
Naura terbangun. Saat terbangun, dia masih merasakan seluruh tubuhnya sakit. Tenggorokannya juga terasa kering dan terbakar.
Dia melihat sekelilingnya dengan bingung karena menyadari kalau ini bukan kamarnya.
Dia bangkit dan duduk ditempat tidur. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi kemarin malam. Dia masih tidak bisa mengingat apa-apa.
Saat itu, pintu kamar dibuka dari luar.
Naura melihat 'Samuel' masuk dengan membawa segelas minum, berjalan lalu berdiri disamping tempat tidur. "Minum dulu." Ucapnya sambil menyodorkan segelas minum pada Naura.
Naura menerima segelas minum itu dan langsung meminumnya sampai habis. Seketika dia tersadar kalau 'Samuel' masih memakai pakaian tidur. Dia menunduk dan melihat pakaian yang dipakainya juga pakaian tidur.
Perlahan-lahan, ingatannya pun mulai kembali. Karena terlalu banyak, dia sampai kesulitan ingin bertanya pada 'Samuel'."'Samuel'! Aku..kamu..semalam..kita...?"
Aaron kemudian duduk ditepian tempat tidur dengan posisi menghadap Naura. Tangannya dia letakkan untuk menopang tubuhnya. Wajahnya terlihat tenang dan sorot matanya menatap dalam mata Naura. "Semalam, di Bar 99, aku datang menolongmu. Setelah sampai rumah, kamu sangat ingin tidur dikamarku. Kamu juga mengambil kesempatan, apa yang seharusnya tidak dilakukan, kamu telah melakukan semua kepadaku."
Naura terdiam dan wajahnya terlihat kebingungan. Dia hanya mengingat dirinya melompat keluar dari bangunan itu, tangannya berpegangan pada pagar balkon kemudian bersembunyi di balik tirai dan setelah itu, dia tidak mengingat apapun lagi.
Tapi, dia juga ingat saat berpegangan pada pagar balkon, dia berpegangan dengan sangat kuat. Tapi, setelah itu, dia sudah tidak punya kekuatan lagi.
Dia sudah tidak punya kekuatan lagi, lalu bagaimana mungkin dia bisa melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan terhadap 'Samuel'?
"Jangan coba membohongi aku! Meskipun aku tidak ingat kejadian semalam, aku yakin aku tidak punya tenaga untuk melakukan sesuatu ke kamu!" Ucap Naura.
"Karena kamu tidak ingat, bagaimana kamu bisa merasa yakin kalau kamu tidak melakukan apa-apa kepadaku? Obat yang orang-orang itu berikan kepadamu, meski mereka meraciknya sendiri, efeknya sangat bagus." Ucap Aaron dengan tenang lalu mendekatkan wajahnya pada Naura. "Lagi pula, aku sangat menyukai kakak ipar, kalau kakak ipar mau, aku juga tidak bisa menolak."
Naura memperhatikan cara bicara 'Samuel' yang serius, sedikitpun tidak terlihat seperti sedang berbohong. Naura pun mempercayainya.
Kejadian yang dia alami semalam memang di tidak ingat. Karena dia menelan obat, mungkin memang ada sesuatu yang terjadi kepadanya.
__ADS_1
Pikiran Naura kosong sejenak. Tiba-tiba, dia teringat dengan Aaron Daffa.
Dia tidak seharusnya berada didalam kamar 'Samuel'. Kalau sampai Aaron Daffa tahu, entah apa yang akan terjadi.
Wajah Naura berubah menjadi pucat pasi. Dia menyibakkan selimutnya dan ingin beranjak turun dari tempat tidur. Tapi, 'Samuel' menahannya. "Kakak ipar semalam pasti sangat lelah. Istirahat saja dulu. Kalau ingin makan sesuatu, aku akan menyuruh orang memasak untukmu."
Aaron manahan pundak Naura tidak menggunakan tenaganya. Tapi, membuat Naura tidak bisa bergerak.
Naura membayangkan kejadian semalam. Mungkin, dia telah melakukan sesuatu dengan 'Samuel'. Dia benar-benar merasa sangat malu sekaligus marah. "Kamu memang tidak tau malu!"
"Hanya begini saja tidak tau malu? Lalu kalau seperti ini?" 'Samuel' mendorong pundak Naura hingga terbaring kembali dan menindihnya kemudian mencium bibirnya.
