Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#112


__ADS_3

Samuel mengusap-usap perutnya sendiri. "Kakak ipar sepupu, kapan kamu akan masak?"


"Kapanpun, tidak akan masak!" Ucapnya dengan kesal kemudian membalikkan badan dan kembali ke kamar.


Dia sudah dibuat ketakutan oleh Aaron sampai kenyang, masih mau makan apa lagi?


Semalam dia makan di warnet bersama Samuel. Sekarang, dia sama sekali tidak merasa lapar, hanya sangat mengantuk.


Aaron tidak membiarkan dia pergi, masih membuang kasurnya. Kamar lain juga tidak bisa ditempati, dia sekarang hanya bisa tidur di kamar utama.


Naura tidak percaya Aaron bisa memakan dia!


Saat Naura kembali ke kamar, Aaron sudah tidak ada di sana.


Naura melepas jaket, langsung naik ke kasur.



Naura tidur agak lama. Saat dia bangun kembali, sudah tengah malam.


Perutnya kosong, dia merasa sangat lapar sekali. Dia turun ke bawah melihat, tidak ada orang di ruang tamu.


Naura pergi sendiri ke dapur mencari makanan. Dia membuat mie instan, kemudian berjalan sampai ke ruang makan bersiap untuk makan. Tapi, tiba-tiba mendengar suara Samuel berteriak. "Naura, tolong aku! Aku tidak mau ke sekolah!"


"……"


Naura menyantap beberapa sendok mie, meraih tisue dan mengusap bibirnya. Kemudian dia beranjak pergi ke ruang tamu.


Di ruang tamu, dia melihat Samuel sedang menangis sambil duduk dilantai memeluk kaki Aaron.


Tapi, diwajahnya sama sekali tidak ada air mata.


Setelah melihat Naura muncul, dia langsung berlari memeluk Naura dan menangis. "Aku tidak mau pergi ke sekolah……"


Aaron dengan wajah yang dingin berjalan menghampiri. Dia mengulurkan tangan dan menghempaskan tangan Samuel ke samping. "Kamu meminta bantuan ke dia juga tidak ada gunanya. Bibi sudah menyerahkan kamu kepadaku, tentu saja aku akan 'mendisiplinkan' kamu." Ucapnya dengan dingin.


'Mendisiplinkan', kata ini di ucapkan dengan penuh penekanan. Samuel mendengar kata ini, kulit kepalanya langsung terasa mengencang.


"Kamu masih kecil, sudah seharusnya kamu pergi ke sekolah. Untuk apa menangis?" Naura merasa ucapan Aaron tidak salah. Apalagi, dia juga pernah melihat Samuel, anak ini sangat keras kepala.


Tapi, sikap Samuel di depan Aaron, benar-benar membuat Naura merasa sedikit terkejut. Seolah sedang melihat tikus dan kucing. Samuel terlihat ketakutan sekali.


Samuel menggelengkan kepala menatap Naura dengan wajah sedih. "Kamu tidak mengerti."


Pendisiplinan yang dilakukan Aaron adalah tidak membiarkan dia bermain game, tidak memberi dia uang jajan. Pokoknya semua yang ingin dia lakukan, Aaron tidak akan membiarkan dia melakukannya. Dia ingin melakukan apapun, tidak bisa lepas dari pengawasan Aaron.

__ADS_1


Kalau saja dari awal dia tau, dia kabur dari rumah dan kembali ke negara asalnya akan menerima pendisiplinan dari Aaron seperti ini, sudah pasti dia tidak akan pernah kabur dan kembali ke kota ini!


Samuel tau sudah tidak bisa lagi mengubah kenyataan ini. Dengan pasrah, dia naik ke atas.


Begitu dia jalan, Naura membalikkan badan kembali ke ruang makan, melanjutkan makan mienya.


Aaron mengikuti dia di belakang. "Setelah ini tidak peduli Samuel bersikap menyedihkan di depanmu, kamu jangan bantu dia."


Naura tersenyum mengejek. "Oh, tidak akan. Toh hanya pura-pura saja kan."


Aaron mengerutkan keningnya mendengar Naura yang mengejek. Terlihat jelas kalau dia tidak senang dengan perkataan Naura yang mengejek seperti itu.


Dia merasa, meskipun dia telah membohongi Naura, tapi sekarang dia ingin melakukan apapun untuk mengganti kebohongan yang pernah dia lakukan. Dia sama sekali tidak merasa kalau dia sudah melakukan hal yang tidak termaafkan.


Naura mengambil sumpit, memakan mienya. Makan dengan pelan, tidak menghiraukan Aaron lagi.


Aaron menatap dia lekat-lekat, kemudian membalikkan badan dan pergi keluar.



Malam harinya.


Selesai mandi, Naura keluar dari kamar mandi. Di kamar masih kosong, tidak ada bayang Aaron.


