan darah. "Lukanya terbuka." Ucapnya terdengar acuh seolah bukan membicarakan tentang lukanya melainkan sedang membicarakan mengenai orang lain.


Sebenarnya, Naura tidak peduli dengannya. Tapi hatinya merasa tidak tega. Dia pun dengan pelan melangkah mendekatinya, mengambil mangkuk yang berisi bubur lalu menyuapinya.

__ADS_1


Aaron terdiam tidak lagi mengatakan apapun. Sesuap Demi sesuap bubur dan sup masuk kedalam mulutnya. Suasana begitu hening dan hanya terdengar suara kecil dari sendok yang menyentuh mangkuk. Suasana menjadi terasa hangat didalam rumah yang begitu sempit ini.


...


Keesokan paginya, Naura terbangun karena mendengar suara ponselnya berdering digenggaman tangannya.


Ketika semua orang disekelilingnya telah memakai ponsel yang canggih dan model terbaru dengan bebagai macam fitur didalamnya, Naura masih memakai ponselnya yang hanya bisa dia pakai untuk memanggil dan menerima panggilan saja.


Saat dia melihat nama yang muncul dilayar kecil ponselnya, otaknya baru tersadar.


Naura merasa ragu sesaat, kemudian mengangkat panggilan telepon tersebut. "Ayah."


"Naura, matanya kemarin kamu pulang kerumah? Lalu, siapa yang mengantarmu pulang?" Tanya Fajar Affandi ayah kandung Naura terdengar sangat serius.


Naura merasa kecewa mendengar pertanyaan dari ayahnya yang menurutnya sangat tidak penting.


Bagaimana tidak kecewa? Sebagai seorang ayah ketika menelpon putrinya yang baru saja menikah, tidak bisakah sedikit memberi perhatian kepadanya dengan menanyakan kabarnya?


Fajar Affandi sangat jarang menelpon Naura. Dan tiba-tiba dia menelpon menanyakan ini kepadanya, membuat Naura meragukan niat ayahnya menelpon.


"Aku diantar adik sepupu Aaron." Jawab Naura dengan jujur.


Memdengar jawaban jujur dari Naura, Fajar terpaku sesaat.


"Naura, kalau ada waktu, kamu ajak kakakmu ke rumah keluarga Ardinata ya? Kamu kenalkan juga kakakmu ke anak laki-laki dari keluarga Ardinata supaya dia bisa kenal lebih banyak teman." Ucap Fajar terdengar seperti perintah dan Naura menjadi mengerti niat ayahnya yang tiba-tiba menelpon.


Mungkin saja, kemarin Marsha bertemu dengan 'Samuel' setelah dia pergi dengan diam-diam meninggalkan rumah keluarga Affandi. Sangat mungkin sekali kalau Marsha menyukai 'Samuel' lalu meminta Fajar untuk menjodohkan mereka.


Mereka berdua, ayah dan anak memang sama saja! Sama-sama punya niat yang sama.

__ADS_1


................


__ADS_2