Naura yang dicium dengan tiba-tiba seperti ini, tubuhnya terpaku tak bergerak. Hal ini tentu membuat 'Samuel' berkesempatan untuk mengendalikannya.
Aaron menahan pergelangan tangan Naura. Dia menahan dan mengulum bibirnya, menciumnya dengan kuat dan ganas.
Selama hidupnya, satu-satunya orang yang berciuman dengan Naura hanyalah 'Samuel'. Tetapi, ciuman sebelumnya tidak sedalam seperti saat ini. Nafas 'Samuel' yang kuat, membuatnya merasa terperangkap dan membuatnya tidak memiliki ruang untuk memberontak.
Naura yang terbaring di tempat tidur, matanya terlihat jernih dan indah. Wajahnya tampak merah merona. Nafasnya menderu. Di mata Aaron, penampilan Naura yang seperti ini terlihat sangat menggemaskan.
Nafas Aaron yang tadinya tenang, menjadi sedikit lebih cepat. Dia menatap dalam-dalam mata Naura. "Masih ada yang lebih memalukan lagi. Apa kamu mau mencobanya?" Suaranya terdengar serak.
Perkataan 'Samuel' seketika menyadarkan Naura dari lamunannya. Dia mendongak dan melihat wajah 'Samuel' berada dekat diatas kepalanya. Dia menahan nafasnya kemudian memukul 'Samuel'.
Tapi, telapak tangannya dengan cepat ditangkap oleh Aaron. Dia kembali mencium sekilas bibir Naura dengan tersenyum kemudian menempelkan telapak tangan Naura di bibirnya. Aaron mengecup telapak tangan itu dengan lembut. "Aku sangat menyukai wanita yang gesit seperti kakak ipar."
Naura kembali terdiam dengan raut wajah yang sulit dimengerti. Dia hanya merasa kalau laki-laki ini benar-benar tidak tau malu!
Naura tidak bisa melepaskan tangannya karena 'Samuel' masih memegangnya dengan erat. Wajahnya tampak semakin marah. "Aku ini kakak ipar kamu!"
__ADS_1
Aaron seperti tidak mendengarkan ucapan Naura. Dia tersenyum penuh arti pada Naura. "Kakak sepupu sedang tidak ada dirumah. Dia pergi keluar negeri dan tidak akan kembali selama beberapa minggu. Tidak akan ada orang yang mengganggu kita. Bukankah, ini sangat menyenangkan?"
Menyenangkan kepalamu!
Naura tidak ingin berhubungan dengan adik iparnya.
Aaron melihat raut wajah Naura yang semakin kesal, tidak ingin menggodanya lagi. Dia beranjak berdiri dan wajahnya menjadi serius. "Mau makan apa? Aku akan menyuruh orang untuk membuatkannya."
"Aku tidak mau makan apa-apa!" Jawan Naura dengan ketus dan wajah dingin.
Naura hanya ingin 'Samuel' segera pergi keluar.
Aaron tidak peduli dengan wajah dingin Naura. Dia pun tampak acuh. "Kalau begitu, makan sedikit nasi dan sayur saja."
Setelah itu, Aaron pergi keluar. Naura segera beranjak turun dari tempat tidur dan pergi ke kemar mandi.
Naura hanya ingin memastikan apakah dirinya dan 'Samuel' benar-benar melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan.
Pegal-pegal yang dia rasakan ditubuhnya memang sudah biasa. Tapi, dia juga tidak merasakan ada hal aneh lainnya pada tubuhnya.
Di sisi lain, meskipun 'Samuel' tidak terlihat seperti orang baik, tapi Naura percaya kalau 'Samuel' bukanlah orang yang berbahaya.
Naura mengunci pintu kamar mandi. Dia memeriksa tubuhnya dan melihat sepertinya tidak ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Dia pun mencoba melompat beberapa kali, tapi tetap merasa baik-baik saja.
Naura tau kalau 'Samuel' membohonginya saja. Benar-benar sangat kekanakan. Apa dia merasa menyenangkan, membohonginya seperti ini?
Naura menghela nafas, kemudian berjalan ke wastafel ingin mencuci wajahnya. Tapi, pada saat dia melihat didirnya dicermin, dia tercengang.
Make-up diwajahnya yang jelek, siapa yang sudah menghapusnya?
__ADS_1
Baru saja dia merasa tenang, tapi seketika menjadi tegang kembali sekaligus panik.
...__________...