Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#146


__ADS_3

Mobil sport Aaron melesat selama 20 menit untuk sampai di rumah.


Ternyata para perias yang sebelumnya diusir oleh Naura tidak bersedia meninggalkan tempat.


Naura hanya bisa menyuruh pengawal untuk menyambut mereka, dan minum teh di ruang tamu. Sedangkan Naura sendiri malah pergi ke dapur dan memasak untuk makan malam dengan kesal.


Sesampainya Aaron di rumah, perut mereka sudah kembung karena minum teh. Saat melihat kedatangan Aaron, mereka seperti melihat penyelamat mereka. "Tuan Muda Ardinata!"


Aaron hanya melihat mereka sekilas, dan bertanya pada pengawal yang ada disamping. "Dimana Nyonya Muda?"


"Di dapur." Jawab pengawal sambil menunjuk ke arah dapur.


Di dapur, Naura sedang melihat buku resep. Akhir-akhir ini, dia sedang melihat beberapa resep masakan dan malam ini dia berencana untuk mencoba masakannya.


Saat Naura sedang membalik halaman buku resep, dia mendengar ada suara langkah kaki yang stabil dan hening datang dari luar pintu.


Hal yang misterius adalah, begitu dia mendengar suara langkah kaki ini, Naura langsung tau kalau Aaron sudah pulang.


Naura berpura-pura tidak sadar dan konsentrasi melihat buku resepnya sendiri.


Aaron berjalan menghampiri dan melihat buku resep yang berada ditangan Naura dari belakang tubuhnya. Dia melihat nama menu yang tertera, kemudian berkata sambil sedikit mengangkat alisnya. "Mousse cake?"


"Kamu sudah pulang." Naura juga tidak menolehkan kepala saat bicara, dan suaranya sangat dingin.


Aaron merebut buku resep yang berada dalam genggaman Naura.


Memiliki postur tubuh yang tinggi memungkinkannya untuk mengangkat buku resep itu tinggi-tinggi.


Naura membalikkan tubuhnya untuk mencoba meraih bukunya sambil berjinjit. Namun tubuhnya jauh lebih pendek daripada Aaron. Dia sama sekali tidak dapat menyentuh buku resepnya.


Api amarah yang diredam Naura diperutnya menjadi semakin bergejolak karena hal ini.


Dengan kesal dia menendang kaki Aaron. "Kembalikan. buku resepnya padaku!"


"Kamu mau melihat buku resep ini, tapi tidak mau melihatku?" Aaron mengangkat alisnya, suaranya terdengar sangat serius memprovokasi.


Naura mengangkat dagu dan menatap pria itu. "Iya, aku merasa kesal melihatmu!"


Aaron tidak marah, dia malah tertawa, kemudian meletakkan buku resep itu disamping, menundukkan kepala dan mengecup ringan bibir Naura.


Sebelum Naura bereaksi, Aaron sudah memeluknya. Kemudian suara rendahnya berbisik di telinga Naura. "Bukankah kamu mau membantuku? Perjamuan makan malam kali ini, aku mohon padamu, sayang."

__ADS_1


Pria tampan itu pada dasarnya bersuara rendah dan tebal, sangat enak didengar. Ditambah lagi, kali ini dia sengaja menekan suaranya sehingga saat suaranya mengucapkan kata 'sayang', itu menambah kelembutan yang menghanyutkan.


Naura merasa telinganya sedikit geli, dia mengulurkan tangan untuk menutupi telinganya.


Namun Aaron seolah dapat menebak bahwa Naura akan bergerak seperti itu. Tanpa suara, Aaron menggenggam tangan Naura dan mengecup ringan telinganya. "Pergi ke perjamuan makan malam, tidak?"


Naura merasa geli sampai menciutkan lehernya dan bersuara nyaring. "Iya, iya! Aku akan pergi! Puas?!"


"Maaf merepotkanmu." Kali ini barulah Aaron melepaskannya.


Telinga Naura sensitif dan dengan kejadian barusan, telinga langsung memerah. Aaron pun tidak dapat menahan diri untuk mengulurkan tangan dan mencubitnya.


Naura yang awalnya tersipu malu kini menjadi marah sambil menepis tangan Aaron. "Jangan bertingkah lagi, aku mau mencoba gaun dulu!"


Aaron juga tidak bicara lagi, hanya tersenyum melihatnya.


Dia sepertinya menemukan lagi sebuah kelemahan istrinya.


"Apa yang lucu? Jangan tertawa!" Naura dengan kasar mendorongnya dan berjalan keluar.


Naura langsung mencoba lima gaun berturut-turut sampai akhirnya menemukan sebuah gaun yang memuaskan penata busana.


