
Saat ini, Evelyn sudah setengah mabuk. Alkohol telah melumpuhkan syarafnya membuatnya kehilangan akal sehatnya.
Evelyn berdiri dengan memegang tangan Naura, mengangkat satu kakinya dan menginjakkannya ke atas meja. Dia terlihat bar-bar. "Di seluruh dunia semuanya teman...kamu hari ini...kalau kamu tidak mabuk, maka kamu jangan pergi..."
Naura menekan bibirnya, merasa Evelyn ini telah sepenuhnya melayang, bahkan mungkin dia juga tidak tau seperti apa dirinya sekarang.
Clara tersenyum sinis ketika melihat penampilan Evelyn yang seperti ini.
Evelyn! Jangan harap kamu bisa keluar dengan aman dari sini!
Meskipun Evelyn hanya sebagai pemeran pendukung kecil di baris kedua dan ketiga dalam film-film yang dimainkannya, tetapi keterampilannya dan tampangnya telah diakui semua orang. Jadi, dia juga punya sekelompok penggemar tetap.
Dengan begitu, bahkan jika dia tidak mengambil jalan pintas dengan menemani orang minum dan tidur, dia juga dapat menemukan naskah yang bagus.
Harus diketahui, dalam naskah yang bagus, bahkan peran pendukung pun juga sangat hebat. Dia juga mudah diingat oleh penonton. Dan mungkin akan terkenal hanya dengan seketika.
Perjalanan dunia akting Evelyn sangat bersih dan terang-terangan.
Hal ini juga merupakan alasan mengapa Clara membenci Evelyn.
Dapat dikatakan bahwa dia dan Evelyn debut pada saat yang sama. Tapi, perjalanan Evelyn lurus dan bersih. Sedangkan dia harus bergantung dengan mengambil hati para sutradara produser untuk bisa mendapatkan peran.
Clara sedikit menoleh untuk melihat ke belakang. Dia mengedipkan mata ke orang-orang itu. "Oke, karena Evelyn sudah mengatakannya, kenapa kalian masih bengong disana?"
Begitu mendengar Clara, sekelompok orang itu berjalan masuk.
Mereka pria dan wanita, total ada 7-8 orang.
Naura meragu sejenak. Dia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke Samuel. ["Apa kakak sepupumu sudah pulang?"]
Samuel membalas pesan Naura dengan cepat. ["Belum."]
Clara terlihat jelas ingin mencari masalah dengan Evelyn, nanti pasti akan ada masalah.
Naura berjalan ke samping dan langsung menelepon Aaron.
Dalam proses menunggu telepon terhubung, Naura melamun. Apa hubungannya dan Aaron sekarang?
Awalnya, ketiak dia berpikir bahwa Aaron adalah orang cacat, dia malah bisa menerima identitasnya sebagai istrinya dengan terang-terangan.
Tapi sekarang, setelah Aaron menjadi orang normal, Naura malah merasa tidak suka dengan statusnya sebagai istri Aaron Daffa.
Mungkin karena kebohongan Aaron dan dia juga sulit ditebak.
Ada terlalu banyak rahasia yang tersembunyi didalam dirinya. Aura dinginnya yang kuat membuat orang takut. Naluri menjauh dari bahaya membuat Naura ingin menjauh darinya.
Namun, entah kenapa pada saat seperti ini, orang pertama yang dia ingat adalah Aaron.
__ADS_1
Nada telepon berdering dua atau tiga kali lalu diangkat oleh Aaron.
"Naura."
Suara Aaron terdengar rendah seperti biasa, itu membuat orang yang mendengarnya merasa tenang.
Begitu Naura hendak berbicara, tiba-tiba ponselnya diambil oleh orang.
Dia menoleh dan menyadari bahwa Clara lah yang mengambil ponselnya.
Naura mengerutkan keningnya. "Kembalikan ponselku!" Dia sangat tidak suka orang lain dengan sembarangan menyentuh barang-barangnya.
"Bagaimanapun kita semua keluar untuk bermain, jadi jangan main ponsel lagi. Sangat menjengkelkan!" Clara tersenyum dan langsung mematikan ponselnya.
Dia menoleh dan melemparkan ponselnya ke seorang pria yang ada disampingnya, lalu berkata pada Naura. "Kamu ini teman baik Evelyn, jadi temani dia baik-baik, jangan mengecewakannya."
Muncul lagi seorang wanita yang sama seperti Marsha, yang merasa dirinya benar.
Wajah Naura menjadi dingin. Dia pun berkata satu kata per satu kata. "Kembalikan ponselnya kepadaku."
Clara tentu saja tau bahwa Naura akan menelpon untuk meminta bantuan. Jadi dia tidak mungkin mengembalikan ponselnya kepadanya.
Clara pura-pura tidak mendengarnya. Dia berbalik dan berbicara kepada pria yang ada dibelakangnya. "Apakah kalian tidak mendengar apa yang aku katakan?"
