Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#62


__ADS_3

Sebelumnya, Aaron memang sudah pergi meninggalkan perusahaan Affandi setelah mengantar Naura.


Tapi, dia teringat dengan apa yang dilakukan oleh Marsha terhadap Naura lalu dia kembali lagi.


Dan ternyata Aaron melihat pertunjukan yang sangat bangus!


Aaron sudah tumbuh dewasa seperti ini, selain ibunya, ini pertama kali dalam hidupnya dia dilindungi oleh seorang wanita.


Dia merasa perasaan ini sangat aneh.


...


Sepatu yang dipakai Naura adalah sepatu kulit dengan hak kecil berukuran kurang lebih empat centimeter. Saat dipakai untuk menginjak Marsha tadi, tidak begitu terasa sakit.


Tapi, tentu saja Marsha tidak bisa terima kemarahan ini. Sejak dulu, Naura yang selalu mengalah ke dia. Tapi sekarang, Naura si perempuan murahan itu telah berani menginjak kakinya!


Saat Marsha berlari sampai ke lobby perusahaan, dia melihat Naura sedang menunggu lift.


Naura menoleh ke arah Marsha, tersenyum sinis kemudian berjalan masuk kedalam lift.


Dia keluar dari lift dan langsung berjalan menuju ruangan kantor Fajar Affandi.


Hari jumat lalu, Fajar menelponnya. Memintanya datang ke kantornya hari senin untuk membicarakan masalah pemindahan bagian. Naura masih mengingatnya dan sekarang dia pergi ke kantor Fajar.


Naura belum menunggu lama, Fajar sudah datang.


Marsha mengikuti langkah Fajar di belakang.


Mereka tidak tau kalau Naura sudah sampai di kantor dan mendengar Marsha mengadu pada Fajar.


"Yah, Naura itu sudah keterlaluan. Meskipun kadang-kadang tempramenku kurang baik, tapi kenapa dia seperti itu kepadaku? Aku ini manajer proyek dan dia tidak menganggapku, sudahlah. Tapi, takutnya dia juga tidak menganggap Ayah....."


Naura yang duduk disofa memiringkan kepalanya dengan wajah tidak bersalah melihat kearah ayah dan anak yang masuk kedalam.


Ucapan Marsha ini sungguh tidak benar. Bukan temperamennya yang tidak baik, melainkan hatinya yang tidak baik!😁


"Perkataan kakak ini sangat tidak benar. Orang yang paling aku hormati adalah Ayah."


Mendengar suara Naura, mereka berdua baru menyadari ternyata ada orang lain didalam kantor.


"Kenapa kamu ada di sini?!" Tanya Marsha dengan terbelalak karena terkejut seperti melihat hantu.


"Ayah ada urusan yang ingin dibicarakan denganku, jadi aku datang kesini untuk menunggu." Ucapnya lalu tersenyum dengan wajah tidak bersalah.


Akhirnya, Marsha sudah benar-benar sangat percaya. Naura yang dulunya selalu menerima nasibnya, ternyata semua itu palsu.

__ADS_1


Fajar baru saja mendengar pengaduan dari Marsha terhadap Naura. Dalam hatinya timbul kemarahan begitu melihat Naura dan raut wajahnya langsung berubah. "Ada urusan apa karyawan sepertimu sembarangan masuk kedalam ruangan Presiden Direktur Utama?!"


"Oh." Response Naura kemudian bangkit berdiri dan berjalan keluar sekalian menutup pintunya kembali.


Marsha dan Fajar saling bertatapan merasa tidak tau apa yang akan dilakukan oleh Naura.


'Tok Tok Tok!'


Kemudian mereka mendengar suara ketukan pintu dari luar.


"Permisi Pak Presiden Direktur Utama, ini saya Naura. Apa sekarang saya boleh masuk?" Seru Naura dari depan pintu dengan sangat sopan.


Fajar benar-benar dibuat Naura marah hingga merasa pushing. Dia berjalan ke kursi kebesarannya dan duduk. Menatap ke Marsha sambil mejunjuk ke arah pintu menggunakan dagunya. "Marsha, kamu suruh dia masuk!"


"Masuk!" Teriak Marsha dengan perasaan tidak rela.


Tapi, Naura tidak segera mendorong pintunya dan masuk.


Marsha pun berjalan ke pintu dan membukanya. Didepan pintu tidak terlihat bayangan Naura.


Marsha menggertakkan gigi menahan amarahnya. Dia menoleh kebelakang melihat ke ayahnya. "Yah, dia sudah pergi!"


Dan ternyata, Naura sudah kembali ke ruang kerjanya. 😆


Naura tidak melihat bayangan Pak Jayus.


Setiap hari senin selalu diadakan rapat.


Naura sebagai karyawan paling bawah, masalah rapat tidak ada hubungan dengannya.


Tapi, tidak lama kemudian setelah rapat selesai, Fajar bersama Marsha mengikuti Jayus datang ke bagian pemasaran.


