Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#180


__ADS_3

Ucapan Fadhil Affandi terlihat tulus, namun tidak membuat raut wajah Aaron menjadi membaik, malah sebaliknya terlihat semakin menyeramkan.


Aaron bangkit berdiri, dia berbicara dengan suara dan raut wajahnya yang sama-sama dingin. "Mulai besok, Naura tidak akan datang ke Perusahaan Affandi untuk bekerja."


Tidak ada nada untuk berdiskusi sedikitpun. Dia bersikap seenaknya seperti mengeluarkan pengumuman padanya.


Fadhil Affandi tidak berucap apapun.


Memangnya apa lagi yang bisa dia ucapkan?


Aaron bukanlah tandingannya. Awalnya dia mengira setelah dirinya kembali, orang yang paling sulit dilawan adalah Faisal Ardinata, namun tidak disangka, orang itu ternyata Aaron Daffa Ardinata.


Aaron membuka pintu, dan menemukan Naura sedang berdiri di depan pintu.


Sudah beberapa saat Naura mendengarnya di depan pintu, namun tidak terdengar jelas apa yang sedang Aaron dan kakeknya bicarakan.


"Aku..." Dia ingin menjelaskan jika dirinya bukan datang dengan sengaja untuk menguping, namun baru saja dia berucap, Aaron langsung memeluknya.


Tenaganya sedikit kuat, lengan Aaron yang memeluknya membuat pinggangnya merasa sedikit sakit, namun masih bisa ditahan.


Naura menghirup nafas dalam-dalam, merasakan ada yang aneh dengan Aaron. Dia pun bertanya dengan pelan padanya. "Ada apa denganmu?"


Aaron memeluknya beberapa detik, kemudian melepaskannya dan menegakkan tubuhnya menggandeng tangan Naura berjalan ke depan. "Pergi bereskan barang-barangmu, besok tidak perlu datang lagi."


Dalam benak Naura merasa penasaran apa yang dibicarakan Aaron dan kakeknya, namun raut wajah dan aura dari Aaron menunjukkan, jika sekarang bukanlah saatnya untuk banyak bertanya.


Naura membereskan barang-barangnya dengan cepat. Setelah memasukkan semuanya ke dalam kardus, dia berucap pada Aaron sambil memeluk kardus. "Sudah."


Aaron menurunkan tatapannya, tanpa mengucapkan apapun mengambil kardus yang ada di tangan Naura dengan satu tangan, kemudian satu tangan yang lainnya menggenggam tangan Naura.


Hati Naura menghangat, walaupun perasaan Aaron saat ini sedang tidak baik, namun dia masih bisa perhatian dengan membantunya membawakan kardus.


Untung saja saat ini di perusahaan sudah tidak ada begitu banyak orang, semuanya yang masih lembur berada di lantai atas, mereka memiliki kantor sendiri.


Namun, di dunia ini ada sebuah kalimat yang mengatakan: "Seseorang tidak akan bisa menghindari musuh!"


Mereka berdua berjalan hingga ke depan lift, menunggu lift untuk naik ke atas.


Naura teringat dengan AD Entertainment, ada lift khusus untuk Aaron di sana. Karena penasaran, dia menolehkan kepalanya dan bertanya padanya. "Apa kamu pernah menunggu lift?"


Aaron hanya menatapnya sekilas, memberi sebuah tatapan sarat akan pertanyaan "Menurutmu?"


Menurutnya...Aaron adalah orang yang tidak pernah menunggu lift.


Akhirnya lift telah tiba.


Ting––


Pintu lift terbuka, saat Naura akan memasuki lift, saat mengangkat kepalanya dia menyadari orang yang berada di dalam lift bukanlah orang lain, melainkan Marsha.


Alasannya tadi dia kembali masuk ke Perusahaan Affandi, karena merasa khawatir jika Masha dan Aaron akan bertemu.


Ternyata benar, Marsha dan Aaron sekarang bertemu!

__ADS_1


Detik berikutnya, Naura langsung menghalangi di depan tubuh Aaron, kemudian berjalan mundur dengan perlahan.


Aaron hanya dapat mundur dua langkah dan berucap dengan datar padanya. "Apa yang kamu lakukan?"


Saat Marsha melihat Naura, tatapannya telah penuh dengan amarah. Namun, saat dia melihat dengan jelas Aaron yang berada di balik tubuh Naura, aura tubuhnya seketika berubah. Dia pun berbicara dengan suara yang terdengar lembut hingga membuat sekujur tubuh Naura merasa merinding.


"Tuan Muda Ardinata, kita bertemu lagi." Marsha berbicara sambil seperti tidak sengaja menarik-narik jaket yang dipakainya.


Dia suka mengenakan dress berdada rendah sebagai dalaman di dalam jaketnya. Saat resleting jaket itu dibuka, menunjukkan leher putih jenjangnya karena kerah V nya dan terlihat sangat menggoda.


Saat ini, lift yang satunya lagi juga telah tiba.


Namun, Aaron tidak melirik Marsha sedikit pun, dan langsung menarik Naura memasuki lift yang lainnya.


Wajah Marsha mengeras, menatap lift sisi satunya dengan tajam.


Dia sengaja berjalan ke sisi Aaron, kemudian berbicara dengan melembutkan suaranya. "Tuan Muda Ardinata, aku sedikit takut dengan ruangan tertutup. Bisakah kamu...memapahku sebentar?"


Kata-kata terakhir "memapahku sebentar" terdengar diucapkan dengan sangat pelan sambil bergelayut dengan nafas yang terengah-engah.


