
Laki-laki yang berjalan didepan memakai pakaian penyamaran, tapi posturnya terlihat sangat familiar.
Dengan pelan berjalan mendekati dan lelaki itu melepaskan kaca matanya. Tidak peduli senyuman ataupun suara yang dikeluarkannya semua terasa hangat.
"Naura, kita bertemu lagi."
"Kairav...?"
Wajah Naura terlihat kaget melihatnya.
Dia lagi? Bertemu lagi dengan Kairav Robinson?!
Batinnya.
kairav melihat ekspedisi Naura yang kaget, dia tersenyum lepas. "Kenapa begitu kaget bertemu denganku?"
Naura menganggukkan kepala. "Hanya dalam satu bulan, aku sudah bertemu dengan kamu tiga kali. Aku rasa aku bisa mendapat undian berhadiah."
Naura tidak tau ucapannya mana yang lucu, yang pasti tiba-tiba Kairav tertawa.
Kairav Robinson adalah seorang artis muda terkenal yang banyak sekali penggemarnya. Kemana pun dia pergi, ada banyak wartawan yang selalu mengikutinya. Karena takut terfoto, Naura tidak terlalu ingin bertemu dengannya.
Ingatan Kairav sangat bagus. Belakangan ini, saat bertemu dengan Naura, dia sendiri yang menyapanya terlebih dahulu.
Takutnya, kalau sampai terfoto oleh wartawan, Naura pasti akan menjadi berita utama lagi.
Bahkan, judul untuk berita utamanya pun sudah terpikirkan olehnya.
Misalnya "Nyonya Daffa Ardinata, diam-diam bertemu dengan seorang artis terkenal." Dan lain sebagainya.
Kalau dipikir, sangat menakutkan.
Jadi, Naura tidak ingin banyak bicara lagi dengan Kairav. Dia tersenyum dengan sopan. "Aku pergi dulu, masih ada urusan."
"Sampai jumpa." Sikap Kairav tetap sangat ramah.
Tapi, sikap Kairav yang seperti ini malah membuat Naura merasa tidak nyaman. Dia pun pergi dengan tergesa-gesa.
Kairav membalikkan badan melihat bayangan Naura yang menghilang, kemudian melanjutkan berjalan. Tiba-tiba asisten yang berjalan dibelakangnya bicara. "Kak Kairav, apa hubungan wanita tadi dengan Tuan Muda Ardinata? Sepertinya waktu itu, aku melihat dia bersama Tuan Muda Ardinata di restoran Star Light."
"Benarkah? Tidak jelas." Jawab Kairav lalu menundukkan kepala berjalan didepan. Senyuman diwajahnya menghilang, seperti menyembunyikan sesuatu.
Yang jelas, hari ini tujuan Kairav datang ke sini, untuk persiapan syuting film berikutnya.
Kairav menerima tawaran project film baru. Dia berperan sebagai dokter psikiater. Jadi, hari ini dia sengaja datang ke sini untuk mendalami peran tersebut.
Baru saja mereka melangkah masuk, dari belakang, Aaron dan Ivan sudah muncul di koridor.
Aaron menatap ke arah dimana Kairav dan Naura berbicara tadi.
Ivan mengikuti arah pandang Aaron, dia tidak berani bicara apa-apa.
Karena waktu Kairav sangat padat, dia tidak lama berada di ruang dokter dan langsung keluar.
__ADS_1
Begitu dia keluar, dia melihat Aaron berdiri di koridor. Wajahnya terlihat kaget. "Aaron? Kamu disini juga?" Tanyanya kemudian tersadar dengan sesuatu dan bertanya lagi. "Kamu datang bersama Naura?"
Aaron tidak bicara, dia memberi isyarat kepada Ivan untuk pergi.
Saat Ivan membalikkan badan dan pergi, asisten Kairav juga segera pergi.
Di koridor sangat sepi, hanya ada mereka berdua.
Raut wajah Aaron sedikit dingin, tapi tetap saja berbeda dengan orang lain.
Dia terus menatap Kairav. "Kak, aku pernah mengatakan kepadamu. Dia itu Naura."
"Aku tau dia itu Naura. Namanya sangat bagus."
Senyuman di wajah Kairav tetap sama seperti biasanya. Sangat hangat.
Aaron terdiam sejenak kemudian bicara dengan suara datar dan terdengar sedikit kejam. "Wajah Naura memang mirip dengan Caroline, tapi dia bukan Caroline."
Seketika ekspresi lembut diwajah Kairav menghilang. "Tutup mulut kamu!" Teriaknya dengan mata yang melotot.
Aaron terdiam, tidak bicara apa-apa lagi.
Tidak lama kemudian, Kairav kembali tenang. Ekspresinya kembali hangat seperti biasanya.
"Aaron, aku sungguh hanya kebetulan saja bertemu dengan Naura." Ucap Kairav kemudian menamati Aaron dengan teliti. "Kenapa kamu terlihat gugup setiap membiarkan Naura?"
Aaron menyipitkan matanya. "Dia istriku." Jawabnya datar.
Aaron masih dengan ekspresi dingin menatap mata Kairav dan bicara dengan suara rendah. "Kak, Caroline sudah pergi begitu lama, sudah seharusnya kamu melupakan dia."
