
Waktunya jam pulang kerja. Naura merapikan barangnya karena mau pulang.
Saat ingin beranjak, dia melihat sekertaris Fajar datang menghampirinya. "Nona Naura, Pak Fajar memanggilmu."
Untuk apa ayah memanggilku? Atau, Marsha yang memintanya karena ingin membalas dendam? Batin Naura.
Melihat rasa sayang Fajar ke Marsha, juga bukan tidak mungkin.
Karena itu, Naura menanggapi dengan serius dan sangat lembut. "Maaf ya, ini sudah jam pulang kerja. Kalau memang Pak Fajar Affandi mencari saya untuk urusan pekerjaan, saya akan mencarinya besok. Kalau ada masalah pribadi, dia akan memanggil saya sendiri. Dan juga, saya mau pergi menemui rekan kerja pria yang mengatakan kalau saya mangkir dan membuat dia bekerja sampai lelah sendirian."
Sekertaris itu sudah lama bekerja dengan Fajar. Dia juga cukup tau bagaimana keadaan Naura. Penampilannya yang sangat biasa dan responnya juga sangat lambat.
Dia juga tau dengan masalah yang akhir-akhir ini muncul. Tapi, setelah dia menemui Naura, dia baru menyadari bahwa Naura tidak hanya berubah menjadi sangat cantik, Naura juga berubah menjadi orang yang bermulut tajam.
"Tapi, Pak Fajar menyuruh Nona Naura menemuinya." Ucap sekertaris itu dengan tidak sabar.
Respon Naura, dia berdiri sambil meraih tasnya kemudian pergi keluar.
Naura keluar dari perusahaan Affandi langsung menuju ke halte.
Di halte banyak sekali orang yang juga sedang menunggu bus. Tiba-tiba, ada sebuah mobil hitam yang sangat familiar berhenti didepan Naura.
Kaca jendela mobil diturunkan, Fajar melihat ke arah Naura. "Naik ke mobil!"
Naura merasa ragu-ragu sejenak, tapi kemudian dia membuka pintu mobil dan naik.
Di dalam mobil hanya ada supir yang menyetir dan Fajar Affandi.
Setelah Naura naik ke mobil, juga tidak bicara terlebih dahulu.
Mobil melaju, tapi kemudian berhenti ditepian jalan.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Fajar baru bicara dengan pelan. "Naura, ayah tau kalau kamu bolos kerja itu karena ada kesalah pahaman. Hari ini, kakakmu juga sudah mendapat ganjaran yang begitu besar. Masalah ini, anggap saja sudah berlalu dan jangan dimasukkan ke hati."
Naura tersenyum. "Anggap sudah berlalu?"
"Kakak kamu sudah mendapat ganjaran yang begitu besar, kamu mau apa lagi?" Tanya Fajar sambil mengerutkan alisnya.
"Di sini." Naura menunjuk wajahnya sendiri. "Marsha sudah memukulku."
Atas dasar apa Fajar berkata sudah belalu lalu berlalu begitu saja?
"Kenapa dulu aku tidak tau kalau kamu begitu kejam!" Ucap Fajar dengan dingin.
"Yang jelas, tidak sekejam kamu. Putri kandungmu dipukul sampai seperti itu." Balas Naura dengan menundukkan kepala, tangannya memainkan resleting tasnya. Ucapannya terdengar acuh dan sindiran yang sangat jelas.
Hari ini, Fajar telah dipermalukan oleh 'Samuel' sampai seperti itu. Saat ini, hatinya masih merasa sangat kesal. Begitu membahas masalah ini, hatinya menjadi marah sekali.
"Kamu masih punya muka untuk membahas masalah ini? Aku yang sudah tua, memukul anakku sendiri sampai seperti itu, apa kamu pikir hatiku tidak sakit?!" Ucap Fajar dengan sangat marah dan sedikit berteriak.
Naura harus cepat pulang dan menyiapkan makan malam untuk 'Samuel'.
Fajar menatap Naura sejenak. Raut wajah Naura yang tidak sabar sangat terlihat jelas di mata Fajar.
Fajar yang tadinya merasa yakin kalau bisa meminta Naura untuk membujuk Aaron Daffa agar memberikan bantuan modal ke Perusahaan Affandi, sekarang menjadi tidak yakin.
