Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#172


__ADS_3

Di sepanjang jalan, semua tempat yang dilalui, semuanya ada pelayan dan pengawal. Mereka semua berdiri untuk menyapa Naura dan Aaron. Bahkan di tikungan pun juga sama, mereka semua berderet rapi dalam satu barisan. Sangat jelas mereka terlatih dengan baik.


Naura diam-diam merasa panik, wajahnya menjadi sedikit serius.


Rumah tua Keluarga Ardinata sangat besar, Aaron dan Naura melewati halaman depan, berjalan melalui ruang tamu untuk menuju ke halaman belakang.


Usia Kakek Ardinata sudah lanjut, dia menyukai ketenangan. Jadi, dia pindah ke halaman belakang yang tenang.


Ketika tiba di pintu masuk Kakek Ardinata, Aaron bertanya kepada pelayan yang sedang berdiri di pintu masuk. "Apa kakek ada di dalam?"


"Iya." Ketika pelayan itu melihat Aaron, terlihat sedikit sukacita di wajahnya, dia mendorong pintu dengan ringan, dan berkata dengan hati-hati. "Tuan, Tuan muda sudah kembali."


Naura tidak bisa melihat ke dalam karena celah pintu sangat kecil dan kebetulan hanya cukup untuk pelayan itu berdiri di sana. Kemudian terdengar suara orang tua. "Kalau begitu biarkan mereka masuk."


Pelayan berbalik dan sedikit mengangguk ke arah Aaron.


Aaron menggenggam tangan Naura dengan erat. "Ayo kita masuk."


Naura di bawa masuk ke dalam kamar Kakek Ardinata oleh Aaron.


Penghangat ruangan di dalam sangat cukup, ada sedikit aroma tinta dan teh, perabotan di dalam ruangan itu juga sederhana. Ada sebuah rak buku, sebuah meja, dan beberapa set cangkir teh.


Meskipun usia Kakek Ardinata sudah lebih dari 70 tahun, tetapi dia terlihat masih sangat bersemangat. Dia berdiri dengan tegak, dan tubuhnya menunjukkan aura yang tenang dan damai.


Aaron yang berdiri di samping Naura memanggilnya. "Kakek."


Kakek Ardinata mengangangkat pandangannya, dan kebetulan bertatapan dengan Naura yang terus menatapnya. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun, tetapi dia terlihat sangat bermartabat.


Naura sedikit menurunkan matanya, dan Aaron yang berdiri di sampingnya menarik Naura ke belakangnya tanpa mengatakan apa-apa.


Gerakan perlindungan Aaron dilihat oleh Kakek Ardinata, dan itu membuatnya mendengus. "Siapa gadis itu?"


Aaron mengangkat alisnya. "Orang yang ingin kakek temui."


Mendengar jawaban Aaron yang terdengar sedikit agresif, membuat Kakek Ardinata kesal. Dia melemparkan pena yang ada di tangannya. "Siapa kamu?"


Naura: "..." 'Jangan-jangan Kakek sudah pikun?'


Begitu pemikiran itu baru saja muncul di hati Naura, Kakek Ardinata yang berdiri di sana menatapnya dengan dingin. "Siapa yang kamu bilang pikun?"


Naura dibuat terkejut oleh perkataannya. 'Apakah orang-orang yang berasal dari Keluarga Ardinata ini memiliki kemampuan untuk menafsirkan hati orang?'

__ADS_1


Namun, kekesalan Kakek Ardinata yang sedang memelototinya terlihat tidak begitu menakutkan. Sebaliknya dia merasakan seolah-olah ada perasaan akrab.


Naura tersenyum. "Tidak. Aku hanya merasa kakek memiliki aura semangat yang baik."


Ucapan Naura sangat berpengaruh bagi Kakek Ardinata. Dia menyipitkan matanya dan menatap Naura selama beberapa detik. "Kamu kemarilah."


Naura menoleh dan bertatapan dengan Aaron. Aaron memberikan tatapan seolah-olah sedang memberitahunya agar jangan cemas. Dia kemudian mendorong punggung Naura dengan sangat lembut, mengisyaratkan kepadanya untuk pergi ke sana.


Meskipun pembicaraan antara Kakek Ardinata dengan Aaron sedikit aneh, tetapi Naura juga dapat merasakan bahwa hubungan antara Aaron dan Kakek Ardinata cukup baik, bahkan dapat dikatakan sangat dekat.


Naura berjalan ke sana sesuai permintaan, wajahnya terlihat serius, dan dia berkata dengan serius. "Kakek, aku adalah Naura, istri Aaron."


Kakek Ardinata tidak segera berbicara. Dia hanya menatap Naura dengan tenang, dan Naura dibuat merasa tidak tenang oleh tatapannya.


