
Kakinya sangat sakit, Naura berjalan tertatih-tatih.
Dia bisa merasakan tatapan tajam dibelakangnya, dia menggigit bibirnya dan berjalan masuk ke dalam lift tanpa terhenti.
Ketika Naura menekan tombol tutup lift, dia tidak melihat Aaron datang mengejarnya.
Hatinya pun menjadi dingin, wajahnya juga menjadi pucat.
Lift perlahan-lahan turun, Naura juga merasa hatinya ikut turun.
Saat keluar dari lift, Naura melihat Samuel.
Samuel melihat mata Naura merah dan keluar dengan kaki telanjang. Wajahnya terkejut, dia segera menghampiri dan memapahnya. Dia menyapa Naura dengan pelan. "Kak Naura."
"Kenapa kamu ada disini?" Kaki Naura benar-benar sakit, kakinya yang terkilir tidak bisa berdiri. Dia hanya bisa mengandalkan Samuel memapahnya.
Samuel meliriknya diam-diam, kemudian berkata, "Kakakku....dia....dia bukan sengaja...."
"Iya." Naura tidak terlalu peduli dan menjawab singkat.
Sekarang, dia sudah tidak peduli apakah Kairav sengaja atau tidak.
Yang paling penting adalah sikap Aaron.
Pria itu yang memintanya untuk datang ke perjamuan makan malam ini, dia juga pria orang yang tiba-tiba datang dan marah.
Bahkan jika Kairav memegang tangannya, tidak peduli dia sengaja atau tidak dulu, apakah ini alasan mengapa Aaron marah dan tidak peduli dengan perasaannya?
Samuel dapat merasakan bahwa suasana hati Naura sekarang sedang buruk, dia juga tidak berbicara lagi, dia hanya memapah Naura dengan hati-hati.
Ketika Aaron datang tadi, Samuel adalah orang pertama yang melihatnya. Kemudian dia melihat Aaron menarik Naura keluar, keduanya tampak bertengkar, kemudian Naura masuk kedalam lift.
Setelah Naura masuk ke dalam lift, Aaron terlihat masih berdiri disana, Samuel sangat panik melihatnya. Tetapi dia juga merasa bahwa Aaron tidak bisa diganggu saat ini. Kemudian Samuel masuk kedalam lift lainnya untuk menunggu Naura.
Samuel sedang memikirkan masalah ini, tiba-tiba mendengar Naura yang berada disampingnya bertanya. "Siapa Caroline?"
"Siapa yang kamu bicarakan?" Samuel segera memalingkan kepala kearahnya dan matanya seperti terkejut.
Naura melepaskan tangannya, dia menatap Samuel dengan tajam dan mengulanginya lagi. "Caroline."
Tadi saat masih diruang perjamuan, dia mendengar Kairav memanggil nama ini.
Mendengar nama ini, wajah Samuel yang tadinya lembut terlihat menjadi sedih. "Bagaimana kamu mengenal nama itu?"
Meskipun sekarang Samuel sedang dalam periode perubahan suara dan suaranya sedikit berat, tapi Naura bisa mendengar bahwa suaranya berubah jadi serak.
Ini cukup untuk menjelaskan banyak masalah.
Kairav mengenal Caroline, bahkan hubungan mereka lumayan baik. Samuel juga mengenalnya dan hubungannya juga lumayan baik.
Mungkin saja Aaron juga mengenal. Caroline.
Naura tiba-tiba teringat ketika terakhir kali dia pergi ke rumah Kairav untuk membicarakan masalah endorse, pandangan mata Kairav seolah-olah sedang menatap orang lain lewat dirinya.
__ADS_1
"Apakah aku mirip dengannya?"
Setelah Naura mengatakannya, dia baru menyadari bahwa dia sudah mengatakan apa yang dia pikirkan di dalam hati.
Samuel mengangguk tanpa sadar, kemudian segera menggelengkan kepala. "Tidak...."
"Katakan sejujurnya!" Naura memberi tekanan pada kata-katanya.
Samuel menunduk dan berkata, "Mirip."
"Baiklah, aku sudah tau." Naura kemudian melepaskan tangannya. "Aku akan pulang dulu."
Melihat Reaksi Kairav dan Samuel, Naura perlahan-lahan tau bahwa Caroline sangat penting bagi mereka.
Dengan begitu, dia akan merasa kelembutan Kairav kepadanya dan kedekatan Samuel kepadanya, dia merasa seperti mencuri barang milik orang lain.
Kairav Robinson adalah seorang aktor pemain film terkenal, bahkan jika dia bukan aktor terkenal, latar belakang keluarganya juga tidak biasa. Tapi dia sangat lembut dan dekat kepadanya.
Samuel yang paling muda, orangnya baik dan pintar, sikapnya juga baik, di keluarga Ardinata dia juga seorang Tuan Muda yang sangat disayang. Bagaimana mungkin dia bisa begitu dekat dengannya?
Apakah itu karena dia terlihat mirip dengan Caroline?
Lalu, bagaimana dengan Aaron?
Naura memiliki firasat yang tidak bisa dijelaskan, dia juga merasa Aaron juga mengenal wanita bernama Caroline ini.
Apakah karena wajahnya yang mirip dengan Caroline, jadi sejak awal dia tertarik padanya?