Kalau kata penata busana, pakaian apapun terlihat bagus dipakai Naura. Tapi, dia merasa Naura masih dapat mencoba yang terlihat lebih bagus lagi.


Barusan ini, Aaron sedang menggunakan pesonanya sebagai seorang pria?


Sepertinya dia juga sedang.....manja?


Jika dilihat dari perpaduan wajah dingin dan kelam Aaron sebelumnya, sepertinya dia benar-benar bisa dianggap sedang manja saat pria tampan itu sebelumnya memeluk dan dengan suara ringan memanggilnya 'sayang'.


Saat pria seperti Aaron sedang manja, wanita benar-benar tidak bisa berbuat apapun!


……


Satu jam berlalu dan akhirnya Naura dapat dijinakkan oleh para penata.


Penata gaya berkata dengan takjub. "Dengan penampilan seperti ini, Nyonya Muda terlihat sangat cantik! Sekarang silahkan turun dan perlihatkanlah kepada Tuan Muda Ardinata!"


Naura menatap sekilas ke cermin.


Gaun yang membalut tubuhnya berwarna merah menyala. Membuat kulit putihnya terlihat semakin bersinar.

__ADS_1


Rambut poni didahinya dinaikkan ke atas, menonjolkan keningnya yang bersinar. Disamping kedua sisi pipinya, terjuntai ikalan kecil rambut. Dengan lipstik berwarna merah yang dipadankan dengan warna merah gaunnya, Naura terlihat sangat menawan.


Saat Naura melihat dirinya pertama kali, dia juga sedikit terkejut.


Namun setelah melihat beberapa kali, dia merasa tidak ada terlalu banyak perbedaan dengan biasanya. Hanya saja, riasan ini membuatnya terlihat sedikit lebih dewasa.


Gaun formal harus dipadankan dengan sepatu hak tinggi. Sebelumnya, Naura tidak terlalu sering memakai sepatu hak tinggi, sehingga saat dia berjalan menuruni tangga dia harus berpegangan pada pegangan tangga.


Aaron yang sedang duduk di ruang tengah pun menoleh saat dia mendengar ada suara sepatu hak tinggi dari arah belakangnya.


Naura menatap pria tampan itu dengan penuh harap. Semua penata itu mengatakan dia yang seperti ini sangat cantik. Apakah Aaron juga akan merasa dirinya yang seperti ini sangat cantik?


Setelahnya, Aaron hanya menatap Naura selama beberapa detik kemudian memalingkan pandangannya dan berjalan memapahnya. "Bukankah kamu tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi?"


Naura mengangguk. "Iya. Dulu aku jarang memakainya."


Penata gaya memilihkannya sepatu berhak dengan tinggi 8 cm. Dengan tinggi badannya yang 1,62 m, saat ini tinggi Naura menjadi 1,70 m.


Sedangkan tinggi badan Aaron 1,89 m. Biasanya selisih tinggi kedua orang itu mencapai 27 cm, namun dengan Naura yang sekarang mengenakan sepatu hak tinggi, tingginya tidak terlalu berbeda jauh dengan Aaron.


Naura merasa sedikit aneh membandingkan tingginya sendiri dengan tinggi Aaron.


Aaron malah tidak memperhatikan hal ini. Dia menoleh dan berujar pada penata gaya yang berdiri dibelakangnya. "Bawakan dia sepasang sepatu ganti, tidak usah sepatu hak tinggi."


Penata gaya itu menjadi sedikit kesulitan. "Tapi, jika tidak mengenakan sepatu hak tinggi, hasilnya bisa sedikit berkurang....."


Aaron menyahut dengan wajah tanpa ekspresi. "Kalau begitu, tidak usah pergi."


"Hah?" Naura terbengong dengan tatapan yang kosong. "Tidak pergi kemana?"


"Tidak pergi ke perjamuan makan malam. Penata gaya bilang, kamu harus mengenakan sepatu hak tinggi, tapi kamu tidak terbiasa memakainya." Aaron sedikit menundukkan kepala menatap Naura, baik ekspresi maupun nada bicaranya sangat serius.


Alasan macam apa ini?


Cara pikir Tuan Muda Ardinata bisa berubah-ubah seenaknya.


"Aku rasa aku bisa." Sambil bicara, Naura berjalan beberapa langkah melewati Aaron.


Dia hanya tidak terbiasa saja, bukan tidak pernah mengenakannya.


Saat Naura magang, perusahaan juga menyaratkan karyawan wanitanya harus mengenakan sepatu hak tinggi. Jadi, dia juga memakainya.

__ADS_1


Aaron berdehem ringan, kemudian berkata. "Kalau begitu, ganti pakaiannya dan ganti riasannya."


...----------------...


__ADS_2