
Jumlah karyawan wanita dibagian departemen pemasaran ada banyak. Saat berkumpul, pasti mereka suka bergosip.
Siang harinya, masalah yang terjadi tadi pagi di departemen pemasaran sudah tersebar diperusahaan.
Wajah Naura bengkak akibat tamparan dari Marsha tadi pagi. Saat dia pergi ke toilet, dia mendengar beberapa karyawan wanita sedang membicarakan tentang masalah yang terjadi tadi pagi di departemen pemasaran.
"Sebenarnya, ada masalah apa?"
"Aku dengar, ada karyawan yang minta ijin hari ini tapi itu karyawan wanita dan bukan laki-laki?"
"Aku rasa, masalah ini pasti Marsha dan Pak Jayus manajer pemasaran sengaja bekerja sama ingin memberi pelajaran kepada Naura."
"Memberi pelajaran?"
"Naura baru beberapa hari bekerja disini, dia sudah membuat Pak Jayus marah?"
"Semua orang juga tau Pak Jayus orang seperti apa. Sebelumnya, masalah dia yang dilarikan ke rumah sakit sampai minta ijin, dengar-dengar itu perbuatan Naura."
"Ternyata Naura bisa kejam juga?"
"Tapi, aku rasa kalau Marsha lebih kejam. Dia menampar Naura, bahkan dari kejauhan, aku masih bisa mendengar suara tamparannya. Entah ada dendam apa diantara mereka, bisa menampar begitu kejam?"
Naura berdiri bersandar di dinding toilet. Menunggu sampai diluar sepi, baru dia membuka pintu toilet dan keluar.
Dia berdiri didepan wastafel, menatap wajahnya dicermin. Bekas tamparan Marsha tadi membengkak sedikit lebam. Kelihatannya, sedikit mengerikan.
Marsha tadi menamparnya dengan sangat keras.
Sepertinya beberapa hari ini, Naura sudah membuat Marsha marah.
Baiklah kalau begitu! Tunggu saja, lihat siapa yang pada akhirnya akan tertawa!
...
Saat jam makan siang, Naura baru mau pergi untuk makan siang.
Baru saja berdiri, ponsel didalam tasnya berdering. Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat 'Samuel' yang sedang menelponnya.
"Ada apa lagi?" Tanya Naura begitu mengangkat telepon darinya sambil mengerutkan alisnya.
"Cepat keluar, kita pergi makan bersama. Aku menunggumu didepan pintu perusahaan." Ucap Aaron seolah tidak mendengar nada suara Naura yang terdengar kesal dan tidak sabar.
Setelah bicara, Aaron langsung menutup teleponnya.
__ADS_1
Naura melihat layar ponselnya kemudian mengacak-acak rambutnya karena merasa sangat kesal. Dia terpaksa pergi keluar menemui 'Samuel'.
Saat keluar dari pintu perusahaan Affandi, Naura langsung melihat mobil mewah milik 'Samuel'. Sebelumnya tadi, dia sempat membuka internet dan mencari tau mengenai mobil milik laki-laki itu.
Harganya ratusan miliar. Meskipun saat itu 'Samuel' mengatakan kalau harga mobilnya "tidak mahal", bagi Naura harga itu merupakan harga selangit.
Naura melihat sekitar, tidak sedikit orang yang sedang membicarakan mobil 'Samuel'. Dia menundukkan kepala, berjalan dengan cepat ke arahnya.
Tapi, langkahnya terhenti karena ada mobil lain yang saat ini sedang melintas.
Ternyata mobil itu berhenti didepannya.
Supir membukakan pintu belakang mobil dan keluarlah Merlin dari dalam mobil tersebut.
Sejak pertama kalinya Naura membohongi dan tidak menepati janjinya kepada Merlin pergi ke restoran untuk makan siang bersama waktu itu, Naura tidak pernah lagi bertemu dengan Merlin.
Merlin menyuruh supirnya menurunkan dua kotak yang berisi makanan, kemudian menoleh dan tidak sengaja melihat Naura berdiri disamping mobilnya.
Merlin mengerutkan alisnya, terlihat sangat terkejut saat melihat Naura. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Kamu...Naura?"
Naura menyeringai. Tersenyum dengan senyum yang dipaksakan itu, terlihat seperti sedang mengejek. "Memangnya menurut ibu, siapa lagi?"
Hidup di bawah atap yang sama selama kurang lebih dua puluh tahun, Merlin sebagai ibu kandungnya, ternyata tidak bisa mengenali putrinya sendiri.
Bukan hanya itu saja, Merlin mendengar dan melihat perubahan wajah pada Naura, sampai mengabaikan bengkak diwajahnya yang masih belum hilang.
Merlin mendekat dan melihat Naura dengan teliti. "Kamu...apa kamu operasi wajah? Karena itu, saat aku mengajak kamu makan, kamu tidak datang?"
