
Di ruang rapat, Naura duduk di samping Marsha. Dia dengan tidak sepenuh hati mendengarkan isi rapat mereka.
Meski Naura tidak begitu mengerti dengan pembahasan rapat, tapi dia juga merasakan Marsha sama seperti dirinya, memang tidak bisa apa-apa.
Marsha melihat wajah Naura yang kebingungan, dalam hati merasa semakin bangga.
Dasar bodoh tetap saja bodoh!
Naura sama sekali tidak peduli seberapa bangganya Marsha saat ini. Karean dengan cepat, semua proyek di perusahaan Affandi terpaksa berhenti.
Setelah rapat usai, Marsha menahan Naura.
"Bahkan isi rapat yang begini mudah pun kamu tidak mengerti? Aku usulkan lebih baik kamu kembali lagi ke bagian pemasaran saja!" Ucap Marsha dengan menghina Naura.
"Oh, nanti saja baru dibicarakan kembali." Jawab Naura sambil sekilas menatap Marsha kemudian membalikkan badan dan pergi.
Yang paling tidak disukai oleh Marsha adalah sikap Naura yang tidak mempedulikannya.
Dia menatap punggung Naura dengan tatapan tajam, tidak percaya nasib Naura yang selalu baik. Suatu saat nanti, dia akan menginjak-injak Naura!
Naura kembali ke meja kerjanya dan melihat internet. Tidak melihat ada berita apapun yang berhubungan dengan perusahaan Affandi.
Apa mungkin wartawan itu belum berhasil mendapatkan apapun? Atau dia belum ke perusahaan Affandi untuk menggali informasi?
Saat berpikiran seperti itu, tidak lama kemudian Naura mendapatkan hasilnya.
Hampir jam pulang kerja, tiba-tiba kantor mengadakan rapat darurat.
Dan tiba-tiba suasana kantor berubah menjadi sangat sibuk. Dimana-mana ada suara telepon berdering. Sangat kacau balau.
Naura belum lama berada di bagian proyek, yang dia kerjakan hanya hal-hal yang kecil saja. Tapi biasanya, dia sangat ramah terhadap rekan-rekan kerjanya. Ditambah identitasnya yang rumit, rekan-rekan kerjanya yang baik itu kebanyakan tidak mengaturnya untuk kerja.
Jadi, Naura menjadi orang yang paling santai.
Dia kemudian membuka ponselnya untuk online di sosial media. Tiba-tiba melihat berita terkait dengan pengungkapan berita utama perusahaan yang serupa.
"Mengejutkan! Ada wartawan yang masuk ke dalam perusahaan yang menjual perabotan rumah tangga dalam skala besar dan mengungkap cara kotor pabrik!"
"Membahas mengenai perusahaan yang menjual perabotan rumah tangga di Kota B, tentu saja yang dipikirkan oleh orang-orang adalah Perusahaan Affandi."
"Hari ini, wartawan kami sendiri melakukan tes, masuk ke dalam pabrik dan mengungkapkan trik kotor yang tidak diketahui orang.......banyak bahan yang berasal dari sampah.......menyebabkan kerusakan yang besar bagi kesehatan manusia......."
__ADS_1
Naura melihat terus sampai ke bawah, sampai ke kolom komentar.
"Perabotan rumah tangga dari sepuluh tahun yang lalu seperti, handuk, kain pel, dan lain sebagainya, semuanya berasal dari perusahaan ini. Tapu, mulai tiga tahun yang lalu, sudah tidak dipakai lagi. Alasannya, yang pernah memakainya tau sendiri......."
"Apakah bisa mengembalikan model baru yang baru dibeli dari perusahaan itu?"
"Apa kalian masih ingat dengan pemeran utama dalam video tak senonoh waktu itu? Sepertinya, dia putri dari pemilik perusahaan ini. Bisa mendidik putrinya yang tidak tau malu seperti itu, lalu produk apa lagi yang masih bisa diharapkan?"
"Aku rasa, apa yang dituliskan diatas itu memang benar!"
"Sudah tau dari awal, perusahaan semacam ini, cepat atau lambat pasti akan bangkrut!"
Komentar di atas sudah mencapai sepuluh ribu. Kecepatannya sangat cepat, dan semakin dalam penolakan terhadap penggunaan produk dari perusahaan Affandi.
Naura melihat kembali kolom komentar itu.
Berkat usaha keras yang dilakukan oleh Marsha beberapa bulan ini, dia semakin melihat malah semakin merasa komentar itu seperti ada orang yang sengaja mengirimnya. Dan komentar yang mengikutinya sepertinya merupakan beberapa netizen yang diundang.
Naura pun teringat dengan Evelyn.
Dia men-screenshot banyak layar komentar dan dia kirim ke Evelyn. ["Apa ini komentar yang kamu kirim juga mencari netizen?"]
Sedetik kemudian, Evelyn membalas. ["Woah! Kamu bisa mengetahuinya? Sekarang jujur kepadaku, apa kamu memasang sesuatu yang aneh di dalam ponselku?"]
Evelyn membalasnya lagi. ["Perasaanmu itu benar-benar ajaib! Tapi, saat kamu ingin menguak perusahaan Affandi, kenapa tidak mengajakku? Aku jadinya kan bisa membantumu mencarikan netizen untuk memancingnya!"]
