
Tinggi 'Samuel' sekitar 190 centimeter. Naura berdiri didepannya, tidak bisa menghalangi wajahnya.
Marsha melangkah maju sambil melirik Naura. Dia berusaha menggoda 'Samuel'. "Tuan 'Samuel', kita bertemu lagi."
Aaron melirik Marsha kemudian melihat Naura yang tiba-tiba berdiri didepannya menutupinya dari Marsha. Dia langsung mengerti kenapa Naura menutupinya.
Teringat dengan kata-kata yang Naura pernah katakan kepadanya kalau 'wajahnya mirip dengan ibunya'. Jadi, apa Naura memperlakukan dia seperti anaknya?
Teringat sampai di sini, raut wajah Aaron seketika berubah menjadi lebih dingin. Dia juga terlalu malas melihat Marsha.
Sedangkan Marsha menyadari kalau 'Samuel' tidak mempedulikannya, dia merasa agak canggung.
Tiba-tiba Fajar membuka suara. "Kalau ada sesuatu yang ingin dibicarakan, mari kita pesan ruangan di restoran dan bicara santai disana."
Mereka pun tiba disebuah restoran.
Saat masuk kedalam ruangan yang telah dipesan, mereka mempersilahkan 'Samuel' untuk duduk terlebih dahulu.
Tapi, seolah 'Samuel' tidak menghiraukan mereka. Dia menarik salah satu kursi dan menatap Naura. "Duduk."
Naura tidak tau sebenarnya apa yang akan dilakukan 'Samuel'. Tapi, Naura percaya kalau 'Samuel' tidak akan menyakitinya. Dia pun patuh dan duduk disana.
Setelah Naura duduk, 'Samuel' pun duduk disampingnya.
Melihat itu, Fajar segera memberikan tatapan kepada Marsha. Marsha mengerti arti tatapan dari ayahnya. Dia tersenyum dan segera duduk disisi lain 'Samuel'.
Naura mengira kalau 'Samuel' akan mengatakan sesuatu. Tapi, 'Samuel' tidak mengatakan apapun. Seolah, tidak melihat Marsha yang duduk disampingnya.
Naura pun memaki dalam hati. Apa mungkin dia salah mengira? Meskipun 'Samuel' terlihat seperti laki-laki yang memiliki kriteria tinggi, apa sebenarnya dia memang tidak pilih-pilih wanita?
Tidak perlu menunggu lama, hidangan dengan cepat sudah di sajikan.
Fajar terus berusaha mencairkan suasana.
Marsha juga terus berusaha mencari perhatian dengan membantu mengambilkan makanan untuk 'Samuel'.
Laki-laki tampan itu tidak menolak, tapi juga tidak memakannya.
Naura merasa, hari ini 'Samuel' terlihat sangat aneh. Mulai dari saat 'Samuel' duduk, Naura merasa dia terlihat sangat tenang. Bahkan tidak menolak Marsha yang mengambilkan makanan untuknya. Naura tidak percaya kalau 'Samuel' bisa tertarik dan menyukai Marsha!
Dalam lubuk hatinya, Marsha merasa sangat senang. Dia tersenyum manis. "Tuan 'Samuel', makan yang banyak. Menu disini semuanya lumayan enak."
__ADS_1
"Iya." Jawab Aaron dengan singkat dan jelas. Tapi juga tidak mengambil pisau dan garpunya.
Marsha juga tidak mempedulikan itu. Dia tiba-tiba bertanya dengan terang-terangan. "Tuan 'Samuel' apa sudah punya kekasih?"
Raut wajah Aaron tidak terlihat ada kemarah setelah mendengar pertanyaan Marsha. Malah dia menoleh dan menatap Marsha. "Tidak punya. Kalau Nona Marsha?"
"Saya juga tidak punya pacar. Sejujurnya, sebenarnya saya......" Marsha terlihat malu-malu. "Saya sangat menyukai Tuan 'Samuel'."
"Benarkah?" Aaron sedikit tersenyum kemudian bicara dengan suara rendah. "Tapi aku menyukai wanita yang memiliki wajah chubby. Sayang sekali wajah Nona Marsha terlihat terlalu kurus."
Seketika, Marsha membelalakkan matanya karena kaget hingga bola matanya hampir keluar dari matanya.
Sementara Naura yang sedang minum, dia hampir saja menyemburkan minuman dari mulutnya karena sangat kaget.
*D*ia ini bicara apa sih?!
Naura melihat 'Samuel' yang duduk disampingnya, melihat wajahnya yang sedang menunduk, sedikitpun tidak terlihat seperti sedang becanda.
"Aku bisa menambah berat badanku dan membuat wajahku terlihat gemuk." Ucap Marsha dengan penuh semangat hingga suaranya terdengar bergetar. Tak lupa dia juga melirik pada Naura dengan bangga.
Marsha merasa yakin kalau dirinya bisa mendapat perhatian dari 'Samuel'.
Naura segera membuang muka, sangat malas melihat wajahnya.
