
Di internet dan media sosial sudah banyak sekali warganet yang membicarakan tentang foto dan video Marsha.
Meskipun keluarga Affandi tidak lebih terpandang dari keluarga Ardinata, tapi juga tidak sedikit orang yang mengenal keluarga Affandi. Bahkan banyak wanita-wanita diluaran sana dengan latar belakang seperti Marsha ini sering bermain dengan gila.
Kelakuan Marsha diluar memang terlihat seperti wanita baik-baik. Padahal dibalik itu, dia sangat liar. Suka bermain dengan banyak laki-laki, pemakai narkoba. Semua itu dia lakukan.
Setelah melihat banyak foto dan videonya tersebar, tangan Marsha gemetar. "Kenapa..kenapa..kenapa bisa begini?"
Banyak juga pesan yang masuk diponselnya dari para warganet. Mereka semua memakinya habis-habisan.
"Dasar ******! Menjijikkan!"
"Wanita ****** yang tidak tau malu!"
"Ternyata masih punya muka menyuruh adiknya untuk menanggung masalah ini!"
Marsha sangat marah dan jantungnya berdegup sangat kencang. Dia membalas makian itu kemudian dia teringat dengan Lucky.
Sekarang sudah larut malam dan pasti Lucky sudah tidur. Dia berharap kalau Lucky belum melihat berita ini diinternet juga media sosial. Kalau Lucky sampai melihatnya, hubungan mereka akan hancur.
Marsha beranjak mengganti pakaiannya dan pergi ke kamar ayahnya.
'Tok Tok Tok!'
"Ayah, aku butuh bantuan ayah untuk menghapus semua postingan diinternet!"
...
Ditempat lain, tepatnya dikediaman Aaron Daffa, Naura sedang berbincang dengan Evelyn melalui video call.
Terdengar suara Evelyn membacakan komentar-komentar dari warganet yang memaki Marsha dengan penuh semangat.
"Sejak awal, aku sudah merasa kalau Marsha bukan perempuan baik-baik! Tapi, masih saja ada yang membantu membersihkan namanya!"
"Melihat penampilannya yang begitu anggun, tidak menyangka kalau ternyata dia sangat murahan!"
"Aku merasa karena adiknya bisa menikah dengan Aaron Daffa, keluarga Ardinata sudah tau kelakuan buruk Marsha lebih memilih menikahkan Aaron dengan adiknya yang katanya berwajah sangat jelek. Meskipun Marsha sangatlah cantik, tapi kalau seperti bus umum, siapa yang mau dengannya?"
__ADS_1
Evelyn juga merasa kalau komentar ini ada benarnya. "Naura, apa kamu juga merasa kalau komentar barusan ada benarnya? Apa keluarga Ardinata sejak awal memang sudah tau kelakuan buruk Marsha?"
Naura mengerutkan alisnya. Bahkan dia tidak memikirkan alasan ini. Kemudian dia tertawa. "Yang aku tau, keadaan seperti ini yang diinginkan Marsha. Bisa merasa tenang menjalin hubungan dengan Lucky."
Evelyn menghela nafasnya. "Kalaupun Lucky cacat mental, seharusnya dia juga tidak akan mau menikahi bus umum!"
...
Karena semalam Naura berbincang dengan Evelyn hingga lewat tengah malam, pagi ini Naura terlambat bangun.
Saat dia bangun, dia langsung membuka laptopnya mengecek postingan foto dan video Marsha.
Ternyata sudah tidak ada. Pasti sudah langsung dihapus. Tidak perlu bertanya siapa yang menghapusnya, Naura sudah tau. Siapa lagi kalau bukan Fajar Affandi?
Fajar Affandi memang benar-benar sangat menyayangi Marsha.
Ternding topic sudah dihapus lalu kenapa? Warganet sudah mengambil screenshot dan menyebarkannya lagi diinternet dan masalah ini sudah tidak bisa lagi dikendalikan.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Naura mendapat telepon dari Evelyn. Begotu Naura mengangkat teleponnya, suara Evelyn langsung terdengar. "Naura! Trending topic tentang foto dan video Marsha sudah tidak ada! Aku mau membelinya lagi biar kembali dibahas!" Ucap Evelyn dengan menggebu-gebu.
Naura mendengarkannya dengan tenang. "Sebaiknya tidak perlu. Kamu jangan gegabah Ev. Semua orang sudah tau kelakuan Marsha. Bukankah film yang kamu bintangi akan tayang? Pasti pengikutmu juga bertambah banyak kan? Kalau sampai ada yang tau kamu yang melakukannya, bisa-bisa akan menjadi pengaruh buruk untukmu." Ucap Naura menenangkan teman baiknya.
