
Setelah tiba di kediaman Aaron, Aaron membaringkan Naura di atas tempat tidur, kemudian keluar mencari obat.
Sejak kaki Naura terkilir waktu itu, di dalam kamar diletakkan sebuah kotak obat, di dalamnya terdapat berbagai macam obat untuk luka maupun terkilir.
Aaron langsung menyilangkan kakinya duduk di atas karpet depan tempat tidur, kemudian meletakkan kaki Naura di atas lututnya. Dia mengeluarkan obat ke atas jarinya, kemudian menurunkan pandangan, mengolesi ke kaki Naura dengan serius.
Baru saja kembali ke kamar, jas yang dikenakan Aaron masih belum di lepas. Walaupun hanya duduk dengan bersilang kaki dengan asal di atas lantai, namun aura yang menguar dari tubuhnya tidak berkurang sama sekali.
Jika dilihat dari arah Naura, dia hanya dapat melihat rambut pendeknya yang menjuntai, bulu mata yang lentik, dan juga hidungnya yang mancung.
Naura sedikit menundukkan kepalanya, dan terlihat alis Aaron yang sedang berkerut, menipiskan bibir, tatapan Aaron fokus menatap punggung kakinya, seperti sedang mengurusi sebuah proyek yang rumit.
Masih dengan raut wajah yang dingin, namun dengan anehnya Naura merasa Aaron yang saat ini, sangat lembut.
Sering kali, seseorang yang sisi luarnya terlihat sangat keras, ternyata sisi dalamnya sangat lembut.
Naura teringat saat pertama kali dia bertemu dengan Aaron, pria itu masuk begitu saja ke dalam kamarnya, dengan nada bicaranya saat itu, membuatnya tidak pernah membayangkan jika suatu hari, pria itu akan mengolesi obat untuknya dengan sangat perhatian dan lembut.
Hati Naura tersentuh, kemudian memanggil namanya. "Aaron."
"Hmm." Aaron tidak mengangkat kepalanya, tangannya masih sibuk bergerak mengolesi obat.
Dia kira Naura memanggilnya ingin mengatakan sesuatu, namun setelah menunggu beberapa saat dia tidak mendengar suara Naura lagi, akhirnya dia mendongakkan kepalanya menatap wanita itu.
Kebetulan, dia juga sudah selesai mengobati Naura, lalu bertanya. "Ken–"
Belum selesai berbicara, tiba-tiba bibirnya dibungkam.
Naura sangat jarang menciumnya lebih dulu.
Pria itu hanya tertegun, kemudian bangkit berdiri, menekan Naura kembali berbaring ke atas tempat tidur.
Mungkin karena reaksi Naura yang terlihat pasrah, membuat nafas Aaron semakin memburu.
Kedua orang itu terus saling berpagut seperti tak terpisahkan. Tiba-tiba Aaron bangkit, kobaran api dalam matanya belum menghilang, kemudian dia berkata dengan suara seramnya. "Aku pergi mencuci tangan dulu."
Naura menatap punggungnya, merasa sedikit bingung. Apa hubungannya antara ciuman dan mencuci tangan?
Namun dengan cepat, Naura langsung mengerti hubungannya antara ciuman dan mencuci tangan.
Aaron dalam urusan ranjang, bisa dikatakan sangat terampil.
__ADS_1
Bahkan kecepatannya saat membuka pakaiannya juga menjadi sangat cepat, saat Naura tersadar, semua pakaian yang ada di tubuhnya telah hilang entah kemana.
Jari Aaron terus turun ke bawah, kemudian masuk begitu saja.
"Hemphh..." Naura mendesah sejenak.
Tatapan mata Aaron semakin berkabut, jari tangannya semakin masuk ke dalam tubuh Naura, keningnya telah mengeluarkan buliran keringat.
Tadi saat dia masuk ke dalam kamar mandi, dia melihat tatapan kebingungan Naura.
Jarinya bergerak dengan pelan beberapa kali, lalu bertanya pada Naura dengan pelan, namun nadanya bicaranya terdengar tajam. "Apa sekarang sudah tahu kenapa aku harus mencuci tanganku?"
Wajah Naura yang memang telah memerah, sekarang mendengar Aaron yang bertanya seperti itu, malah membuat wajahnya semakin memerah. Naura menggigit bibirnya sambil mendelik pada pria itu.
