Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#11


__ADS_3

Sore harinya setelah Naura selesai makan, ponselnya berdering diatas meja disebelahnya.


Nomor tidak dikenal sedang memanggilnya.


Naura hanya meliriknya saja tidak segera mengangkat hingga suara dering panggilan berhenti dengan sendirinya. Tapi sedetik kemudian, suara dering dari ponselnya berbunyi lagi dengan nomor yang sama.


Berfikir sejenak, tidak mungkin yang menelponnya orang iseng kan?


Naura segera mengangkatnya. "Hallo, dengan Naura disini."


"Hallo Naura. Aku Faisal Ardinata, ayah dari Aaron Daffa Ardinata."


Naura terpaku merasa terkejut mendengar suara dari seberang teleponnya. Ayah Aaron?


Menurut cerita yang sering didengarnya, Faisal Ardinata waktu muda dulu seorang laki-laki yang sangat dikagumi dan dikejar-kejar oleh banyak wanita dikota Besar ini.


"Ha..hallo." Setelah terpaku sesaat, Naura baru merespon dengan sedikit gugup dan entah mengapa sulit sekali untuk mengeluarkan kata "ayah" untuk menyapa ayah mertuanya ini.


"Naura, kalau kamu ada waktu, datanglah kerumah malam ini untuk makan malam bersama." Ucap Faisal terdengar sangat ramah dan tulus.


Meskipun Naura tau kalau Faisal mengatakan ini terdengar seperti hanya bertanya saja kepadanya, tetapi dia tidak bisa menolaknya.


"Baiklah, aku ada waktu untuk datang."


"Kalau begitu, aku akan meminta supir untuk menjemputmu. Sampai jumpa nanti malam." Ucap Faisal terdengar begitu tenang dan tidak terburu-buru kemudian menutup panggilan teleponnya.


Naura meletakkan ponselnya kembali diatas meja kemudian merapikan meja. Setelah itu, dia bergegas pergi ke rumah Aaron Daffa. Karena supir dari keluarga Ardinata akan menjemputnya, sudah pasti akan datang ke rumah Aaron untuk menjemputnya disana.


Sesampainya didepan gerbang besar rumah Aaron, Naura berdiri sejenak dan melihat sekeliling disana.


Rumah Aaron cukup jauh dari perkotaan dan dikelilingi hutan. Rumah mewah tiga lantai dengan cat berwarna putih.


Sebelumnya ketika Naura dijempit dan dibawa kemari, dia tidak memperhatikan keseluruhan rumah ini dari luar. Dan sekarang dia memperhatikan dengan seksama merasa semakin aneh. Hampir tidak ada orang disekelilingnya, membuatnya merasa ngeri.


Ditambah sekarang adalah musim dinging. Membuat bulu kuduknya merinding dan wajah mungilnya terlihat pucat.


Ketika Naura ingin melangkahkan kakinya, dia merasa ragu dan tetap berdiri diam disana.

__ADS_1


Sebaiknya, aku menunggu disini saja.


Tak lama, ada sebuah mobil berwarna hitam berhenti didepan gerbang. Naura memperhatikan ada seorang pria setengah baya keluar dari dalam mobil.


Pria itu melihat wajah Naura dan terlihat dimatanya ada keterkejutan. Tetapi dia tidak menunjukkan ekspresi wajahnya yang terkejut.


Pria itu melangkah sampai dihadapan Naura dan perlahan membungkukkan badannya dengan penuh rasa hormat kepada Naura. "Nyonya Muda, saya Damar. Saya diutus Tuan Faisal menjemput anda."


Naura tersenyum lebar dan terlihat bodoh. "Terimakasih banyak."


Ekspresi wajah Damar terlihat dingin. Dia berbalik dan membukakan pintu mobil untuk Naura. "Nyonya Muda, silahkan naik."


Damar memutar balik mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Aaron.


Di lantai dua rumah Aaron, Ivan mengintip dari kaca jendela diruang kerja Aaron lalu menoleh melihat Aaron. "Tuan Muda, apa kamu yakin membiarkan Nyonya Muda pergi sendirian bertemu dengan Tuan Faisal?"


"Dia hanya gadis yang jelek dan bodoh. Faisal tidak akan bisa berbuat apa-apa." Jawab Aaron dengan wajah donginnya.


"Tapi, Nyonya Muda hanya berpura-pura bodoh saja." Ucap Ivan.


Aaron tersenyum sinis. "Bisa berpura-pura bodoh sampai membuat semua orang percaya, itu merupakan suatu kelebihan." Ucapnya kemudian pergi keluar dari ruang kerjanya.


