Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#131


__ADS_3

Di dalam kamar mandi, sekujur tubuh Naura sudah tidak bertenaga dan membiarkan Aaron bebas melakukan apapun. Dia benar-benar sudah tidak memiliki tenaga, hanya dapat menyipitkan matanya dan melihat Aaron sekilas.


Cih, sekali lagi?!


Ucapan pria memang tidak bisa dipercaya, terutama pria dengan pemikiran seperti Aaron.


Naura menatap pria yang mengatakan akan memandikannya itu mulai menggerakkan tangannya dengan sembarangan. Naura menepis tangannya. "Kamu keluar, aku akan mandi sendiri."


"Yakin?" Aaron manatapnya. Iris matanya yang hitam itu sarat akan senyuman menggoda, menunjukkan perasaannya yang senang, aura tubuhnya yang tadinya kelam terlihat jauh berkurang, kini terlihat mulai berseri.


Lalu, apa hebatnya jika tampan?


Naura menolehkan kepalanya. "Yakin."


Mendengar itu, Aaron tersenyum menggoda. "Kalau begitu, aku akan keluar?"


Naura menjawab dengan kesal. "Cepat keluar!"


Aaron mengikuti keinginan wanita cantik ini, dia bangkit berdiri dan melepaskan Naura.


Belum melangkah keluar, tubuh Naura yang bebas dari genggamannya langsung merosot masuk ke dalam bath up.


Aaron yang melihatnya, dengan cepat mengulurkan tangannya dan menariknya keluar.


Naura: "……"


……


Setelah kedua orang itu selesai mandi dan kembali ke ranjang, langit sudah hampir terang.


Saat Aaron terbangun, Naura masih tertidur dengan sangat lelap. Kehangatan di dalam selimut, membuat wajahnya yang putih mulus menjadi memerah. Bulu matanya yang panjang terlihat berbayang di bawah matanya. Dia terlihat menurut dan begitu tenang seperti seekor kucing.


Tiba-tiba, terdengar suara pintu yang dibuka dengan pelan dari luar.


Mata Aaron sedikit berkilat. Dia membenarkan selimut ditubuh Naura, kemudian bangkit berdiri memakai jubah mandinya, dan berjalan keluar dengan pelan.


Di ruang tengah, terlihat Christian yang membuka pintu masuk kedalam, melihat ruang tengah yang sunyi. Dirinya merasa sedikit tidak yakin, apakah semalam kedua orang itu berhasil melakukannya?


Aaron menutup pintu kamar, lalu berjalan beberapa langkah ke depan, berpapasan dengan Christian yang sedang berjalan ke arahnya.


Christian yang melihat Aaron, tertegun sejenak. "Kamu, bangun sepagi ini?"


Jangan-jangan semalam memang tidak berhasil. Jika tidak, bagaimana dia bisa bangun sepagi ini?


Aaron mendatarkan wajahnya, menatapnya dengan dingin. "Kamu masih berani datang?"


Saat ini, sudut mata Christian melihat tanda kemerahan yang ada di leher Aaron. Terlihat tanda seperti dicakar. Dia tersenyum kecil. "Kenapa aku tidak berani datang? Kurasa seharusnya sekarang kamu sangat berterimakasih padaku."


"Cih!" Aaron tersenyum dingin, saat ingin berucap, dia mendengar ada suara kecil dari belakang tubuhnya.


Dia menajamkan pendengarannya sejenak, tapi suara kecil itu sudah tidak ada.


Aaron sedikit menggelapkan raut wajahnya dan menatap Christian. "Berterimakasih karena kamu memasukkan obat perangsang padaku?"

__ADS_1


"Cih! Itu bukan aku yang melakukannya! Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu!" Christian buru-buru mengelak.


Wine yang diminum Aaron semalam, sebenarnya seseorang memberikannya pada Christian. Belakangan ini ntah apa yang terjadi, Christian mengatakan ingin berhenti dari minuman beralkohol. Maka Aaron membantunya menghabiskannya.


Hasilnya, muncul masalah saat dia meminumnya.


Walaupun Christian tidak berani mengatakan dia mengetahui apa yang dipikirkan oleh Aaron, namun dia bisa memastikan, jika Aaron pasti telah mencintai Naura.


Firasatnya tanpa berpikir panjang, langsung memanggil Naura untuk datang kemari.


Aaron bersedakap, menatapnya dengan dingin, tidak mengatakan apapun.


Christian menyukai minuman beralkohol. Mengenai bahan-bahan yang ada di dalam wine, dia sangat mengerti dengan hal itu.


Jadi, semalam dia sengaja memberikan wine itu pada Aaron.


Walaupun Aaron memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi, namun dia tidak terlalu waspada pada Christian. Maka dari itu, dia masuk kedalam perangkapnya.


Christian merasa bersalah karena ditatap olehnya. "Baiklah, aku mengaku. Aku tau wine itu bermasalah....."


"Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti." Aaron memotong ucapannya dengan dingin, kemudian membalikkan tubuhnya dan kembali kekamar.


Mendengar itu, Christian merasakan dingin dilehernya. Dia telah melakukan hal yang baik, masih harus diberi perhitungan?


Entah, apakah bisa jika dia kabur sekarang?


Aaron berjalan hingga kesisi pintu, menyadari bawha pintu kamar tidak tertutup dengan rapat. Terlihat celah kecil di pintu.


Saat dia keluar tadi, dia telah menutup pintunya dengan rapat.


Aaron tau bahwa Naura telah menguping pembicaraannya barusan dengan Christian.


Dia mengambil sandal itu, lalu meletakkannya disisi sansal satunya yang ada disamping ranjang. Kemudian dia membalikkan tubuhnya, mengambil pakaian di lemari dan masuk ke dalam kamar mandi.


