
Saat Naura keluar dari toilet, dia melihat Marsha. Tapi, Marsha tidak melihat Naura, karena dia sedang berjalan ke arah pintu membelakanginya.
Naura sengaja melambatkan langkahnya, berada di belakang Marsha, tidak ingin membiarkan Marsha melihatnya sedang makan bersama 'Samuel' kemudian membuat masalah yang tidak berarti.
Tapi, arah yang dituju Marsha, ternyata sama dengan Naura.
Naura hanya bisa memperlambat langkahnya, hingga kemudian Marsha memasuki sebuah ruangan VIP.
Saat Naura melewati ruangan VIP itu, Naura sedikit menghentikan langkah kakinya.
Kedap suara di ruangan VIP restoran ini tidak terlalu baik, dan terdengar suara ribut dari dalam.
Suara Marsha terdengar pelan, tapi sangat jelas. "Tidak boleh mengembalikan blackcard itu padanya!"
"Tidak.....Perusahaan Affandi.....Lalu, kamu mau bagaimana....."
Kemudian dilanjut dengan suara Fajar yang lebih pelan, jadi Naura tidak begitu jelas mendengar ucapan semua Fajar.
Kedua orang ayah dan anak ini sedang berdebat masalah ingin mengembalikan blackcard Naura atau tidak.
Sejak masalah pabrik meledak hingga sekarang, belum ada dua puluh empat jam, ini sudah kedua kalinya Naura mendengar Fajar bertengkar dengan Marsha.
Fajar benar-benar menyayangi Marsha, tapi Marsha terlalu dimanjakan hingga menjadi seperti ini.
Sekarang perusahaan Affandi sedang dalam bahaya, dia tidak memikirkan bagaimana caranya membantu Fajar menyelesaikan masalah perusahaan, malah bertengkar dengan Fajar untuk kepentingan dirinya sendiri.
Marsha bersikap seperti ini kepada Fajar, lalu bagaimana sikapnya nanti terhadap Merlin? Bukankah, dia akan lebih tidak berperasaan lagi?
Perasaan Naura menjadi sedikit kacau. Dia tidak ingin mengurusi Merlin lagi.
Tidak peduli bagaimana nantinya Marsha memperlakukan Merlin, semua ini adalah pilihan Merlin.
Bahkan soal dia menukar blackcardnya dengan Merlin, namun Merlin tidak merasa tersentuh sedikitpun. Malah, masih ingin bernegosiasi dengannya, agar semakin mudah untuk memanfaatkannya......
Naura menghela nafas dalam-dalam, menenangkan perasaannya, kemudian kembali ke meja yang ditempatinya tadi dan 'Samuel'.
Semua pesanan sudah ada diatas meja. 'Samuel' belum juga menyentuh makanannya. Dia sedang fokus dengan ponsel ditangannya, entah sedang melakukan apa.
Merasakan ada orang yang datang 'Samuel' mengangkat kepalanya. Tatapannya seketika terhenti pada wajah Naura, kemudian meletakkan ponselnya dan bicara. "Aku baru saja ingin menelpon pengawal."
Wajah Naura terlihat bingung. "Untuk apa?"
"Menyuruhnya untuk membawa seseorang menyeretmu keluar dari toilet." Jawab 'Samuel' dengan serius.
"....."
Seketika Naura terdiam.
__ADS_1
Baiklah, kali ini dia pergi ke toilet hampir setengah jam lamanya!
Naura tidak menanggapi ucapannya. 'Samuel' juga tidak bicara lagi dan mereka mulai makan.
Saat ke kasir ingin membayar, pelayan tadi memberikan sebuah kartu pada Naura. "Permisi, suami anda sudah membayarnya. Total semuanya satu juta dua ratus tujuh puluh ribu."
"Suamiku?"
Naura masih belum mengerti jika maksud dari pelayan itu adalah 'Samuel', karena yang pertama kali dia pikirkan saat mendengar kata suami adalah Aaron Daffa.
Naura kemudian menolehkan kepalanya bertanya pada 'Samuel'. "Apa kakak sepupumu juga sedang makan disini?"
'Samuel' yang tadinya tidak menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya, seketika wajahnya menjadi dingin dan menatap sekilas pada Naura, kemudian membalikkan badannya dan berjalan keluar dengan langkah besar. Kakinya melangkah seperti terbang, begitu cepat.
Aaron merasa, kalau tidak segera keluar dengan cepat, mungkin dia tidak akan bisa menahan dirinya untuk tidak memukul Naura.
Pelayan itu kemudian menyadari kalau dirinya telah salah paham dengan hubungan kedua pelanggannya ini dan buru-buru menjelaskan. "Maaf, aku kira pria tadi dan anda itu pasangan suami istri. Pria tadi yang sudah membayarnya."
Naura tertegun sejenak, kemudian mengambil kartunya dan keluar mengejar 'Samuel'.
'Samuel' belum melangkah jauh, saat Naura mengejarnya, dia sedang menerima telepon.
Kaki Naura menendang kecil, menunggunya selesai menerima telepon.
