Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#119


__ADS_3

Karena Aaron diam-diam turun tangan membantu perusahaan Affandi yang terkena masalah sebenarnya, perusahaan Affandi kembali beroperasi dengan normal. Bahkan yang berinisiatif datang meminta kerjasama dan menanam modal, tidak terhitung banyaknya.


Fajar merasa kalau perusahaan Affandi akan naik lagi. Setiap hari sangat sibuk dan senang sekali. Bahkan masih mengajak Naura bertemu dengan partner bisnisnya.


Tapi, Naura langsung menolak. "Tidak perlu. Ayah bawa saja kakak untuk pergi. Aaron tidak senang aku menghadiri perjamuan."


Sekarang, begitu ada urusan, Naura akan langsung menggunakan Aaron sebagai alasan. Sangat berguna sekali.


Pemikiran Naura dan Fajar tidak sama. Naura mengenal Aaron, meskipun Aaron membantu perusahaan Affandi, tapi Naura masih merasa ada yang aneh dan sepertinya urusannya tidak sederhana.


"Baiklah." Fajar menganggukkan kepala, lalu bertanya kepadanya. "Kapan Aaron ada waktu, kamu bawa dia ke rumah keluarga Affandi untuk makan bersama."


Sepertinya, berniat ingin mengambil hati menantu?


Meskipun Naura tidak akan membawa Aaron pulang ke rumah keluarga Affandi, tapi di bibirnya berkata: "Baik."



Di perjalanan pulang, Naura menyuruh supir menghentikan mobil. Dia kemudian turun untuk membeli sesuatu.


Naura menuju ke area barang kebutuhan sehari-hari dan melihat sebagian besar tertempel logo Perusahaan Affandi.


Naura berjalan mendekat dan mendengar ada orang disamping sedang bicara. "Perusahaan Affandi ini kenapa masih belum bangkrut dan masih punya muka menjual produknya?"


"Iya, yang melindunginya orang kuat. Saat produknya bermasalah, lalu mencari orang dekatnya untuk membantu menyelesaikan. Benar-benar memuakkan!"


Naura berdiri sejenak didepan rak, kemudian membeli beberapa barang dan segera pergi.


Dia tau apa rencana Aaron.


Kali ini, Perusahaan Affandi dalam menghadapi masalah pabrik yang terekspos, selain tidak ada niat untuk meminta maaf, juga tidak mendapat hukuman apapun.


Tidak hanya itu, perusahaan Affandi juga menghilangkan semua berita negatif tentang perubahan Affandi. Hal ini bisa membuat masyarakat luas lebih tidak suka.


Masalah kecil kalau diabaikan, akan menjadi masalah yang besar.


Apalagi perusahaan Affandi diberitakan sebagai pabrik yang menggunakan material berkualitas buruk.


Naura memiliki firasat, perusahaan Affandi bukan lagi melewati kesulitan, malainkan bencana baru akan dimulai. Meskipun mendapatkan banyak penanaman modal dan kerjasama, tapi saat produk sampai ke pasar, tidak ada konsumen yang bersedia membeli. Semuanya, usaha yang sia-sia.


Dijaman dimana informasi dengan mudah bisa menyebar luas, tidak bisa mengabaikan pengaruh informasi yang beredar di internet.


Begitu perusahaan Affandi melakukan pergerakan yang besar, pasti akan ada orang yang mengungkit kembali masalah material berkualitas buruk yang digunakan perusahaan Affandi. Kemudian, orang-orang akan memegang kendali.


Pasar sangat luas, saingan juga banyak sekali dan lingkup konsumen yang dipilih juga terlalu besar. Perusahaan Affandi sama sekali bukan apa-apa.


Setelah menyadari tujuan dari Aaron, semakin Naura memikirkan, tubuhnya semakin mengeluarkan keringat dingin.


Memang saat ini Aaron terlihat sedang membantu perusahaan Affandi, tapi tujuan dia sebenarnya adalah untuk menghancurkan perusahaan Affandi.



Mobil berhenti di halaman rumah Aaron. Naura bergegas membuka pintu dan turun dari mobil.


