Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#18


__ADS_3

Mobil Aaron mengikuti Naura sampai ke sebuah restaurant. Dia duduk didalam mobil melihat Naura masuk dan setelah lima belas menit kemudian, dia melihat Marsha masuk kedalam restaurant tersebut.


Bersamaan dengan itu, Aaron juga melihat ada seorang laki-laki yang mengikuti masuk ke restaurant.


Sebagai pimpinan perusahaan entertainment terbesar, begitu melihat laki-laki itu, dia langsung tau kalau laki-laki itu adalah wartawan.


Aaron merasa tidak sia-sia menunggu begitu lama didalam mobil karena sepertinya sebentar lagi akan ada tontonan yang seru.


Didalam restaurant, Marsha meletakkan tasnya dan menatap Naura sambil mengangkat dagunya terlihat sangat sombong. "Cepat langsung saja katakan kalau ada yang mau dibicarakan! Aku ada janji dengan Lucky sebentar lagi." Ucap Marsha sambil melihat kuku-kuku baru buatannya.


Lalu melirik Naura yang dandanannya masih sama seperti biasanya. Kulit wajahnya yang gelap banyak jerawat, memakai kaca mata berbingkai dan pakaiannya yang sangat kuno. Naura memang sangat jelek dan sama sekali tidak menarik.


Penampilannya yang seperti ini, ingin merebut Lucky darinya?


Mata Naura menatap kebawah dan melirik ke seorang laki-laki yang tadi mengikutinya masuk. Kemudian dengan sikap yang begitu tenang,dia mengirim pesan yang sebelumnya sudah dia ketik, hanya tinggal dikirim saja. "Kamu sudah bisa memulainya sekarang."


Naura dengan perlahan dan hati-hati mengangkat kepalanya melihat Marsha. "Kak, aku sudah minta maaf di sosial media. Kamu jangan membuat ibuku menderita." Ucap Naura dengan terbata.


Marsha memperhatikan Naura masih sama seperti sebelumnya. Masih terlihat bodoh dan tolol.


"Cih!" Marsha mencibir. Tidak mungkin dalam waktu yang sangat singkat, Naura bisa berubah menjadi pintar.


"Tidak membuat ibumu menderita? Aku bisa saja melakukannya. Tapi ada syaratnya!" Ucap Marsha sambil menyilangkan tangannya dan tersenyum bangga.


"A..apa sya..syaratnya?" Tanya Naura dengan ragu-ragu dan gagap.


"Dasar bodoh! Bahkan ibumu itu tidak pernah peduli denganmu dan tidak pernah menganggapmu sebagai anak kandungnya. Tapi, kenapa kamu masih saja sangat perhatian kepadanya?"


Mendengar ucapan Marsha, Naura mengepalkan kedua tangannya yang dia letakkan dibawah meja. Wajahnya memucat. "Bagaimanapun juga, dia tetap ibuku, ibu kandungku yang telah melahirkan aku. Kalaupun diulang sekali lagi, jelas-jelas demi kamu dia datang memohon kepadaku untuk menikah dengan Aaron dan aku akan masih tetap bersedia."

__ADS_1


Marsha selalu meremehkan Naura yang lemah dan juga tidak berdaya. Saat masih kecil dulu, Naura lebih pintar darinya. Wajahnya juga lebih cantik dari dia. Maka dari itu, dia sangat membenci adiknya ini.


Lalu, Naura berubah menjadi jelek dan bodoh, Marsha menjadi lebih membencinya lagi karena dia merasa sangat malu mempunyai adik seperti Naura.


Marsha tersenyum sinis. "Ternyata kamu sama murahannya dengan ibumu." Ucap Marsha terdengar lembut tapi penuh dengan kebencian.


Merlin menikah dengan Fajar dan masuk kedalam keluarga Affandi sudah lebih dari dua puluh tahun. Selama ini dia dengan sepenuh hatinya selalu bersikap baik, memberikan kasih sayang dan perhatiannya hanya kepada Marsha. Tapi Marsha malah memakainya dengan kata-kata 'murahan'?


"Kak, kamu silahkan kalau mau marah atau memaki aku. Tapi tolong jangan berkata seperti itu tentang ibuku. Dia sangat tulus menyayangi kamu." Ucap Naura dengan suara pelan dam berpura-pura sedih.


