Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#55


__ADS_3

Naura baru saja sampai di ruangannya. Baru saja duduk tiba-tiba Marsha langsung menghampirinya.


Naura melihat sorot mata Marsha seperti sedang bergembira atas penderitaan orang lain. "Ayah memintamu datang ke ruangannya."


"Apa ayah mengatakan kepadamu kenapa mencariku?" Tanya Naura sambil meraih ponselnya lalu berdiri menatap Marsha.


"Nanti juga kamu akan tau sendiri." Jawab Marsha yang telihat tidak ingin banyak bicara.


Setelah datang ke ruangan kantor Fajar Affandi, Naura melihat ternyata ada Pak manajer pemasaran yang kemarin terkena seranagan stun gun miliknya.


Naura melangkah masuk dan sengaja tidak menutup rapat pintunya dengan tersenyum polos. "Pak Jayus Adibrata sudah keluar dari rumah sakit ya? Hari ini aku berencana ingin menjenguk Bapak ke rumah sakit."


Jayus Adibrata adalah nama manajer pemasaran. Dia sudah punya dua orang anak laki-laki dan perempuan. Dia juga punya istri yang sangat galak karena Jayus pernah terpergok tidur dengan karyawan wanita di dalam kantor. Istrinya mencarinya sampai ke kantor dan menghajar dia habis-habisan.


Sejak kejadian itu, orang-orang di kantor tau kalau Jayus takut dengan istrinya.


Dan kemarin di hari pertama Naura bekerja, dia sudah membuat masalah dengan Pak manajer.


Jayus merasa sedikit ketakutan ketika melihat Naura. Dia mengira kalau Naura adalah wanita lemah. Tapi, tidak disangka kalau Naura wanita yang kuat dan pemberani.


Jayus bekerja di perusahaan Affandi sudah kurang lebih sepuluh tahun lamanya. Dia tidak bisa hanya begini saja dibulli oleh seorang gadis seperti Naura.


Dia melirik sinis pada Naura lalu memalingkan wajahnya tidak mempedulikannya lagi.

__ADS_1


Tentu saja Naura juga tidak peduli. Dia berjalan menghampiri Fajar. "Ayah, ada perlu apa memanggilku?"


Meskipun dalam hati Naura tau kalau Fajar dan Marsha sangat tidak senang dengannya, jadi mungkin mengambil kesempatan ini untuk memarahinya. Tapu, Naura harus pura-pura tidak tau apa-apa.


Fajar Affandi menatap Naura dengan wajah dingin dan berbicara dengan serius. "Naura, kalau kamu merasa tidak puas dengan pekerjaan yang ayah berikan kepadamu, kamu bisa langsung menemui ayah dan bicara. Sebenarnya, apa yang kamu inginkan sampai kamu melampiaskan kemarahanmu kepada Pak Jayus? Apa kamu tidak berpikir kalau sampai masalah ini tersebar sampai keluar, orang-orang akan mengira kalau anak perempuanku di kantor suka membulli orang lain dan itu akan sangat mempengaruhi citra perusahaan?!"


Naura sama sekali tidak menyela ucapannya untuk membela diri. Dia dengan serius mendengarkan perkataan Fajar sampai selesai kemudian pura-pura terkejut. "Astaga! Aku tidak menyangka kalau akibat dari masalah ini sangat berat."


"Sudah tau akibatnya sangat berat! Kamu masih tidak meminta maaf ke Pak Jayus?!" Marsha menyela dengan suara yang terdengar dingin.


Naura tidak mempedulikan Marsha. Dia memalingkan wajahnya dan menatap Fajar dengan serius. "Ayah, kalau dikatakan mempengaruhi citra perusahaan, Apa masalah kakak sudah terselesaikan? Beberapa hari yang lalu, aku melihat di media sosial ada orang yang mengatakan, mereka melihat kakak pergi ke acara perjamuan di Bar 99."


Mendengar itu, seketika wajah Marsha memucat dan ingin membela diri. "Ayah, aku....."


"Tentu saja aku tau kalau kakak bukan orang yang seperti itu." Naura langsung menyela ucapan Marsha sambil tersenyum. "Mana mungkin kakak pergi ke Bar 99? Aku rasa, itu pasti karena ada saingan bisnis yang sengaja menyebarkan fitnah untuk menjatuhkan kakak. Sifat anak, tidak jauh dari orangtuanya kan? Bahkan mereka mengatakan kalau ayah tidak bisa mendidik kakak dengan baik, kemudian mereka akan menganggap perusahaan Affandi ini bukan perusahaan bonafit." Lanjut Naura dengan sungguh-sungguh membuat dia sendiri hampir percaya.


