
Aaron tidak menghiraukan kemarahan Christian. Dia membalikkan kepala melihat ke arah Naura, seperti akan berlari menangkap dia.
Naura pun membalikkan badan hendak pergi, tapi langsung dipanggil olehnya.
"Naura."
Naura menoleh melihat dia dan menunjukkan senyum yang dipaksakan. "Kalian lanjutkan saja. Aku hanya lewat."
Selesai bicara, dia berjalan melewati mereka pergi ke dapur mengambil air minum.
Saat keluar dapur, Aaron dan Christian, mereka berdua tidak terdengar bicara lagi. Tapi, tiba-tiba Christian melihatnya dan tersenyum. "Naura, apa Evelyn menelepon kamu?"
"Iya." Jawab Naura sambil berjalan ke hadapan mereka dan duduk di sofa sebelah Aaron.
Mendengar itu, mata Christian langsung berbinar. Tapi seketika, matanya kembali meredup setelah mendengar ucapan Naura selanjutnya.
"Dia bilang kepadaku, kalau kamu seorang laki-laki buaya darat." Naura berbicara sambil tersenyum, terlihat tidak seperti ingin menyerang.
Tapi, Christian yang mendengarnya merasa tidak baik.
"Aku adalah korban. Aku tidak melakukan apa-apa dengan dua wanita itu. Hari itu, aku sedang....." Christian tiba-tiba berhenti bicara. Dia menatap ke arah Aaron sekilas kemudian menutup mulutnya.
"Malam itu, aku minum terlalu banyak dan menginap di Bar Star Light, tidak bermalam dengan dua wanita itu."
"Kamu jelaskan sendiri pada Evelyn." Naura menatap Christian dengan tatapan dingin.
Christian mengerutkan keningnya. "Tapi dia tidak mengangkat teleponku."
"Kamu bisa pergi mencari dia dan kamu seharusnya tau dimana dia berada. Kalau sampai kesalahpahaman kecil seperti ini saja kamu tidak bisa menjelaskan, lebih baik jangan terus mengejar dia." Naura tidak berencana bicara banyak. Dia meneguk air minumnya sedikit lalu beranjak ingin kembali ke kamar.
Tapi Aaron yang dari tadi diam, tiba-tiba mengulurkan tangan dan mengambil gelas dari tangan Naura kemudian meneguk air minumnya.
"Eh, air itu....." tadi sudah aku minum.
Naura melihat Aaron yang sudah meneguk air minumnya, kembali menelan kembali kalimat terakhirnya dan hanya bisa dia ucapan dalam hati. Wajahnya memerah.
Dia tidak bermuka tebal seperti Aaron, apalagi didepan orang lain.
Naura tidak mengambil gelasnya, langsung membalikkan badan dan naik ke lantai atas.
__ADS_1
Christian melihat Naura naik ke atas, dia kemudian berkata pada Aaron. "Kenapa dulu, aku tidak merasa ucapan Naura tajam seperti ini?"
Tidak menungu Aaron menanggapinya, dia kembali bicara sendiri. "Nada bicaranya yang seperti ini, hampir mirip sepertimu."
"Jangan sembarangan bicara, cepat pergi cari artis kecilmu itu!" Ucap Aaron kemudian dia juga akan beranjak naik ke lantai atas.
Christian kehabisan kata-kata. "Kamu tidak menyuruhku tinggal untuk makan disini?"
Aaron dengan wajah tanpa ekspresi membalikkan kepala melihatnya. "Pergi!"
Pagi tadi, dia makan mie yang asin sampai terasa pahit itu, juga tatapan Samuel.
Sejak Naura tau kalau dia adalah Aaron Daffa, Naura tidak lagi bersikap baik padanya.
Jangankan mau memasak, dia saja tidak ada jatah makan, Christian mau numpang makan?
Christian tidak tau bagaimana dirinya membuat Tuan Muda Ardinata ini marah, tapi sekarang dia ada urusan yang lebih penting yang harus dilakukan. Tidak ada waktu untuk membuat perhitungan.
