
Merlin semakin mengerutkan alisnya lebih dalam menatap Naura. "Naura! Kenapa kamu bertanya seperti ini? Kamu sudah benar-benar berubah tidak seperti dulu lagi."
Iya, karena dulu aku hanya berpura-pura bodoh saja dan menuruti kemauan kalian semua!
Batin Naura dengan marah dan penuh rasa kecewa.
Tapi sekarang, jangan harap Naura akan seperti dulu lagi. Tidak ingin teraniaya untuk mendapatkan semuanya.
Naura tidak ingin lagi banyak bicara dengan Merlin. Dia berbalik dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan Merlin.
"Naura! Ibu belum selesai bicara! Naura kembali!" Merlin terus berteriak memanggil Naura, tapi bukannya berhenti dan berbalik malah Naura semakin cepat melangkah pergi hingga tidak terlihat ditengah kerumunan banyak orang.
Apapun yang terjadi, Merlin tetaplah ibu kandungnya. Meskipun Naura tidak ingin peduli lagi dengannya, hatinya tetap saja merasa sangat sedih.
Naura berjalan paling belakang diantara kerumunan orang yang ingin menyeberang jalan dengan linglung.
'TIN TIIIINNN!'
Tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil. Dia mengangkat kepalanya dan melihat. Tidak melihat kebawah kakinya dan tiba-tiba dia terjatuh begitu saja.
Sekarang ini sedang musim dingin. Meskipun dia memakai jaket yang tebal, tapi berjalan dengan kaki telanjang, rasanya begitu sakit karena dingin.
Naura mendengar suara pintu mobil terbuka. Dia menoleh dan belum sempat melihat dengan jelas siapa orang yang keluar dari mobil, dia sudah mendengar suara dari orang tersebut yang terdengar sangat familiar. "Naura! Apa kamu sengaja ingin membuat orang menabrakmu lalu kamu meminta ganti rugi?"
Naura pun menyipitkan matanya dan dapat melihat dengan jelas orang itu. Dia memakai setelan jas berwarna gelap. 'Samuel'?
Saat ini, Naura sedang dalam suasana hati yang buruk. Dia sangat tidak ingin melihat laki-laki ini.
Naura menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit yang dia rasakan. Kemudian berdiri dan berbalik. Dia kembali melangkah pergi tanpa mengatakan apapun. Tapi, baru ingin melangkah, lengannya dipegang oleh 'Samuel'. "Kakimu pasti sakit kan?"
Naura berusaha melepaskan diri dari 'Samuel' tapi tidak berhasil. Tubuhnya pun melemas. Tiba-tiba dia merasakan tubuhnya melayang. Ternyata 'Samuel' mengangkat tubuhnya dan memeluknya.
Naura secara spontan memeluk leher 'Samuel'. Kemudian dia berusaha untuk melepaskan diri dari pelukannya. "Sam lepas! Turunkan aku!"
Aaron sama sekali tidak mempedulikan Naura yang terus memberontak dalam gendongannya. Usahanya sia-sia, hingga Aaron membawa Naura masuk kedalam mobilnya.
Setelah duduk didalam mobil, Naura ingin keluar. Tapi dengan cepat, Aaron mencegahnya dengan menahan pundak Naura. "Kalau sampai kamu keluar dari mobil, aku akan menciummu." Ucap Aaron dengan tersenyum pada Naura.
__ADS_1
Mendengar itu, Naura mendengus sinis dan menatap tajam 'Samuel'. "Kamu benar-benar tidak tau malu!"
Aaron segera menutup pintu mobil dan masuk kesisi lain mobil dibagian kemudi.
Naura memalingkan wajahnya kearah jendela. Tidak ingin melihat laki-laki menyebalkan seperti 'Samuel'.
Aaron pun hanya diam menatap lurus kedepan, fokus mengemudi. "Kamu belum jawab pertanyaanku." Ucapnya tanpa menoleh.
Naura tidak langsung menjawab. Dia terpaku dan mengingat yang ditanyakan 'Samuel' tadi apakah dia ingin meminta ganti rugi?
Naura kemudian menoleh menatapnya dengan emosi. "Bukankah kamu yang sengaja mau menabrakku kan?!"
'Samuel' meliriknya sekilas dengan sinis. "Kamu tidak tau kalau suamimu adalah orang yang terkaya dan paling memiliki masa depan di kota ini? Mana berani aku meminta ganti guri?"
Naura menatap lekat pada 'Samuel'. Dia merasa kalau 'Samuel' sangat aneh. Selain melihat penampilan 'Samuel' seperti biasanya, tidak ada yang aneh pada dirinya.
Naura teringat dengan wawancaranya tadi. 'Samuel' sudah pasti melihatnya. Lalu, apa Aaron juga sudah melihatnya? Memikirkan itu, hati Naura menjadi tidak tenang.
