Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#42


__ADS_3

Ketika Evelyn datang, Naura masih berusaha dengan keras membuka pintu kamarnya. Dia merasa sangat aneh, kamarnya benar-benar tidak bisa dibuka.


"Nyonya Muda, ada Nona Evelyn mencarimu." Ucap seorang bodyguard yang menghampiri Naura.


Setelah diberi tau, Naura langsung turun ke bawah.


Melihat Naura turun, Evelyn langsung berlari kearahnya. "Naura! Syukurlah, kamu baik-baik saja!" Ucap Evelyn sambil memeluk teman baiknya.


Naura terkekeh. "Iya, aku baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana?"


Video live kemarin malam menjadi video viral. Manager Evelyn telah melihatnya kemudian memperlihatkan kepada Evelyn.


Kemarin malam, Evelyn menghadiri acara perjamuan. Managernya takut jika terjadi masalah kemudian meminta Evelyn mengambil beberapa foto bersama dan mengunggahnya ke media sosial untuk menghindari orang yang ingin mengadu domba dia.


Saat foto-fotonya dibagikan di media sosial, Evelyn baru menyadari kalau ada banyak sekali panggilan tak terjawab di ponselnya. Kemudian dia menerima telepon dari Christian dan saat itu Evelyn baru tau kalau Naura mengira dirinya berada di Bar 99 lalu pergi mencarinya.


Setelah Evelyn memberi penjelasan, Naura mengerti. Dia berpikir, mungkin saja ada seseorang yang merencanakan semua ini, sengaja membuatnya pergi ke Bar 99.


Satu-satunya orang yang sangat membencinya hanya Marsha.


Masalah yang terjadi antara Marsha dengannya sudah tersebar luas di internet. Mungkin karena itu, Marsha tau pasti kalau Naura akan selalu membuka media sosialnya. Apalagi, Marsha juga tau kalau Evelyn adalah teman baiknya.


Keinginan Marsha untuk balas dendam terhadapnya benar-benar telah direncanakan dengan matang.


Evelyn memperhatikan Naura yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. "Ada apa?" Tanyanya.


Naura menoleh, menatap Evelyn. "Aku rasa, ini ulah Marsha. Dulu aku tau, dia sering bermain ke luar. Aku juga tau kalau dia mendaftar menjadi member di sebuah Bar tertentu. Tapi, karena aku tidak terlalu memperhatikan, itu Bar 99 atau bukan."


Kalau saja Naura tau Marsha sering datang ke Bar 99, tentu saja Naura tidak akan pernah tertipu olehnya.


Meskipun Evelyn suka dengan keramaian, dia masih bisa berpikir dengan jernih. Dia tidak mungkin pergi ke acara pesta atau perjamuan di tempat seperti itu.


Evelyn mengerutkan alisnya, saat dia ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba dia mendengar suara dering ponsel miliknya.


Dia menunduk merogoh isi dalam tasnya dan mengambil ponselnya. Ternyata suara dering itu bukan dari ponselnya.


Naura pun mengeluarkan ponsel dari sakunya. "Ponselku yang bunyi."

__ADS_1


"Naura, akhirnya kamu ganti ponsel juga?" Evelyn terlibat senang melihatnya.


Sudah sejak lama, Evelyn meminta Naura untuk mengganti ponselnya. Tapi, Naura selalu mengatakan takut kalau Merlin-Ibunya tidak senang. Jadi, dia tidak pernah mengganti ponselnya.


Mata Naura tampak berbinar dan begitu senang. Dia berbisik ke Evelyn. "Ini dari Aaron Daffa."


Naura berpikir, mungkin ini adalah pertanda kalau Aaron Daffa secara perlahan mulai membuka hatinya untuk menerima dirinya. Jadi, dia merasa sangat senang.


Meski terpaksa, tapi sejak awal dia sendiri yang setuju menikah dengan Aaron Daffa. Tentu saja dia berharap bisa lebih mengenal Aaron.


Evelyn terlihat ingin mengatakan sesuatu kepadanya, Naura menunjukkan ponselnya yang masih berdering. "Aku angakat telepon dulu."


Namun, saat dia melihat pada layar ponselnya tertera nomor yang dia kenal, raut wajahnya seketika berubah.


"Naura, Ibu sudah memesan tempat di restoran Jepang. Siang nanti, kamu temani Ibu makan ya?"


Kalau sudah mencari Naura, pasti ada sesuatu yang sedang di inginkan olehnya.


Naura sedikit tersenyum. "Apa hanya kita berdua saja?"


"Em..iya. Hanya kita berdua saja." Jawab Merlin terdengar ragu-ragu.


