Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#142


__ADS_3

Begitu sampai di rumah, Aaron membawa Naura kembali ke kamar, mendorongnya sampai ke pintu, kemudian menciumnya.


Saat ini, Naura tidak ada keinginan untuk melakukan hal ini dengan Aaron, jadi dia menghindar.


Dia mencari kesempatan membuka mulut dan berkata, "Berapa hari lalu, ayahku pergi ke luar negeri dan beberapa hari lagi mungkin akan kembali."


Gerakan Aaron tiba-tiba terhenti, tapi masih tidak melepaskan Naura. "Untuk apa dia ke luar negeri?"


"Kamu sudah tau masih tanya." Naura sedikit menghela nafas dan melanjutkan bicara. "Kakekku akan kembali."


"Untuk apa kamu khusus memberitahu aku hal ini?" Aaron menundukkan kepala, mencium bibirnya. "Saat ini jangan memikirkan hal lain."


"Karena hal ini dari awal sudah ada didalam kendalimu. Jadi meskipun aku tidak memberitahumu, kamu juga pasti sudah mendapatkan informasi, iya kan?"


Naura tidak menolak ciumannya, tapi juga tidak membalas.


Aaron tiba-tiba melepaskan ciumannya. "Karena kamu sudah tau, kenapa masih sengaja mengatakan ini? Ingin membuatku tidak senang?"


Naura sama sekali tidak merasa cara Aaron mencari pembunuh yang sebenarnya tidak benar, tapi dia merasa cara yang dilakukan Aaron tidak benar.


Aaron terlalu menakutkan, cara yang digunakan juga kejam.


Tapi, Naura tidak tau bagaimana berkomunikasi dengan Aaron.


Aaron sama sekali tidak mendengarkan ucapannya, tidak akan menerima masukannya.


Setelah beberapa lama, Naura mendengar suaranya sendiri. "Aaron, kamu ingin mencari penculik yang menculik kamu dan ibumu, aku bisa membantu kamu."


"Membantu aku?" Suara Aaron sepertinya tidak terdengar.


Ibunya adalah seorang wanita yang berpendidikan. Saat muda dulu ibunya adalah pasangan yang diimpikan oleh semua orang di Kota B ini. Bakat dan penampilannya dipadukan. Sedangkan ayahnya, Faisal Ardianata, sebagai anak orang kaya, tentu saja dia seorang pria yang hebat.


Anak mereka Aaron, bisa pintar seperti ini, juga bukan kebetulan.


Setelah ibunya dilukai, dia menghabiskan waktu yang sangat lama, baru muncul menjadi seperti orang normal.


Tapi anak usia belasan tahun seolah bertumbuh menjadi dewasa hanya dalam. waktu semalam. Aura menakutkan yang stabil, dia sudah sering ke kantor polisi dan ada seorang polisi muda yang berkata dengan jujur padanya. "Kasus penculikan kalian, aku rasa tidak semudah itu. Tapi, para penculik itu berada dibawah lindungan orang."


Yang Aaron tau dengan jelas, orang yang ingin melindungi adalah keluarga Ardinata.


Keluarga Ardinata tidak ingin masalah ibunya yang dilecehkan terkuak di publik. Jadi mereka tidak melacak lebih lanjut.


Sejak saat itu, dia mulai melacak sendiri kasus itu.


Ayah kandung dan kakak perempuannya tidak percaya padanya. Mereka merasa karena saat itu dia melihat dengan mata kepala sendiri ibunya disiksa, dia menjadi memiliki trauma batin, jadi perilakunya menjadi aneh.


Sedangkan saat ini, Naura berdiri dihadapannya, dengan raut wajah yang serius mengatakan ingin membantunya.


Aaron berbicara dengan suara yang lebih berat dari biasanya. "Kamu percaya dengan kasus ibuku, dibelakangnya masih ada orang yang merencanakan?"


"Aku tidak tau kasusnya dengan detail, tapi aku percaya padamu. Kamu begitu pintar, kamu merasa masih ada pelaku lain yang merencanakan, berarti pasti ada."


