Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#21


__ADS_3

Setelah membicarakan masalah mengenai video yang tersebar diinternet, Merlin beranjak pergi untuk meminta pelayan menyiapkan makanan.


Ketika berjalan didepan Naura, Merlin berbisik kepadanya. "Ikut ibu sekarang !"


Saat Naura keluar mengikuti Merlin, Merlin menariknya masuk kedalam kamar Naura lalu menutup pintunya. Dia menatap serius Naura. "Apa kamu yang menyuruh orang merekam dan menyebarkan video itu di internet?"


Naura terpaku sejenak. Fajar Affandi saja bisa mempercayainya. Tapi, kenapa Merlin tidak?


Dengan wajahnya yang terlihat bodoh, Naura menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan Bu..."


Bagaimanapun juga, Naura adalah anak kandung Merlin. Hati mereka memiliki ikatan batin dan menurut Merlin, masalah ini semakin rumit.


Merlin mengerutkan alisnya menatap Naura. "Ayah dan kakakmu begitu percaya kepadamu. Kamu jangan membohongi mereka."


Naura menundukkan wajahnya. Dia tidak tau lagi apa yang harus dia katakan. "Aku lapar, Bu." Ucapnya dengan pelan, terlihat sedih dan seperti orang bodoh.


Melihat Naura yang seperti ini, Merlin merasa kalau dirinya sudah keterlaluan. Dia menghela nafasnya dan sikapnya menjadi lebih lembut kepada Naura. "Ya udah, turun sana!"


Begiru Naura keluar dari kamarnya, seketika kesedihan di wajahnya menghilang.


Setelah Naura dipaksa menikah dengan Aaron Daffa, dia tidak ingin lagi berhubungan dengan keluarga Affandi. Dia hanya ingin menjalani hidup dengan tenang.


Tapi, keluarga Affadi sepertinya malah ingin memanfaatkannya dan tidak melepaskannya. Jadi, Naura hanya mengikuti permainan mereka saja.


...


Naura berjalan menuju tangga. Saat berjalan sampai didepan tangga, dia mendengar suara dilantai bawah. Selain suara Fajar Affandi dan Marsha, masih ada suara seorang laki-laki yang tidak asing lagi di pendengarannya.


Naura segera turun kebawah dan dia terpaku saat melihat laki-laki itu.


Benar kan? Untuk apa dia datang kemari?


Fajar yang melihat Naura turun, dia melambaikan tangannya meminta Naura segera mendekat. Sikapnya terlihat begitu lembut dan manis kepadanya. "Naura, Aaron menyuruh adik sepupunya untuk menjemput kamu."


Naura begitu terkejut merasa tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan 'Samuel' dirumahnya.


'Samuel' terlibat begitu tampan memakai setelan jasnya yang terlihat mewah ditambah lagi dengan senyumannya. Dia duduk santai disofa tapi aura yang terpancar diwajahnya begitu kuat.


Merasa diperhatikan oleh Naura, 'Samuel' pun mengangkat wajahnya dan melihat kearahnya. "Kakak ipar, kakak sepupu memintaku untuk menjemputmu."

__ADS_1


Entah mengapa mendengar ucapan 'Samuel', Naura merasakan kehangatan dalam hatinya yang sulit diungkapkan.


Dia hanya sedikit mengangguk meresponnya. "Oh."


Marsha tiba-tiba menjadi teringat sesuatu. Dia segera berpindah tempat duduk dan duduk disamping Fajar. Entah apa yang sedang dibisikkan oleh Marsha kepada Fajar.


Tidak perlu mendengar, Naura sudah bisa menebaknya. Sudah pasti, Marsha mengatakan sesuatu hal yang tidak baik.


Aaron, menatap Naura. Dia memperhatikan wajah Naura yang merah. Seketika sorot matanya menajdi dipenuhi amarah. Aaron mengepalkan tangannya.


Meskipun wajah Naura sangat jelek dan terlihat bodoh, bagaimana pun juga Naura tetap istrinya.


Aaron sendiri tidak pernah memukulnya. Tapi, orang-orang dikeluaga Affandi ini berani memukul istrinya?!


Aaron melirik kearah Fajar Affandi dan Naura yang duduk disana. Lalu dia menatap Naura. "Duduk disini."


Naura tidak ingin duduk di dekat 'Samuel'. Tapi entah mengapa, dia juga tidak bisa menolaknya. Dia tidak tau untuk apa 'Samuel' datang kerumahnya? Dia memutuskan untuk menuruti ucapan 'Samuel'.


Naura hanya merasa, kenapa Aaron bisa menyuruh 'Samuel' untuk menjemputnya?


Begitu Naura duduk disampingnya, 'Samuel' langsung menatapnya. "Kakak ipar, kenapa wajahmu merah dan bengkak begini? Aku hampir saja tidak mengenalimu." Ucap 'Samuel' yang seketika membuat Marsha dan Fajar merasa panik dan takut.


Mendengar 'Samuel' mangatakan hal ini, dia melirik kearah Fajar dan Marsha.