Naura masih diam tidak langsung menjawab. Merlin pun berusaha memberi penjelasan lagi. "Naura, mungkin selama ini Ibu terlalu sibuk dan tidak ada waktu untuk makan berdua bersama kamu. Kamu jangan menyalahkan Ibu ya?"


Kalau dulu, Merlin mengajak Naura makan berdua, Naura merasa sangat bahagia.


Mengambil sibuk sebagai alasan? Sangat tidak masuk akal!


Batin Naura.


Merlin seorang Nyonya di keluarga Affandi. Banyak pelayan dirumahnya. Sibuk apa dia?


Naura pun masih ingat dengan jelas. Dulu, dia pernah membeli tiket bioskop untuk mengajak Ibunya menonton bersama dan Ibunya menyetujuinya.


Tapi, saat tau kalau Marsha mabuk dan belum pulang, Merlin pun pergi menjemputnya. Otomatis, Merlin melupakan janjinya dengan Naura. Bahkan, Merlin sama sekali tidak menghubungi Naura, membuat Naura harus menunggu sampai film selesai diputar.


Setelah mengingat itu, akhirnya Naura pun tetap mau menemuinya. "Baiklah. Ibu kirimkan saja alamat restorannya ke aku."

__ADS_1


Naura menutup panggilan teleponnya kemudian menoleh melihat Evelyn yang sedang memperhatikannya.


Naura mengernyit. "Ada apa?" Tanyanya merasa heran.


"Ibu kandungmu mengajakmu makan? Kamu yakin mau pergi?" Tanya Evelyn dengan nada suara tidak suka.


"Iya, aku akan pergi." Jawab Naura kemudian dia menarik Evelyn untuk duduk disofa. "Aku punya rencanaku sendiri, apa kamu bawa yang tadi aku minta?" Lanjut Naura dengan suara pelan.


"Iya, ada didalam mobil." Jawab Evelyn.


Naura tidak bisa membuka pintu kamarnya. Semua barang-barangnya ada didalam kamar. Meminta orang untuk membuka kunci pintu kamarnya juga tidak tau harus menunggu sampai kapan. Dia pun meminta Evelyn membawakan sebuah benda yang akan dia pakai untuk mendobrak pintu kamarnya.


Saat Evelyn berniat ingin membantu Naura mendobrak pintu kamar, managernya tiba-tiba menelponnya.


Evelyn merasa tidak rela harus melewatkan hal yang menyenangkan ini. "Naura, saat kamu mendobrak pintunya, kamu jangan lupa video call aku ya?!"


Naura terbengong menatap teman baiknya ini. Dia berpikir, apakah fans Evelyn tau kalau Evelyn sangat aneh seperti ini?


Setelah Evelyn pergi, Naura membawa sebuah benda berupa lempengan naik keatas menuju pintu kamarnya. Dia melemparkan benda itu ke pintu dengan sekuat tenaga untuk mendobrak pintunya.


Aaron keluar dari ruang kerjanya saat mendengar suara dobrakan dari luar. Dia melihat ternyata Naura sedang mendobrak pintu kamar. Aaron sedikit menunduk dan tersenyum sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


Gadis ini benar-benar.....diluar dugaan!


Aaron berjalan mendekati Naura dan menangkap pergelangan tangannya. "Kakak sepupu sedang tidak dirumah, kakak ipar bisa tidur dikamarnya. Tidak perlu mendobrak pintu dengan cara seperti ini. Kalau pintunya rusak, apa kakak ipar mau menggantinya?"


Naura juga merasa, tidak baik merusak barang yang bukan miliknya seperti ini. "Tapi, semua barangku ada didalam." Ucapnya dengan ragu-ragu.


"Saat kalian menikah, kakak sepupu menyuruh orang meletakkan barang-barang keperluan wanita di kamarnya." Ucap Aaron.


Sebenarnya, belum lama ini dia menyuruh orang meletakkan barang-barang untuk keperluan Naura di dalam kamarnya.


Naura merasa tidak menyangka masih mempunyai kesempatan seperti ini. Tapi, dia tetap menggelengkan kepalanya. "Tapi, aku tidak berani tidur dikamarnya." Ucapnya dengan polos. "Jadi, lebih baik aku mendobraknya saja. Aku yakin Aaron tidak akan memintaku untuk menggantinya. Dia tidak mungkin begitu pelit." Lanjut Naura dengan percaya diri.


Aaron Daffa sudah membelikannya ponsel kan? Masalah di internet juga dia tidak mempermasalahkan. Naura merasa kalau Aaron Daffa lebih baik dari yang dia pikirkan.


Aaron pun terpaku dan terdiam. Tidak dapat berkata apa-apa lagi karena Naura sudah mengatakan kalau dirinya adalah orang yang impresif. Jadi, tidak bisa bicara apa-apa lagi.

__ADS_1


...__________...


__ADS_2