Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#152


__ADS_3

Aaron mendudukkan Naura dikursi samping pengemudi, setelah memakaikan sabuk pengaman, Aaron berjalan kesisi lain untuk mengemudi.


Naura mendengar suara kunci pengaman berbunyi 'klik'. Dia melirik Aaron, "Kenapa kamu mengunci pintu mobilnya? Apa kamu pikir aku akan melompat keluar dari mobil karena bertengkar denganmu?"


"Aku tidak berpikir seperti itu." Ucap Aaron dengan menatap kedepan tanpa ekspresi.


Naura mendengus dingin, kemudian dia mendengar Aaron berkata dengan lembut. "Tapi bagaimana jika otakmu rusak dan kamu melompat keluar?"


Naura: "......"


Dia berpikir, orang seperti Aaron ini jika bisa mendapatkan teman maka itu adalah sebuah keajaiban.


Ketika sampai dirumah sakit, Aaron mengambil sebuah mantel dari belakang untuk membungkus Naura dan menggendongnya untuk menemui dokter.


Naura melihat mantel yang dipakai untuk membungkus dirinya, itu adalah mantelnya sendiri.


Ketika dia menghadiri acara perjamuan, dia hanya memakai gaun yang tidak menutup semua tubuhnya.


Jadi, apakah Aaron pergi ke acara perjamuan sengaja untuk mengantarkan mantel ini untuknya?


Saat ini sudah larut malam dan tidak banyak orang dirumah sakit. Tapi, Aaron menggendong Naura masuk kedalam rumah sakit, ini menarik perhatian lumayan banyak orang.


Naura merasa malu, dia berbisik kepada Aaron. "Kamu turunkan aku, aku bisa jalan sendiri."


"Baik."


Aaron menjawab dengan singkat, tetapi Naura merasa bingung.


Aaron menurunkannya dan melepaskan tangannya. "Ayo jalan."


Kaki Naura sangat sakit, meskipun hanya bergerak sedikit, dia sekarang sama sekali tidak bisa berjalan.


Apakah dia berpikir, aku sudah tidak bisa berjalan lagi? Batinnya.


Naura menekuk kakinya yang sakit, dia kemudian melompat dengan satu kaki sambil memegang dinding dan sampai ke ruang periksa.


Pada saat ini, dia sedikit bersyukur karena fisiknya lumayan baik.

__ADS_1


Wajah Aaron menjadi marah, dan kebetulan ada seorang wanita tua yang berjalan melewatinya.


Wanita tua itu melirik Aaron, orang yang disamping berkata: "Pria jaman sekarang sangat tidak perhatian sekali kepada pacarnya, kaki gadis itu bengkak begitu parah, kasihan sekali melihatnya....."


Wajah Aaron menjadi lebih suram lagi, tetapi dia malah mengoreksi kata-kata orang itu dan berkata dengan lantang. "Bukan pacar, tapi istri!"


"Ini bahkan lebih mengerikan, pria seperti ini, cepat atau lambat pasti akan bercerai."


Wanita tua itu tampak sangat bersemangat, suaranya juga terdengar kencang, bahkan Naura yang sudah melompat ke depan bisa mendengarnya dengan sangat jelas.


Dia sampai tertawa sangat kencang.


Wanita tua itu kemudian berkata pada Naura, "Gadis cantik, aku punya seorang cucu yang bekerja sebagai manajer di AD Entertainment, gajinya lumayan dan juga tampan. Jika kamu bercerai dengannya, kamu pertimbangankan cucuku, ya!"


"......" Naura tidak bisa tertawa lagi.


Aaron berjalan maju dengan wajah suram. "Kami tidak akan bercerai!"


Wajahnya terlalu suram, membuat wanita tua itu terlihat ketakutan dan tidak berani berbicara lagi. Sebaliknya, dia melihat Naura dengan cemas kemudian berbalik dan pergi meninggalkannya.


Pikiran wanita tua itu lumayan aneh. Pada umumnya orang-orang akan membujuk supaya rukun, bukan malah bercerai.


"Lihat apa?! Ayo jalan!" Aaron berkata dengan tidak sabar.


……


Naura melihat kakinya, sekarang sudah jam satu atau dua dini hari. Musim dingin di kota B sangatlah dingin, suhu minus sepuluh di malam hari sangat normal.


Kali ini Aaron menggendongnya dan Naura juga tidak menolaknya lagi.


Keduanya langsung pulang ke rumah.


Ketika Aaron menggendong Naura naik ke lantai atas, Samuel muncul di tangga dengan rambut keritingnya sambil menyipitkan mata.


Ketika dia melihat Aaron menggendong Naura, dia langsung membuka matanya lebar-lebar. "Kak Naura?! Kamu sudah pulang?!"


"Kenapa kamu masih belum tidur?"

__ADS_1


Samuel menggaruk kepalanya. "Aku terbangun untuk pergi ke toilet."


Dia menyipitkan mata terlihat sangat mengantuk. Wajahnya sama sekali tidak seperti baru bangun di tengah malam. Dia jelas-jelas belum tidur.


Keduanya kembali ke kamar, Aaron masuk kedalam kamar mandi untuk menyiapkan air.


Naura berbaring ditempat tidur, kepalanya merasa sedikit sakit.


Dia pergi ke acara perjamuan, akhirnya terjadi banyak hal dan hatinya merasa pusing.


Tidak lama kemudian, Aaron berjalan keluar dari kamar mandi. "Airnya sudah siap, pergi mandi."


Naura melompat masuk ke kamar mandi, tapi melihat Aaron tidak keluar. Dia menoleh dan berkata dengan tidak sabar. "Kenapa kamu masih berdiri disini......" Mau apa kamu?!


Tiga kata terakhir hanya sanggup ia katakan dalam hati karena tiba-tiba Aaron membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman dalam.


Tangan Aaron memeluk pinggangnya erat, tenaganya sangat kuat dan mencium Naura dengan kuat.


Naura sudah tidak memakai sepatu hak tinggi, tubuhnya tidak tinggi. Naura terpaksa menerima ciuman Aaron dengan kepala terangkat.


Naura ditekan Aaron ke dinding.


Di satu sisi adalah tembok yang terasa dingin, disisi lain adalah dada Aaron yang hangat. Perasaan seperti tidak enak sama sekali.


Tapi Aaron sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk memberontak. Dia langsung meraba dan melepas pakaiannya.


Sekarang Aaron sudah sangat terampil melepaskan pakaiannya dan dengan mudahnya dia menemukan titik sensitifnya.


Naura tidak ingin melakukannya dengan Aaron disituasi seperti ini, namun tubuhnya telah melemas. Akhirnya dia hanya bisa membiarkan Aaron melakukannya.


Saat Aaron melakukan hal ini, gayanya sama seperti biasanya, tidak ada kelembutan sedikitpun. Namun, dia sangat berhati-hati dan sama sekali tidak menyentuh pergelangan kakinya yang bengkak.


Mandi kali ini sedikit lebih lama.


Saat tubuh Naura digendong keluar oleh Aaron yang hanya melilitkan handuk ditubuhnya, Naura tidak sanggup lagi untuk membuka matanya dan langsung tertidur.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2