Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#179


__ADS_3

Saat tiga menit dimana nafasnya berhenti, mana mungkin dia terpikirkan untuk mencari cara membujuk Aaron?


Tidak benar! Dia hanya menanyakan soal Christian pada Aaron, tapi langsung membuat pria itu kesal dan sekarang harus membujuknya?


Otak Naura terus berputar, telinganya mendengar suara Aaron: "Waktu tiga menit sudah habis."


Naura memanyunkan bibirnya. Dia merasa Aaron semakin hari semakin aneh.


Aaron mengulurkan tangannya, mengangkat dagunya kemudian mencium bibirnya sejenak.


Setengah menit kemudian, dengan terpaksa Aaron melepaskan ciumannya dan berbicara dengan nada menegur. "Sekarang apa kamu sudah mengerti?"


Naura mengangguk perlahan. 'Berucap berbelit-belit seperti ini, ternyata hanya ingin...menciumku!'


Suasana hati Aaron terlihat senang, kemudian menepuk kepala Naura seperti memberi sebuah pujian. "Tunggu aku di mobil."


Kemudian, Aaron membalikkan tubuhnya dan turun dari mobil.


Naura hanya bisa bertanya padanya melalui jendela mobil. "Kamu mau kemana?"


Aaron hanya menatapnya sekilas, tidak mengatakan apapun, kemudian berjalan lurus ke arah Perusahaan Affandi.


Naura menipiskan bibirnya, sepertinya tebakannya benar, Aaron memang datang karena masalah pengunduran dirinya.


Saat ini adalah jam pulang kerja. Banyak orang berlalu lalang di Perusahaan Affandi.


Setelah identitas Aaron terbongkar, banyak orang mengenalnya. Walaupun orang yang tidak mengenalnya, pasti akan meliriknya beberapa kali karena aura arogan yang menguar dari tubuhnya.


Aaron seperti merasakan perhatian mereka yang ditujukan padanya, hanya terus berjalan ke arah lift.


Nona yang berada di receptionist itu adalah orang yang baru datang bekerja beberapa hari ini, melihat Aaron yang berjalan begitu saja, dia terburu-buru mengejarnya. "Tuan...permisi, kamu mencari..."


"Mencari Presdir Affandi." Aaron menolehkan kepalanya dan berucap dengan datar.


Ditatap dengan dingin oleh Aaron, membuat kalimat "Apakah kamu sudah membuat janji?" yang ada di ujung bibirnya, berubah menjadi "Presdir Affandi ada di ruangannya..."


"Terima kasih." Aaron masih dengan raut wajahnya yang datar, selesai berucap dia berjalan memasuki lift.

__ADS_1


Hingga pintu lift tertutup, nona receptionist itu menepuk dadanya menghela nafas lega. 'Tatapan pria tadi benar-benar menakutkan.'


...


Di dalam ruangan.


Saat Fadhil Affandi selesai memeriksa dokumen terakhirnya, dia mendengar suara pintu yang terbuka.


Siapa yang tidak sopan seperti ini, masuk ke ruangannya tanpa tahu mengetuk pintu!


Dia mengerutkan alisnya mengangkat kepala, melihat bayangan tubuh Aaron yang berjalan mendekat, kemudian mengunci pintu.


"Tuan Muda Ardinata?" Fadhil Affandi meletakkan penanya dan bangkit berdiri.


Tatapan Aaron meyapu sekilas pada dokumen yang ada di atas mejanya, lalu tersenyum kecil berucap, "Tuan Besar Affandi benar-benar giat bekerja."


"Tuan Muda Ardinata datang kemari, ada masalah apa, silahkan langsung katakan saja." Saat Fadhil Affandi berucap, saling bertukar pandangb dengan Aaron.


Namun, dia hanya bertukar pandang dengan Aaron selama beberapa detik, kemudian mengalihkan pandangannya.


Tubuh Fadhil Affandi, awalnya masih bersandar pada sandaran kursi, kemudian berubah menjadi duduk dengan tegak, seperti bersiap.


Pergerakan kecilnya ini, tidak luput dari tatapan Aaron.


"Saat aku kecil, aku pernah mendengar tentang Tuan Besar Affandi. Tidak kusangka Tuan Besar Affandi sudah menua dan menjadi tidak berhati-hati."


Aaron duduk di hadapan Fadhil Affandi, dengan tubuhnya yang setinggi seratus sembilan puluh satu centi, walaupun dia sedang duduk, tubuhnya tetap lebih tinggi satu inchi dari Fadhil Affandi.


Tekanan dari tinggi tubuh, membuat aura Aaron semakin kuat.


"Tuan Muda Ardinata sedang menertawakanku?" Dalam benak Fadhil Affandi mengerti apa tujuan Aaron datang kemari.