Dia mengenakan baju tidurnya dan berbaring di atas tempat tidur. Otaknya dipenuhi dengan pikiran sebentar lagi Aaron akan datang, kalau Aaron akan melakukan sesuatu kepadanya, bagaimana dirinya akan menghadapi Aaron?


Saat dia bangun kembali, sudah pagi.


Naura membuka mata, ingin membalikkan badan, tapi dia menyadari kalau tubuhnya sedang dipeluk. Sama sekali tidak bisa bergerak.


Aroma khas yang sangat familiar di sampingnya memberitaunya, itu adalah Aaron Daffa.


Dia menggerakkan gigi dan memindahkan tangan Aaron dari tubuhnya, lalu dengan cepat berguling sampai ke sisi kasur, menjauh dari Aaron.


Saat ini, Aaron sudah bangun dan melihat Naura, rambutnya sedikit berantakan, kancing baju tidurnya hampir terlepas, matanya yang terlihat masih mengantuk tampak begitu lembut.


Kalau bukan karena sejak awal sudah melihat wajah asli Aaron, Naura merasa dirinya pasti akan tertipu dengan penampilannya.


Dia dengan waspada melihat Aaron. Dia sama sekali tidak tau kapan Aaron kembali ke kamar, lebih tidak tau lagi bagaimana Aaron naik ke tempat tidur dan bagaimana bisa mendekap dia dalam pelukannya.


Aaron membalikkan badan dan turun dari tempat tidur, lalu menatap Naura kembali. Suaranya yang serak berkata dengan maksud yang dalam. "Tidur juga sudah, kamu mau sembunyi juga tidak ada gunanya."


Naura tidak bisa menahan kekesalannya, mengambil bantal dan melemparkan bantal itu ke Aaron.


Aaron menangkap bantal yang dilempar Naura, tidak marah. Dia meletakkan kembali bantal itu ke atas tempat tidur dan langsung berjalan masuk ke kamar mandi.

__ADS_1



Sarapan pagi, makan mie. Karena ini permintaan Samuel.


Naura sebenarnya tidak ingin memasak. Tapi, Samuel dengan ekspresi menyedihkan meminta kepadanya. "Melihat kita yang sama-sama disakiti oleh Aaron, kamu buatkan aku sarapan."


"……" Meskipun Naura ingin membantah, tapi dia tidak bisa tidak mengakui apa yang dikatakan Samuel memang benar.


Naura pun memasak tiga porsi mie.


Samuel mengambil lebih dulu di dapur dan keluar ke ruang makan. Kemudian Naura mengambil semangkuk, lalu mengambil garam dan memasukkan garam itu banyak-banyak, kemudian mengaduknya.


Naura tersenyum puas, dia keluar menuju ruang makan dan meletakkan semangkuk mie yang dibawanya ke hadapan Aaron.


Aaron tidak menyangka kalau Naura akan memasakkan untuknya dan tatapannya sedikit terkejut.


Terlihat sedikit senyuman di wajah Naura. Dia mengangangkat mie didepan mulutnya dan berkata dengan lembut. "Kamu coba mie buatanku, enak atau tidak."


Aaron melihat Naura dan terlihat dengan jelas dari mata cantiknya ada sorot antusias.


Mie ini pasti ada sesuatu. Batin Aaron.


Naura melihat tatapan yang familiar itu, merasa terkejut dan ingin mengganti mie tersebut.


Tapi, setelah itu Aaron memakan mie yang disuapkan olehnya. Kemudian dengan raut wajah yang tidak berubah, malah memuji masakannya. "Rasanya enak."


Meskipun sangat asin sampai terasa pahit, tapi rasanya tetap sama dengan masakan ibunya.


Raut wajah Aaron yang dibayangkan Naura sebelumnya sama sekali tidak terlihat di wajah Aaron.


Aaron mengambil sumpit yang Naura berikan, lalu menundukkan kepala mulai memakan mienya.


Seketika mata Naura terbelalak melihat mie itu yang sudah langsung dihabiskan. Aaron sama sekali tidak seperti Aaron yang kemarin telah membuatnya ketakutan.


Naura melihat Aaron dengan ekspresi yang berubah-ubah. Dia membalikkan badan dan segera mengambilkan segelas air putih untuknya.


Aaron menerima gelas itu dan tiba-tiba tertawa, menunjukkan sorot mata yang tidak mudah ditebak.


Tidak peduli ingin bermain trik seperti apa atau berpura-pura menyedihkan, tetap saja Naura tidak mungkin jadi tandingannya.


Dia ingin membalas dendam kepada Aaron dan Aaron mengikuti keinginan hatinya, membuatnya berhasil membalaskan dendamnya.


Tapi hati Naura, mudah melembut.


Dari sikapnya terhadap keluarga Affandi sudah terlihat.

__ADS_1


...__________...


__ADS_2