Mendengar suara pintu yang ditutup, Naura mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut.


Suara air shower terdengar dari dalam kamar mandi. Naura memaksakan tubuhnya yang terasa remuk untuk turun dari ranjang, kemudian memungut pakaian yang dilempar dan memakainya.


Dia menenteng sandalnya, kemudian berjalan keluar dengan perlahan.


Setelah keluar dari kamar, dia baru memakai sandalnya, kemudian berlari kecil.


……


Naura yang keluar dari lift, melihat Christian dan Daniel.


Daniel duduk disofa dengan tenang, sedangkan Christian terlihat sangat gelisah. Dia kadang menggelengkan kepalanya dan mengibaskan tangannya, seperti sedang mengeluh pada Daniel.


Tadi saat di dalam kamar, percakapan antara Aaron dan Christian, Naura mendengar semuanya.


Evelyn selalu tidak menggubris Christian, pasti juga ada alasannya.


Jika dirinya Evelyn, dirinya juga tidak ingin menggubris Christian.

__ADS_1


Walaupun emosi Aaron tidak bisa ditebak, setidaknya dia lebih terbuka dibandingkan dengan Christian.


Naura dengan langkah pelan berjalan ke sana, kebetulan mendengar Christian berkata. "Pasti dikehidupan sebelumnya, aku berhutang pada Tuan Besar Ardinata, jadi sekarang aku baru membayar hutang itu. Jelas-jelas, dia adalah bos besar AD Entertainment, tapi setiap kali ada masalah, dia pasti akan lepas tangan dan menyerahkan perusahaan kepadaku dan aku tidak bisa melawannya. Seperti masalah semalam, aku juga berniat baik, apa di dalam hatinya juga tidak menginginkan ini terjadi? Aku....."


Belum selesai berbicara, tapi dia menyadari bahwa tatapan Daniel mengarah ke arah belakang dirinya. "Apa yang kamu lihat?"


Christian mengikuti arah tatapan Daniel, menolehkan kepalanya ke belekang. Begitu melihat Naura, dia terkejut hingga sedikit melotot. "Kamu...kenapa kamu ada disini?"


Naura sedikit memiringkan kepalanya, wajahnya terlihat dingin dan mirip seperti aura Aaron. "Hanya lewat. Kamu lanjutkan saja bicaramu."


Christian tidak berani lagi berbicara. Dia bisa saja mengatakan pada Aaron dan Daniel, jika semalam dia memanggil Naura kemari, sengaja untuk membantu Aaron.


Namun, dihadapan Naura, dia tidak berani mengatakan seperti itu.


"Tidak...tidak ada yang dibicarakan. Aku hanya....." Christian yang ditatap dengan dingin oleh Naura, merasa keanehan disekujur tubuhnya.


Pemikirannya benar-benar salah. Sebelumnya dia bertemu dengan Naura, dia merasa seharusnya Naura wanita yang lembut.


Namun sekarang, ditatap dingin seperti ini olehnya, dia merasa seperti melihat bayangan Aaron di dalam wanita itu. Ini membuatnya merasa bersalah.


"Bos besar AD Entertainment? Aaron Daffa Ardinata?" Naura menaikkan alisnya. "Jadi, undangan lowongan pekerjaan yang dikirimkan oleh AD Entertainment sebelumnya itu, juga perbuatan dari Aaron?"


Christian merasa situasi seperti tidak terlalu baik. Dia menganggukkan kepala, tapi kemudian terburu-buru mengelak. "Bu...bukan. Itu perbuatanku!"


"Oh, aku mengerti." Ucap Naura dengan pelan, kemudian membalikkan tubuhnya dan pergi.


Christian menatap punggung Naura yang menjauh, dia bertanya pada Daniel. "Kenapa aku merasa, masalah ini menjadi membesar?"


"Hmm." Daniel hanya menganggukkan kepalanya setuju.


Seketika, raut wajah Christian membeku, sekujur tubuhnya menegang. "Sebaiknya, aku kabur dulu. Sekarang, aku mau pulang untuk membereskan koper." Christian bangkit berdiri dan akan berlari keluar.


Baru saja melangkah satu langkah, dia mendengar suara Aaron dibelakangnya. "Apa kalian melihat Naura?"


"Dia baru saja pergi." Jawab Daniel.


Christian menolehkan kepalanya, kebetulan Aaron juga sedang menatapnya. Christian pun menjadi panik dan berkata dengan sedikit terbata. "A...Aaron."


"Apa yang kamu takutkan? Aku tidak akan membuat perhitungan denganmu. Ucapan tadi, hanya agar Naura mendengarnya." Bahkan terlihat senyuman kecil di wajah Aaron. "Aku akan mentraktirmu minum nanti."


"……" Christian takut jika nanti Aaron bukan hanya tidak ingin mentraktirnya minum, tapi juga ingin membunuhnya.


Aaron membalikkan tubuhnya dan pergi mengejar Naura.


Namun, jika dipikir lagi, walaupun semalam mereka melakukan hal yang intim, tapi ini pertama kalinya untuk Naura. Disituasi seperti ini, merasa malu adalah hal yang wajar.


Jika sekarang Aaron pergi mengejarnya, belum tentu istrinya itu juga mau menemuinya.


Akhirnya, dia menolehkan kepala kearah Christian. "Ayo pergi ke perusahaan bersama."


"Tidak perlu, aku belum sarapan."


Aaron menganggukkan kepala. "Aku juga belum. Ayo."

__ADS_1


Christian: "……" Dia hanya ingin melarikan diri saja. 😅


...----------------...


__ADS_2