Saat ini, Naura yang ingin senyum, tidak bisa tersenyum. Raut wajahnya terpencar jelas ada kesedihan yang mendalam. "Bu, aku ini Naura. Sejak kecil aku sudah seperti ini. Tapi ibu selalu bilang, aku tidak boleh lebih cantik dari kakak. Jadi, semakin aku tumbuh besar, aku membuat diriku semakin jelek."
"Mana mungkin! Beberapa tahun ini, kamu sudah....." Merlin menghentikan ucapannya. Dia tidak berani percaya dengan ucapan Naura. Mana mungkin Naura bisa membuat dirinya jelek selama ini?
Naura menatap lekat Merlin dengan tatapan penuh kesedihan. "Karena aku ingin menjadi putri yang baik untuk Ibu. Untuk bisa membuat Ibu senang, sejak dari kecil sampai aku dewasa, apa yang Ibu minta, aku pasti melakukannya."
Bibir Merlin bergetar dan tidak sanggup untuk berkata-kata lagi.
Dia masih mengingat saat Naura masih kecil, Naura gadis kecil yang sangat cantik, penurut dan pintar. Tapi setelah itu, nilainya menjadi jelek. Semakin tumbuh besar semakin jelek. Sebelum itu, memang Merlin pernah mengatakan ke Naura tidak seharusnya lebih cantik dan lebih hebat dari kakaknya.
Tapi Merlin tetap ingin membela diri tidak mau disalahkan. "Itu semua kemuan kamu sendiri. Kamu tidak bisa menyalahkan aku!"
Naura terpaku sejenak. Sorot matanya penuh dengan kesedihan. "Bu, ada yang ingin aku tanyakan ke Ibu. Apa aku ini putri kandungmu?"
"Naura, kamu....."
__ADS_1
"Ayo cepat masuk ke mobil! Kita pergi makan!"
Tiba-tiba ada suara seorang laki-laki yang menyela ucapan Merlin.
Naura mendongak dan melihat 'Samuel' yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya.
Postur tubuh 'Samuel' tinggi tegap dan gagah. Saat melihat Naura, dia harus menundukkan kepala.
Dengan matanya yang merah, Naura menatap dia. Sepasang matanya yang begitu Indah, hampir tertutup oleh genangan air mata. Terlihat sangat menyedihkan.
Terutama pandangan Aaron jatuh pada wajah Naura yang bengkak dan lebam. Sorot mata Aaron seketika menjadi dingin dan tajam. Tapi, dengan sekejap kembali seperti semula. Aaron dengan wajah tanpa eskpresi manarik Naura.
Merlin terpaku dan melihat laki-laki yang menarik Naura pergi. Dia kenal dengan laki-laki itu. Dia kenal dengan 'Samuel'. Laki-laki itu pernah datang ke rumah keluarga Affandi. Kenapa dia bisa menjemput Naura?
Apa mungkin mereka berdua......?
Merlin teringat dengan perbuatan mereka waktu itu didalam mobil didepan rumah keluarga Affandi. Merlin pun segera memanggil mereka. "Tunggu dulu!"
Aaron dan Naura berhenti dan membalikkan badan melihat Merlin.
"Naura, makanan yang Ibu bawa untuk ayah dan kakakmu cukup banyak. Apa kamu mau ikut makan bersama?" Tanya Merlin.
Baru membuka mulut ingin menolak Merlin, tapi 'Samuel' sudah lebih dulu bicara. "Boleh. Kebetulan, aku juga belum makan."
"Eum, ini....." Makanan yang dibawa Merlin sebenarnya hanya cukup untuk tiga orang saja.
Tapi, 'Samuel' adalah adik sepupu Aaron Daffa, dia tidak ingin menyinggungnya. Tiba-tiba, dia tidak tau harus berkata apa.
Naura dengan tidak mengerti menatap ke 'Samuel' dan dengan pelan menyiku perutnya.
Aaron memegang pundak Naura dengan keras. Dia menunduk dan menatapnya, memberi isyarat dengan sorot mata.
Yang aneh adalah, Naura sungguh dibuat aman oleh tatapan mata 'Samuel'. Dia dengan tenang berdiri disampingnya dan tidak bicara apa-apa.
Selama setengah usianya Merlin menjadi ibu rumah tangga, selain menghabiskan uang untuk berias mengambil hati Fajar Affandi, dia juga bisa sedikit memperhatikan situasi.
Dia tau kalau 'Samuel' tidak bisa diremehkan. Jadi, dia memberi isyarat kepada supirnya, menyuruh supirnya untuk memberi tau Fajar.
Dengan cepat, Fajar turun kelantai bawah dan keluar diikuti Marsha dibelakangnya.
Marsha pun langsung terlihat merapikan riasannya. Riasan di wajahnya terlihat sedikit tebal.
Begitu dia melihat 'Sameul', sorot matanya terkunci seolah-olah seperti sedang melihat barang kesayangannya.
__ADS_1
Naura memperhatikan tatapan Marsha yang mengarah ke 'Samuel, dengan cepat dia berdiri didepan 'Samuel' seolah-olah Naura ingin menghalangi tatapan Marsha yang terus tertuju pada 'Samuel'.
...__________...