Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#46


__ADS_3

Akhir-akhir ini, Christian selalu menelpon Aaron tengah malam dan mengeluh. Ada permasalahan di perusahaan yang membuatnya terintimidasi.


Dan akhir-akhir ini karena banyak urusan yang harus diurus diperusahaan, Aaron pun pergi ke perusahaan.


Setelah melakukan dua kali rapat, menjelaskan mengenai rencana proyek, Aaron kembali pulang. Dia tiba dirumah tepat jam makan siang.


Begitu masuk kedalam rumah, langsung tercium aroma masakan yang dari dalam. Aaron mengerutkan alisnya. Naura sedang masak?


Aaron melepas jasnya dan memberikannya kepada salah satu pengawal disana. Kemudian dia berjalan dengan langkah lebar menuju dapur.


Dia melihat Naura memakai apron berdiri memunggunginya sedang berjinjit berusaha meraih tombol cooker hood.


Cooker hood berada diatas dan terletak agak tinggi. Naura kesulitan meraihnya.


Aaron berjalan mendekat, mengulurkan tangannya melewati kepala Naura dan membantu menekan tombol cooker hood.


Naura menoleh dengan wajah lugu, poni yang sebelumnya tebal, sekarang terlihat tipis, memakai aprin dan tangannya masih memegang spatula, wajahnya yang cerah memperlihatkan sedikit perasaan lembut.


"Kamu sudah pulang? Sebentar lagi matang dan kamu bisa makan."


Karena Naura ingin meminta bantuan, jadi dia tersenyum lebar.


Banyak orang yang mencoba menghibur Aaron, tapi sepertinya hanya saat Naura yang menghiburnya, suasana hati Aaron menjadi lebih baik.


Tapi Aaron tidak menunjukkannya. Dia tetap memasang wajah datar. "Hmm."


Dia berdiri bersandar pada dinding dengan bersedekap, menatap Naura yang sedang memasak dengan ekspresi wajah acuh tak acuh. Tapi, tatapannya selalu jatuh pada Naura.


Selesai memasak, Naura menoleh dan baru menyadari ternyata 'Samuel' masih berdiri didekatnya.


"Kenapa kamu berdiri disitu?"


"Tidak ada apa-apa." Jawab Aaron kemudian berbalik dan pergi ke ruang makan.


Aaron merasa kalau Naura enak dipandang. Jadi, dia ingin melihatnya lebih lama.


...


Diruang makan, setelah Naura dan Aaron selesai makan, Naura menatap 'Samuel' dengan riang. "O ya, kamu dan Aaron, kalian pasti punya pengacara pribadi kan?"


"Hmm." Jawab Aaron sedikit mengangguk dengan wajah acuh. "Kenapa? Apa kamu digugat?"


Naura menggelengkan kepalanya. "Bukan. Apa kamu punya pengacara yang bisa mengurus mengenai kerjasama perusahaan? Kalau punya, boleh tidak aku meminjamnya untuk membantuku sebentar?"


Aaron terdiam sejenak menatapnya. Diwajahnya tidak terlihat ekspresi apa-apa. Tapi Naura menyadari kalau 'Samuel' tidak merasa senang.


Kenapa dia terlihat seperti tidak senang?


Tadinya, Aaron mengira kalau Naura sedang berusaha membuatnya senang karena ada sesuatu yang dionginkan. Tapi ternyata hanya ingin meminjam pengacaranya saja.

__ADS_1


Aaron benar-benar merasa sedikit kecewa.


"Ada sih, tapi ....." Jawab Aaron yang kemudian menatap Naura dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Naura menunduk dan melihat tubuhnya sendiri. Mungkin saja dia tidak memakai pakaian yang benar. Atau mungkin 'Samuel' menginginkan hal yang memalukan?


Berpikir sampai di sini, Naura menatapnya dengan waspada. Dia pun menyilangkan kedua lengannya didepan dada.


Melihat tingkah Naura yang seperti itu, Aaron ingin sekali tertawa. Dia pun sengaja batuk untuk menyembunyikan senyumnya. Kemudian kembali memasang wajah datarnya. "Selanjutnya, kamu yang harus memasak."


"Selanjutnya?" Naura merasa penasaran. "Berapa lama aku harus memasak?" Lanjutnya.


"Itu tergantung suasana hatiku." Jawab Aaron kemudian memicingkan matanya menatap Naura.


Naura menggerakkan giginya. "Oke, aku setuju!"


Menurut Naura, 'Samuel' tidak berkewajiban untuk membantunya. Dan permintaan 'Samuel' juga masih dalam batas kemampuan Naura. Permintaan 'Samuel' juga tidak berlebihan.


Aaron pun tersenyum. "Sekarang, kupaskan buah untukku!" Perintahnya.


Naura terdiam. Bukannya hanya memasak? Sekarang dia memberi perintah seperti ini, dia pikir aku sudah menjadi pelayannya begitu? Dasar!


Meskipun dalam hati Naura memaki 'Samuel', tetapi dia tetap menurut dan pergi ke dapur untuk mengupas buah.


Setelah Naura selesai mengupas buah dan menaruhnya di piring, dia memberikannya pada 'Samuel' kemudian langsung pergi meninggalkannya.


Christian menerima pesan dari Aaron kemudian langsung membalasnya. "Cuma foto buah saja, apanya yang spesial?!"


Aaron membaca dan membalas pesan Christian dengan datar. "Itu istriku yang mengupasnya untukku."


Christian membalas pesannya lagi hanya mengirim stiker cuek dan masa bodoh.


