
Aaron Daffa telah diberi suntikan penurun demam oleh dokter dan kondisinya sudah mulai membaik.
Naura baru saja kembali masuk kedalam kamar setelah mengambil handuk dan air hangat untuk mengelap keringat 'Samuel'. Tapi ternyata, sudah tidak ada orang didalam kamar kecuali 'Samuel' yang masih terbaring belum sadarkan diri.
Sebenarnya, Naura merasakan perasaan aneh dalam hatinya. Saat itu diruang makan, Ivan melihatnya jatuh dipangkuan 'Samuel'. Tapi, Ivan hanya diam tidak mengatakan apapun. Lalu, kenapa saat ini dia masih memintanya untuk merawat 'Samuel'?
"Bu..."
Naura kembali mendengar 'Samuel' mengigau. Dia duduk ditepi tempat tidur disamping 'Samuel' sedang membantu mengelap keringat didahinya.
Saat Naura selesai mengelap, tiba-tiba tangannya dipegang dan ditarik oleh 'Samuel'.
Naura langsung menarik tangannya kembali dengan sekuat tenaga. Tapi, meskipun dia memakai seluruh tenaganya, tetap saja genggaman tangan 'Samuel' tidak akan terlepas.
Naura pun menjadi marah. "Lepaskan! Aku bukan ibumu!" Bentaknya pada 'Samuel'.
Tapi, 'Samuel' yang masih belum sadar, dia tidak mendengar bentakan Naura. Tangannya masih terus menggenggam erat tangan Naura. Raut wajahnya yang terlihat tegang ketakutan, perlahan mulai tenang.
Ponsel Naura berdering. Evelyn menelponnya. Naura menebak dalam hati, pasti Evelyn sudah sampai didepan rumah. Dia segera menerima telepon dari sahabat baiknya.
"Naura, aku sudah sampai didepan rumah suamimu." Ucap Evelyn.
Naura tidak langsung menjawab ucapan Evelyn. Dia menunduk melihat 'Samuel' yang masih terlelap dengan tenang, Naura mencoba melepaskan genggaman tangannya lagi. Tapi, 'Samuel' malah semakin erat menggenggamnya.
"Naura! Apa kamu mendengarku? Kenapa diam saja?" Seru Evelyn kembali bertanya karena Naura hanya diam saja.
"Iya aku dengar. Kamu tunggu sebentar." Jawab Naura kemudian menutup panggilan teleponnya dan memanggil Ivan untuk mengantar Evelyn masuk kedalam rumah.
Begitu Evelyn masuk, dia sangat terkejut melihat sosok laki-laki yang sedang berbaring memejamkan matanya sambil menggenggam tangan Naura. "Bukankah kamu pernah bilang kalau Aaron Daffa sangat jelek? Seperti ini kamu bilang jelek?!"
Ivan yang berdiri disampingnya menegang mendengar pertanyaan Evelyn. "Dia adik sepupu Tuan Muda Aaron, 'Samuel' Bryan Ardinata." Ucap Ivan dengan cepat menyela.
"Adik sepupu Tuan Muda Aaron? Tapi, kenapa dia memegangi tangan Naura? Adik sepupu dengan kakak ipar sepupu, apa boleh seperti ini?"
Ivan terdiam sesaat karena merasa terkejut dengan pertanyaan dari Evelyn.
Naura sedikit mendongak menatap Ivan. Dia juga ingin bertanya kenapa sikap 'Samuel' seperti ini kepadanya.
__ADS_1
"Nyonya Muda mirip dengan Ibunya." Jawab Ivan setelah terdiam sesaat.
"Oh pantas saja, dia terus mengigau memanggilku Ibu." Ucap Naura diselingi kekehan kecil.
Ivan kembali terdiam. Tuan Muda, cepatlah bangun! Aku sudah tidak tahan lagi.
Dia merasa tidak tahan lagi karena kebingungan harus mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan lagi oleh Evelyn ataupun Nyonya Mudanya.
Akhirnya, Ivan mencari alasan untuk bisa pergi dari kamar itu.
"Kamu duduk dulu sebentar. Setelah ini, baru kita pergi keluar untuk makan." Ucap Naura kepada Evelyn setelah Ivan pergi.
Evelyn melihat ada bangku, dia mengambilnya dan meletakkannya didekat Naura. Setelah duduk, Evelyn memperhatikan wajah 'Samuel'.
Selama dia bekerja di industri hiburan, entah sudah berapa banyak melihat artis-artis cantik dan tampan. Saat melihat 'Samuel' dia tidak tahan untuk tidak memuji dan mengagumi ketampanan laki-laki ini. "Naura, wajah adik sepupu Aaron tampan sekali. Aku belum pernah melihat orang setampan ini. Apa dia orang sungguhan?"
