
Naura tersenyum kecil, lalu berkata dengan serius. "Aku rasa gaun ini sudah bagus, riasannya juga sangat cantik. Penata rias dan penata busana yang kamu carikan semua sangat lihai, dan penglihatanmu sangat baik."
Aaron menatapnya datar tanpa ekspresi dan tidak bicara apapun.
"Walaupun aku tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi, tapi demi dirimu, aku bisa menahannya." Kata Naura terdengar semakin serius. Kemudian menepuk-nepuk pundak Aaron. "Sudah tidak ada banyak waktu lagi, aku akan terlambat kalau tidak segera berangkat. Aku akan pulang lebih awal."
Melihat Aaron yang berwajah dingin, untuk pertama kalinya Naura tidak merasa kecewa. Hatinya justru merasa cukup senang.
Tepat pada saat itu, Samuel masuk dari luar.
Samuel ada janji dengan teman sekolahnya untuk pergi bermain basket, kemudian mereka mendaki gunung dengan bersepeda. Terlihat wajahnya yang penuh dengan keringat.
Samuel masuk sambil menggendong bolanya dan dalam sekejap dia langsung melihat Naura dengan mata terkejut. "WAH!!"
Bola yang ada digenggamannya langsung jatuh. "Kakak sepupu, ternyata kamu memanfaatkan waktu saat kak Naura tidak dirumah untuk membawa wanita lain pulang?!"
Naura terdiam.
Aaron menoleh dan melihat Samuel sekilas. Dia memicingkan matanya dan entah apa yang sedang direnungkannya, tapi itu membuat Samuel gemetar.
"Sudahlah, aku mau berangkat." Naura langsung berjalan keluar.
Saat melewati sisi Samuel, dia berkata lagi kepada Samuel. "Cepat kembali ke kamarmu untuk mandi dan ganti baju. Udaranya dingin, jangan sampai flu."
Baru pada saat itu, Samuel menyadarinya. "Kak Naura?!"
Dengan wajah terkejut, dia menatap Naura. "Mau pergi kemana berdandan secantik ini?"
Memang anak kecil adalah yang paling jujur.
"Pergi menghadiri perjamuan makan malam." Sambil menjawab, Naura sambil berjalan keluar.
Samuel menggaruk-garuk kepalanya. "Oh."
Dia memutar arah kepalanya dan bertanya pada Aaron. "Perjamuan makan malam yang diadakan paman itu ya? Bukankah sebelumnya kakak sepupu bilang tidak mau pergi? Sekarang malah mau pergi?"
Raut wajah Aaron terlihat tidak senang. "Tidak pergi!"
Bertahun-tahun lamanya dia terus menerus menyembunyikan identitasnya, adalah demi menyelidiki masalah ibunya. Kalau dia tiba-tiba muncul dihadapan semua orang, pasti akan menarik perhatian banyak orang.
Sampai saat itu tiba, tidaklah mudah untuk melakukan berbagai macam hal.
Sedangkan Faisal Ardinata bisa menyuruhnya datang membawa Naura menghadiri acara perjamuan makan malam karena Faisal ingin tau seberapa akrab Aaron dengan Naura, juga ingin tau apakah Aaron setuju membawa Naura pergi menghadiri perjamuan makan malam. Kebetulan, hal ini bisa sekalian memberikan identitas untuk Naura.
Perjamuan malam yang diadakan keluarga Ardinata mengundang orang-orang kalangan papan atas. Setelah Naura pergi menghadirinya, semua orang pasti tau bahwa dialah Nyonya Muda Ardinata.
Aaron ingin memberikan identitas 'Nyonya Muda Ardinata' pada Naura, tapi dalam hatinya, masalah ibunya jauh lebih penting.
__ADS_1
Itu adalah kesalahan dan visi yang harus dia tanggung seumur hidupnya.
Samuel yang tidak tau betapa banyaknya pikiran yang melintas di benak Aaron pun diam-diam berjalan ke sisi pria tampan itu dan berkata. "Kalau begitu, kakak sepupu membiarkan kak Naura pergi seorang diri? Aku beritau ya, jangankan pria lain, teman-teman sekelasku semuanya menyukai kak Naura yang seperti itu...."
Hati Aaron yang awalnya memang sudah tidak senang, menjadi semakin suram setelah Samuel berkata demikian.
Saat melihat Naura turun tadi, Aaron sudah tidak ingin Naura menghadiri perjamuan malam apapun.
Naura adalah wanitanya seorang!
Aaron juga tau bahwa dia memiliki sifat posesif yang sangat kuat. Tapi ketika buah pikiran ini terbersit, dia sendiri pun terkejut.
Dia boleh tertarik dengan Naura, dia juga boleh memperlakukannya dengan baik. Tapi dia tidak boleh membiarkan hatinya leluasa seperti ini.
Selain menjadi istrinya, Naura juga Nyonya Muda Ardinata.
Aaron harus menyelidiki dengan jelas rencana penculikan waktu itu. Dia harus memastikan jalan yang dilalui bukan jalan yang datar. Dia tidak bisa terlalu hanyut dalam perasaan dan menjadi leluasa.