…
Aaron masuk kedalam kamar, melihat Naura duduk di sofa dengan membawa laptop.
Aaron berjalan menghampiri, memiringkan badan dan melihat sekilas, melihat film yang sedang ditontong Naura adalah film yang diperankan oleh Kairav Robinson.
Dengan raut wajah yang dingin, dia menutup laptop Naura.
Sontak Naura melepas earphone-nya dan menatapnya. "Apa yang kamu lakukan?"
Dia seperti ingin marah, tapi kembali mengurungkan niatnya. Meskipun raut wajahnya tidak ada perubahan, tapi dari sorot matanya masih terlihat sedikit kemarahan.
Kalau seperti ini, dia terlihat sedikit imut.
Aaron menyeringai, menahan tawa menatap Naura. "Kamu sudah dengar semua?"
"Dengar apa?" Naura berpura-pura bodoh.
"Berita tentang Christian. Keluarga Affandi sengaja membayar orang untuk membuat berita itu. Pengaruh Christian di dunia entertainment tidak kecil, tujuan mereka untuk mengalihkan perhatian publik agar berita tentang Perusahaan Affandi hilang." Ucap Aaron dengan pelan dan terdengar begitu tenang.
Tapi pandangan matanya menatap Naura lekat-lekat, memperhatikan respon Naura.
__ADS_1
"Siapa yang melakukan?" Naura berpikir sejenak, kembali kembali berkata. "Marsha?"
Keluarga Affandi selain Marsha yang suka bertindak sembrono, Naura tidak terpikir siapa lagi.
Meskipun Christian orang di dunia entertainment, tapi AD Entertainment adalah kepala di industri dunia hiburan. Lebih kuat berlipat-lipat dibandingkan dengan Perusahaan Affandi.
Orang seperti Christian dijadikan sebagai tameng, bagaimana mungkin bisa dengan mudah melepaskan Perusahaan Affandi begitu saja.
Ucapan Christian tadi, Naura juga sudah mendengar.
Aaron tidak mengatakan "ya" atau "tidak". Dia kembali bicara dengan serius. "Apa kamu mau aku membantu Perusahaan Affandi melewati masa sulit?"
"Apa maksud kamu?" Naura merasa ada maksud dibalik ucapan Aaron ini.
"Kalau kamu ingin aku membantu, aku akan membantu. Tapi kalau kamu tidak ingin aku ikut campur, maka aku juga tidak akan peduli." Aaron menunjukkan senyum yang penuh arti, tidak ada keraguan di sorot matanya.
Naura terus merasa, paras Aaron Daffa lebih dari orang pada umumnya. Di dunia entertainment, tidak ada yang memiliki paras lebih tampan dari Aaron. Kalaupun ada, kualitasnya pasti tidak lebih dari Aaron.
Dilihat Aaron dengan tatapan seperti itu, dalam sekejap Naura menjadi bengong.
Apa Aaron mulai menggoda Naura lagi?
Hanya dengan mendengar ucapan Naura, apa Aaron benar-benar akan melakukannya?
Mereka berdua terus berpandangan seperti ini, tidak ada yang lebih dulu membuka percakapan, juga tidak mengalihkan pandangannya. Sampai terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.
"Tuan Muda, Nyonya, makan malam sudah siap."
Naura tersadar dari lamunannya. Dia menggigit bibirnya, kemudian berkata pada Aaron. "Aku mau kamu membantu Perusahaan Affandi."
"Oke." Tidak ada keraguan. Aaron memberikan jawaban yang pasti.
Padahal, Naura tidak tulus ingin membantu Perusahaan Affandi. Dia hanya merasa tidak percaya dengan ucapan Aaron Daffa.
Membantu Perusahaan Affandi, tidak ada keuntungan baginya. Malah sebaliknya, membantu Perusahaan Affandi adalah sesuatu yang merepotkan dan menghabiskan tenaga saja.
Orang yang pintar, tidak akan mau melakukan hal ini!
...__________...
__ADS_1