Sikap leluarga Ardinata sudah sangat jelas. Mereka dengan cepat akan menghapus beberapa postingan yang menyangkut nama Aaron Daffa. Tapi, mereka tidak akan peduli dengan pertengkaran antara Naura dengan keluarga Affandi selama tidak melibatkan Aaron Daffa.
Wawancara tadi, wartawan benar-benar sangat keterlaluan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang Aaron Daffa. Naura merasa cemas dan takut kalau saja jawabannya tadi membuat keluarga Ardinata tidak suka.
Aaron kembali melirik dan melihat wajah Naura yang terlihat cemas, dia menahan senyumnya. "Iya, sudah lihat!" Jawab Aaron dengan tegas.
"Lalu..dia..."
"Kakak sepupu sangat marah!" Belum selesai Naura menyelesaikan pertanyaannya, Aaron sudah menyambarnya dengan memberikan jawaban.
Seketika jantung Naura berdegub kencang semakin cemas dan hatinya juga semakin merasa tidak tenang.
Dia kemudian memalingkan wajahnya, melihat kekeluar dari kaca jendela mobil. Dia menyadari kalau laju mobil tidak mengarah ke rumah Aaron. Dia kembali menoleh menatap 'Samuel' dengan tatapan waspada. "Kamu, mau kemana? Aku mau pulang ke rumah Aaron!"
Aaron tidak menghiraukan pertanyaan Naura. Mobilnya terus melaju kemudian berhenti didepan sebuah klinik. Dia segera turun berjalan mengitari mobilnya dan membukakan pintu untuk Naura. "Bisa turun dan jalan sendiri? Atau..mau aku menggendongmu lagi?"
Mana mungkin Naura mau digendong olehnya. Dia langsung turun keluar dari mobil.
"Apa kamu mau periksa atau membeli obat?" Tanya Naura dengan polos ketika melihat 'Samuel' berjalan masuk kedalam klinik.
__ADS_1
'Samuel' berjalan didepan Naura, sama sekali tidak mempedulikannya.
Langkah Naura terhenti ketika 'Samuel' berhenti dan bicara dengan dokter. "Periksa dia, kakinya terluka."
Ada rasa keterkejutan dalam hati Naura. Dia terpaku.
'Samuel' membawanya ke klinik hanya ingin memeriksakan kakinya yang sakit?
"Mari, silahkan masuk. Saya akan memeriksa kakimu. Disebelah mana lukanya?".
"Kakiku baik-baik saja dan tidak terlalu sakit." Jawab Naura lalu melihat 'Samuel' yang hanya diam dan terus menatapnya.
Meski hanya diam terlihat tenang, tapi sorot matanya yang seperti itu membuat Naura merasa takut.
Dokter itu menoleh kearah Aaron lalu tersenyum. "Kekasihmu begitu peduli denganmu. Lebih baik, kamu periksa dulu saja."
"Kami tidak ada hubungan apa-apa!" Bantah Naura dengan cepat.
Aaron melihat ada seorang dokter wanita yang sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri. "Tolong kamu minta dokter wanita itu untuk memeriksanya."
Dokter itu tersenyum lagi, memperlihatkan pandangan yang jelas. Dia berpikir, mungkin pasangan ini sedang bertengkar dan si wanitanya sengaja tidak ingin mengakui kekasihnya. Dokter segera memanggil dokter wanita yang ditunjuk Aaron.
Setelah dokter wanita itu datang, terlihat wajahnya merona saat melihat Aaron Daffa yang begitu tampan.
Dengan ramah, dia meminta Naura naik ketempat tidur untuk diperiksa. Dokter itu menggulung celana Naura hingga lutut dan tidak bisa untuk tidak memujinya dengan tersenyum. "Kakimu sangat indah."
Kaki Naura sangat putih, mulus dan bersih. Orang yang melihatnya pasti akan kagum padanya.
Naura tersadar kalau ada 'Samuel' yang berdiri didekatnya sedang memeprhatikan. Dia merasa sangat tidak nyaman dan segera menurunkan kembali gulungan celananya.
Lututnya merah dan memar. Bagi Naura, ini hanya luka kecil saja. Tapi, entah mengapa 'Samuel' menganggap ini sebagai luka yang sangat serius?
Gerakan Naura begitu santai agar tidak terlihat kentara kalau sebenarnya hatinya cemas.
Saat dia memalingkan wajahnya, tidak sengaja tatapan matanya bertemu dengan tatapan 'Samuel'.
"Ternyata, kamu sangat bisa menahan sakit." Ucap 'Samuel' dengan santai sambil melirik kaki Naura.
__ADS_1
Aaron tadi melihat dengan jelas kalau Naura terjatuh dan kesulitan untuk berdiri. Dia mengira kalau kaki Naura terluka parah. Oleh karena itu, dia membawanya ke klinik untuk diperiksa.
...__________...