
Selesai mandi dan memakai piyama, dia membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan melakukan video call dengan Evelyn.
Terlihat Evelyn memakai pakaian tradisional dan dibelakangnya juga terlihat ada sebuah bangunan kuno. Sepertinya, sahabatnya ini sedang syuting film.
"Kamu masih dilokasi syuting?" Tanya Naura.
"Iya." Jawab Evelyn kemudian berlari ke pojokan ke tampat yang tidak ada orang. "Apa kamu mau tau, lawan mainku siapa?" Lanjutnya dengan sedikit berbisik.
"Siapa?" Tanya Naura dan seperti teringat sesuatu, dia menambah ucapannya lagi. "Tidak mungkin kalau Kairav Robinson kan? Bukankah dia sekolah ke luar negeri?"
"Iya dia!" Jawab Evelyn terdengar begitu semangat. "Sutradaraku sepertinya mengenal Kai, jadi dia mendatangkannya untuk menjadi bintang tamu dan kebetulan juga aku akan dilawan mainkan dengan dia! Bagaimana ini Naura? Aku benar-benar sangat gugup sampai-sampai seluruh tubuhku gemetar!"
"Tidak tau. Aku juga ikut gugup sepertimu." Ucap Naura dengan pelan.
Kairav Robinson merupakan salah satu aktor termuda dan paling populer di dunia perfilman. Sudah hampir delapan tahun ini Naura menjadi penggemarnya.
Naura mendengar dari seberang telepon ada yang memanggil Evelyn. "Evelyn ayo! Sudah waktunya untuk syuting!"
"Oke, aku segera kesana!" Jawab Evelyn kemudian bicara dengan Naura. "Naura, sudah dulu ya! Aku akan membantumu mendapatkan foto sekaligus tanda tangan dari Kai. Untuk foto telanjangnya mungkin aku tidak bisa, tapi aku akan berusaha mendapatkannya! Hahaha!" Ucap Evelyn yang diakhiri suara gelak tawa kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
Naura hanya terdiam dengan menatap aneh pada layar ponselnya. Dia tidak berpikiran kotor seperti Evelyn.
...
Keesokan harinya, Naura baru saja tiba di kantor. Dia melihat tatapan aneh dari para rekan kerjanya.
Dari awal, Naura sudah menduganya kalau mereka pasti akan seperti ini. Jadi, dia tidak ingin terlalu mempedulikannya.
Pak Jayus seharusnya sudah merasa kapok berurusan dengan Naura karena sudah beberapa hari ini tidak mencarinya.
Sampai di hari Jumat, dia baru datang mencari Naura dengan membawa orang. "Hari ini, kalian berdua pergi keluar untuk survei pasar dan supermarket. Hari Senin, kalian berikan laporannya kepadaku!"
Orang yang dibawa Pak Jayus seorang laki-laki berpawakan tinggi besar. Naura merasa kalau orang ini terlihat seperti orang yang baik. Tapi, dia melihat orang itu terlihat sangat asing.
Karyawan yang ada di departemen pemasaran sangat banyak. Naura baru bekerja beberapa hari dan belum mengenal mereka semua. Karena itu, dia tidak berpikir banyak.
Naura pun pergi keluar dari perusahaan bersama orang itu dan masuk kedalam taksi yang sudah dipesan sebelumnya.
"Perusahaan yang menanggung biaya transportasinya kan?" Tanyanya pada laki-laki disebelahnya.
__ADS_1
"Iya." Jawabnya dengan tatapan aneh menatap Naura.
Naura merasa was-was. Dia memalingkan wajahnya, melihat keluar jendela dan menyadari kalau taksi yang ditumpanginya melaju kearah pinggiran kota.
Sebelumnya, Naura melihat dokumen yang dibawanya. Produk yang akan dirilis adalah barang kebutuhan sehari-hari dan tempat yang akan mereka kunjungi di daerah perumahan.
Saat mobil berjalan melewati apotek, Naura melihat itu dan dia menggigit bibirnya dengan keras. Dia mengerutkan alisnya memperlihatkan wajahnya yang sedang menahan rasa sakit. "Bisa berhenti sebentar diapotek itu? Ada sesuatu yang mau aku beli."
"Memangnya kamu mau beli apa?" Tanya laki-laki yang duduk disebelahnya.
"Aku mau beli obat pereda nyeri." Jawab Naura sambil menoleh melihatnya. "Aku sedang datang bulan, perutku nyeri sekali."
Laki-laki itu mengernyit berpikir sejenak. "Kalau begitu aku akan menemanimu."
"Baiklah." Jawab Naura. Dia tau kalau dia menolaknya, pasti laki-laki ini akan mencari cara lain agar dia tidak keluar dari taksi.
Naura sekarang bisa memastikan, kalau laki-laki ini memang sengaja digunakan oleh Jayus untuk membalas dendam kepadanya.
Mereka berdua turun dari taksi dan berjalan masuk kedalam apotek. Laki-laki itu terus mengikuti dibelakang Naura.
