
Kejadian waktu itu ketika ada seseorang yang memotret Evelyn secara diam-diam, namun pada akhirnya tidak berhasil, jadi itu dibiarkan begitu saja.
Masih ada satu alasan lain lagi, yaitu karena hal seperti itu sering terjadi dalam industri hiburan. Jadi tidak mungkin untuk memeriksa hal-hal seperti itu secara merinci.
Di perusahaan tempat Evelyn bekerja dulu, dan di AD Entertainment yang sekarang, ada banyak orang yang memiliki konflik hubungan dan keperntingan dengan Evelyn. Jadi banyak orang yang ingin berurusan dengan Evelyn.
Dan sutradara yang sedang dicari oleh Evelyn itu kebetulan memiliki hubungan dengan Clara. Itu pasti bukan kebetulan, Clara pasti tau bahwa Evelyn akhir-akhir ini mencari Fernando untuk membantunya melihat naskah. Jadi, dia sengaja membohongi Evelyn dan ingin mempermalukan Evelyn.
Itu pasti sudah direncanakan sebelumnya.
Kejadian di Bar waktu itu, sudah berlalu begitu lama, dan Clara masih bisa mendapatkan kesempatan untuk melawan Evelyn. Mungkin, dia masih dendam dengan Evelyn.
"Aku tidak tau apa yang kamu bicarakan!" Clara melototi Naura, dia lalu menaikkan volume suaranya dan berkata: "Aku tidak tau apa yang kamu bicarakan! Evelyn mungkin telah menyinggung seseorang dan difoto secara diam-diam oleh seseorang, lalu apa hubungannya denganku? Selain itu, bukankah sekarang ini dia ada di sini dan baik-baik saja? Apakah kamu sudah gila?! Jangan karena sutradara Fernando tidak ingin bertemu dengan kalian, dan kalian memfitnahku dengan hal yang mengerikan seperti itu! Aku tidak memiliki waktu untuk dihabiskan dengan kalian, aku pergi dulu!"
Setelah Clara selesai berbicara, dia berbalik dan berjalan masuk. Dia melirik sesosok orang yang berada tidak jauh, lalu mengerutkan keningnya dan berkata: "Siapa? Bisakah kamu cepat sedikit? Pergi ke kamar mandi lama sekali, jangan biarkan Direktur Fernando yang berada di dalam menunggu terlalu lama."
Naura mengikuti tatapan mata Clara dan ketika dia melihat orang itu dengan jelas, dia tertegun.
Kenapa Marsha ada di sini? Kenapa dia bergaul dengan Clara?
Wajah Marsha sedikit tidak enak dilihat. Dia tadi juga sudah melihat Naura, dia berencana berkeliling sebentar dan baru kembali lagi nanti. Tapi tidak disangka Clara malah melihatnya.
Meskipun Marsha tidak puas dengan sikap Clara terhadapnya, tetapi masih terlihat senyuman di wajahnya. "Bukankah aku sekarang sudah kembali?!"
"Cepat masuk! Aku sudah susah payah membantumu memenangkan kesempatan, kamu harus bisa menangkapnya dengan erat!" Clara melirik Marsha, mencibir, lalu mengangkat kakinya dan berjalan masuk ke dalam.
Marsha merasakan Naura masih menatapnya, dia menoleh dan memelototinya. "Apa yang kamu lihat?!"
"Bukan apa-apa. Aku hanya penasaran jika kakek tau kamu bergaul dengan orang-orang ini, apa yang akan kakek pikirkan."Naura melipat kedua tangannya kedepan dan melihat Marsha dari atas ke bawah dengan tenang.
Marsha hari ini jelas datang dengan ada persiapan. Riasan wajahnya sangat cantik, dia mengenakan gaun berpotongan dada rendah yang ramping dan garis dadanya dapat dilihat dengan jelas melalui kerah bajunya.
Menyingkirkan hal-hal konyol yang pernah dilakukan Marsha sebelumnya, sebenarnya dia sangat cantik.
"Jika kamu berani memberitau kakek tentang hal ini, maka aku tidak akan pernah melepaskanmu!" Marsha mengancamnya.
Naura tidak mempedulikannya, dia manarik Evelyn dan berjalan pergi.
Tidak disangka, Marsha berkata: "Kamu lebih baik diam! Kelak jika aku menjadi artis paling populer dan menikah dengan Kairav Robinson, lalu menjadi anggota keluarga Ardinata, kamu juga akan merasa bangga!"