"Aku akan memapahmu." Naura mendekat ran menjauhkan Marsha dari Aaron. Dengan kuat dia memapah lengan Marsha. "Dulu aku tidak tahu jika kamu punya ketakutan pada ruangan tertutup!"


Raut wajah Marsha terlihat berubah. Dia menggertakkan giginya berucap dengan suara yang sangat pelan hingga hanya mereka berdua saja yang bisa mendengarnya. "Minggir kamu!"


"Kamu menggoda priaku, dan aku harus minggir? Kamu pikir aku bodoh?" Naura mendelik padanya.


"Priamu?" Marsha tersenyum dingin. "Jangan lupa, wanita yang dijodohkan pada Aaron itu aku!"


"Tapi istrinya itu aku!" Naura merasa sepertinya ada yang tidak beres dengan kepala Marsha.


Marsha menunjukkan raut wajah kemenangan. "Benarkah? Lalu, mana surat nikah kalian? Tunjukkan padaku?"


Sekarang di tempat seperti ini, mana mungkin Naura menunjukkan surat nikahnya pada Marsha.


Bisa dikatakan, sepertinya dia tidak pernah melihat surat nikahnya dengan Aaron.


"Jika kamu tidak bisa menunjukkannya, naka minggir!" Selesai Marsha berucap, Naura yang tidak memperhatikan, Marsha langsung menginjak kaki Naura dengan kuat.


Naura yang tidak menyadari, kakinya di injak oleh Marsha yang menggunakan sepatu hak tinggi begitu saja.


Hak tinggi yang dikenakan Marsha sangat runcing, ujungnya yang kecil, ditambah lagi dengan tenaga yang begitu kuat. Walaupun Naura mengenakan sepatu salju, namun masih saja terasa sakit hingga dia menghirup nafas dalam.


Walaupun Aaron sedari tadi hanya diam, namun dia terus memperhatikan pergerakan Naura.


Sebenarnya saat Marsha bersandar padanya, dia bisa saja langsung mendorongnya. Namun, melihat Naura yang langsung melindunginya, perasaannya berubah menjadi sangat hangat, jadi dia membiarkannya saja.


Kali ini Marsha menggunakan cara yang licik, raut wajah Aaron mulai berubah menjadi dingin.


Kaki Naura terasa sakit, namun dia tetap tidak menjauh. Kakinya terangkat ingin menendang Marsha untuk membalas dendam, namun tertahan karena Aaron telah menyerahkan kardus yang dibawa ke dalam pelukannya.


Naura menatap Aaron dengan bingung.


Jari panjang Aaron bergerak, menekan beberapa kali tombol kode yang ada di lift, kemudian langsung menarik Naura keluar dari sana.

__ADS_1


Pintu lift yang ada di belakang mereka tertutup.


Naura belum sadar dengan apa yang terjadi. Dengan wajah yang tercengang menatap pintu lift yang sudah tertutup.


Detik berikutnya, terdengar suara pekikkan Marsha dari dalam lift. "Arghh––"


Kemudian terdengar beberapa kali suara debuman.


"Liftnya...terjatuh?" Naura menolehkan kepalanya ke arah Aaron dengan ragu.


"Hmm." Jawab Aaron dengan datar.


Perusahaan Affandi memiliki tempat parkir bawah tanah. Lantai bawah masih ada lantai -1 dan -2.


Naura ingat saat keluar tadi, Aaron menekan beberapa kali tombol kode yang ada di lift.


Jangan-jangan, itu yang bisa membuat lift terjatuh?


Seketika kepala Naura terasa menegang.


Lebih baik menyinggung penjahat, daripada menyinggung Aaron.


Naura dan Aaron kembali ke dalam mobil, Aaron berkata pada Naura. "Lepas sepatumu."


Naura tertegun sejenak, sepertinya Aaron melihat Marsha yang menginjak kakinya.


"Aku tidak apa-apa."


Aaron tidak akan memperdulikan ucapannya, tangannya terulur memegang pergelangan kakinya, kemudian mengangkat kakinya ke atas kursi, dan membantunya membukakan sepatunya.


Aaron melepaskan sepatunya, Naura baru menyadari jika punggung kakinya telah memerah dan bengkak.


Dengan sepatu salju masih bisa menjadi seperti ini karena diinjak dengan hak tinggi. Ini membuktikan betapa bencinya Marsha pada dirinya.


Raut wajah Aaron semakin suram, mengangkat kepala menatapnya, tatapannya terlihat sedikit menakutkan.


Naura sedikit menarik lehernya dan berkata, "Tidak sakit sama sekali..."


Namun, tiba-tiba dia teringat dengan bayangan dimana saat kakinya terkilir. Dia kemudian menelan ludahnya dan kembali berkata, "Hanya sedikit."


Aaron tidak mengucapkan apapun, hanya membantunya memperbaiki kaus kakinya.


Wajahnya terlihat sangat suram, namun pergerakannya sangat lembut.


Naura merasa, Aaron tidak semenyeramkan seperti bayangannya.


Dia teringat soal di lift tadi, kemudian bertanya pada Aaron dengan penasaran. "Tadi saat di dalam lift, apa yang kamu lakukan? Apa lift itu jatuh? Tidak akan terjadi sesuatu pada Marsha, kan?"


Aaron menjawab dengan datar. "Tidak akan mati."


Tiga kata yang sederhana itu, membuat leher Naura mendingin.


Tidak akan mati, itu berarti pasti akan mendapatkan luka yang parah.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2