Naura berjalan keluar dengan perlahan,
Naura melihat ada seorang laki-laki berjalan masuk kedalam apotek dengan memakai masker dan topi. Saat Naura berjalan melewatinya, tiba-tiba dia menggenggam lengannya dengan erat dan raut wajah yang terlihat terkejut. "Eh kakak sepupu? Kenapa kamu bisa ada disini?"
Dia pun benar-benar terkejut hingga melebarkan kedua bola matanya saat menatap laki-laki yang sedang dia genggam lengannya. "Ka......"
Belum selesai berucap, laki-laki yang memakai masker itu menyupitkan mata menatapnya dan langsung memotong ucapannya. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya kepadamu? Ada urusan apa kamu samapi datang kesini?"
Terdengar kekhawatiran disuaranya yang merdu.
Naura hampir saja mengira kalau laki-laki ini benar-benar 'kakak sepupunya'. "Aku baru saja membeli obat dan sudah mau pulang." Jawab Naura dengan heran.
"Kalau begitu, aku antar kamu!" Ucap laki-laki yang memakai masker itu kemudian menarik pergelangan tangan Naura dan membawanya pergi.
Tapi, rekan kerja yang tadi pergi bersama dengan Naura tentu saja tidak akan membiarkannya pergi. Dia mendekat dan menghalangi langkah Naura. "Tunggu! Kita mau pergi untuk riset pasar dan supermarket. Apa sekarang kamu mau bolos?"
Naura tersenyum melihatnya. "Kakak sepupuku ini jarang sekali bisa pulang dari luar negeri. Aku mau bertemu dengannya dulu. Jadi, kamu bantu aku meminta ijin ya?"
Laki-laki itu tetap saja masih menghalangi Naura. Kemudian laki-laki yang memakai masker, mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya. "Mau aku panggil polisi?"
__ADS_1
Seketika, laki-laki itu tidak berkutik lagi dan memberi jalan untuk Naura pergi.
Naura mengikuti langkah laki-laki yang memakai masker itu sampai masuk kedalam mobil. Dia merasa ragu, tapi akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. "Kamu, Kairav kan? Kairav Robinson?"
Kairav pun melepas maskernya dan tersenyum. "Begitu mudah dikenali ya?"
Naura menggelengkan kepalanya. Dia merasa sedikit terharu. "Bukan. Tidak....aku hanya...."
Naura menjadi gugup. Menunggu kesempatam ini selama hampir delapan tahun, dia merasa malu untuk memulai pembicaraan. Wajahnya pun merona.
Selama ini, Naura mengidolakan Kairav Robinson. Dia menonton semua serial drama maupun film yang diperankan oleh Kairav. Jadi, Naura sangat mengenal sorot matanya.
Kairav melihat wajah Naura yang merona, dia menganggukkan kepalanya. "Aku mengerti." Ucapnya dengan suara terdengar begitu lembut.
Kairav fokus menyetir sambil bertanya pada Naura. "Kamu mau pergi kemana?"
"Berhenti saja didepan sana. Aku akan pulang sendiri naik taksi tidak apa-apa." Jawab Naura.
Dia tidak menyangka bisa bertemu Kairav secara langsung seperti ini. Naura merasa sangat senang bisa bertemu dengan Kairav. Naura suka dengan Kairav hanya sebatas suka dengan film-film yang diperankan oleh Kairav. Baru saja Kairav sudah membantunya, tidak seharusnya Naura merepotkan dia.
Mobil telah berhenti ditempat yang Naura sebutkan. Sebelum turun, Naura kembali bertanya. "Apa setelah kamu kembali dari luar negeri, kamu akan menerima tawaran bermain film lagi?"
"Kalau ada peran yang bagus, aku pasti akan terus main film, main sampai tua, sampai aku sudah tidak bisa lagi main film." Jawab Kairav tanpa berpikir.
Seketika mata Naura berbinar dan menganggukan kepalanya. "Iya. Asal kamu terus memainkan peran dengan baik, aku pasti akan selalu menotonnya.
Senyum diwajah tampan Kairav menghilang. Dia merasa kalau Naura benar-benar sangat menyukai aktingnya juga seorang penggemar yang jujur.
"Terimakasih banyak atas bantuannya hari ini." Ucap Naura lagi.
Kairav mengerutkan keningnya karena teringat dengan masalah tadi. "Tidak masalah. Tapi, seorang perempuan saat pergi keluar sendirian sebaiknya harus sedikit hati-hati."
"Iya, aku pasti akan lebih hati-hati lagi." Naura masih memberikan senyumannya. Dia membuka pintu mobil dan turun.
"Siapa nama kamu?" Tanya Kairav saat melihat Naura turun dari mobilnya.
Naura berbalik melihat Kairav dengan terkejut. "Naura."
"Naura...." Kairav menyebut nama Naura dengan pelan sambil sedikit mengerutkan alisnya.
__ADS_1
Kalau dia tidak salah ingat, perempuan yang belum lama dinikahi oleh Aaron Daffa, sepertinya namanya juga Naura.
...__________...