Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#50


__ADS_3

Dua hari kemudian. Hari ini hari senin. Naura pergi ke Perusahaan Affandi untuk bekerja. Dia sama sekali tidak peduli posisi apa yang akan diberikan oleh Fajar kepadanya. Dia sudah memegang saham perusahaan, lalu takut apa?


Sekarang, Naura sudah tidak lagi berpura-pura jelek dan menyembunyikan wajah aslinya. Dia juga tidak memakai pakaiannya yang dulu.


Perempuan mana yang tidak mau tampil cantik?


Naura juga mempunyai pakaian Bagus. Dia membelinya sendiri. Evelyn-sahabat baiknya juga tidak sedikit memberinya pakaian.


Naura teringat tentang Evelyn saat mereka masih SMA dulu.


Evelyn memiliki latar belakang keluarga yang baik. Saat di sekolah dulu, Evelyn merupakan murid pengganggu. Banyak orang yang disekolah yang mengikutinya, tapi tidak sedikit juga orang yang membencinya. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan.


Sering terjadi pertengkaran antar perempuan. Cara yang dipakai sangat rendahan, tetapi juga penuh dengan kejahatan.


Dengan jumlah mereka yang banyak, mereka pun memanfaatkan itu untuk menangkap Evelyn dan membawanya ke sebuah gedung sekolah tua yang sudah lama terbengkalai. Mereka mengeroyok Evelyn, menyuruhnya untuk menggonggong seperti anjing dan merobek bajunya lalu memotretnya.


Kebetulan saat itu Naura sedang memberi makan kucing liar dan mendengar ada suara teriakan. Dia mengambil besi yang sudah berkarat kemudian menghampiri ke sumber suara. Naura membuat kaget mereka dengan menunjukkan besi yang ujungnya runcing ke arah mereka.


Mereka pun terkejut sampai terlihat pucat. Kemudian mereka segera melarikan diri.


Semenjak itu, Naura dan Evelyn menjadi sahabat baik.


Naura memilih memakai mantel berwarna merah, dalaman sweater berwarna hitam dan juga memakai sepasang sepatu kulit berwarna hitam. Penampilan Naura yang seperti ini terlihat seperti wanita cerdas dan cakap.


Dia mengambil tasnya kemudian berjalan keluar dari kamarnya turun ke lantai bawah.


Naura melihat 'Samuel' sedang membawa secangkir kopi sambil membaca koran.


Mendengar suara langkah kaki dari arah tangga, Aaron mendongak dan seketika melihat Naura. Mantel merah yang dipakai Naura membuat kulitnya terlihat semakin putih. Bibir merahnya juga semakin cerah. Rambut panjang yang terurai Indah, membuat Naura tampak begitu mempesona.


Panjang mantel yang dipakai Naura hanya satu inci diatas lutut. Memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih mulus dan sangat Indah.


Naura terlihat begitu manis, langsing, lincah dan juga wangi.


Aaron menatap Naura beberapa saat dan tatapan matanya terkunci. "Saat kakak sepupu tidak ada, kamu memanfaatkan waktu ingin menggoda laki-laki lain?" Ucapnya dengan suara yang tidak enak didengar.

__ADS_1


Apa yang baru saja dikatakan bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan.


Tadi saat Naura bercermin didalam kamarnya, dia merasa dirinya terlihat sangat cantik. Jadi, suasana hatinya baik.


Naura berjalan mendekati 'Samuel' lalu sedikit membungkuk. Dia menatap 'Samuel' dengan sinis. "Kalau memang aku ingin menggoda, maka aku hanya akan menggoda Aaron Daffa suamiku! Jangan selalu berpikir negatif terhadap orang lain!"


Tangan Aaron gemetar mendengar ucapan Naura barusan hingga cangkir yang berisi kopi yang dipegangnya tumpah dan tumbah mengenai jasnya.


Melihat ini, Naura memberi tatapan tajam ke 'Samuel'. "Memegang cangkir saja tidak kuat? Apa ginjalmu bermasalah?"


Aaron meletakkan cangkir kopinya diatas meja sambil tersenyum tanpa membersihkan noda kopi di jasnya. "Kalau kamu ingin tau, kenapa tidak mencobanya?"


Naura mengacak rambut 'Samuel' dengan tersenyum sinis. "Mimpi!" Ucapnya kemudian berbalik dan pergi keluar.


Aaron terpaku dan terdiam. Dia merasa kalau gadisnya ini terlalu berani?


Setelah Naura keluar dari rumah mewah Aaron, dia menepuk dadanya dan menghela nafas panjang.


Musuh itu seperti pegas. Saat kamu lemah, maka dia akan menjadi kuat.