Aaron yang mendapatkan delikan dari Naura seperti itu membuat hatinya hampir terlepas. Dia kemudian mendekatkan wajahnya pada Naura, dan menciumnya sejenak. "Jelas-jelas kamu menyukainya."
Naura merasa malu dan kesal sekaligus. Saat ingin mengelaknya, tiba-tiba pria itu menyatukan tubuhnya.
"Ah..." Naura mendesah sejenak, jari-jarinya yang lentik mencengkeram bahunya, kukunya meninggalkan bekas cakaran yang memerah, merangsang Aaron semakin menjadi.
...
Keesokan harinya.
Aaron berkata dengan suara serak khas bangun tidur. "Kamu sudah tidak pergi bekerja, untuk apa bangun sepagi ini?"
Naura baru teringat, jika dirinya tidak perlu lagi pergi ke Perusahaan Affandi untuk bekerja.
Memikirkan hal ini, ternyata dia merasa sedikit hampa.
Benaknya yang berpikir seperti itu, tanpa sadar dia menyuarakannya.
Aaron yang berada di sampingnya sedang bangkit duduk bersiap untuk turun dari tempat tidur, mendengar hal itu dia berkata dengan penuh arti. "Aku bisa saja tidak pergi bekerja dan tetap tinggal di rumah mengisi kehampaanmu."
Naura: "..."
Dia mengulurkan tangannya mengusap pinggangnya sendiri dan berkata dengan kesal. "Cepatlah pergi kerja!"
"Semalam kamu tidak seperti ini, sekarang sudah terbangun dan memakai kembali pakaianmu maka kamu langsung berubah?" Aaron mengatakan hal yang tidak-tidak, namun raut wajahnya terlihat sangat serius.
Naura sangat yakin, seumur hidupnya mungkin dia tidak akan bisa melakukan hal memalukan seperti Aaron.
__ADS_1
Teringat dengan semalam, wajah Naura kembali memerah, kemudian kembali bergelung di dalam selimutnya dan berkata dengan serius. "Cepat pergi!"
"Dasar tidak sopan." Terdapat nada bercanda dalam ucapan Aaron. Dua membungkukkan tubuhnya memeluk tubuh Naura dengan dihalangi selimut, kemudian mengecupnya sejenak. "Kamu tidurlah lagi sebentar."
Setelah itu, terdengar suara air dari dalam kamar mandi.
Naura kembali terlelap ditemani suara guyuran air
Saat kembali terbangun, dia dibangunkan oleh Bibi Mei.
"Nyonya muda, apa kamu sudah bangun?"
Naura mengira jika Bibi Mei memanggilnya untuk makan, dia pun menegakkan tubuhnya untuk duduk, kemudian berteriak menjawab Bibi Mei. "Sebentar lagi aku akan turun."
Di luar kamar tidak terdengar suara Bibi Mei beberapa detik, kemudian kembali terdengar suara Bibi Mei. "Nyonya muda, Tuan besar sudah datang."
Ucapan Bibi Mei yang sedikit ambigu, membuat Naura menggaruk kepalanya bingung. "Tuan besar yang mana?"
Bibi Mei kembali bersuara. "Tuan besar dari rumah tua Ardinata."
'Kakek Ardinata?'
Sekujur tubuh Naura bergetar, seketika pikirannya menjadi sadar.
"Aku akan segera turun."
Selesai berucap, dia langsung melompat turun dari tempat tidur dan memasuki kamar mandi dengan terburu-buru.
Setelah mandi dengan cepat, dia memakai pakaiannya dan langsung turun ke bawah.
Untung saja di dalam rumah, jadi dia tidak perlu berdandan.
Naura berada di ujung tangga, melihat Bayu Ardinata yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
Bibi Mei sedang menyeduhkan teh untuknya, di belakangnya terdapat dua pengawal yang berdiri seperti penjaga pintu.
Naura sambil turun ke bawah, dia sambil memikirkan apa tujuan Kakek Ardianta datang ke sini hari ini.
Aaron saat siang hari tidak ada di rumah, Kakek Ardinata juga pasti mengetahui itu.
Jadi, apa Kakek Ardinata sengaja datang untuk mencari Naura?
__ADS_1
...----------------...