...


Damar mengantar Naura masuk kedalam sebuah ruangan VIP yang telah dipesan atas nama Faisal Ardinata. Kemudian mempersilahkan Naura masuk. "Silahkan masuk Nyonya Muda."


Naura mengangguk dan tersenyum. "Terimakasih banyak, Paman Damar."


Setelah Naura masuk, Damar menutup pintunya lalu berbalik dan menggelengkan kepalanya.


Didalam, Naura melihat ada sosok paruh baya yang terlihat elegan sedang duduk membolak-balikkan buku menu.


Naura merasa, dengan penampilannya yang terlihat sangat jelek dan bodoh ini akan membuat laki-laki paruh baya tersebut akan merasa tidak puas.


Tetapi tidak disangka, laki-laki paruh baya itu meletakkan buku menu yang dipegangnya lalu mengangkat kepala dan menoleh kearahnya. Dia juga tersenyum manis kepadanya.


"Kamu Naura?"

__ADS_1


Naura tertegun sesaat. Dia tidak menyangka, Faisal Ardinata yang kaya raya dan memiliki kekuasaan, bersikap sangat ramah kepadanya.


"I..iya, saya Naura." Jawabnya dan wajah bodohnya tidak lagi pura-pura. Dia menjadi benar-benar bodoh karena merasa terkejut.


"Tidak perlu gugup. Santai saja. Kamu adalah istri Aaron Daffa. Jadi, kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Ardinata dan juga berarti seperti anak perempuanku." Ucap Faisal Ardinata sambil menuangkan teh untuk Naura.


Naura merasa tersanjung dengan keramahan dan kehangatan sikap Faisal kepadanya.


Dirumah keluarganya sendiri, dia tidak pernah dianggap. Perhatian Merlin juga hanya diberikan kepada Marsha.


Ketika ada orang lain yang lebih tua bersikap hangat dan sangat ramah kepadanya, dia merasa sangat senang.


"Terimakasih." Ucap Naura sambil menerima cangkir yang berisi teh.


"Kamu juga boleh memanggilku ayah, sama seperti Aaron memanggilku." Ucap Faisal sambil terus memandangi Naura.


Penampilan menantunya ini sangat tidak menarik. Responnya juga sedikit lambat. Tapi dia begitu sopan. Faisal merasa kalau dia seorang anak yang baik.


"A..ayahh." Ucap Naura memanggil Faisal dengan ragu.


Faisal pun menyunggingkan senyumnya. "Saat kamu dan Aaron menikah, tidak ada pesta pernikahan. Seharusnya, hari ini kamu dan Aaron kembali ke rumah untuk makan bersama. Tapi Aaron, anak itu..karena masalah ibunya, dia masih tidak bisa terima dan tidak pernah lagi pulang kerumah. Kamu tolong bantu dia, agar pikirannya bisa lebih terbuka." Ucap Faisal teelihat ada sedikit kesedihan diwajahnya.


Keluarga Ardinata merupakan keluarga besar yang sangat mematuhi tradisi sejak jaman dulu.


Baru saja, Faisal mengungkit tentang ibu dari Aaron. Naura sedikit tau tentang itu.


Tentang penculikan yang terjadi sebelas tahun yang lalu. Bukan hanya Aaron saja yang diculik. Tetapi ibunya juga ikut diculik ketika ingin menyelamatkan Aaron. Tapi pada akhirnya, hanya Aaron yang selamat.


Banyak rumor yang beredar tentang ibu dari Aaron dan ada orang yang mengatakan bahwa ibunya telah meninggal. Ada yang mengatakan lagi ibunya masih hidup. Ada juga yang mengatakan kalau ibunya diperkosa saat diculik hingga tewas.


"Ta..tapi..sampai sekarang saya..belum bertemu dengan Aaron." Ucap Naura dengan ragu-ragu sambil mengangkat wajahnya melihat Faisal dan ada perubahan diwajah Faisal.


Faisal tidak lagi membahas tentang Aaron Daffa melainkan membahas tentang kehidupan Naura dan Naura menjawab semua dengan jujur.


Meski Naura bicara dengan lambat, terlihat bodoh. Tapi begitu tulus.


Setelah pertemuannya malam ini, Faisal masih meminta Damar mengantar Naura kembali pulang ke rumah Aaron.

__ADS_1


Sesampainya didepan gerbang rumah Aaron, Damar menunggu Naura masuk kedalam, setelah melihat Naura sudah masuk, dia langsung pergi.


...__________...


__ADS_2