Melihat pesan balasan dari Christian yang seperti iri, Aaron merasa puas. Dia pun segera memakan buah yang sudah dikupas oleh Naura.


...


Siang harinya, Naura pergi ke restoran Star Light dengan membawa pengacara yang dipinjamkan 'Samuel' untuk membantunya.


Naura menunjukkan wajah aslinya. Dia memakai kaos putih yang dibalut dengan mantel dan celana panjang jeans juga membawa tas. Penampilannya terlihat biasa saja.


Tempat elite seperti restoran Star Light ini, tidak sembarang orang bisa masuk. Tapi, Fajar Affandi mempunyai relasi yang luas, jadi sudah pasti dia bisa masuk.


Saat Naura sampai di sana, Naura berencana untuk menyuruh Fajar membawanya masuk. Tapi, saat dia membawa pengacara sampai didepan pintu restoran, penjaga pintu tidak menghalangi dia. Justru malah tersenyum lebar dan menyapa dia dengan sangat ramah. "Selamat datang."


Naura merasa, kalau restoran elite memang bener-benar berbeda.


Naura langsung berjalan masuk menuju ruangan dimana Fajar berada.


Fajar juga membawa pengacaranya. Dia tidak menyangka kalau Naura juga membawa pengacaranya sendiri. Karena dimata Fajar, Naura adalah anak yang bodoh dan idiot. Selain itu, dia juga sangat lambat dalam merespon sesuatu. Tidak seperti orang normal pada umumnya.

__ADS_1


Naura duduk dihadapan Fajar lalu menyapanya. "Ayah."


Begitu melihat Naura, Fajar tertegun. Dia menyadari kalau ada yang berbeda dari biasanya. Naura menjadi sangat cantik?


Meskipun dalam hatinya merasa sangat bingung, diruangan ini ada orang lain. Fajar tidak mungkin menanyakan apakah Naura melakukan operasi plastik?


"Iya." Fajar membalas sapaan Naura dengan mengendalikan perasaannya.


Fajar melihat sekilas pengacara yang berdiri dibelakang Naura, kemudian dia menatap pengacaranya sendiri memberi isyarat untuk mengeluarkan surat perjanjian.


Fajar berpikir, kalau Naura membawa pengacaranya sendiri lalu kenapa? Belum tentu bisa melihat celah yang ada didalam surat perjanjian ini. Lagi pula Naura juga tidak punya uang. Seberapa hebat pengacara yang dia dapatkan?


Tapi, saat melihat surat perjanjian itu, Fajar baru menyadari kalau apa yang dia pikirkan barusan salah besar.


Pengacara yang dibawa oleh Naura, ternyata bukanlah seorang pengacara murahan. Sebaliknya, pengacara yang dibawa Naura adalah seorang pengacara yang sangat profesional dan teliti.


Pengacara yang dipinjamkan oleh 'Samuel' bernama Daniel Jason. Kalau dilihat, Daniel orang yang bijaksana.


Daniel barusan juga melihat pandangan yang diberikan oleh Fajar, tapi dia hanya diam saja tidak melakukan apa-apa.


Saat pengacara Fajar memperlihatkan surat perjanjian itu, Daniel menemukan celah dalam surat perjanjian tersebut.


Fajar tidak begitu paham mengenai hal ini, tapi pengacaranya sudah terlihat pucat. Fajar mengerti kalau pengacara yang dibawa oleh Naura adalah seorang pengacara yang sangat hebat.


"Naura, akhir-akhir ini, diperusahaan sedang sangat sibuk, jadi wajar kalau ada kesalahan di dalam surat perjanjian ini." Ucap Fajar dengan alasan yang tidak masuk akal.


Mendengar itu, Daniel tertawa dingin. "Benarkah? Kesalahan yang begitu sederhana seperti ini, bahkan pekerja magang yang baru lulus saja bisa dengan mudah mengetahui, apalagi konsultan hukum perusahaan anda yang sudah memiliki pengalaman selama lebih dari tiga tahun?"


Naura merasa terkejut. Bagaimana Daniel bisa tau kalau pengacara yang dibawa Fajar sudah memiliki pengalaman lebih dari tiga tahun?


Apa pengacara yang dipinjamkan 'Samuel' sehebat ini?


Naura tidak memperlihatkan rasa keterkejutannya. Sebaliknya, dia bersikap sangat lembut. "Ayah, sepertinya ayah perlu ganti pengacara."


Fajar menatap pengacaranya dengan penuh emosi. "Kamu ini bagaimana sih?! Surat perjanjian saja kamu tidak bisa mengerjakannya dengan baik?! Lalu, untuk apa aku mempekerjakanmu?!"


Pengacara Fajar pun menundukkan kepala dan mengakui kesalahannya. "Komisarin Utama, tolong maafkan saya. Saya yang salah. Mungkin, saya salah mengambil surat perjanjiannya."


Pengacara Fajar kemudian segera mengambil surat perjanjaiannya lagi dari tas kerjanya.


Fajar sudah berkecimpung di dunia bisnis selama bertahun-tahun. Tidak mungkin kalau dia tidak memiliki kehebatan. Jadi sebenarnya, dari awal dia sudah menyiapkan dua rencana.


Yang pertama, dia membuat surat perjanjian yang salah. Dan yang kedua, dia membuat surat perjanjian yang benar.


Daniel mengambil surat perjanjian yang kedua yang baru saja diserahkan oleh pengacara Fajar. Dia membacanya dengan teliti sampai selesai kemudian menganggukkan kepalanya ke Naura. "Tidak ada masalah."


Akhirnya surat penyerahan saham pun selesai dibuat.


...__________...

__ADS_1


__ADS_2