Naura belum tertawa, tetapi Evelyn malah sudah tertawa duluan.
"Hahaha...Artis paling populer? Kamu?"
Naura juga merasa ingin tertawa.
Yang ingin dia tertawai bukan karena Marsha ingin menjadi artis paling populer juga bukan karena ingin menikah dengan Kairav Robinson, melainkan saat Naura mendengar perkataan terakhirnya.
––Menjadi anggota keluarga Ardinata, kamu juga akan merasa bangga!
Anggota keluarga Ardinata?
__ADS_1
Kapan dia pernah diakui oleh keluarga Ardinata?
Tidak, tidak pernah!
Melihat wajah Marsha sudah semakin tidak enak dilihat karena kesal, Naura kembali menarik Evelyn. "Ayo pergi."
Tepat ketika Naura dan Marsha berbicara, Clara tidak masuk. Dia melihat Marsha mengenal Naura, dan dia merasa curiga. "Siapa wanita itu?"
Marsha saat ini sedang sangat jesal, jadi dia menjawab dengan suara yang terdengar tidak terlalu baik. "Bukan siapa-siapa."
Clara bukan orang yang mudah dibodohi. Dia sudah terbiasa mengamati ekspresi dan nada bicara orang. Dari percakapan mereka tadi, dia mendengarnya dengan jelas. Dia kemudian bertanya lagi. "Kakeknya juga kakekmu? Jadi, dia itu adikmu?"
"Dia dilahirkan oleh ibu tiri. Ayah dan kakekku tidak menyukainya." Ketidaksabaran Marsha sudah muncul diwajahnya.
Tetapi, Clara sangat tidak biasa. Dia tidak mempedulikan reaksi Marsha sama sekali. Dia terus bertanya tentang Naura.
"Dia adalah adikmu yang dinikahkan dengan anggota keluarga Ardinata?"
"Apa yang ingin kamu lalukan?" Sebodoh apapun Marsha, dia juga bisa menyadari Clara memiliki maksud lain.
Clara tersenyum, terlihat kerakusan di sorot matanya. "Adik iparmu adalah pewaris keluarga Ardinata, dia kaya dan memiliki kekuasaan. Jika kamu ingin masuk ke industri hiburan, mintalah bantuan darinya bukankah itu sudah bisa terselesaikan?"
"Apa gunanya mencari orang cacat itu?" Marsha berbicara dengan mengejek, dia sama sekali tidak mempedulikan perkataan Clara.
Clara tersenyum, dia merasa bahwa Marsha ini memang benar-benar bodoh.
Keluarga Ardinata adalah keluarga kaya teratas di negara ini. Bahkan jika Aaron adalah pria yang jelek dan cacat, memangnya kenapa? Bukankah ada uang dan juga ada kekuasaan itu sudah cukup?
Jika dia bisa bertemu dengan Aaron dan mendapatkan simpatinya, maka dia kelak tidak perlu lagi harus berada di sisi pria yang berbeda-beda!
Naura dan Evelyn mengobrol sambil berjalan menuju ruangan mereka.
Evelyn bertanya kepadanya. "Otak Marsha bagian mana yang rusak? Dia ingin memasuki industri hiburan? Apa kakekmu akan membiarkannya masuk ke industri hiburan?"
"Kakek seharusnya tidak tau tentang hal itu."
Sejak Fadhil Affandi kembali, Marsha akhir-akhir ini sudah lebih patuh. Bagaimanapun, Fadhil Affandi lebih memiliki martabat daripada Fajar Affandi.
Tetapi yang tidak dia duga adalah Marsha tampaknya benar-benar menyukai Kairav Robinson. Demi bisa menikah dengan Kairav, dia masuk ke industri hiburan dan ingin menjadi aktris populer.
"Aku benar-benar tidak tau apa yang sedang dia pikirkan ....." Sebelum perkataan Evelyn selesai, ponselnya bergetar dan berdering.
Setelah mengangkat telepon, dia berkata kepada Naura. "Orang rumah menelpon, ada sedikit urusan dan aku harus pulang dulu."
"Pergilah jika kamu ada urusan. Aku nanti akan pulang sendiri."
Setelah Evelyn pergi, Naura kembali ke ruangan sendiri dan dia tidak punya niat untuk minum teh lagi. Dia mengambil tasnya, dan naik lift turun ke bawah.