"Aku mendengarnya." Kata pria dibelakang Clara lalu segera melangkah maju, mengulurkan tangannya dan menarik lengan Naura. "Hai cantik, ayo bermain bersama."
Di sisi kiri duduk seorang wanita, dan disisi kanannya duduk seorang pria.
Pria itu terlihat seperti masih bocah, kelihatannya polos, tapi matanya terlalu genit, itu membuat orang membencinya ketika melihatnya.
Salah satu tangan pria itu diletakkan di sofa belakang Evelyn, dan tangan satunya lagi ingin memeluk Evelyn.
Naura mencibir. Meskipun dia merasa Christian bukan orang yang baik, tetapi setidaknya ketika dia mengatakan kepada para penjaga keamanan untuk memblokirnya, dia juga berpesan kepada mereka untuk tidak menyakiti Evelyn.
Christian jauh lebih baik daripada pria didepannya itu.
Pria itu merasa Naura sedang menatapnya, dia mengangkat kepalanya lalu tersenyum dengan menunjukkan senyum yang menurutnya sangat menarik dan mengangkat gelas berisi wine ditangannya.
Wajah Naura terlihat sinis. Dia langsung berjalan mendekat dan mendorong pria itu kesamping. "Duduk jauh sedikit!"
Pria itu tidak memiliki persiapan, ketika didorong ke samping oleh Naura, dia langsung terjatuh ke bawah.
Naura berkata dengan acuh tak acuh. "Ups, maaf. Kamu terlihat kekar, tidak disangka kamu begitu lemah."
Pria itu menggertakkan giginya. Dia mendengus lalu bangkit berdiri dan langsung membanting gelas yang dipegangnya. Dia menunjuk ke Naura dan memarahinya. "Siapa kamu?! Dasar tidak tau diri!"
Naura bukan seorang artis dan tidak ada yang mengenalnya. Pria itu hanya mengira bahwa Naura hanyalah orang yang biasa saja.
__ADS_1
"Siapa kamu?!" Evelyn tiba-tiba melompat dari sofa. Dia melompat terlalu terburu-buru dan hampir terjatuh.
Naura dengan cepat mengulurkan tangan dan bergegas membopongnya.
Sementara pria itu mengambil segelas wine dan seperti ingin menyiramkannya ke Evelyn.
Evelyn duduk disofa dan tidak bermaksud menghindarinya. Naura berbalik dan memblokir di depan Evelyn.
Untungnya, Naura memakai jaket tebal, jadi wine dingin yang disiramkan di bagian belakangnya tidak langsung meresap ke dalam pakaiannya.
Clara yang melihat adegan itu, dia bertepuk tangan dengan santai. "Benar-benar hubungan kakak beradik yang mendalam.
Evelyn yang melihat Naura memblokir didepannya, pikirannya menjadi sedikit jernih.
Dia berdiri dari sofa dan menatap Clara. "Apakah kamu benar-benar berpikir akulah orang yang telah merebut peranmu sebelumnya? Dengar baik-baik, biar aku katakan yang sebenarnya kepadamu! Sutradara itu tidak mau memberikan peran itu kepadamu, asistenku sudah pernah membicarakannya dengan mereka sejak lama!"
"Kamu sembarangan bicara!"
Clara hanya menganggap Evelyn sedang mencari alasan. Dia berjalan, melambaikan tangannya dan ingin menampar wajah Evelyn.
Namun Naura mencegat lengannya.
"Pergi sana! Ini adalah urusanku dan Evelyn!" Kata Clara membentak Naura.
"Ini adalah ruangan yang aku pesan! Kamu saja yang keluar!" Evelyn mengangkat tangannya dan langsung menampar wajah Clara.
Naura merasa sedikit sakit kepala.
Clara menutupi wajahnya sambil berteriak dengan nyaring dan maju menghantam tubuh Evelyn. "Evelyn!!"
Melihat situasinya tidak baik, Naura ingin membantu Evelyn. Tetapi, dia ditarik.
Tangan pria itu meluncur dilengannya. "Itu adalah dendam antara kak Clara dan Evelyn, kamu jangan ikut campur. Ayo, temani kami bermain."
Naura menatapnya dan tersenyum.
Matanya sangat indah ketika dia tersenyum. Dia terlihat sangat memesona.
Pria itu dibuat melayang-layang seketika begitu melihatnya.
Naura mengambil kesempatan ini untuk membebaskan diri. Dia kemudian mengambil botol minuman yang sudah kosong di atas meja dan langsung memukulkannya ke kepala pria itu hingga botol pecah menjadi dua bagian.
Kepala pria itu terluka dan darah mengalir di dahinya.
Naura tidak mempedulikannya, dia langsung berjalan dan menarik rambut Clara yang sedang berada diatas tubuh Evelyn menindihnya. Naura mengarahkan botol yang pecah itu ke wajah Clara. "Kalau wajahmu tidak mau cacat, maka cepat pergi dari sini!"
...__________...
__ADS_1