Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#121


__ADS_3

Keesokan harinya.


Ketika Naura turun ke lantai bawah, hanya ada Samuel yang mengantuk di sofa ruang tamu. Dia tidak melihat Aaron.


Naura berjalan mendekat lalu menepuk pundak Samuel. "Apakah semalam kamu tidak tidur?"


"Aku jam tiga baru tidur. Pekerjaannya terlalu banyak." Samuel membuka kelopak matanya saat bicara, tapi setelah selesai bicara dia kembali menutup matanya lagi dan langsung berbaring di sofa lalu tidur.


"Mana kakak sepupumu?"


"Aku tidak tau, mungkin sudah pergi..."


Mendengar itu, seketika hati Naura merasa lega.


Baguslah, Aaron tidak ada.


Setelah makan, Naura pergi ke perusahaan Affandi.


Begitu tiba di perusahaan Affandi, Naura diberitau untuk pergi menghadiri pertemuan.


Itu awalnya pertemuan pejabat tingkat tinggi perusahaan, tapi Fajar memintanya untuk pergi ke sana, dan Naura terpaksa mengikutinya.


Sama seperti tebakannya, produk perusahaan telah mendapatkan tekanan konsumen, penjualan anjlok, dan beberapa mitra sudah ingin menarik kembali investasi mereka.


Tiba-tiba, ada seseorang yang memberi usul. "Orang-orang jaman sekarang suka ikut-ikutan, jika kita mengundang selebriti untuk mengendorse produk kita, kita pasti bisa menyelamatkan produk ini."


"Lalu, siapa yang kita undang?"


"Misalnya, Kairav Robinson. Dia adalah raja film grand slam termuda dalam industri film dan pertelevisian. Dia punya banyak sekali penggemar. Jika dia bisa membantu mengendorse produk kita, kita pasti akan dapat memecahkan situasi saat ini!"


Naura sontak langsung mengangkat pandangannya dan menatap ke arah orang yang mengatakan usulannya itu, lalu terlihat senyuman mengejek dibibirnya.


Meminta Kairav Robinson untuk mengendorse produk perusahaan Affandi? Itu sama saja bermimpi!



Ketika bertemuan selesai, Fajar menoleh ke arah Naura dan berkata dengan lembut. "Naura, kamu ke ruangan ayah sebentar."


"Oke."


Naura kira-kira sudah tau untuk apa Fajar memanggilnya ke ruangannya.


Pada saat pertemuan, orang dibagian eksekutif tadi menyarankan agar Kairav Robinson menjadi brand ambassador produk perusahaan Affandi, mata Fajar langsung terlihat cerah.


Sangat jelas, Fajar sangat tertarik dengan usulan itu.

__ADS_1


Naura berjalan keluar dari ruang pertemuan dan dia diblokir oleh Marsha yang telah menunggu di pintu sejak lama.


"Apakah kakak ada masalah?" Tanya Naura kemudian mundur setengah langkah karena Naura tidak terbiasa mencium aroma parfum Marsha yang terlalu kuat.


Meskipun ekspresi Naura tidak terlalu berubah, tetapi Marsha masih saja bisa merasa ketidaksukaan Naura kepadanya. Wajahnya pun langsung suram seketika dan dia berkata dengan sinis. "Naura, jangan kamu pikir karena kamu telah menggunakan Aaron untuk membantu perusahaan Affandi melewati kesulitan dan kamu disukai oleh ayah, maka kamu bisa sombong! Jangan lupa siapa yang memberikan semua ini kepadamu!"


Selama beberapa waktu terakhir ini, perasaan kehadirannya di perusahaan Affandi telah berkurang menjadi hampir tidak ada.


Semua karyawan datang untuk menyenangkan Naura, dan Fajar juga berniat memecatnya membuatnya yang sebagai manajer proyek ini menjadi pengangguran.


Hal itu membuatnya memiliki perasaan krisis yang kuat.


"Apa kamu yang memberikannya?" Naura sedikit tersenyum dan kembali berkata dengan perlahan. "Kontrak pernikahan dengan keluarga Ardinata waktu itu, adalah kontrak yang dibuat oleh kakek, dan nyawaku diberikan oleh orang tuaku. Aku harus berterimakasih kepada mereka sehingga aku bisa menjadi seperti sekarang ini. Jadi aku tidak akan lupa siapa yang memberikan semua ini kepadaku."


"Naura!!" Marsha dibuat geram oleh perkataannya dan wajahnya sedikit berubah.


Dari kecil hingga besar, Naura hanyalah barang pendukung baginya.


Awalnya, dia meminta Merlin untuk menikahkan Naura dengan Aaron. Dia pikir Naura akan dibunuh oleh Aaron si monster itu.


Dia tidak pernah menyangka kalau suatu hari Naura bisa naik ke kepalanya. Itu membuatnya merasa sangat marah.


Seorang wanita yang jelek dan culun, sekarang bahkan sudah merangkak ke atas kepalanya dan menjadi pusat perhatian.


"Kakak akhir-akhir ini sepertinya sangat suka marah. Nanti pulang, suruh ibu untuk memasak sup bergizi anti amarah untuk menghilangkan amarahmu." Ucap Naura kemudian mendorongnya kesamping dengan pelan. "Ayah sudah menungguku di ruangannya. Aku pergi dulu."


Marsha menatap punggung Naura dengan penuh emosi. Dia mengepalkan kedua tanganya dengan erat sambil mengigit bibirnya sendiri sampai terluka dan noda darah dibibirnya pun tidak dia rasakan.



