Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#78


__ADS_3

Naura baru saja tiba di Perusahaan Affandi. Dia langsung menuju ke ruangan kantor Fajar Affandi.


Fajar mengerutkan alisnya saat melihat Naura masuk kedalam ruangannya. "Untuk apa kamu datang kesini?"


"Aku tidak bisa melakukan pekerjaan di departemen pemasaran. Aku mau ke departemen proyek dan mau belajar lebih banyak dengan kakak." Ucap Naura dengan ekspresi yang terlihat sangat tulus membuat Fajar sulit mengetahui apakah ucapan Naura benar-benar keluar dari hatinya?


Department pemasaran adalah tempat pemula. Sedangkan departemen proyek merupakan departemen terpenting di Perusahaan.


"Di department pemasaran saja kerjamu tidak bagus, lalu kamu masih ingin belajar dengan Marsha? Kamu pikir, kamu bisa melakukannya dengan baik?!" Ucap Fajar karena dia masih tidak bisa mempercayai perkataan Naura.


Naura tersenyum kecil dan raut wajahnya serius. "Intinya, aku merasa kalau kakak adalah orang yang sangat hebat. Kalau aku berada disampingnya, pasti aku bisa belajar banyak hal darinya. Dari kecil, aku merasa sangat iri dengan kemampuan kakak. Ayah lihat, sejak kecil aku selalu mendengarkan kakak, karena aku sangat menyukainya. Akhir-akhir ini...... aku yang salah."


Setelah selesai bicara, suara Naura menjadi semakin pelan dan air matanya juga menetes.


Mendengar pujian terhadap Marsha dari Naura, tentu saja Fajar menyukainya. Karena sikap Fajar terhadap Marsha bisa dikatakan kalau Fajar sangat mencintai putrinya itu. Tidak terhingga besarnya.


Berkata sedikit terus terang, Naura di dalam hati keluarga Affandi sudah begini lama. Bahkan tingkat penurutnya tidak kalah dari seekor anjing peliharaan. Jadi, dia berkata seperti itu, Fajar hanya sedikit percaya kepadanya.


Apalagi, Naura hanya mengeluarkan beberapa tetes air mata saja.


Tapi, akhirnya Fajar merasa lega. "Sudahlah, ayah akan memindahkan kamu ke bagian lain dulu. Kalau kamu masih belum bisa melakukan pekerjaanmu dengan baik, kamu kembali lagi kesini."


"Terimakasih ayah." Ucap Naura dengan tersenyum manis menatapnya.


Semua orang memiliki perasaan. Sekarang ini, Naura sudah cantik. Bahkan Fajar juga merasakan kalau Naura terlihat lebih enak dipandang dan ucapan "terimakasih ayah" yang diucapkan Naura barusan, tentu saja juga lebih enak didengar.


"Kamu kembali ke ruanganmu dulu. Ayah akan bicarakan ini dengan Marsha. Nanti ayah akan beritau kamu untuk pindah."


Naura segera keluar dari ruangan Fajar. Senyuman diwajahnya memudar. Dia mengusap bekas air matanya dan di sudut bibirnya terlihat sebuah senyuman dingin.


...


Fajar memanggil Marsha menggunakan intercom setelah Naura pergi.

__ADS_1


Begitu Marsha masuk, dia terlihat tidak sabar. "Yah, ada urusan apa memanggilku? Aku masih ada banyak urusan."


Fajar tidak mempedulikan sikap Marsha. Dia tetap bersikap lembut kepadanya. "Baru saja Naura datang mencari Ayah. Dia mengatakan, kalau dia ingin pindah ke departemen proyek bersama kamu dan mau belajar dari kamu. Bagaimana menurutmu?"


"Apa dia sendiri yang mengatakan itu?" Tanya Marsha dengan melebarkan matanya karena kaget.


"Iya. Dia sendiri yang mengatakan itu ke ayah."


"Dia bisa dengan sungguh-sungguh mau belajar dari aku? Apa mungkin, ini adalah rencana jahatnya?" Marsha mendengus dingin dan bicara dengan nada yang tidak berkompromi. "Yah, jangan pindahkan dia ke aku! Melihatnya saja sudah membuatku jengkel!"