Tapi setelah apa yang dilakukan Naura barusan, Naura merasa kalau 'Samuel' tidak begitu menakutkan.


Naura segera pergi ke perusahaan Affandi.


Dia teringat saat masih kecil dulu, dia pernah sekali ikut Marsha ke perusahaan Affandi. Setelah dewasa, saat dia lewat perusahaan, hanya berdiri didepan melihat-lihat.


Dulu impiannya yang paling diinginkan adalah Merlin memperbolehkan dia sering melihatnya. Boleh lebih memperhatikan ibunya sedikit. Sejak awal, tidak pernah terpikir olehnya boleh masuk ke perusahaan Affandi, apalagi ingin mengambil saham.


Tapi ternyata, ada hari ini. Dia sama sekali tidak menyangka. Fajar Affandi mengundangnya untuk bekerja di perusahaan Affandi.


Naura menarik nafasnya dalam-dalam, menaikkan pandangannya kemudian berjalan masuk kedalam gedung perusahaan Affandi.


Hari pertama Naura datang belum memiliki ID Card khusus karyawan perusahaan. Dia langsung dihentikan oleh resepsionis. "Permisi Nona! Mau mencari siapa?"


Naura berbalik menatapnya dengan tersenyum. Terlihat senyuman yang manis dan sepasang matanya yang begitu indah. "Aku Naura Kemala Affandi datang kesini untuk bekerja."

__ADS_1


Eh..apa? Keluarga Affandi? Batin resepsionis sambil menatap Naura.


"Siapa ya?" Tiba-tiba terdengar suara Marsha dari belakangnya dengan diiringi bunyi sepatu high heelsnya yang semakin mendekat.


Marsha berjalan dan berhenti didepan Naura. Setelah melihat Naura, dia langsung terkejut melototkan matanya. "Kamu..kamu siapa?!"


"Hai kakak! Aku Naura. Apa kakak sudah tidak mengenal aku?" Tanya Naura dengan suara yang begitu lembut. Tapi dipendengaran Marsha, suara Naura terdengar seperti ada suatu perasaan aneh yang dalam.


Tanpa sadar, Marsha pun melangkah mundur. "Kenapa kamu..berubah seperti ini?!"


"Dari awal, aku memang sudah seperti ini. Kakak lihat aku baik-baik. Aku ini adik kandung kamu. Kalau kamu saja tidak mengenal aku, apa tidak akan menjadi lelucon untuk orang lain?" Ucap Naura sambil melangkah mendekati Marsha.


Marsha terdiam dan masih sangat terkejut dengan perubahan wajah Naura.


Naura maju selangkah, Marsha mundur selangkah.


Malam itu, di Bar 99, para lelaki hidung belang itu tidak berhasil menyentuh Naura dan Marsha sudah tau. Tapi, Marsha merasa tidak percaya. Dia sudah merencanakan semuanya dengan sempurna. Bagaimana Naura bisa kabur keluar?


Jadi, waktu itu, Marsha sengaja meminta Merlin mengajak Naura pergi keluar untuk makan. Dia hanya ingin melihat dan memastikan apakah Naura baik-baik saja atau tidak.


Resepsionis dan beberapa karyawan memperhatikan mereka sambil berbisik-bisik.


"Menurut gosip, bukankah Nona ketiga dari keluarga Affandi ini sangat jelek dan idiot? Lalu, apa dia baru saja kembali pulang operasi plastik dari luar negeri?"


"Sikap Nona Marsha biasanya begitu anggun dan lincah di perusahaan, tapi sepertinya dia terlihat takut dengan adiknya?"


Seketika Marsha tersadar dan dia menahan kemarahannya sambil menggertakkan giginya. "Iya, kamu adik kandungku. Aku begitu menyayangi kamu sampai aku memberikan calon suamiku ke kamu. Mana mungkin aku tidak mengenal kamu?"


Wah! Dulu di media sosial, Marsha mengatakan kalau Naura merebut calon suaminya. Sekarang, dia mengatakan kalau dia memberikan calon suaminya kepada Naura?🥴


Naura masih dengan lembut dan tersenyum ramah menatap Marsha. "Terimakasih atas kebaikan hati kakak yang sudah membiarkan aku menikah dengan seseorang yang begitu sempurna."


"Kamu!" Tunjuk Marsha masih berusaha menahan kemarahannya.


Sejak dulu, Marsha selalu menginjak-injak Naura. Melihat Naura sudah berubah begitu sombong dan bangga, membuat Marsha menatapnya dengan penuh kebencian dan sangat ingin mencabik-cabik wajah Naura.

__ADS_1


..._________...


__ADS_2