Tatapan Naura sangat meyakinkan. Sorot matanya menunjukkan kepercayaannya terhadap Aaron.


Aaron menatap Naura beberapa saat, kemudian tiba-tiba memeluk Naura masuk kedalam dekapannya.


Aaron tidak mengatakan apa-apa, tapi Naura malah bisa merasakan di dalam lubuk hati Aaron ada rasa kehilangan yang sangat mendalam karena ditinggal oleh ibunya.

__ADS_1


Naura mengulurkan tangan, menepuk pelan pundaknya. "Tapi kamu harus berjanji padaku, tidak boleh sembarangan.....membunuh orang."


Mendengar ucapan Naura, Aaron melepas pelukannya.


Dia mundur beberapa langkah menatap Naura. "Tapi mereka pantas mati."


"Kamu berusaha keras memaksa kakekku kembali, apa kamu juga ingin membunuh kakekku?" Hati Naura menjadi sedikit dingin.


Dia mengira dirinya dihati Aaron ada tempat, tapi perkataan Aaron menangguhkan pemikirannya.


"Tidak akan." Kata Aaron datar. "Tentu saja aku tidak akan turun tangan kepada kakekmu, karena dia sama sekali tidak terlibat dalam kasus itu. Dia hanya orang yang dibeli oleh keluarga Ardinata."


"Kalau begitu, sebenarnya untuk apa kamu memaksa kakekku kembali?"


Naura tidak mengerti maksud Aaron, tapi dia malah mengerti satu hal.


Ibu Aaron saat itu dilecehkan sampai mati. Sedangkan Jefri Tandi bisa tau hal ini, kemungkinan besar karena kebetulan dia juga terlibat di dalamnya.


Di dunia ini, selamanya tidak pernah ada yang hitam atau putih. Naura tidak tau bagaimana menilai prilaku Aaron. Tapi, dia masih merasa kasihan pada Aaron.


Ada seorang ibu yang seperti itu, kalau saja ibunya masih ada, Aaron pasti tidak akan seperti sekarang ini.


Dia pasti akan menjadi seorang pria yang dikagumi oleh semua orang, dan membuat semua wanita tergila-gila padanya.


Tapi, karena masalah ibunya, setengah hidupnya dihabiskan untuk mencari otak pelaku kasus penculikan itu.


Hidup dalam bayang-bayang dendam, meskipun identitasnya sebagai anak orang kaya, punya kekuasaan, tapi dia tidak akan bisa merasa senang.


"Keluarga Ardinata, kenapa meminta dia pergi keluar negeri? Karena kalau dia ada di dalam negeri, bisa membuat orang merasa tidak tentang." Aaron melanjutkan ucapannya. "Begitu dia kembali, beberapa orang mungkin tidak akan bisa bertahan."


Tidak tau Aaron terpikir apa, sudut bibirnya menunjukkan senyuman.


Yang membuat bulu kuduk Naura merinding bukan senyumannya, melainkan ucapannya.


"Yang kamu maksud dengan beberapa orang itu apakah menunjuk anggota keluarga Ardinata?"


Naura merasa, dirinya pasti salah mengartikan.


Tapi, Aaron melebarkan senyuman seolah berkata kepadanya, ucapan Aaron sungguh-sungguh.


Tiba-tiba, Naura teringat semua sikap Marsha. Meskipun masih merasa terkejut, tapi tidak mempertanyakan kembali.


……


Keesokan paginya, Naura bangun.


Dia terbiasa mengambil ponselnya kemudian membuka internet. Semua berita di internet, dipenuhi dengan berita kepulangan kakek Affandi.


Dalam sekejap, berita itu menjadi ramai.


Lima belas tahun yang lalu, kakek Affandi di Kota B termasuk orang yang terkenal. Relasinya sangat luas, banyak orang yang lebih kaya lebih memiliki kekuasaan, bersedia menjalin hubungan dengannya.


Tapi, pada saat perusahaan Affandi sedang berada di puncak kejayaan, kakek Affandi malah tiba-tiba pergi keluar negeri.