Evelyn mengulurkan tangannya ingin menyentuh wajah 'Samuel'. Tapi, saat tangannya sudah hampir menyentuh, tiba-tiba 'Samuel' membuka matanya dan sorot matanya terlihat bingung. Sesaat kemudian tatapan matanya menjadi dingin dan tajam.
Tentu saja hal itu membuat Evelyn sangat terkejut hingga langsung menarik tangannya kembali dan kesulitan menelan ludahnya. "Dia..su sudah sadar!" Pekiknya.
Naura melihat tatapan 'Samuel' yang seolah ingin membunuh menatap Evelyn, dia menepuk lengan laki-laki itu. "Jangan menatapnya begitu! Dia ini teman baikku!"
Naura masih merasa kesal karena sejak tadi tangannya digenggam begitu erat oleh 'Samuel'. "Kalau begitu lepaskan dulu tangan aku!"
Aaron melihat tangannya yang sedang menggenggam erat tangan Naura kemudian menatap lekat wajah Naura dan melepaskan genggaman tangannya.
Naura mendengar suara dari luar kamar saat dia ingin berdiri. Suara yang familiar. Tapi, Naura hanya mengenali suara Ivan saja.
"Aku mau masuk dan melihat apa dia sudah mati atau belum!"
"Tuan Muda, benar-benar sedang sakit."
"Aaah minggir! Jangan coba-coba membohongiku!"
Pintu kamar pun terbuka dan Christian berdiri diambang pintu.
Melihat Ternyata ada Naura didalam, dia merasa terkejut tapi dengan segera bersikap santai dan tersenyum ramah. "Ada Nyonya Muda Ardinata ternyata."
__ADS_1
Naura hanya membalas dengan senyuman dan mengangguk sopan.
"Aku dengar, 'Samuel' sedang sakit. Jadi, aku kemari ingin menjenguknya. Dia...." Belum selesai berbicara, ucapannya terhenti saat mendengar seruan dari seorang wanita yang sangat dikenalinya.
"Christian Raymond!"
Saat itu, Christian baru mengetahui kalau ternyata ada Evelyn juga didalam kamar. Kedua matanya membola dan kesulitan untuk menelan ludahnya saat menatap wanita cantik itu.
Naura juga menoleh kearah Evelyn yang sedang menggulung lengan bajunya sambil berjalan melewatinya menghampiri Christian. 'BUGH!'
Christian melangkah mundur ketika mendapat pukulan dibagian perutnya oleh Evelyn. Dia merasakan sakit tapi, dia hanya bisa diam menahannya tanpa berkedip menatap wanita cantik didepannya yang selalu berubah mengerikan saat bertemu dengannya.
Naura merasa kebingungan menyaksikan ini. Ada apa ini?
Setelah terdiam sesaat, Christian kemudian tertawa ringan untuk menyembunyikan kegugupannya. "Evelyn, tanganmu yang kecil itu sangat keras sekali. Apa kamu mau merawatku setelah memukulku?"
Evelyn mendengus dengan wajah dinginnya menatap Christian. "Aku pernah bilang sebelumnya. Kalau sampai aku melihatmu sekali, maka aku juga akan memukulmu sekali saat itu juga!"
Naura belum pernah melihat sikap Evelyn yang seperti ini sebelumnya. Baru kali ini dia melihat sorot mata penuh kebencian dari Evelyn.
Evelyn menoleh kearah Naura. "Aku tunggu kamu dibawah." Ucapnya dan Naura hanya mengangguk saja. Evelyn kemudian segera keluar dan turun kebawah.
Setelah Evelyn keluar, Christian terlihat seperti tidak terjadi apa-apa. Dia kembali melangkahkan masuk menghampiri Aaron. "Apa kamu benar-benar sakit?" Tanya Christian dengan tatapan menyelidik.
Sebelumnya, Aaron mengatakan ingin keperusahaan hari ini. Tapi, tiba-tiba mendengar kalau Aaron sakit, Christian merasa tidak percaya. Dia mengira kalau Aaron hanya pura-pura dan ingin membohonginya saja.
"Menjauh dan jangan dekat-dekat!" Tegas Aaron dengan terang-terangan menunjukkan ketidak sukaannya terhadap Christian. Kemudian dia terdiam menatap kearah Naura.
Naura juga sedang menatapnya. "Kalau begitu minta Ivan yang mengambilkan minum untukmu." Ucap Naura karena dia mengkhawatirkan Evelyn. Tanpa menunggu jawaban dari 'Samuel', Naura langsung pergi keluar mencari Evelyn.
Tatapan mata Aaron seketika berubah menjadi dingin menatap Ivan. "Cepat keluar!"
Ivan sedikit terkejut. "Aku akan segera mengambil minum untukmu."
"Aku sudah tidak mau minum." Gumam Aaron dengan kesal.
Ivan terdiam dan terpaku ditempat. Tuan Muda semakin aneh saja.
__ADS_1
...__________...