
Samuel tinggal bersama Aaron sejak kecil. Dia telah merepotkannya sejak dulu. Sering kali Aaron yang membereskan kekacauan yang dia lakukan.
Namun, dia tidak pernah berinisiatif mengakui kesalahannya.
Tapi hari ini, dia tidak hanya berinisiatif untuk mengakui kesalahannya, tetapi Naura juga tidak mengatakan apapun tentang masalah ini.
Naura juga aneh. Perkelahian antara anak-anak seharusnya adalah hal yang jn sangat serius. Jadi, dia tidak seharusnya tidak menceritakannya.
Awalnya dia menelponnya mungkin untuk memberitahunya bahwa Samuel berkelahi di sekolah. Tapi setelah itu, dia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Ini sangat aneh!
"Kamu tidak ingin mengatakannya?" Aaron menunggu sebentar untuk melihat reaksinya, kemudian dia kembali berkata dengan tidak tergesa-gesa. "Kalau begitu, aku akan menelpon dan bertanya kepada wali kelasmu."
"Jangan!"
Jika Aaron menelpon untuk bertanya kepada guru wali kelasnya, gurunya pasti akan mengatakannya. Dan hal semacam ini didengar dari orang lain, lebih baik dia sendiri yang mengatakan.
Samuel menggertakkan gigi dan berkata: "Mereka mengatakan bahwa bibi dibunuh oleh....."
Di akhir kata itu, suara Samuel sangat kecil sehingga Aaron hampir tidak bisa mendengarnya.
Samuel masih kecil, tetapi Samuel tau banyak tentang kehidupan.
Seketika, ruangan menjadi sunyi setelah Samuel berkata.
Samuel menahan tangannya, tidak berani berbicara, juga tidak berani melihat ekspresi Aaron.
Beberapa saat kemudian, Samuel mendengar suara pelan Aaron. "Keluarlah."
"Kakak..." Samuel baru saja mengangkat kepala dan melihat ekspresi Aaron.
Namun, Aaron sudah berdiri dan berjalan ke arah meja.
Samuel meliriknya dengan tidak nyaman. Kemudian dia berbalik dan pergi.
Naura baru saja berganti pakaian dan keluar dari kamar, bersiap untuk turun.
Ketika dia melewati ruang kerja Aaron, dia melihat Samuel keluar dari sana. Dia bergegas ke sana. "Apa kakakmu mencarimu?"
Samuel mengangguk dan dengan ragu-ragu berkata. "Aku sudah memberitahunya semua...."
Seketika wajah Naura berubah. Setelah terdiam beberapa detik, dia berkata: "Terus dia...."
Samuel menggelengkan kepalanya.
Naura melirik pintu ruang kerja Aaron yang tertutup rapat, lalu mengetuk pintunya. "Aaron, kamu mau makan apa malam ini?"
Tidak ada jawaban apapun dari dalam.
Samuel berkata dengan sedikit khawatir. "Ibuku pernah mengatakan, setelah masalah bibi terjadi, kakakku mengunci diri di kamar untuk waktu yang lama tanpa menemui siapapun."
Naura memikirkan hal lain. Mengetehai reaksi Aaron yang tidak biasa, berarti, apa yang dikatakan Sean itu benar?
Meskipun Naura tidak tau jelas tentang hal itu, tapi dia pernah mendengar tentang Ibu Aaron Daffa.
__ADS_1
Ibunya yang sangat pintar, cantik dan berbakat, tidak bisa dibandingkan dengan orang-orang terkenal di kota B ini. Pada akhirnya, dia menikah dengan Faisal Ardinata.
Seorang wanita yang hidup seperti sebuah legenda, benar-benar di......sampai mati?
Tenggorokan Naura terasa agak kering, kemudian dia bertanya lagi pada Samuel dengan canggung. "Lalu?"
"Lalu?" Samuel menggaruk kepalanya dan berkata dengan kurang enak. "Ibuku bilang karena aku. Aku baru lahir pada saat itu, dan kakakku tidak terlalu peduli dengan orang lain, tetapi dia suka menjahiliku. Ketika aku masih kecil, waktu mainku bersama kakaku lebih banyak dibanding dengan orangtuaku."
Naura tidak menduga bisa seperti itu.
Namun, dari hubungannya diantara Samuel dan Aaron, hubungan mereka memang sangat dekat.
Aaron Daffa, seorang pria dengan berpikiran yang dalam. Saat itu, awal bertemu Naura, dia mengatakan bahwa dia adalah 'Samuel', baginya Samuel benar-benar seseorang yang berarti.
Naura kembali melihat ke pintu ruang kerja Aaron yang masih tertutup rapat, dia tidak mengetuk pintunya lagi, dia berbalik dan turun ke dapur.
Selera Aaron agak berat. Naura membuat khusus beberapa hidangan asin dan pedas.
Setelah selesai memasak, dia naik lagi dan mengetuk pintu ruang kerja Aaron. "Sudah waktunya makan."
Setelah menunggu lama, tetap tidak ada jawaban dari dalam.