Malam ini musim dingin, makin hari udara semakin dingin.

__ADS_1


Angin dingin bertiup, Naura bersin dan wajahnya menjadi sedikit pucat.


Dia berjalan sampai ke ruang tamu, tidak melihat ada Aaron di sana.


Bodyguard yang ada disamping mendekat. "Nyonya, Tuan Muda sedang berada di ruang baca."


Mendengar ini, Naura langsung pergi ke ruang baca Aaron.


Sepertinya, dia juga baru pulang karena jas yang dipakainya belum sempat dilepaskan. Dia sedang mengulurkan tangan mengambil buku di rak.


Mendengar suara pintu dibuka, dia membalikkan kepala melihat yang masuk adalah Naura, dia menyeringai, seperti sedang tersenyum, tapi juga tidak mirip.


🤦‍♀️


"Kamu sudah pulang?" Setelah bertanya, Aaron membalikkan kepalanya lagi dan melanjutkan mencari buku.


Naura berjalan mendekat lalu, memegang pergelangan tangan Aaron, lalu menarik Aaron supaya Aaron berhadapan dengannya.


Naura menatap matanya dan berkata sekata demi sekata. "Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan? Perusahaan Affandi melakukan apa terhadapmu?"


Aaron menarik pergelangan tangannya, lalu mengulurkan tangan memegang tangan Naura. "Dingin sekali?"


Aaron menggenggam kedua tangan Naura. Telapak tangannya lebar dan terasa hangat. Kehangatan tangannya membuat Naura tidak bermaksud menarik tangannya dari dia.


Laki-laki seperti Aaron, hanya dengan sekali gerakan, ingin membuat seorang wanita tersentuh hatinya, mudah sekali.


Tapi Naura tiba-tiba tersadar dan menarik tangannya. Dia mengulangi pertanyaannya tadi. "Perusahaan Affandi, melakukan kesalahan apa terhadapmu?"


"Kamu bertanya seperti polisi yang sedang menginterogasi?" Aaron menatap tangannya yang kosong beberapa saat, ekspresi di wajahnya menjadi dingin.


Aaron membalikkan badan dan duduk di kursi. "Kamu menyuruh reporter untuk masuk ke dalam pabrik perusahaan Affandi mengambil gambar, aku kira kamu tidak ada perasaan terhadap perubahan Affandi."


Naura terkejut melihat Aaron. Bahkan sampai hal ini, Aaron juga tau?


Aaron melihat sangat jelas dengan ekspresi Naura ini. Kedua matanya menatap lekat-lekat Naura, ada sesuatu di matanya yang membuat orang sulit untuk menebak.


Setelah terdiam, Naura kembali mendengar suaranya yang serak. "Semua masalahmu, asal aku mau, tidak ada yang aku tidak tau."


Jadi, maksud dia adalah, Naura di hadapannya semua terlihat transparan?


Semua yang dilakukan Naura bisa dengan mudah diketahui oleh Aaron.


Itu artinya, Aaron mengancam dia lagi?


"Menarik kah? Mengikuti setiap gerak gerikku bisa membuat kamu merasa puas?" Suara Naura terdengar sedikit tajam.


Naura merasa, mungkin Aaron benar-benar seorang yang gila! Mencari tau setiap gerak geriknya, membuat Naura merasa dirinya seperti seekor hewan peliharaan.


"Aku memperhatikan kamu." Selesai berucap, Aaron seperti tidak merasakan reaksi Naura. Dia kembali melanjutkan ucapannya. "Kalau tidak, saat kamu ditipu Fajar dan Marsha untuk pergi menyelamatkan ibumu, bagaimana aku bisa dengan segera menyelamatkan kamu?"


Meskipun sudah menyiapkan hati sebelumnya, tapi Naura masih terkejut sampai matanya melotot.


Ternyata dia benar-benar tau semua?!


Naura dihadapan Aaron, sama sekali tidak ada rahasia.

__ADS_1


Atau Aaron terhadap Naura, sama sekali tidak ada niat buruk. Tapi Aaron terlalu mengontrol dia.