Sudah lewat lima belas tahun, sekarang tiba-tiba kembali pulang, bisa sangat menarik perhatian masyarakat luas.


Tapi bisa sampai membuat begitu banyak media memberitakan, juga sedikit berlebihan.

__ADS_1


Aaron yang disampingnya juga bangun.


Semalam, dia tidur dengan memeluk Naura. Barusan Naura terbangun, menyingkirkan tangannya, bergerak-gerak di kasur, sekarang dekapannya kosong.


Wajah Aaron terlihat tidak senang. Dia kembali menarik Naura masuk kedalam senapannya. Dagunya diletakkan di kening Naura, pandangannya tertuju pada ponsel Naura. "Aku yang suruh orang melakukan. Menurutmu bagaimana?" Tanya Aaron datar.


Ada sedikit rasa arogan dari nada bicaranya seperti seorang anak kecil yang baru saja melakukan sesuatu dan minta diberi pujian.


Naura tidak bisa menahan tawa. "Untuk apa kamu meminta media memberitakan kepulangan kakekku?"


Dia tidak sepintar Aaron, terkadang ada beberapa hal yang dia tidak bisa mengerti jalan pikiran Aaron.


"Tidak ada apa-apa, hanya ingin supaya orang-orang yang seharusnya tau, mengetahui kepulangan kakek Affandi." Kata Aaron dan tiba-tiba merebut ponsel Naura, lalu menarik tangannya masuk kedalam selimut. Kemudian berkata dengan suara serak. "Kita bisa melakukan hal yang bermakna."


Naura mendengar keanehan di suara Aaron, tapi sudah terlambat.


Tangannya sudah berada dalam kendali Aaron, menekan bagian sensitif tubuhnya itu. Suhu yang panas seakan membuat tangannya melebur karena panasnya.


"Aku mau bangun dan pergi kerja!" Wajah Naura dalam sekejap menjadi merah.


Malam hari saat tidur, lampu dimatikan. Seharusnya bisa melakukan apa yang ingin dilakukan.


Tapi, sekarang hari sudah terang, di dalam ruangan kamar juga terang benderang, Naura tidak punya muka setebal Aaron.


"Hm, kalau begitu kita harus melakukannya cepat sedikit. Kalau tidak, akan terlambat."


"Tidak hmmph..."


……


Fakta membuktikan, kebutuhan biologis laki-laki, meskipun sehari-hari terlihat tenang dan bisa mengontrol diri, begitu sampai di ranjang, semua sama---tidak tau malu!


Sampai mereka berdua selesai melakukan, jarak antara waktu kerja sudah tidak jauh lagi.


Mereka berdua bangun bersamaan dan bersiap diri.


Naura duduk di meja rias berdandan, sedangkan Aaron berdiri disampingnya melihat dia. Kemudian dengan tidak sabar berkata kepadanya. "Kalau kamu sudah selesai, kamu jalan dulu sana."


Aaron menyeringai,suaranya yang rendah terdengar penuh kelembutan yang sungguh-sungguh. "Kamu tidak berdandan juga sudah cantik."


Saat Aaron memuji Naura, dia sangat bersungguh-sungguh.


Naura memalingkan wajah, tidak melihatnya. "Saat pertama kali kamu melihat aku, kamu mengatakan aku sangat jelek."


"Memang jelek." Aaron mengatakan apa yang bisa dikatakan.


Naura: "……" Dia tiba-tiba merasa mulut Aaron ini, Naura bisa menikah dengannya, seharusnya dia berbahagia.


"Tapi...." Aaron kembali membuka suara. "Jelek seperti itu, tapi aku masih mau menciummu? Kalau digantikan dengan Lucky, apa dia bisa menciummu?"


Naura membantahnya. "Karena seleramu buruk."


"Seleraku buruk, itu juga tidak semua wanita bisa membuat aku jatuh hati." Perkataan Aaron ini terdengar sedikit memuaskan.


Naura yang mendengar, seketika jantungnya berdetak kencang.


Laki-laki yang dingin seperti Aaron, mengucapkan kalimat yang romantis, tidak cocok sama sekali.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2