Tapi, ada orang yang mengeluarkan dan menyiarkannya kembali selama seharian. Fajar sudah berusaha meminta bantuan kepada rekan-rekan relasinya, tapi tetap saja tidak bisa menghilangkan berita tersebut. Hanya bisa menunggu sampai berita tentang Marsha itu turun, baru kemudian bisa reda dan meminta bantuan kepada mereka untuk menghapus semua foto dan video Marsha.


Selama beberapa hari ini, Fajar merasa tidak mudah meredakan berita itu, dia tidak menyangka kalau Marsha masih berani kembali pergi untuk bermain ke Bar 99.


Ternyata ucapan Naura berhasil mengalihkan perhatian Fajar Affandi. Meskipun sebenarnya dia juga ingin menyulitkan Naura, tapi menurutnya masalah Marsha masih jauh lebih penting.


"Kalian berdua keluar dulu!" Ucap Fajar dengan wajah dinginnya.

__ADS_1


Tanpa berkata, Naura langsung beranjak pergi keluar lebih dulu. Meskipun merasa tidak rela, tapi Jayus tau kalau President Direktur Utama ingin menyelesaikan permasalahannya dengan putrinya dulu. Dia pun beranjak keluar.


Saat dia keluar, dia langsung melihat Naura berdiri di luar pintu dengan bersedekap.


Naura menatap Jayus, menyeringai dengan senyum tertahan. Wajahnya yang putih bersih memancarkan aura yang begitu dingin, tapi terlihat elegan. "Pak Jayus, tadi Pak Presiden Direktur berkata kalau aku melampiaskan kemarahanku ke Bapak, apa ucapan itu Bapak sendiri yang mengatakan?"


Jayus melihat ekspresi Naura yang dingin, dia merasa sedikit ngeri.


Posturnya tidak tinggi. Berdiri didepan Naura juga terlihat tidak lebih tinggi. Dia hanya bisa menatap Naura dengan mengangkat dagunya dan memasang gaya yang dipaksakan. "Kita tunggu sampai Pak Presiden Direktur menyelesaikan masalahnya. Kalau sekarang kamu mau memohon meminta maaf kepadaku, aku akan merasa senang. Mungkin aku akan memaafkan kamu dan meminta Pak Presiden Direktur melepaskan kamu."


Mendengar itu, senyum diwajah Naura semakin dalam. Jayus mengira kalau Naura takut dan ingin mengambil hatinya. Dalam hatinya pun dia merasa bangga.


Jayus melihat Naura mengangkat kakinya. Dalam hati dia merasa curiga. Kemudian dia memekik kesakitan sambil memegangi benda paling berharga dibagian bawah tubuhnya. "Aah---!!"


Naura dengan wajah yang semakin dingin menatap Jayus. "Kamu sendiri yang mengatakan kalau aku sudah melampiaskan kemarahanku kepadamu! Sekarang, kamu tanggung sendiri akibatnya!"


Wajah Jayus terlihat pucat. Dia menatap Naura sambil membungkuk memegangi benda miliknya dan menunjuk wajah Naura sampai-sampai ucapannya tidak jelas. "Ka-kamu...aku...ssshhh..."


Sebelumnya, Naura pernah tinggal di pemukiman kumuh selama kurang lebih setengah tahun. Terkadang ketika dia pulang malam, dia juga bisa bertemu dengan beberapa preman. Meskipun saat itu dia masih menjadi jelek, tapi tetap saja dia seorang wanita. Dia juga pernah diganggu dan digoda.


Jadi sejak awal, Naura tidak pernah merasa takut sama sekali.


Gangguan dari Jayus yang semacam ini, umumnya orang akan lebih memilih menahan diri untuk diam. Dengan prinsip yang sama, Jayus yang dihajar oleh Naura, tidak mungkin akan memberitahukan ke orang lain. Hanya bisa menahan kemarahannya dalam hati.

__ADS_1


Tapi, Naura juga bisa memastikan kalau Jayus tidak mungkin membiarkannya berlalu begitu saja.


...__________...


__ADS_2