"Jangan menunjukkan tatapan seperti itu. Aku tidak suka." Aaron tiba-tiba bangkit berdiri, mengulurkan tangan menutup matanya. Kemudian dia menundukkan kepala dan mengecup bibirnya. "Asal kamu patuh, itu sudah cukup." Ucapnya lagi dengan suara serak.


Ciumannya sama hangatnya dengan tangannya. Tapi Naura malah gemetar.


Aaron mendekap dia dalam pelukannya. Telapak tangannya yang lebar membelai rambutnya. Dia kembali berkata dengan sangat mesra. "Jangan takut. Aku tidak akan bersikap seperti mereka terhadapmu. Kamu orang yang akan menemaniku menjalani sisa hidupku. Aku mencintaimu juga sudah terlambat....."


Naura tidak berani bergerak. Aaron yang seperti ini membuat setiap pembuluh tubuhnya seakan ingin lari.


Setelah terdiam beberapa saat, Naura kembali bersuara. "Perusahaan Affandi....."


"Perusahaan Affandi tidak akan ada masalah. Bukannya masih ada kakek Affandi?" Aaron melepas pelukannya lalu menyingkirkan poni yang menutupi kening Naura. "Ayo makan dulu."


Kakek Affandi?


Naura digandeng Aaron turun ke lantai bawah. Dia mengikuti Aaron, tapi pikirannya masih melayang jauh.


Kalau menurut yang dikatakan Evelyn saat itu, alasan perjanjian pernikahan antara keluarga Affandi dan keluarga Ardinata, kakek Affandi adalah orang memegang peran yang penting.


Saat itu, kakek Affandi pergi ke luar negeri untuk menikmati masa pensiunnya dan tidak pernah kembali lagi ke sini.


Sudah sepuluh tahun Naura tidak pernah melihat kakek Affandi. Kalau bukan karena ada yang mengungkit, dia sudah tidak ingat kalau dia masih memiliki kakek.


Dan barusan Aaron mengungkit tentang kakek Affandi. Kalau begitu, tujuan dia adalah.......


Naura terpikir sesuatu, dia segera menghentikan langkah kakinya, melihat Aaron dan berkata kepadanya. "Jadi, kamu ingin menggunakan perusahaan Affandi untuk memaksa kakekku pulang kemari?"


Aaron menoleh dan menatapnya, sorot matanya menunjukkan kekaguman. "Pintar sekali."


"Untuk apa kamu memaksa kakekku pulang? Kamu ada tujuan apa?" Apa jangan-jangan, selain masalah perjanjian pernikahan antar dua keluarga, masih ada hal lain yang tidak diketahui orang lain?


Sedangkan masalah itu, bagi Aaron sangat penting sekali?


Aaron sejak kasus penculikan itu, apa tujuan Aaron terus menyembunyikan identitas dirinya?


Masih ada banyak hal yang tidak terpikirkan, dan pikiran Naura semakin kacau.


Di ruang makan, Samuel sudah duduk disana. Tapi karena Aaron dan Naura belum datang, dia belum mulai makan.


Melihat mereka bergandengan tangan masuk ke ruang makan, Samuel mengerucut bibirnya. "Tidak serasi."


Aaron menarik kursi untuk Naura, kemudian bicara kepada Samuel tanpa melihatnya. "Samuel, gurumu mengatakan nilai kamu buruk. Aku daftarkan kamu untuk les, ya?"


"Tidak perlu!" Begitu raut wajah Samuel berubah, dia berkata dengan tidak semangat. "Kalian pasangan yang sangat serasi sekali. Sudah ditakdirkan sejak lair."


Dasar tidak bermoral! Samuel mengumpat dalam hati.


Menyuruh dirinya ikut les? Lebih baik, menyuruh dia mati saja!


😆


Samuel diam-diam melirik Aaron, lalu membalikkan kepala dengan tersenyum dan mengambilkan lauk untuk Naura. "Kak Naura, kamu makan ini."


"Terimakasih." Naura menyodorkan mengkuknya, menerima lauk yang diambilkan Samuel. Rasanya, dirinya dan Samuel orang yang sama-sama kasihan.

__ADS_1


...__________...


__ADS_2