Naura berdiri dengan wajah dingin didepan pintu hotel. Wajahnya pucat, dia melihat ketegaran yang dipaksakan tidak seperti Naura yang selalu tersenyum kepadanya.
Samuel merasa hatinya tidak nyaman. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tidak tau harus mengatakan apa? Dia juga takut jika dirinya salah bicara.
Akhirnya dia bertanya sambil menyelidiki. "Kalau begitu, apakah kamu akan pulang ke rumah kakak sepupu?"
Dia sudah bersama Naura untuk waktu yang lama. Sedikit banyak dia tau tempramen Naura.
Naura menatapnya dengan hati-hati. Bahkan rambut kecil yang biasanya lucu, pada saat ini juga terlihat sedikit bersalah.
"Tidak tau."
Pada saat ini, ada seorang pelayan hotel datang membawakan sepatu untuk Naura.
Naura mengucapkan terimakasih dan memakainya.
Dia tidak melakukan kesalahan, jadi dia tidak perlu menyiksa dirinya.
Dia bahkan merasa sedikit menyesal, tenaganya terlalu lemah ketika melemparkan sepatunya kearah Aaron. Pria itu pasti tidak merasa sakit.
Sangat menyesal sekali.
Dalam cuaca dingin di musim dingin, Naura berdiri di luar dan seluruh tubuhnya menggigil.
Tidak ada taksi di pintu hotel ini. Naura mau tidak mau harus berjalan dengan pincang kedepan.
__ADS_1
Ketika dia sudah mendapatkan taksi, ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Hatinya bergetar, dia menggigit bibirnya dengan panik. Dia mengambil ponselnya dan melihatnya. Dia menyadari bahwa itu bukan telepon dari Aaron. Itu adalah telepon dari Evelyn.
Naura tidak bisa mengatakan bagaimana perasaan hatinya. Dia sepertinya bernapas lega, juga seperti sangat kecewa.
Dia mengangkat teleponnya. "Evelyn."
Suara Evelyn tidak seceria biasanya. "Apakah malam ini kamu menghadiri acara perjamuan makan malamnya? Aku melihat fotomu dalam grup wechat! Kecantikanmu mengalahkan semua!"
Naura tersenyum, dan berkata dengan suara lemah. "Tidak, sangat banyak wanita cantik diperjamuan malam itu."
"Mereka mana bisa dibandingkan denganmu!" Selesai bicara, Evelyn juga menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan Naura. "Ada apa denganmu? Suaramu terdengar tidak bersemangat. Apa yang terjadi di pesta itu?"
Naura tidak menjawab, tapi malah balik bertanya. "Apa kamu ada di rumah?"
"Iya."
"Kalau begitu, aku akan pergi mengunjungimu." Naura menutup teleponnya setelah selesai bicara, kemudian menyebutkan alamat Evelyn kepada driver taksi yang ditumpanginya.
Begitu mendengar alamat ini, driver taksi bertanya kepadanya. "Apakah temanmu seorang artis?"
Tempat tinggal Evelyn didaerah elit dan kelas atas. Banyak artis yang tinggal disana, ini juga bukan rahasia lagi di Kota B.
Naura mengangguk. "Iya."
Ketika sampai dan Naura turun, driver taksi menyerahkan jaket miliknya kepada Naura. "Sangat dingin memakai pakaian seperti ini di musim dingin, kamu harus menunggu temanmu menjemputmu, pakailah ini dan jangan sampai masuk angin."
Naura menatap jaket katun berwarna abu-abu ditangan driver taksi, airmata keluar dari matanya.
Dia juga tidak jelas apa alasannya, dia hanya tiba-tiba merasa sangat sedih.
Driver taksi itu adalah seorang pria paruh baya, ketika dia melihat Naura menangis, dia panik dan memegang kepalanya. "Kamu jangan menangis, kalau tidak orang lain mungkin berpikir aku telah melakukan sesuatu terhadapmu!"
Naura menangis sambil tersenyum. "Terimakasih, aku tidak takut dingin. Paman masih harus mengemudi sampai larut malam kan? Tidak apa-apa aku kedinginan sebentar."
Dia benar-benar tidak kedinginan sekarang. Hatinya terasa hangat.
Paman driver berpikir mungkin jaketnya tidak bagus, jadi tidak bicara lagi.
Naura keluar dari taksi, lalu melihat taksi itu berjalan pergi, kemudian dia baru mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Evelyn.
Ketika teleponnya baru tersambung, dia mendengar suara nada dering yang akrab di dekatnya. Kemudian disusul suara Evelyn yang tidak jauh dari situ. "Halo! Apakah kamu sudah sampai?"
Naura menutup teleponnya dan melambaikan tangan kearah Evelyn. "Aku disini."
Evelyn berlari mendekat, dia terbungkus rapat. Tangannya juga terlihat memegang mantel. "Apa ini, wanita cantik beku ya? Ini hampir minus sepuluh derajat. Kamu memakai gaun seperti ini datang dari acara perjamuan?"
Meskipun Evelyn berkata demikian, tapi gerakannya sangat cepat. Dia segera memakaikan mantel yang dibawanya ke tubuh Naura.
Naura mengendus-endus hidungnya. "Ya, semua orang melihatku disepanjang jalan. Aku merasa, aku sangat luar biasa."
...----------------...
__ADS_1