Marsha sudah merasa sedikit takut sejak melihat kedatangan 'Samuel' karena aura yang terpancar pada 'Samuel' sangat kuat. Setelah mendengar 'Samuel' menanyakan wajah Naura yang bengkak, Marsha menatap Naura dengan tatapan penuh ancaman.


"Em..aku tadi sangat ceroboh tidak hati-hati..jadi jatuh." Ucap Naura menjelaskan dengan ekspresi wajah yang ketakutan dan menggigit bibir bawahnya.


Orang lain pun bisa mengetahui kalau Naura sedang berbohong.


Aaron memicingkan matanya lalu sedikit mendakat menatap Naura. "Benarkah?"


Naura menunduk, tidak berani menatap 'Samuel'. "I iya..benar."


Aaron hanya menyeringai dan tidak bicara lagi.


Kedatangan 'Samuel' kerumah Naura ingin menjemputnya. Tapi, disisi lain bahwa Aaron Daffa mengganggap Naura sesuatu yang penting baginya.


Naura tidak peduli apakah 'Samuel' datang menjemputnya karena disuruh oleh Aaron Daffa atau tidak. Dia yakin kalau dia memberitau 'Samuel' wajahnya bengkak karena dia ditampar oleh Marsha, 'Samuel' pasti akan membelanya.

__ADS_1


Tapi, Naura merasa kalau dirinya bisa menyelesaikan masalah keluarganya. Disisi lain, dia merasa kalau 'Samuel' terlalu berbahaya baginya. Dia juga tidak ingin terlalu banyak urusan dengannya.


Fajar merasa puas dan lega mendengar jawaban dari Naura. "Tuan Muda 'Samuel' khusus datang kerumah kami, mari kita makan bersama dulu sebelum pergi." Ucap Fajar Affandi dengan lembut.


"Boleh." Jawab Aaron dengan acuh sambil duduk bersandar di sofa.


Fajar merasa terkejut tidak menyangka kalau 'Samuel' akan menerima ajakan makan bersama dengannya.


Meskipun 'Samuel' hanyalah seorang Tuan Muda yang biasa di keluarga Ardinata, Fajar harus tetap bersikap baik terhadapnya.


Ada pelayan yang datang menghampiri Fajar dengan membawakan ponselnya karena ada telepon masuk. Fajar segera beranjak pergi untuk menerima panggilan telepon tersebut.


Marsha merasa tidak nyaman duduk disana, dia pun mencari alasan Dan pergi juga.


Diruang tamu hanya ada Naura Dan Aaron saja. Naura melihat sekeliling sambil mengerutkan alisnya lalu bertanya pada 'Samuel'. "Kamu ngapain datang kesini?"


Aaron menoleh menatap Naura ketika gadis ini bertanya kepadanya. "Aku datang untuk jemput kamu."


Naura mendengus kesal. "Jangan cari masalah!" Ucapnya dengan suara pelan.


Aaron tersenyum miring. "Terserah apa yang kamu pikirkan." Ucapnya seolah tidak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh Naura.


Kedatangan Aaron sebenarnya sama sekali bukan untuk menjemput Naura. Dia sengaja ingin bertemu dengan anggota keluarga Affandi.


Mengenai masalah di internet, meski tidak berdampak apa-apa terhadapnya, tapi benar-benar sangat merotkan.


Naura yang sudah menjadi istrinya, tidak pernah membuatnya repot. Tapi, keluarga Affandi sangat merepotkan. Jadi, Aaron Daffa tidak keberatan untuk langsung turun tangan menyelesaikannya.


Ketika Naura masih ingin bicara, tiba-tiba Fajar dan Merlin berjalan menuruni tangga disusul dengan Marsha yang berjalan dibelakang mereka. Tidak tau Naura dan 'Samuel' membicarakan apa. Melihat sorot mata Naura, terlihat tidak bersahabat.


"Marsha, kemarilah! Kamu temani Tuan Muda 'Samuel' mengobrol dulu." Seru Fajar kepada Marsha kemudian menoleh kearah Naura. "Naura, kamu ikut ayah sebentar. Ada yang mau ayah bicarakan sama kamu."


Naura hanya diam melirik Marsha kemudian bangkit berdiri dan beranjak mengikuti Fajar.


Marsha ingin duduk ditempat Naura disamping 'Samuel'.Tapi, tidak disangka ketika dia melangkah ingin duduk, 'Samuel' dengan wajah dingin meliriknya. "Jangan dekat-dekat denganku!"


Marsha terdiam dan terpaku. Dia teringat saat pertama kali bertemu dengan 'Samuel' dan mempersilahkan dia masuk, tapi laki-laki ini tidak menerima maksud baiknya. Laki-laki ini benar-benar tidak bersahabat!


Marsha merasa heran. Sebenarnya apa baiknya dari Naura? Laki-laki setampan ini bisa datang kemari hanya ingin menjemputnya.

__ADS_1


...__________...


__ADS_2