Jadi, dia masih membiarkan istrinya pergi.
"Kalau begitu, aku juga akan pergi ke perjamuan malam apa itu! Aku akan membantumu mengawasi kak Naura!"
"Tidak perlu."
Selesai berucap, Aaron langsung berjalan ke atas tanpa menoleh kembali.
Penglihatan penata gaya itu sangat hebat. Dia bersama penata rias melangkah maju dan menangkap Samuel. Mereka hendak nelucuti pakaian Samuel.
"Sialan, apa yang kalian lakukan?!" Samuel ketakutan melihat mereka. "Aku belum dewasa! Apa yang mau kalian lakukan padaku?!"
Mereka sama sekali tidak mempedulikan apa yang Samuel katakan. Setelah menanggalkan pakaiannya, mereka memakaikan kemeja kepadanya serta jas.
"Sepupu Tuan Muda, celananya mau dilepaskan sendiri atau mau kami bantu?"
"Pria atau wanita aku tidak sudi! Aku lepas sendiri saja!" Samuel langsung mengambil celana dan berlari masuk ke kamar.
……
Perjamuan makan malam itu diselenggarakan di sebuah hotel bintang lima.
Begitu Naura turun dari mobil, dia melihat Damar-asisten pribadi Faisal Ardinata.
Saat sebelumnya dia pergi menemui Faisal, Damarlah yang menjemputnya sehingga Naura memiliki sedikit kesan terhadap pria itu.
Begitu Damar melihatnya, pria itu melangkah maju selangkah, membungkuk dengan hormat dan menyapa. "Nyonya Muda."
"Damar." Jawab Naura sambil tersenyum.
__ADS_1
Wajah serius Damar memperlihatkan sebuah ekspresi yang lembut. Dia kembali menegakkan kepala dan melihat ke arah belakang Naura.
Naura langsung menjelaskan. "Aku datang sendirian, Aaron....."
Belum juga Naura menyelesaikan kalimatnya, perkataannya dipotong oleh suara seorang remaja yang terdengar tidak asing ditelinganya.
"Masih ada aku! Kak Naura, tunggu aku!"
Kemudian suara mobil yang direm dengan sangat mendadak terdengar.
Ivan yang berdiri dibelakang Naura mengambil satu langkah ke samping untuk menghalangi debu yang berhembus karena mobil yang direm mendadak itu.
Samuel yang mengenakan setelan jas yang berpotongan pas di tubuhnya pun melompat turun dari mobil sambil bergaya sok keren.
Tapi, ketampanannya itu bahkan tidak bertahan sampai tiga detik karena dia langsung berlari ke pinggir hamparan bunga dan muntah di sana.
"Hoeeekkk..."
Barusan supir itu melesatkan mobilnya dengan sangat cepat seperti terbang. Walaupun Samuel pada dasarnya tidak mabuk kendaraan, namun dia akhirnya mabuk juga dengan gaya menyetir seperti itu.
Naura menyuruh Ivan mengambilkan air mineral dari dalam mobil. Dia juga mengambil tisue dan menghampiri Samuel untuk memberikan benda itu padanya.
Dia menyerahkan tisue pada Samuel, mengulurkan tangannya lalu menepuk-nepuk punggung remaja itu sambil berkata, "Bagaimana kamu bisa datang?"
"Mereka mengganti bajuku, tapi aku sendiri yang mengganti celanaku. Aku datang dengan gaya yang kubuat." Samuel muntah hebat sampai kepalanya pusing, bicaranya pun menjadi tidak nyambung.
Tapi Naura dapat menerka kira-kira apa yang terjadi.
Hal ini jelas-jelas dilakukan Aaron karena setelah dia melihat penampilan Naura yang mengenakan gaun, pria itu tidak mengijinkannya datang menghadiri perjamuan malam.
Diluar maksud tulusnya untuk membantu Aaron, Naura masih memiliki sedikit pemikiran lain. Bukankah sangat disayangkan apabila dirinya yang telah mengenakan gaun seindah ini dan merias dirinya secantik ini tidak pergi keluar untuk memamerkannya?
Semua wanita seperti ini.
Bahkan dia sendiri sekarang merasa saat dirinya berjalan, ada angin yang berhembus menyertai langkahnya!
Sepertinya, Aaron masih tidak tenang untuk melepasnya, sehingga dia memaksa Samuel untuk datang.
"Nyonya Muda, airnya." Ivan mengantarkan air mineral.
Naura menerima dan memberikannya pada Samuel.
Setelah Samuel merasa lebih baik, barulah dia berjalan masuk ke dalam bersama dengan Naura.
Damar tentu saja juga mengenali Samuel. Dia sangat terkejut. "Sepupu Tuan Muda, kapan kamu kembali ke Kota B?"
Pada awalnya, Samuel datang dengan diam-diam. Bahkan sampai sekarang, selain Kairav dan Aaron, tidak ada satupun anggota keluarga Ardinata lainnya yang mengetahui kepulangannya.
__ADS_1
...----------------...