"Bagaimana caranya?" Tanya Marsha dengan cepat karena merasa kalau apa yang dikatakan 'Samuel' sungguh-sungguh.
Aaron kemudian melihat ke arah Naura. "Seperti dia."
Marsha melihat ke arah Naura. Dia masih belum mengerti apa yang dimaksud oleh 'Samuel'.
Tapi, Fajar mengerti apa maksud dari ucapan 'Samuel' dan segera mengeluarkan suaranya. "Tuan 'Samuel' benar-benar suka becanda. Ayo cepat dimakan. Kalau tidak, bisa keburu dingin."
Aaron sama sekali tidak mempedulikan Fajar Affandi. Raut wajahnya berubah menjadi dingin.
Aaron terlihat sangat tampan. Duduk disana dengan wajah yang dingin, terlihat lebih sombong. Auranya terasa sangat kuat dan dalam sekejap tidak ada orang yang berani bicara lagi.
Aaron benar-benar tidak bergerak sama sekali. Dengan dingin menatap Marsha, tapi masih bicara dengan santai. "Aku tidak memukul wanita. Jadi, sebaiknya kamu melakukannya sendiri."
"Tuan 'Samuel', candaan ini tidak lucu......"
"Candaan?" Aaron mengaitkan bibirnya.
__ADS_1
Di wajahnya sama sekali tidak terlihat dia sedang tertawa. Kemudian berubah menjadi menakutkan. "Kalin pikir, Keluarga Ardinata menghabiskan uang sebanyak tiga triliun untuk menikahi seorang wanita dan kalian dengan seenaknya menjadikannya sebagai lelucon?!"
Mereka pun baru mengerti, apa tujuan 'Samuel' hari ini mau makan bersama dengan mereka.
Naura dengan wajah terkejut menatapnya. Dia tidak mengira kalau 'Samuel' akan membelanya.
Dia juga baru tau hari ini, kalau keluarga Ardinata sudah memberikan uang sebanyak tiga triliun ke keluarga Affandi sebagai mahar pernikahan.
Meski uang sebanyak tiga triliun bagi keluarga Ardinata tidak berarti apa-apa, tapi untuk keluarga Affandi, jumlah itu merupakan jumlah yang sangat banyak.
'Samuel' mengatakannya dengan sangat jelas. Fajar Affandi sebagai kepala keluarga, dengan sendirinya berdiri berusaha memberikan penjelasan. "Tuan 'Samuel', sebenarnya masalahnya seperti ini, Naura dan Marsha mereka kakak beradik. Naura melakukan sedikit kesalahan dan Marsha yang menyayangi adiknya, ingin memberi Naura sedikit pelajaran......"
"Tuan Fajar Affandi apa sudah tidak bisa mengerti dengan ucapan orang?" Ucap Aaron sedikit mengangkat wajahnya dan menatapnya dengan tatapan tajam.
Mendengar ucapan 'Samuel', raut wajah Fajar seketika berubah. Sama sekali tidak terpikirkan olehnya kalau 'Samuel' ini benar-benar telah menjatuhkan harga dirinya.
Raut wajah Fajar tidak enak dilihat menatap Naura. "Naura, masalah ini......"
Naura tidak menghiraukannya. Mengambil pisau dan garpu, menunduk dan memakan steak dagingnya.
Mereka semua mengerti kalau masalah hari ini, tidak bisa dibicarakan secara baik-baik.
Fajar mengerutkan alisnya, tidak berbicara lagi.
Kini giliran Merlin yang bersuara. "Tuan 'Samuel', saya sebagai ibunya Naura, tolong maafkan Marsha. Naura kamu lihat......."
Aaron sudah merasa tidak bisa menahan kesabarannya lagi. "Investasi perusahaan Affandi akhir-akhir ini gagal. Rantai modal terputus dan sangat membutuhkan bantuan dana. Kalau sampai masalah ini diketahui oleh partner bisnis kalian, apa yang akan mereka lakukan?"
Seketika, raut wajah Fajar menjadi semangat pucat. Rantai modal perusahaan sudah terputus dan ini menjadi rahasia diantara orang-orang dalam saja. Lalu bagaimana 'Samuel' bisa mengetahuinya?
Kalau sampai partner bisnis mereka mengetahui masalah ini, mereka pasti akan mengambil keuntungan dari kerugian perusahaannya dan pasti akan membuat situasi menjadi semakin buruk.
Fajar menggertakkan giginya dan memberi perintah kepada Marsha dengan kejam. "Marsha! Cepat kamu lakukan sendiri apa yang diminta Tuan 'Samuel'!"
Marsha tidak percaya kalau ayahnya akan berkata seperti itu. "Yah!" Protesnya.
Fajar melihat Marsha yang masih tidak menurut, dia baerdiri dan melangkah mendekatinya lalu menamparnya.
'PLAK!'
"Masih ada satunya lagi." Ucap Aaron dengan santai.
__ADS_1
Fajar menampar Marsha lagi dengan keras.
...__________...