Evelyn orang yang suka ikut campur dengan masalah orang lain. Benar-benar tidak ada yang berubah!
["Kamu jangan ikut campur. Aku bisa mengurusnya. Kamu itu seorang publik figur. Hati-hati, jangan sampai ada orang yang meretasmu!"] Naura benar-benar mengkhawatirkan Evelyn.
Kalau sampai ada orang yang meretas akunnya, bisa-bisa dia akan terkena dampak buruknya.
["Tidak apa-apa, kamu tidak perlu khawatir. Pekerjaan ini sudah aku rahasiakan dengan sangat bagus, tidak usah dibahas lagi. Aku mau memakai penyamaranku untuk masuk ke akun media sosial dan ikut dengan keramaian ini. Malam ini, ayo kita malam di luar untuk merayakannya!"]
Merayakan...nya?
Naura tidak tahan untuk tertawa dan keluar dari percakapan.
Disebelahnya ada rekan kerja yang bicara kepadanya. "Naura, departemen sedang rapat, kenapa kamu masih ada di sini?"
"Aku segera datang." Jawabnya.
__ADS_1
Naura memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berjalan di belakang mengikuti segerombol karyawan untuk pergi rapat.
Orang yang memimpin rapat bukan Marsha, tapi wakil manajer proyek.
Wakil manajer itu bicara dengan wajah yang serius. "Kalian semua silahkan menghubungi pelanggan proyek kerjasama ditangan masing-masing, tenangkan mereka terlebih dulu. Pelanggan yang ingin mengakhiri kerja, silahkan kalian untuk melakukan yang terbaik untuk membujuknya....."
Naura dengan bosan, memainkan rambutnya dan mendengarkan dengan santai.
Saat rahasia gelap Perusahaan Affandi bocor ke publik, citra perusahaan akan menurun drastis di depan publik. Seperti dulu, merek susu formula yang tersebar menggunakan zat tambahan yang dapat membahayakan tubuh bayi. Akhirnya bangkrut, dan dengan mudah terjatuh dari tempat tinggi.
Yang diproduksi perusahaan Affandi adalah produk sehari-hari, bukan termasuk bahan yang dikonsumsi. Selama kemampuan relasi publik mereka masih ada, harusnya tidak sampai bangkrut. Tapi pasti akan mendapatkan kerugian yang sangat besar.
Di jaman yang cepat berkembang ini, banyak orang demi mengejar ketenaran dan keuntungan, hati mereka mudah merubah. Tapi, orang yang benar-benar bekerja dengan jujur, sudah jarang sekali ada.
Naura melakukan sedikit pergerakan ini, tapi jika pabrik Affandi tidak memiliki masalah, bisakah paparazzi mendapatkan sesuatu?
Setelah rapat yang menegangkan itu selesai, sudah lewat jam pulang kerja. Hampir semua karyawan tinggal dan bekerja lembur.
Tapi Naura tidak berencana untuk lembur. Dia mengambil tasnya dan pergi. Saat hampir sampai di pintu lift, dia menoleh melihat ke arah kantor Fajar, lalu berjalan ke sana.
Anehnya, pintu ruangannya terbuka setengah dan dari dalam ruangan terdengar suara Marsha yang sedang sangat kesal.
"Kita setiap tahun memberi banyak hal lebih untuk mereka, apa begini cara kerja mereka mengurusnya? Ayah, bagaimana ini? Perusahaan Affandi bisa bangkrut kalau seperti ini!"
Mendengar kata 'bangkrut' seketika Fajar dengan suara lantang menghentikannya. "Diam! Ayan dari awal sudah memintamu untuk selalu waspada sedikit! Saat main keluar juga waspada sedikit! Sekarang info mengenai Perusahaan Affandi sudah terkuak, masih juga ditambah dengan masalahmu yang bermain diluar dan dijadikan cerita, ini semua pasti ada orang yang sengaja tidak ingin Perusahaan Affandi meningkat!"
"Aku bagaimana bisa tau kalau ada orang yang memotret dan merekamnya. Aku saat itu hanya ingin bermain saja. Tapi, saat itu ayah juga tidak mempedulikan masalah ini. Ayah sendiri diluar juga bukannya sering mencari wanita lain? Waktu itu diluar, aku pernah tidak sengaja melihat ayah sedang merangkul seorang wanita yang lebih muda dari aku masuk ke bar....."
Marsha terlalu panik, karena lagi-lagi Fajar memarahinya. Lalu dia langsung mulai mengatakan hal-hal yang tidak patut untuk dikatakan.
Di ikuti dengan suara "Plak" kemudian suara Marsha tiba-tiba menghilang.
Naura dengan perlahan membuka pintu itu sedikit, melihat Marsha sedang menutupi wajahnya dan bicara dengan marah. "Ayah menamparku?!"
Fajar terlihat agak menyesal, suaranya terdengar melembut. "Marsha....."
Sontak Marsha mundur selangkah. " Jangan panggil aku!"
Selesai bicara, Marsha langsung membalikkan tubuhnya dan lari keluar.
Melihat hal ini, Naura dengan segera membalikkan tubuhnya dan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
...__________...