Kakek Ardinata sepertinya melihat kecemasannya, kemudian tersenyum menyeringai seperti seorang anak kecil yang berhasil menjahili orang di wajahnya. Kakek Ardinata tersenyum dan berkata, "Oke. Kamu terlihat cantik. Duduklah!"


Naura tertegun sejenak, dan dia ingin menoleh untuk melihat Aaron lagi, tetapi Kakek Ardinata memelototinya. "Kenapa kamu malah melihat ke bocah tengik itu! Aku menyuruhmu duduk, maka duduklah!"


"..." Baiklah, dia duduk.


Namun, ketika dia mendengar Kakek Ardinata memanggil Aaron dengan sebutan "bocah tengik", dia menjadi merasa sangat bahagia.


Ketika Aaron melihatnya, dia berjalan ke sana dan duduk di sebelah Naura. Tetapi dia ditendang oleh Kakek Ardinata. "Siapa yang menyuruhmu duduk!"


Tendangan Kakek Ardinata itu cepat dan mantab. Kekuatannya jelas tidak ringan.


Naura yang melihatnya pun bisa merasakan sakitnya, dan alis Aaron sedikit berkerut, sangat jelas itu karena sakit.


"Kakek..." Nada bicara Aaron terdengar sedikit tidak berdaya. "Ini adalah pertama kalinya aku membawa cucu menantumu pulang, apakah kakek tidak tidak bisa memberiku sedikit muka?"


"Aku memberimu muka, namun siapa yang akan memberiku muka?" Kakek Ardinata jelas lebih marah daripadanya. "Kamu hitung sendiri, apakah kamu masih ingat kapan terakhir kali kamu mengunjungiku di rumah tua?"


Aaron terdiam ketika mendengar perkataan Kakek Ardinata.


Ruangan itu menjadi sangat hening.


Naura sedikit mengerti apa arti percakapan antara Aaron dan Kakek Ardinata barusan.


Aaron menduga bahwa kasus ibunya waktu itu berkaitan dengan Keluarga Ardinata, jadi dia sangat tidak suka dengan orang Keluarga Ardinata. Dia juga menolak untuk kembali ke rumah Keluarga Ardinata.


Naura hari ini pertama kalinya dibawa kembali ke rumah tua oleh Aaron. Urusan mereka, dia tidak seharusnya ikut campur.

__ADS_1


Kebetulan pada saat itu pintu dibuka lagi.


Orang yang datang adalah ayah Aaron, Faisal Ardinata.


Faisal Ardinata memanggil Kakek Ardinata. "Ayah."


Kemudian dia menoleh untuk melihat Aaron. "Sebelumnya ada orang yang meneleponku dan mengatakan bahwa Aaron sudah pulang, tetapi aku masih tidak percaya. Mengapa kamu tidak memberi tahuku kalau kamu mau pulang? Hari ini makan di rumah saja, dan tinggallah di rumah malam ini. Kamarmu selalu dibersihkan oleh pelayan, jadi kamu bisa langsung menempatinya."


Kakek Ardinata langsung mendengus. "Kenapa menyuruhnya tinggal?! Biarkan saja dia pergi!"


……


Pada akhirnya, Aaron dan Naura tetap tinggal.


Saat makan, beberapa orang duduk di meja makan besar dan di samping ada sederet pelayan berdiri di sana. Itu membuat Naura merasa tidak nyaman.


Setelah makan, Faisal telah pergi dulu karena ada urusan. Naura dan Aaron menemani Kakek Ardinata kembali ke kamar.


Pelayan menuangkan teh.


Kakek Ardinata mengambil sebuah angpao dan menyerahkannya kepada Naura.


Naura tidak langsung menerimanya.


Kakek Ardinata memelototinya. "Kenapa? Apa kamu tidak berani menerima hadiah pertemuan dariku?"


Naura akhirnya tahu tempramen arogan Aaron diwarisi dari mana.


"Terima kasih, Kakek." Setelah Naura mengambilnya, dia merasa angpao itu sangat tipis. Dia menduga di dalamnya mungkin cek atau semacamnya.


Tidak peduli apa yang ada di dalamnya, Naura merasa sedikit terkejut.


Sebelum datang, dia selalu berpikir bahwa dia akan dipersulit oleh kakek. Tetapi dia tidak menyangka bahwa Kakek Ardinata menerimanya dengan mudah.


Setelah menemani Kakek Ardinata minum teh sebentar, Naura dan Aaron diusir kembali ke kamar untuk beristirahat.


Kamar itu adalah tempat Aaron tinggal ketika dia masih remaja. Setelah masalah yang terjadi waktu itu, dia pergi ke luar negeri. Setelah dia kembali, dia tidak pulang ke rumah tua untuk tinggal, dia langsung tinggal di rumah yang ada di perbukitan.


Perabot di dalam kamar masih meninggalkan jejak kehidupan remajanya. Ada poster bintang basket, robot, buku, konsol game.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2