"Hal yang dilakukan Tuan Besar Affandi sekarang, apa perlu tawaan dariku?" Aaron tertawa dingin sejenak, lalu melanjutkan berucap. "Kamu kira tidak mengijinkan Naura untuk mengundurkan diri, maka bisa mengurungnya di Perusahaan Affandi dan mengendalikannya di dalam genggamanmu?"


Tiba-tiba raut wajah Fadhil Affandi berubah, wajahnya menjadi tegang.


Aaron yang melihatnya seperti, tersenyum puas. "Sama seperti saat itu, kamu dan keluarga Ardinata mencapai kesepakatan, kemudian pergi ke luar negeri. Mereka mengira, kamu akan menua dan meninggal di luar negeri. Sekarang bukankah kamu kembali, apa ada hal yang pasti di dunia ini?"

__ADS_1


Raut wajah Fadhil Affandi semakin tidak mengenakkan untuk dilihat. "Tuan Muda Ardinata, aku tidak tahu apa yang kamu katakan, mengenai pengunduran diri Naura? Walaupun dia sudah menikah denganmu, tapi dia masih bagian dari keluarga Affandi, jadi masalah ini aku yang putuskan!"


"Benarkah?" Senyuman di wajah Aaron semakin melebar. Dia berucap dengan suara yang pelan, namun sarat akan keanehan. "Kasus ibuku saat itu, kamu membantu keluarga Ardinata untuk mencari orang, mengeluarkan bantuan, jadi keluarga Ardinata berterima kasih padamu, dan menjodohkanku dengan Marsha. Jelas-jelas ini adalah hal yang baik, tapi kenapa harus menyuruhmu keluar negeri?"


Ucapan Aaron sepertinya mencapai batas Fadhil Affandi. Dia menunjuk pintu dan berucap dengan marah. "Itu karena aku sendiri yang ingin pergi ke luar negeri! Memangnya hal ini ada hubungan apa denganmu? Keluar kamu! Ini perusahaanku, tidak menerimamu!"


"Jika aku mau, besok tempat ini bisa saja menjadi milikku." Aaron sedikit memicingkan matanya, dengan raut wajah yang dingin melanjutkan berucap. "Jangan mengira Faisal Ardinata atau keluarga Ardinata yang lainnya masih bisa membantumu, mereka bahkan tidak bisa melindungi diri mereka sendiri."


Raut wajah Fadhil Affandi berubah drastis. Dia membuka mulutnya tanpa bisa bersuara, seketika membeku di tempatnya, tidak mengucapkan apapun.


Saat itu, dia pernah melihat Aaron, namun dia hanya melihat sekilas dari gudang bekas itu.


Saat itu, wajah Aaron dipenuhi dengan air mata, tatapannya juga kosong, terlihat seperti sangat shock.


Saat itu, Fadhil Affandi merasa anak ini sepertinya sudah tidak terbantu lagi, kemudian dia ingin memperkuat hubungan melalui pernikahan dengan keluarga Ardinata. Dan saat itu, keluarga Ardinata juga merasa Aaron dengan kondisi seperti ini yang pesimis, akhirnya setuju.


Dia bahkan tidak menyangka, lima belas tahun kemudian, anak yang saat itu dia lihat sudah tidak tertolong lagi, ternyata duduk di ruangannya, dan berani mengancamnya.


Setelah hidup lebih dari setengah abad, hal pertama yang menarik dirinya adalah, anak itu, yaitu Aaron Daffa Ardinata yang sekarang.


Fadhil Affandi menggelengkan kepalanya, terduduk lemas di kursinya, kemudian berbicara dengan suara yang serak dan parau. "Hal lainnya aku tidak tahu, saat itu aku hanya melihat seorang wanita yang mirip dengan ayahmu dari luar gedung bekas. Seharusnya itu adik dari ayahmu."


Aaron langsung mengangkat kepalanya, tatapan matanya mulai berkabut, lalu berucap dengan suara berat. "Apa aku terlihat seperti mudah untuk dikelabui?"


Dia tidak percaya pada ucapan Fadhil Affandi.


Adik dari Faisal Ardinata adalah Giandra Ardinata, yaitu ibu Kairav Robinson, yang berarti dia adalah bibinya.


Giandra Ardinata dan ibu Aaron adalah sahabat selama belasan tahun, dan setelah terjadi hal buruk pada ibunya, Giandra selama beberapa tahun itu terus tenggelam dalam kesedihannya.


Ditambah lagi, saat terjadi sesuatu pada ibunya, Giandra sedang berada di luar negeri.


"Tuan Muda Ardinata, di umurku yang seperti sekarang ini, sudah tidak memiliki permintaan apapun lagi, hanya ingin mempertahankan Perusahaan Affandi." Fadhil Affandi terlihat sangat lelah, dia bersandar pada sandaran kursinya dan menghela nafas.


Dia tidak perlu lagi mengelabui Aaron.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2