Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#43


__ADS_3

Akhirnya, Aaron hanya bisa membantu Naura mendobrak pintu kamar.


Setelah pintu berhasil dibuka, Naura mengerjapkan matanya menatap 'Samuel'. "Terimakasih ya." Ucapnya.


Sepertinya, Naura sudah tidak begitu membenci 'Samuel'.


'Samuel' hanya diam tidak bicara juga tidak melihatnya. Dia berbalik dan pergi. Terlihat dari raut wajah Naura sepertinya dia merasa sedikit kesal?


Saat berjalan, dia melihat ada bodyguard sedang berjalan naik keatas. Aaron melihat bodyguard sekilas. "Tidak perlu naik. Tidak ada apa-apa." Ucap Aaron kemudian kembali berjalan.


Bodyguard tersebut berbalik dan turun kembali. Tapi, dia merasa penasaran. Tadi mereka mendengar ada suara. Mereka mengira kalau Tuan Mudanya sedang bertengkar dengan Nyonya Muda. Bahkan mereka bertaruh lima ratus ribu.


Tapi, Tuan Muda tidak terlihat seperti sedang bertengkar dengan Nyonya Muda.


Aaron baru saja masuk kedalam kamarnya. Dia menerima pesan dari Christian.


Christian mengiriminya pesan suara berdurasi kurang lebih empat puluh detik. Aaron membuka dan mendengarkan pesan suara dari Christian.


"Aaron, saat aku mengirim pesan ini, aku tidak mengganggu kalian berdua kan? Lalu, bagaimana kemarin malam? Barang-barang yang sudah dikirim, apa sudah dipakai? Kalau kamu...."


Aaron langsung menutup pesan tersebut, tidak berminat mendengarkan suara Christian lagi. Dia mengunci layar ponselnya dan berjalan ke menuju walk in closet.


*W*alk in closet di kamar Aaron begitu luas. Setengahnya terdapat pakaian miliknya dan setengahnya lagi sudah dia siapkan untuk Naura. Semua pakaian miliknya maupun milik Naura dipesan langsung dari desainer ternama.


Tidak hanya pakaian saja. Ada koleksi jam tangan bermerk milik Aaron, dasi dan sepatu. Aaron juga melengkapi aksesoris wanita yang sengaja dia siapkan untuk istrinya. Jam tangan, tas, sepatu bahkan kosmetik dari brand ternama juga ada.


Naura sepertinya benar-benar begitu kesal dengannya. Tapi, saat Naura memikirkannya lagi, sepertinya kamar yang ditempatinya itu adalah kamar utama. Terlebih lagi, 'Samuel' dan Aaron tidak pernah terlihat muncul bersamaan. Membuat Naura berpikiran kalau Aaron Daffa bukan seorang yang normal.


Aaron teringat saat diruang makan tadi. Dia melihat wajah bahagia dari Naura saat dia mengatakan kalau ponsel itu pemberian dari "kakak sepupu". Saat itu juga, Aaron merasa cemburu pada dirinya sendiri.


...


Naura menutup pintu kamarnya kemudian berbaring diatas tempat tidurnya.


Dia merasa lega dan ingin istirahat sebentar. Setelah itu dia bangun dan mandi.


Selesai mengganti pakaian, dia duduk didepan meja riasnya. Dia memutuskan tidak ingin merias wajahnya menjadi jelek lagi. Itu sangat merepotkan. Lagi pula, dia juga tidak benar-benar ingin menemui Merlin-Ibunya untuk makan bersama.

__ADS_1


Kemarin malam, 'Samuel' juga sudah melihat wajah aslinya dan 'Samuel' tidak mengatakan apa-apa tentang wajah aslinya. Sedangkan Aaron Daffa, sejak awal juga tidak pernah melihat wajahnya.


Naura sengaja merias wajahnya. menjadi jelek selain sangat merepotkan, sekarang juga sudah tidak ada gunanya lagi. Tapi.....


Naura teringat tadi pagi saat 'Samuel' masih berani menciumnya. Ciuman itu membuat wajahnya merona dan jantungnya berdegup sangat kencang.


Seketika Naura tersadar dari lamunannya. Baru saja dia membayangkan saat 'Samuel' menciumnya, wajahnya pun langsung berubah menjadi pucat.


Astaga Naura! 'Samuel' itu adik sepupu Aaron Daffa. Sebenarnya, apa yang sedang kamu pikirkan?!😅


Sampai setelah Naura selesai bersiap ingin pergi, wajahnya masih juga terlihat pucat.


Dan sangat kebetulan, saat dia berjalan menuruni tangga, dia bertemu dengan 'Samuel' lagi didepan tangga.