Di ruangan kantor Fajar.


"Ayah, kenapa memanggilku kemari?" Meskipun Naura sudah menebak pemikiran Fajar, tetapi dia berpura-pura tidak tau apa-apa.


Fajar nerenung sejenak, lalu perlahan berkata. "Naura, kali ini perusahaan bisa selamat dari kesulitan, semua berkat bantuanmu. Ayah sangat berterimakasih kepadamu."


"Bukankah, ayah sudah pernah mengatakannya? Aku terlahir dalam keluarga Affandi, kita semua satu keluarga. Ini sudah seharusnya aku lakukan, untuk apa berterimakasih?" Naura sedikit menurunkan kelopak matanya untuk menutupi tatapan dingin dimatanya.


Fajar bukan orang bodoh. Dia tau bahwa sebelumnya dia tidak memperlakukan Naura dengan begitu baik. Dia juga sedikit khawatir bahwa Naura akan dendam dan memiliki pertimbangan di hatinya.


Tetapi, sifat seseorang sudah terbentuk sejak usia dini. Meskipun dia jarang mempedulikan Naura, tapi dari sikapnya terhadap Merlin dapat dilihat bahwa dia adalah orang yang sangat mudah memanfaatkan orang lain.


Tapi, dia lupa bahwa hati manusia terbuat dari daging, bahkan orang yang berhati lembut pun, jika dipaksa ke jalan buntu, dia juga pasti akan mengeraskan hatinya dan tidak mempedulikan perasaan orang lain.


Naura mengatakan itu dengan tulus, Fajar merasa lega setelah mendengarnya. "Naura benar-benar sudah dewasa setelah menikah. Lalu, apa pendapatmu tentang usulan mereka di pertemuan tadi?"

__ADS_1


Akhirnya sudah masuk ke topik utama? Batin Naura.


"Aku pikir, usulan itu bagus. Tapi, kelayakannya terlalu rendah. Kairav Robinson adalah orang top di industri hiburan. Jadwalnya pasti sangat penuh. Jangankan untuk perusahaan kita, endorse dan iklan merek internasional besar pun tidak bisa diambilnya karena terlalu sibuk."


Selain itu, seorang aktor selebriti tidak mungkin menerima endorse produk perusahaan yang memiliki dampak negatif, karena itu akan menyebabkan ketidaksukaan penonton.


Apalagi Kairav Robinson.


Mengenai hal ini, Fajar juga mengetahuinya dengan sangat jelas.


Namun menurutnya, meskipun perusahaan Affandi tidak memenuhi syarat untuk meminta Kairav Robinson merendahkan dirinya untuk menjadi endorse produk mereka, tetapi bukankah keluarga Ardinata bisa?


Jika Naura memohon kepada keluarga Ardinata dan meminta orang dari keluarga menekan Kairav Robinson, karena Kairav adalah seorang publik figur, bisakah dia menentang keluarga Ardinata?


Angan-angan Fajar sangat indah dan dia terlihat sangat percaya diri.


Fajar kemudian berjalan ke sisi Naura, lalu menepuk-nepuk pundaknya. "Karena tugas ini mungkin sangat sulit diselesaikan oleh orang biasa, jadi ayah akan menyerahkan tugas ini kepadamu. Ayah percaya dengan kemampuanmu."


"Ini....." Ekspresi wajah Naura menjadi canggung. "Aku juga belum tentu bisa menyelesaikan tugas ini. Bagaimanapun--"


"Eh, jangan katakan perkataan yang tidak baik. Bahkan jika kamu tidak bisa melakukannya sendiri, bukankah masih ada Aaron....." Fajar memotong kalimat Naura dan setelah bicara sampai disini, dia tidak melanjutkan kalimatnya.


Naura mendongak dan menatapnya dengan tatapan mengerti. "Aku akan mencobanya..."


Jika dia mencobanya, itu akan aneh!


Bagi Fajar saat ini, Naura memang sangat berguna. Dengan membawa nama Aaron, maka dia akan berusaha terus memerasnya sampai kering.


Dia tidak pernah berpikir dengan cara dia yang telah meminta bantuan kepada Aaron untuk membantu perusahaan Affandi melewati kesulitan, dan sekarang dia ingin meminta bantuan Aaron lagi, apakah itu akan menyebabkan rasa ketidaksukaan Aaron terhadap Naura, kemudian hubungan mereka akan menjadi tidak akur?


Di mata Fajar hanya ada kepentingannya sendiri.


Begitu keluar dari ruangan kantor Fajar, Naura langsung melihat Marsha.


Marsha mendengus dingin, menyenggolnya dengan sengaja dan berjalan masuk.


Sebelum Naura pergi, dia mendengar Marsha yang protes ke ayahnya. "Aku juga bisa melakukan itu. Bukankah hanya meminta Kairav Robinson untuk menjadi brand ambassador produk perusahaan Affandi? Langsung saja cari dia dan bawa dia kesini..."


Naura merasa bahwa Marsha ini benar-benar bodoh!


Bahkan jika Kairav Robinson bukan kakak sepupu Aaron Daffa, dengan identitasnya sebagai artis papan atas, bagaimana mungkin sembarangan orang bisa bisa membawanya?


Nilai Kairav Robinson hampir sama dengan seluruh bisnis perusahaan Affandi.


...__________...

__ADS_1


__ADS_2