"Iya iya iya!" Seru Evelyn dengan kesal dan dia juga membenarkan perkataan Naura. "Ayo kita keluar dan makan bersama! Aku akan jemput kamu."
"Boleh." Jawab Naura dengan tersenyum kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
Dia memakai jaketnya, mengambil tas kecilnya lalu pergi keluar.
Ketika berjalan melewati ruang kerja Aaron, langkahnya terhenti. Sejak kemarin, Naura tidak melihat Aaron Daffa. Dia juga tidak tau apa yang dikatakan 'Samuel' kalau Aaron benar-benar marah atau tidak.
Tiba-tiba, pintu ruang kerja Aaron dibuka dari dalam dan muncul sosok tinggi tegap 'Samuel' yang langsung menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi.
Naura sedikit memundurkan langkahnya kebelakang dan menatap 'Samuel'. "Apa kakak sepupumu ada didalam?" Tanyanya sambil melirik kearah pintu yang barusaja terbuka.
Aaron menutup pintunya dan berdiri bersandar pada pintu menatap Naura. "Ada urusan apa?" Tanyanya.
Wajah 'Samuel' terlihat pucat dan lesu. Tapi sorot matanya tetap memancarkan tatapan yang begitu dalam.
__ADS_1
Naura menggeleng. "Tidak ada urusan apa-apa." Jawab Naura kemudian kembali melanjutkan langkahnya dan turun kebawah.
Saat berjalan dia mendengar suara dibelakangnya seperti beban berat yang menghantam kelantai. 'BRUG!'
Naura menoleh dan kedua matanya terbelalak karena terkejut melihat tubuh tinggi 'Samuel' yang sebelumnya masih berdiri tegap, kini sudah terkulai dilantai. 'Samuel' jatuh pingsan.
"Astaga! 'Samuel', kamu kenapa?" Pekik Naura dengan wajah panik sambil berbalik dan mendekati tubuh 'Samuel' yang tergeletak dilantai.
Meskipun Naura sangat membenci laki-laki ini, dia juga tidak bisa hanya diam saja melihatnya pingsan atau mati sekalipun.
Naura baru menyadari setelah melihat dengan sangat dekat, wajah 'Samuel' benar-benar sangat pucat. Tapi, laki-laki yang dibencinya ini sungguh sangat tampan. Selain matanya yang indah, 'Samuel' juga memiliki bulu mata yang indah.
Naura mengulurkan sebelah tangannya dan menempelkan punggung tangannya dikening 'Samuel'. "Panas sekali!" Gumamnya dengan terkejut mengetahui kalau 'Samuel' demam tinggi.
Tinggi badan 'Samuel' hampir dua meter. Naura tidak mungkin sanggup membopong tubuh 'Samuel'. Dia segera berlari sampai depan tangga dan berteriak meminta tolong. "Tolooong! Apa ada orang dibawah? Cepat tolong aku! 'Samuel' pingsan!"
Pengawal yang mendengar teriakan Naura langsung berlari keatas dan mengangkat tubuh Aaron masuk kedalam kamar.
Dokter juga langsung datang untuk memeriksanya.
Naura yang berdiri disamping berjalan mondar mandir sambil memikirkan sesuatu. Dia memikirkan kenapa Aaron Daffa tidak menghampirinya? Merasa tidak ada hubungannya dengan ini, dia pun memutuskan untuk pergi.
Saat ingin keluar, dia melihat langkah buru-buru Ivan masuk kedalam menahan langkah Naura. "Nyonya, apa kamu bisa disini dulu menjaga Tuan Muda?"
Naura terpaku sejenak. Dia merasa aneh mendengar Ivan menyebut "Tuan Muda" pada 'Samuel'. Tapi, dia tidak ingin begitu memikirkannya.
"Tapi, aku ada urusan dengan temanku." Jawab Naura sambil melihat jam tangannya. Seharusnya sebentar lagi, Evelyn akan datang menjemputnya.
"Bu..jangan.."
Ivan dan Naura secara bersamaan menoleh kearah 'Samuel' yang sedang berbaring sambil mengigau.
"Jangan pergi..aku mohon.." Aaron kembali mengigau.
Naura melihat wajah 'Samuel' yang terbaring, terlihat ekspresi wajahnya seperti ketakutan dan terlihat lemah. Tidak seperti 'Samuel' yang selalu menyebalkan setiap kali bertemu dengannya.
Merasa kasihan, akhirnya Naura mengangguk bersedia menjaga 'Samuel'.
__ADS_1
Disini tidak ada pelayan wanita. Tidak mungkin juga mengandalkan para pengawal untuk merawat 'Samuel' kan?
...__________...