Aaron mengerutkan alisnya saat melihat wajah Naura yang terlihat pucat. "Apa kamu sedang tidak enak badan?" Tanyanya sambil mengangkat sebelah tangannya dan menempelkan punggung tangannya didahi Naura.


Naura merasa terkejut dan dia dengan cepat menghindari tangan 'Samuel'. "Aku..aku..aku baik-baik saja." Ucapnya dengan gugup sekaligus panik. Kemudian segera pergi meninggalkannya begitu saja.


Aaron masih berdiri ditempat dengan mata lesu menatap tangannya yang masih menggantung di udara. Sesaat kemudian baru menurunkan kembali tangannya.


Naura sudah keluar dari pintu gerbang rumah Aaron Daffa. Dia sudah berlari sangat jauh dari rumah Aaron kemudian berhenti.


Naura merasa kalau dirinya harus menjauh dari 'Samuel' karena laki-laki itu terlalu berbahaya.


Baru saja memikirkan itu, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti disampingnya. Naura menoleh bersamaan dengan Aaron yang juga menurunkan kaca jendela mobilnya. Pandangan mereka bertemu.


Naura terpaku sejenak, kemudian dia kembali melangkah, menjauhi 'Samuel'. Langkah demi langkah semakin dia percepat untuk menjauh.


Aaron pun kembali melajukan mobilnya mengikuti Naura. Dia menjaga jaraknya agar sejajar dengan langkah Naura. "Cepat,masuk ke mobil!"


"Tidak perlu!" Jawab Naura sambil sekilas menoleh dan tetap melanjutkan langkahnya.


Aaron mengerti kalau Naura sedang berusaha menjaga jarak dengannya.


Naura merasa kalau mobil 'Samuel' sudah tidak mengikutinya lagi. Dia pun menghentikan langkahnya. Merasa penasaran, Naura menoleh dan melihat kebelakang.


Dia melihat 'Samuel' turun dari mobil lalu berjalan kearahnya dengan raut wajah dingin dan ekspresi yang menakutkan.

__ADS_1


Hanya dengan beberapa langkah, kakinya yang panjang sudah langsung berada dihadapan Naura. Aaron tidak mengatakan apa-apa. Dia langsung menggedong Naura, membawanya masuk kedalam mobil.


Naura tertegun. Laki-laki ini, benar-benar.....!


Dia merasa sangat kesal dengan sikap 'Samuel'. "'Samuel! Kamu jangan membuat masalah ya!"


"Siapa juga yang membuat masalah?" Ucap Aaron dengan wajah dinginnya sambil melajukan mobilnya kembali.


"Tentu saja kamu!" Jawab Naura dengan emosi.


Aaron tidak mendengarkannya juga tidak peduli dengan kemarahan Naura. "Alamat?" Tanyanya.


Naura hanya diam dengan wajah kesalnya. Aaron dengan lengannya yang panjang merogoh saku jaket Naura dan mengambil ponselnya. Dia membuka pesan yang dikirim oleh Merlin-Ibu kandung Naura.


"Kamu! Tadi kamu mencuri dengar pembicaraanku ditelepon?!" Tanya Naura penuh emosi.


Kalau tidak, bagaimana 'Samuel' bisa tau kalau dirinya ingin pergi bertemu dengan Merlin-Ibunya?


Aaron sama sekali tidak menghiraukan Naura yang semakin marah kepadanya.


Dengan cepat, mobilnya sampai didepan restoran yang dialamatkan oleh Merlin.


Naura belum turun dari mobil. Dia bisa melihat Merlin dari dalam mobil sedang duduk didalam restoran di dekat jendela sambil terus melihat jam tangannya. Naura memperhatikan disekeliling Merlin, tidak melihat ada orang disampingnya.


Aaron memperhatikan Naura yang hanya duduk diam memandangi Merlin dan tidak segera turun dari mobil. "Apa kamu memang berencana hanya duduk saja didalam mobil dan memandangi dia?"


Naura hanya meliriknya sekilas dengan sinis tidak menjawabnya.


Biarkan saja dia merasakan bagaimana rasanya menunggu seseorang!


Batin Naura dengan menahan segala emosinya.


Aaron melihat keluar jendela ada sebuah restoran diseberang. Dia kemudian memutar balik mobilnya dan melajukannya menuju parkiran restoran tersebut. Dia segera turun dari mobil dan menarik Naura untuk turun lalu berjalan masuk kedalam restoran.


Aaron membawa Naura naik kelantai dua restoran itu dan memilih meja yang dekat dengan jendela agar Naura bisa melihat Merlin dari sana.


...__________...

__ADS_1


__ADS_2