Naura merasa kalau kedatangan mereka bukan hal yang baik dan sangat memungkinkan alasan kedatangan mereka adalah karena dia.


Kebetulan Naura melihat Marsha menatap kearahnya. "Naura, kamu kesini!"


Ternyata memang datang untuk dia.😁


Naura melihat kearah mereka bertiga. Dia bangkit berdiri dan berjalan menuju mereka.


Naura belum sampai mendekat, tapi Marsha sudah melangkah maju mendekatinya dan dengan kasar langsung menampar wajahnya. "Apa kamu tau kenapa aku menampar kamu?"


Naura memegang pipinya yang sakit Setelah beberapa saat, dia baru membalikkan kepalanya dan menatap Marsha.


Meskipun Marsha bersikap seolah demi sebuah keadilan, tapi pandangan matanya yang sudah ingin segera membalaskan dendam tidak luput dari mata Naura.

__ADS_1


"Aku tau, memintamu bekerja dibagian pemasaran memang sangat melelahkan. Tapi, kamu adikku dan kamu masih anggota keluarga Affandi. Karena sudah menetapkan kamu bekerja di sini, sudah seharusnya kamu bisa memberikan contoh yang baik kepada mereka semua! Tapi apa? Di hari pertama kamu bekerja, kamu sudah langsung meminta dipindahkan ke bagian lain?! Apa-apaan kamu ini?!"


Dalam hati, Naura tertawa geli.


Kalau sedang saat seperti ini, mengakui Naura sebagai keluarga Affandi?


Naura menatap Marsha dengan dingin. "Untuk masalah kemarin, aku yang salah....."


Setelah bicara sampai sini, Naura segera mengalihkan topik pembicaraan. "Rekan kerja yang keluar bersamaku kemarin, pasti sangat lelah. Aku mau meminta maaf kepadanya dihadapan mereka semua, boleh tidak?"


Marsha merasa terkejut. Dia tidak menyangka kalau Naura begitu cepat ditaklukkan?


Saat ini, Pak Jayus berbisik ditelinga Marsha. "Laki-laki yang kemarin, dia tidak bekerja disini."


Karena Pak Jayus memiliki motif, jadi dia tidak nenggunakan orang dalam di perusahaan. Takut kalau urusannya menjadi besar dan juga takut didengar oleh Fajar Affandi.


Meskipun Naura sangat tidak dihargai, tapi bagaimanapun juga dia tetap anak perempuan Fajar Affandi.


Masalah ini, lebih sedikit orang yang mengetahuinya akan semakin lebih baik.


Marsha mengerutkan alis saat mendengar ucapan Pak Jayus dan dia mengerti. "Pak Jayus mengatakan kalau rekan kerjamu itu hari ini sedang sakit, jadi ijin untuk istirahat dirumah."


Fajar yang sejak tadi diam, dia pun mengeluarkan suaranya. "Apa sakitnya sangat serius? Hari senin juga ijin?"


Karena setiap hari senin, setiap divisi bagian harus mengumumkan hasil kinerja masing-masing. Kalau memang sakitnya tidak parah, tidak boleh ijin.


Seketika raut wajah Pak Jayus berubah sampai bicara saja dengan terpatah-patah. "Aku..tidak begitu mengerti, karyawan terlalu banyak dan aku tidak terlalu ingat. Kalau tidak, nanti..aku tanyakan."


"Kalau begitu, Pak Jayus beritau aku nama rekan kerja itu, sepulang kerja nanti, aku akan menjenguknya." Sahut Naura dengan datar.


Fajar merasa kalau sikap Naura baik. Dia bisa merasakan kalau anak peremouannya ini tidak sama seperti dulu lagi.


Jadi, Fajar yang merasa sangat puas dengan sikap baik Naura, dia memakai kesempatan ini untuk bertanya. "Hari ini, dari divisi mana saja yang meminta ijin?"


Ruangan seketika menjadi hening, tidak ada satu orang pun yang berbicara.


Pak Jayus semakin cemas dan berkeringat dingin.


Fajar mengerutkan alis merasa tidak sabar. Tiba-tiba ada salah satu dari mereka yang bicara. "Di divisi kami ada karyawan yang ijin."


Mereka yang ada di sini saling berpandangan. Yang dimaksud Naura barusan rekan kerja laki-laki. Sedangkan yang ijin itu adalah karyawan perempuan?


"Baiklah, kamu berikan nomor dia yang bisa dihubungi ke Naura. Biar nanti sepulang kerja, Naura bisa langsung menjenguk dia." Ucap Fajar kemudian melihat sekeliling ke semua karyawannya. "Kalian semua tidak perlu khawatir. Walaupun haris senin, kalau memang kalian punya urusan yang sangat penting, kalian juga boleh minta ijin. Kita semua adalah keluarga besar perusahaan Affandi."


Setelah bicara kepada seluruh karyawan, Fajar bersama Marsha meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Saat berjalan, Marsha dengan tersenyum penuh rasa bangga melirik ke arah Naura.


...__________...


__ADS_2