Aaron tidak lagi melihat bagaimana perubahan raut wajah Kairav karena dia langsung pergi begitu saja.
...
Sejak Naura keluar dari ruangan dokter psikoterapi, hatinya terus saja memikirkan masalah Aaron. Dia berjalan sedikit pelan.
Tiinn--
Dari belakang terdengar suara klakson mobil.
Kenapa orang jaman sekarang begitu sombong? Aku sudah berjalan di atas trotoar, masih saja membunyikan klakson!
Batin Naura merasa sedikit kesal.
Dia kemudian menoleh dengan wajah cemberut dan melihat mobil hitam berhenti dibelakangnya.
Kaca mobil diturunkan dan sosok tampan 'Samuel' terlihat dari dalam mobil itu.
'Samuel' memiringkan kepala menatap Naura. "Naik ke mobil." Ucapnya dengan ekspresi acuh.
Kenapa dia juga ada disini?
Tanya Naura dalam hati.
__ADS_1
Walaupun dalam hatinya penuh keraguan, dia langsung menarik pintu mobil dan naik.
Belum sempat bicara, Aaron sudah lebih dulu bicara kepadanya. "Jangan bertanya kenapa aku bisa ada disini. Ini adalah pertanyaan yang tidak bermutu."
Naura yang hampir membuka mulutnya ingin bicara, dia menelan kembali ucapannya.
Sekalian saja tidak usah bicara!
Batinnya dengan sinis melirik sekilas pada Aaron.
Aaron menoleh dan mlihat dia hanya diam saja, Aaron mengeluarkan senyuman yang dipaksakan dan bertanya dengan suara datar. "Untuk apa kamu datang ke sini?"
Naura menoleh, tersenyum dan menjawab dengan serius. "Aku tidak mau menjawab pertanyaan yang tidak bermutu seperti ini."
Ivan yang sedang menyetir didepan, tidak bisa menahan tawanya setelah mendengar percakapan mereka berdua.
Tapi, dengan cepat langsung terdiam ketika melihat tatapan membunuh dari Aaron melalui kaca spion didepannya.
Naura yang baru saja naik ke dalam mobil tidak memperhatikan kalau yang menyetir didepan adalah Ivan. "Ivan, apa hari ini Tuan Muda tidak pergi keluar?"
Ivan diam-diam melirik kaca spion melihat Aaron yang duduk dibelakang dengan tenang, kemudian Ivan menggelengkan kepala. "Tidak."
Naura menganggukkan kepala pelan sambil merenung. Setelah pulang, masakan apa yang akan dia buat untuk Aaron?
Sambil berpikir, dia mencolek 'Samuel'. "Masak apa?"
'Samuel' menoleh dan melihat Naura dengan wajah tanpa ekspresi.
Dilihat oleh 'Samuel' seperti ini, tetap saja menakutkan.
Naura kemudian menyandarkan punggungnya ke belakang. "Kamu jujur saja, sebenarnya kakak kamu suka makan apa?"
Hari ini Naura memakai jaket putih. Rambutnya diikat ekor kuda, wajah putihnya yang halus tanpa riasan, terlihat sangat sederhana dan polos. Begitu cantik, imut dan menggemaskan seperti seorang gadis kecil yang baru lahir.
Naura menatap Aaron dengan mata yang berbinar-binar menunggu jawaban darinya.
Aaron melonggarkan dasinya dan suaranya menjadi lebih serak dari sebelumnya. "Kenapa kamu begitu memperhatikan dia?"
"Karena aku istrinya, kalau aku tidak memperhatikan dia, apa aku harus memperhatikan kamu?!"
Begitu teringat dengan apa yang sudah dilakukan oleh 'Samuel' sebelumnya, Naura tidak bisa menahan diri untuk memelototi dia.
Seperti biasa, 'Samuel' tidak peduli. "Menurut kesehatan dari kakak sepupu aku, kalian tidak bisa hidup sebagai suami istri yang normal. Bahkan mungkin, dia tidak bisa menjadi penerus Perusahaan Ardinata. Kamu saja belum pernah melihat wajahnya, untuk apa mati-matian memperhatikan dia?"
Naura tidak mendengar sindiran dari nada suara 'Samuel'. Nada suaranya terdengar lebih menunjukkan rasa keheranan.
Naura terdiam, sangat jarang dia mau menjelaskan dengan tenang seperti itu.
"Untuk apa?" Naura berpikir, kemudian menjadi serius. "Mungkin karena tanggung jawab. Walaupun aku dipaksa oleh ibuku untuk menikah dengan kakak sepupu kamu, tapi kalau hari itu aku mati-matian melawannya, ibuku juga tidak bisa memaksa lagi. Karena aku sudah menikah dengan kakak sepupu kamu, sebagai seorang istri, aku harus bertanggung jawab, bahkan......"
Naura berhenti sejenak, menghela nafas dan melanjutkan kembali ucapan. "Bahkan, selama ini orang-orang di kota ini, banyak yang membicarakan Aaron. Tapi, dia sendiri tidak ingin menjadi seperti itu. Dia hanya korban, tidak bersalah dibandingkan dengan siapapun."
...__________...
__ADS_1