Di lantai pertama begitu pintu lift terbuka, tiga pria jangkung muncul dengan rapi di depan pintu lift.
"Naura?"
__ADS_1
Christian yang pertama berbicara duluan.
Ketiga pria jangkung itu adalah Aaron Daffa, Christian dan Daniel.
Daniel sudah malas melihat kedua temannya ini yang terus bekerja lembur seperti orang gila di perusahaan. Jadi dia mengajak mereka keluar untuk sekedar minum. Tidak disangka, mereka bertemu Naura.
Aaron berjalan paling depan, tatapan mata Naura langsung melintas sejenak di wajahnya. Lalu dia menatap Christian. "Kalian kemari untuk makan?"
"Iya. Kamu.....sendirian?" Dari ekspresi Christian yang ingin berbicara tapi agak sedikit takut, Naura tau maksud dalam perkataannya.
"Iya. Sebenarnya tadi aku datang bersama Evelyn, tapi dia ada urusan dan harus pergi duluan." Naura menarik-narik tali tas dipundaknya dan kembali berkata. "Kalian pergi makan saja dulu, aku pulang duluan."
Christian menyadari bahwa sejak tadi bertemu, Naura tidak pernah menatap Aaron. Dia pun berniat ingin membantu Aaron. "Kenapa mau pergi? Ayo, kita makan bersama. Aaron datang kemari dengan mengendarai mobilnya sendiri, nanti setelah dia minum, kamu bisa membantunya mengemudi."
"Bukankah masih ada waktu? Kalau tidak, kalian bisa memanggil orang untuk mengemudikan mobilnya." Naura sedikit tersenyum, ekspresinya biasa-biasa saja.
Aaron menatap Naura.
Akhir-akhir ini, dia selalu pergi pagi-pagi sekali dan pulang pada malam hari. Dia hanya bertemu dengan Naura sebentar, bahkan mereka tidak banyak bicara.
Ini adalah pertama kalinya dia memperhatikan Naura dengan jarak sedekat dan seteliti seperti ini di minggu ini.
Mereka jelas-jelas tinggal di dalam satu atap yang sama, dia menatapnya seperti itu, bahkan dia merasa sepertinya dia sedikit merindukannya.
Naura juga merasa bahwa Aaron sedang menatapnya. Wajahnya yang biasa-biasa saja hampir mau berubah dan mulai menjadi kaku.
Dia takut jika dia lebih lama lagi berada disana, ketenangan di wajahnya tidak dapat dipertahankan lagi. Lalu Naura mengangkat kakinya dan ingin pergi.
Namun, begitu dia melangkahkan kakinya, tangannya ditarik oleh seseorang, kemudian disusul dengan suara rendah dan serak yang terdengar ditelinganya. "Ayo pulang bersama."
Nada suaranya datar, emosinya tidak bisa ditebak.
Tangannya yang hangat dan lembut itu melilit erat ditangan Naura. Terasa hangat dan ada perasaan tenang yang tak bisa dijelaskan.
Naura berusaha menolak. "Aku ingin pulang dan bergegas menyelesaikan naskahku."
Wajah Aaron menjadi muram, dan dia tidak lagi memberinya kesempatan untuk menolak. Dia langsung menarik Naura masuk ke dalam lift.
Christian dan Daniel mengikuti mereka.
Naura tidak bisa marah, dia juga tidak bisa menarik tangannya kembali. Namun, api kemarahan di dalam hatinya terus naik.
Aaron menurunkan pandangannya, menatap wajah putih mulus istrinya yang jelas-jelas sedang sangat marah, tetapi tidak bisa mengatakannya. Entah mengapa, itu membuat Aaron yang tertekan selama beberapa hari terakhir ini menjadi sedikit lega.
Christian yang berdiri disamping terus memperhatikan ekspresi Aaron dan Naura. Dia merasa bahwa Aaron benar-benar tidak takut mati.
Aaron telah membuat Naura begitu marah, tetapi Aaron masih merasa senang?
Mungkinkah pria itu sudah gila?
Christian tiba-tiba teringat akan Evelyn. Jangankan berpegangan tangan, jika Evelyn bisa mengobrol lebih lama dengannya, itu sudah cukup membuatnya senang selama beberapa hari.
__ADS_1
Sungguh! Jika dibandingkan dengan hubungan Aaron dan Naura, itu sangat membuat orang merasa kesal!
...----------------...