Tadinya, Fajar memanggil Marsha ingin mengajaknya berdiskusi. Tapi, melihat sikap Marsha yang keras seperti ini, tidak memberinya muka sama sekali, membuatnya menjadi marah. "Marsha! Ayah tidak peduli itu! Bagaimana pun juga, kalian kakak dan adik! Apalagi, kita sedang mengandalkannya untuk menaklukkan Aaron Daffa agar berinvestasi ke Perusahaan kita! Masalah ini sudah diputuskan seperti ini, ayah akan memindahkan Naura ke bagian proyek bersama kamu! Ayah berharap, kamu baik-baik mengajarinya."


Hati Marsha merasa sangat tidak terima. Dia pun meluapkan kemarahannya. "Yah! Bagaimana ayah bisa seperti ini?! Aku sudah mengatakan jangan pindahkan dia ke bagianku! Apa ayah masih tidak mengerti?!"


"Marsha!" Teriak Fajar penuh emosi.


Marsha bisa merasakan kemarahan dari ayahnya yang sesungguhnya dan akhirnya dia hanya bisa menurut. "Sudahlah, terserah ayah saja."


Marsha kemudian pergi dengan marah sampai membanting pintu sangat keras ketika keluar dari ruangan Fajar.


...


Naura dengan cepat sudah menerima pemberitahuan mengenai pemindahan bagian untuknya.


Dia membereskan barang-barangnya, berpamitan kepada beberapa rekan kerja yang dikenalnya, kemudian memeluk kardus yang berisi barang-barangnya dan pergi ke bagian proyek.


Dia berdiri didepan pintu ruangan kantor manajer proyek dan mengetuk pintunya.


"Masuk!"


Terdengar suara Marsha dari dalam ruangan.


Naura mendorong pintu dengan penuh senyuman dan masuk. "Mohon bimbingan kakak."

__ADS_1


Begitu melihat Naura, raut wajah Marsha menjadi tidak senang.


"Ini di kantor, panggil aku Bu Manajer Marsha!"


"Bu Manajer Marsha." Ucap Naura dengan lancar.


Marsha melihat senyuman di wajah Naura, seolah-olah merasakan afa sebuah batu yang sangat berat menekan kepalanya.


Jadi, dengan sengaja Marsha menyuruh orang mencari setumpukan berkas yang sudah tidak terpakai kemudian menyuruh Naura pergi untuk fotocopy, setelah itu menyuruh Naura menghancurkan berkas tersebut.


Sepanjang hari, Naura melakukan hal tersebut.


Marsha mengira, baru sebentar melakukan pekerjaan ini, Naura akan mencari dia dan marah. Tapi, tidak disangka, Naura tetap menurut melakukan itu sepanjang hari dan sedikit pun tidak ada bantahan darinya.


Ini membuat hati Marsha merasa aneh.


Kemarin, Naura datang mencarinya dengan amarah yang meluap-luap untuk membuat dia merasa takut. Hari ini sudah berubah sikap?


Yang pasti, Marsha tidak akan percaya.


Saat pulang kerja, Marsha menyuruh orang membawa setumpukan berkas untuk Naura fotocopy lagi. Sampai semua orang sudah pulang, Naura masih belum selesai fotocopy.


Marsha pergi ke ruang fotocopy, melihat Naura masih ada disana dengan serius fotocopy berkas. Dia menyipitkan mata mendekatinya. "Naura, sebenarnya permainan apa yang ingin kamu mainkan lagi? Kamu bisa menipuk ayahku, kamu kira kamu juga akan bisa menipu aku?"


"Aku tidak menipu siapapun. Aku sungguh merasa kalau kakak sangat hebat. Jadi, aku mau menjadi bawahan kamu untuk belajar." Ucap Naura dengan lembut. Tapi, tiba-tiba nada suaranya berubah. "Kalau aku tetap tidak bisa mempelajari apapun, tidak tau apakah orang-orang akan mengira kalau kakak tidak kompeten?"


Marsha tersenyum dingin. "Aku sudah tau kalau kamu tidak berniat baik."


Naura melihat Marsha sekilas, lalu dengan pelan dan rapi membereskan berkas yang ada ditangannya. Tidak mempedulikan Marsha lagi.


Dari awal, Naura sudah mendengar orang-orang kantor berkata kalau Marsha yang menduduki posisi sebagai manajer proyek, tidak melakukan apa-apa. Semuanya hasil dari para bawahannya.


"Asalkan ayah percaya kalau aku sungguh-sungguh mencari kamu untuk belajar, itu sudah oke. Mengenai aku ada niat baik atau tidak, apa itu penting?" Naura tersenyum mengejek. Mengeluarkan fotocopy berkas terakhirnya, membalikkan badan lalu pergi keluar.

__ADS_1


...__________...


__ADS_2