Marsha tidak sudi mendengarkan Naura. Dia meliriknya dengan sinis. "Diam kamu! Urusanku, kamu tidak perlu ikut campur! Sekarang, kamu hanya perlu melakukan satu hal. Bercerai dengan Aaron!" Ucap Marsha dengan suara keras.


"Apa? Bercerai?" Naura terkejut dan matanya melotot.


Rasa keterkejutannya ini, setengah hanya pura-pura saja dan setengahnya dia benar-benar terkejut.


Naura sudah bisa menebak tujuan dari Marsha tanpa Marsha mengatakannya.


Kalau Naura menceraikan Aaron, itu sama saja dia telah menampar keluarga Ardinata dan keluarga Ardinata tidak akan pernah melepaskan dia.


Rencana Marsha ini memang benar-benar keterlaluan. Dia ingin membuat keluarga Ardinata membenci Naura. Dengan begini, Marsha dan Lucky bisa menjalin hubungan tanpa tekanan.


"Aku tidak akan membuat ibumu menderita, asal kamu bisa melakukan ini." Ucap Marsha sambil menyibakkan rambutnya kebelakang dan terlihat ada tanda merah dilehernya. Sangat jelas sekali kalau tanda merah itu bekas ciuman.


Apa Marsha sengaja ingin pamer ke Naura?


Naura meminum air putih didalam gelasnya dan hatinya merasa sedih.


"Tapi, keluarga Ardinata pasti tidak akan setuju kalau aku menceraikan Aaron." Kalau pun memang ingin bercerai, harus Aaron yang mengajukannya lebih dulu.

__ADS_1


"Itu urusanmu! Dan aku sarankan, sebaiknya kamu patuh seperti seekor anjing! Kalau tidak? Aku akan membuat hidupmu dan juga ibumu selalu menderita!" Ucap Marsha dengan tajam.


Dia sudah tidak sabar lagi bicara dengan Naura. Dia mengambil lipstick dan kaca kecilnya lalu mengoleskannya dibibir tipisnya. Kemudian menelpon Lucky. "Hallo Lucky."


Naura terdiam dan terbengong melihat Marsha. Reaskinya ini membuat Marsha merasa puas.


Marsha pun beranjak pergi meinggalkan restaurant.


Naura memperhatikan Marsha naik kedalam mobil melalui kaca jendela restaurant. Kemudian dia menoleh melihat meja belakang melihat laki-laki yang duduk disana seperti sedang mengetik pesan.


Naura melihat ponselnya yang berbunyi. Ada notifikasi pesan dari laki-laki itu. "Aku akan mengirim videonya ke kamu nanti setelah sampai rumah."


Naura membalas pesannya. "Terima kasih banyak."


Naura menyimpan ponselnya kembali kedalam saku jaket katunnya dan makan makanan yang tadi sudah dia pesan tanpa terburu-buru.


Dia merasa, kalau Marsha sekarang sudah sangat berubah. Padahal dulu, waktu Naura masih kecil, dia sangat menyukai Marsha yang cantik. Karena anak kecil pasti menyukai sesuatu yang cantik dan selalu mengikuti kemanapun Marsha pergi.


Tapi, Marsha sepertinya memang tidak punya hati.


Dia memaki Merlin, mengatainya ******. Padahal selama dua puluh tahun lebih, Merlin dengan sepenuh hati selalu baik kepadanya. Apa lagi dengan Naura yang begitu dibencinya?


Naura mengira, Marsha bisa sedikit menyayangi Merlin, tapi kakaknya ini malah benar-benar tidak punya hati, memakinya dengan kata-kata kasar.


Memikirnya itu, Naura merasa sedih. Makanan yang dimakannya sudah dingin dan tidak enak. Dia pun segera beranjak pergi.


Aaron keluar dari mobil dan langsung menarik laki-laki tadi.


Melihat Aaron yang bertubuh tinggi dan kekar, dia ketakutan. "Ka..kamu mau apa?" Tanyanya dengan tergagap.

__ADS_1


Aaron menatapnya dingin. "Tunjukkan rekamannya kepadaku!" Ucapnya sambil menatap kearah tas yang dibawa laki-laki itu.


...__________...


__ADS_2