Fajar menarik nafasnya dalam-dalam dan bicara dengan pelan lagi. "Hari ini, apa yang dikatakan oleh 'Samuel', kamu juga sudah mendengarnya kan."
Naura terdiam. Fajar melanjutkan ucapannya. "Karena investasi perusahaan gagal, jadi modal terputus. Tidak peduli bagaimana pun juga, kamu tetap masih anggota keluarga Affandi. Saat ini, seharusnya kamu bisa membantu perusahaan keluarga Affandi."
Naura tersenyum sinis. "Bukankah masih ada mahar pernikahan sebesar tiga triliun? Aku sudah menjual diriku dan ditukar dengan uang yang diberikan kepada kalian, terus kamu masih ingin aku membantu kalian seperti apa lagi?! Apa mau menjual diriku sekali lagi? Takutnya sudah tidak ada yang mau!" Ucap Naura dengan suara keras.
Mendengar ucapan Naura, Fajar menjadi sangat marah. "Kamu itu menikah secara resmi! Kenapa bisa bicara tidak enak seperti ini?!"
__ADS_1
"Yang seharusnya menikah itu Marsha!" Jawab Naura dengan mengangkat wajahnya menatap Fajar tanpa rasa takut sedikit pun.
Fajar pun dibuat terkejut dengan tatapan Naura. Terlihat begitu dingin dan asing. Sedikitpun, tidak seperti Naura yang dulu.
Karena merasa kalau Naura tidak bisa dibujuk, Fajar juga memasang wajah dingin menatapnya. "Apa kamu mengira kalau perusahaan Affandi hancur, mereka keluarga Ardinata masih bisa memperlakukan kamu dengan baik? Seorang Nyonya Muda Affandi yang tidak dipedulikan oleh keluarganya sendiri, akan sulit berdiri tegak di dalam keluarga Ardinata!"
"Kalau sudah tidak bisa berdiri ya cerai saja!" Ucap Naura dengan auch.
Akhirnya Naura tau, kenapa Fajar memberinya saham perusahaan dan minta dirinya bekerja di Perusahaan Affandi.
Ternyata ingin meminta dirinya membujuk Aaron Daffa agar memberikan modal tambahan ke Perusahaan Affandi.
Orang-orang di keluarga Affandi tidak pernah bisa mengerjakan bisnis dengan serius. Tapi kalau mengenai masalah hitung menghitung, sangat hebat!
"Kamu.......!" Fajar menunjuk Naura dengan sangat emosi sampai sulit untuk berkata-kata.
"Aku hanya bicara jujur apa adanya." Ucap Naura sambil menarik wajahnya kembali dan menjadi serius. "Saat itu, bagaimana ada perjanjian menikah antara Aaron Daffa dengan Marsha? Apa ada sesuatu yang disembunyikan?"
Raut wajah Fajar seketika berubah dan menjawab dengan cepat. "Omong kosong! Kakak kamu tidak sepadan dengan Aaron Daffa! Aaron Daffa yang tidak beruntung tidak menikah dengan Marsha!"
Fajar selalu ada pro dan kontra. Belasan tahun yang lalu, Perusahaan Affandi mengalami masalah sedikit lebih parah dari sekarang. Anggap saja, dia lebih menyayangi Marsha lagi, juga seharusnya dia tau kalau tidak ada apa-apa dibalik perjanjian pernikahan itu, kemungkinan keluarga Affandi bisa menikahkan anaknya dengan keluarga Ardinata itu juga sangat kecil.
Tiba-tiba saja raut wajah Fajar berubah. Dengan cepat dia membantah. Sepertinya, memang ada sesuatu di dalam perjanjian pernikahan itu yang tidak diketahui orang lain.
Sebenarnya, Naura meragukan perjodohan antara keluarga Affandi dengan keluarga Ardinata. Dia hanya asal bertanya saja. Tidak disangka tanggapan Fajar membuat Naura menjadi tertarik untuk tau lebih lanjut lagi.
"Ini sudah malam, aku mau pulang. Kalau masih ada malasah, besok saja dibicarakan lagi." Ucap Naura sambil melihat jam di ponselnya kemudian membuka pintu mobil dan keluar.
"Naura!" Teriak Fajar dari dalam dengan penuh emosi.
Naura menoleh dan memberikan senyuman yang cerah sambil melambaikan tangannya ke Fajar lalu pergi.
__ADS_1
...__________...