Tiga menit kemudian, 'Samuel' menutup teleponnya. Dia menolehkan kepala menatap sekilas Naura. Menatapnya dengan wajah yang dingin.
'Samuel' mengambil kembali kartunya, tapi tidak dengan uang cash.
Naura masih ingin memberikan uang padanya. "Hey, ini uang untukmu."
Tatapan 'Samuel' jatuh pada jari tangan Naura yang putih dan lentik, kemudian mengulurkan tangannya.
Naura mengira kalau 'Samuel' akan mengambil uangnya, tidak disangka dia malah langsung menggenggam tangannya.
Raut wajah Naura menjadi sedikit berubah. Belum sempat dia berucap, tangan 'Samuel' tiba-tiba menariknya masuk kedalam pelukannya. Dia menurunkan tatapannya, iris matanya yang hitam itu bergerak mengamatinya. Suaranya yang terdengar rendah sama seperti wine yang memabukkan.
Tapi, ucapan yang keluar dari mulutnya itu benar-benar tidak tau malu! "Kamu ingin mengembalikan uang kepadaku? Kalau begitu, kamu cium aku dulu. Setelah kamu menciumku, aku akan menerima uang itu.
"?????" Gila!
Ini adalah pinggir jalan dimana banyak orang berlalu lalang.
Naura merasa tegang hingga merasakan jantungnya seperti ingin keluar melalui tenggorokannya. Hatinya menjadi panik.
Dia menaikkan lututnya dengan sedikit bertenaga dan ..........
"Sshh..."
__ADS_1
Aaron tadi hanya fokus memperhatikan raut wajah Naura. Tidak menyangka kalau Naura akan merespon sampai seperti itu. Jika tidak, dengen keterampilan dan tingkat kewaspadaannya, bagaimana mungkin bisa terjadi?!
Namun, Naura kali ini benar-benar sangat kejam! Langsung mengenai bagian terpentingnya. Benar-benar---menyakitkan!
Hal ini membuat Aaron menyadari, tingkat kewaspadaannya di hadapan Naura, seperti menghilang.
"Kamu.....kamu tidak apa-apa?" Naura yang mendengar suara desisnya, walaupun raut wajahnya tidak berubah, namun dilihat dari rahangnya yang mengeras, dapat terlihat kalau dia sangat kesakitan.
Walaupun Naura benar-benar mengkhawatirkan 'Samuel', tapi Naura tidak merasa bersalah sedikitpun.
Mengenai pria yang tidak tau malu dan sering menggodanya, saat harus dihajar, maka dia akan menghajarnya!
'Samuel' tidak melepaskan tangannya, hanya berucap dengan nada rendah dan berat. "Aku tidak apa, tapi kamulah yang akan bermasalah."
Kalau dia benar-benar menendangnya sampai rusak, maka hancurlah kebahagiaan seksualnya di sisa kehidupannya.
Naura tidak menyadari maksud lain dari ucapannya, hanya mengira kalau dirinya telah membuat Tuan Muda ini marah, maka Tuan Muda ini akan menghabisinya.
Entah apakah masih bisa kalau dia kabur sekarang juga?
Saat kakinya bersiap untuk kabur, dia baru menyadari kalau tangannya masih digenggam oleh 'Samuel'.
Menyadari kalau dirinya akan mengalami masalah, Naura mendongakkan kepalanya menatap 'Samuel'. Tapi, pria itu malah menundukkan kepala dan menciumnya.
Seketika Naura merasa marah dan ingin memberi pelajaran kepadanya. Tapi, 'Samuel' sudah membuat persiapan. Jadi, Naura tidak bisa melakukannya. Sedangkan pria ini, malah semakin menjadi. Menciumnya dengan kasar, bahkan tidak membiarkan Naura untuk bernafas.
Tuan Muda ini semakin kasar, Naura bukanlah saingannya.
Tidak bisa bernafas, akhirnya Naura mengulurkan tangannya mendorong 'Samuel'.
Saat ini, dia melemas tidak memiliki tenaga sedikitpun. Namun, dimata Aaron terlihat begitu menggoda.
Nafas Aaron semakin memburu, seperti sedang memberinya hukuman dengan gigitan di bibirnya, kemudian baru melepaskannya. Kakinya mundur satu langkah dan tatapan matanya menatapnya dengan dalam.
Naura yang tiba-tiba didorong olehnya terhuyung sejenak, baru kemudian berdiri dengan tegap.
Sudut bibirnya terasa sedikit sakit. Dia mengulurkan tangan dan menyentuhnya sejenak. Dia melihat ada noda darah ditangannya dan baru menyadari kalau ternyata 'Samuel' menggigit bibirnya tadi.
Naura benar-benar tidak tau bagaimana membalas 'Samuel'. Memakinya juga tidak berguna, malah nantinya dia akan semakin tidak tau malu. Ingin memukulnya, tapi dia juga tidak akan bisa mengalahkannya.
Naura memelototinya sejenak, kemudian membalikkan badan dan pergi.
"Naura!"
Baru saja ingin melangkah pergi, dia mendengar seseorang memanggilnya.
Suara yang sangat tidak asing ini membuat perasaan Naura semakin buruk.
__ADS_1
...__________...