Tepat ketika Naura berpikir Aaron tidak akan menjawab lagi, tiba-tiba terdengar suara serak Aaron dari dalam ruangan. "Jangan ganggu aku!"
Naura terdiam.
Baik itu 'Samuel' yang sebelumnya atau Aaron yang sekarang, pria tampan itu tidak pernah berbicara dengannya dengan kata-kata seperti itu.
Karena suasana hati Aaron yang sedang tidak baik, Naura tidak masalah.
Naura kemudian turun ke lantai bawah.
Saat melewati ruang makan, dia melihat Samuel duduk di ruang makan dengan sorot mata yang terlihat cemas, tapi belum mulai makan.
Samuel melihat Naura berjalan menghampiri, lalu Samuel bertanya. "Bagaimana dengan kakak sepupuku?"
"Lumayan. Aku mau antar makanan untuknya, kamu makan dulu saja." Kata Naura kemudian berjalan menuju dapur.
Selesai Naura mengambil makanan, lalu membawa baki keluar dari dapur, dia melihat Aaron sudah duduk di depan meja makan.
Mendengar suara pergerakan, Aaron mengangkat pandangannya dan melihat Naura sekilas.
Naura menundukkan kepala, melihat baki yang ada ditangannya, lalu berkata: "Kamu sudah turun."
"Iya." Aaron menjawab dengan datar, kemudian menundukkan kepala mulai makan.
Naura mengembalikan. baki yang ada ditangannya, kemudian duduk di samping Aaron.
Naura diam-diam melirik ke arah Aaron, melihat raut wajahnya tidak berbeda dari biasanya, sama sekali tidak terlihat ada sesuatu yang salah, sangat tenang.
Selama makan, Aaron tidak berbicara sama sekali.
Selesai makan, dia bangkit berdiri dan kembali ke ruang kerjanya.
Naura juga tidak mengganggu dia, langsung kembali ke kamar. Tapi, Aaron tidak kembali.
__ADS_1
Naura sudah tertidur, di tengah malam tiba-tiba terbangun.
Dia dengan sadar mengulurkan tangan meraba ke samping, tapi mendapati di sampingnya kosong.
Aaron masih di ruang kerja?
Naura bangkit duduk diatas tempat tidur, mengambil ponsel dan melihat jam. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam.
Naura beranjak dari tempat tidur dan pergi ke ruang kerja Aaron.
Pintu di ruang kerja Aaron tidak dikunci, dia mendorong pintunya dan masuk. Begitu masuk, dia mencium bau yang menyengat. Lampu di ruang kerja tidak dinyalakan, ruangan itu sangat gelap sekali. Dia melihat ada satu cahaya kecil.
Aaron sedang merokok.
Naura tidak menyalakan lampu, berjalan dengan pelan dalam kegelapan sambil meraba-raba.
Di dalam kegelapan mereka berdua tidak saling melihat wajah satu sama lain, tapi bisa saling merasakan aura satu sama lain.
Naura duduk di samping Aaron, dan asap rokok yang menyengat membuatnya terbatuk.
Cahaya kecil yang berasal dari puntung rokok itu bersinar sebentar, kemudian mati.
"Untuk apa kamu kemari?" Dalam kegelapan, suara Aaron terdengar serak.
"Aku kemari mencarimu." Suara Naura ringan, tangannya memegang pergelangan tangan Aaron.
Tangan Aaron yang biasanya hangat, saat ini malah dingin seperti es.
Naura memegang erat tangannya, memberikan sedikit demi sedikit kehangatan kepada Aaron.
Tapi dengan cepat, Aaron menarik tangannya. Dan beberapa saat kemudian, suaranya kembali terdengar. "Pada saat digudang pabrik yang tidak dipakai itu, mereka menggunakan aku untuk mengancam dia."
Naura tau, "dia" yang dimaksud oleh Aaron adalah ibu kandungnya.
Ucapan yang sederhana, tapi menjelaskan semua.
Meskipun respon Aaron dulu sudah menjelaskan kalau masalah ini mungkin benar-benar, tapi saat mendengar Aaron mengaku, Naura masih merasa terkejut.
"Tepat didepanku." Aaron melanjutkan berbicara. "Mereka mengikat aku, dan mereka mengitari dia....."
Lima belas tahun yang lalu, Aaron baru berusia 11 tahun.
Anak yang berusia 11 tahun, melihat dengan mata kepala sendiri ibu kandungnya di depan dia, oleh sekelompok pria......
Naura tiba-tiba terkejut. Dengan cepat mengulurkan tangan memeluk Aaron. "Aaron, kamu jangan bicara lagi."
"Terakhir, saat Faisal Ardinata membawa orang datang......"
Naura dengan suara bergetar memotong ucapannya. "Aaron, sudah cukup! Jangan bicara lagi!"
Suara Aaron terlampau tenang, terlalu tenang sampai membuat Naura takut.
Aaron sama sekali tidak berhenti berbicara, masih mau melanjutkan bicara, dan Naura langsung menciumnya.
Ruangan yang gelap, Naura sama sekali tidak melihat dengan jelas wajahnya, terlebih dahulu mencium dagunya, kemudian baru mencium bibirnya.
__ADS_1
...----------------...