Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#154


__ADS_3

Sebelum jam makan siang, Aaron sudah kembali pulang.


Makan siang hari ini, pengawal yang membuatnya. Sekarang ini Naura sedang terluka, tentu saja tidak memungkinkannya untuk memasak.


Aaron hanya makan sedikit kemudian meletakkan garpu dan pisaunya. Naura juga hanya makan beberapa suap. Hanya Samuel yang makan dengan lahap.


Samuel langsung pergi begitu saja setelah selesai makan.


Aaron dan Naura masih duduk berhadapan, tiba-tiba Aaron mengeluarkan suaranya. "Apa yang ingin kamu katakan?"


Naura mengangkat kepalanya dengan sedikit terkejut. Tanpa dia mengatakannya, pria ini tau jika dia ingin mengatakan sesuatu kepadanya?


Aaron mengetahui pikirannya dari raut wajahnya. "Tertulis jelas di wajahmu, ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku, ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan padaku."


"......" Naura mengusap wajahnya. Apa terlihat jelas?


Naura berdehem sejenak. "Apa boleh aku menanyakan sesuatu?"


Aaron sedikit menaikkan alisnya. Tadi pagi saat dia pergi, istrinya ini masih berucap dengan kesal padanya, sekarang dia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu namun ditahannya, membuatnya semakin mencurigakan.


Aaron menyunggingkan sudut bibirnya, tersenyum kecil menatapnya. "Jika kamu tau tidak boleh bertanya, maka jangan bertanya."


"Karena kamu sudah mengetahui niatku, jadi aku tidak boleh bertanya padamu?" Naura juga ikut menyunggingkan sudut bibirnya tersenyum, menatapnya lurus dengan mata yang berbinar. "Kamu juga merasa aku mirip dengan Caroline, iya kan?"


Raut wajah Aaron yang awalnya terlihat santai, seketika menghilang, digantikan dengan raut wajahnya yang terlihat sedikit menggelap. "Samuel yang memberitahumu?"


"Jika masalah yang sangat ingin ku ketahui, walau orang lain tidak memberitahuku, aku bisa mengetahuinya sendiri!"


Aaron yang mendengar hal itu, yakin seratus persen jika Samuel yang memberitahunya. Dia sedikit memicingkan matanya berucap: "Dia memberitahumu jika kamu sangat mirip dengan Caroline?"


Caroline?


Panggilannya terdengar sangat akrab.


Aaron selalu memanggilnya "Naura", saat ingin dia pergi menghadiri acara perjamuan makan malam, maka dia akan memanggilnya "Sayang".


Naura merasa dirinya sungguh menggelikan karena merasa cemburu pada wanita yang tidak mungkin ada di dunia ini.


Naura tersenyum kecut, mengerutkan wajahnya tidak berucap apa pun.


Tiba-tiba Aaron berkata: "Menurutku, kalian tidak mirip sama sekali."

__ADS_1


Setelah mengatakan ini, dia langsung bangkit dari duduknya dan pergi.


……


Karena mengungkit soal Caroline, Naura dan Aaron yang sejak awal memang tidak memiliki hubungan yang hangat, kini berubah menjadi semakin dingin.


Berada bersama dengan Aaron, Naura merasa ada yang aneh dengan tubuhnya dan malam ini dia langsung memeluk bantal lalu pergi tidur di kamar yang sebelumnya dia tempati.


Baru saja dia terbaring di atas ranjang, Aaron datang mencarinya.


Dia berdiri di depan pintu dengan menyilangkan kedua lengannya menatap Naura datar. "Naura, kamu ingin tidur pisah kamar denganku?"


Raut datar Aaron membuat Naura merasa sedikit bersalah.


Setelah meragu sejenak, dia berucap mencari alasan. "Kakiku sedang terluka, aku takut saat tidur kamu tidak berhati-hati mengenai kakiku."


Aaron mendengar hal itu, sudut bibirnya tersungging tersenyum mengejek. "Kemarin malam saat membuatmu pingsan di kamar mandi, aku bahkan tidak menyentuh kakimu sama sekali, lalu saat tidur bisa mengenai kakimu?"


"......" Wajah Naura memerah, membuka mulutnya, namun tidak menemukan kata yang pas untuk diucapkannya.


Dia kemudian melemparkan bantal yang ada disampingnya ke arah Aaron. "Keluar kamu!"


Aaron menghindar dengan santai dan berkata dengan sedikit melembut: "Jangan merajuk lagi, kembali tidur di kamar."


Saat dia kembali tadi masih baik-baik saja, sejak Naura membicarakan Caroline, laki-laki itu berubah menjadi aneh.


Apa laki-laki itu mengira Naura tidak menyadarinya?


Aaron bisa saja menyelidiki semua hal mengenai dirinya dari kecil hingga dewasa, namun saat Naura hanya bertanya padanya mengenai tunangan kakak sepupunya saja, Aaron langsung menjadi aneh seperti ini.


Aaron menjadi aneh seperti karena wanita lain, apakah Naura tidak boleh menunjukkan ketidak senangannya?


Di mata Aaron, ini hanya sebuah rajukan?


Apa pun yang dilakukannya itu benar, sedangkan Naura menyuarakan sedikit kekesalannya itu termasuk merajuk?


Merajuk kepalamu!


Semakin dipikirkan, Naura merasa semakin kesal. "Tidak mau!"


Dan juga masalah saat di perjamuan malam itu, juga hanya kesimpulan Naura.

__ADS_1


"Saat di perjamuan malam itu, kakak hanya menggenggam tanganku, kenapa kamu bereaksi berlebihan seperti itu? Apa yang kamu curigai?! Apa yang kamu kesali?! Jika kamu marah, kamu berkelahi saja dengan kakakmu! Kenapa kamu menyiksa aku?!"


Naura semakin merasa tidak diperlukan dengan benar hingga dia berbicara dengan suara memekik terlihat sedikit memaksa orang.


Sangat sedikit orang dan masalah yang bisa mempengaruhi suasana hati Aaron. Sedangkan sekelebat tindakan anehnya ini, semuanya berhubungan dengan Caroline.


"Reaksimu sampai seperti ini, karena sejak awal kamu merasa aku mirip dengan Caroline, kan? Dan Kairav juga merasa aku mirip dengan Caroline, jadi saat dia mabuk tanpa sadar menggenggam tanganku dengan kuat. Kamu mengetahui hal ini, maka dari itu kamu marah!"


Naura masih terus berbicara. "Aaron, kamu tanyakan pada dirimu sendiri, sebenarnya kamu marah pada Kairav karena dia menggenggam tanganku, atau marah karena Kairav menggenggam tangan Caroline?!"


"Kamu mengatakan jika aku tidak mirip dengan Caroline, itu semua kebohongan! Kamu membohongiku!"


Naura selesai berucap, perasaannya terasa menggebu, nafasnya sedikit terengah-engah.


Dengan wajah yang dingin, Aaron berdiri didepan pintu. Beberapa saat kemudian, dia berkata. "Kamu berpikir seperti itu?"


"Tidak penting bagaimana pemikiranku, yang terpenting adalah bagaimana pemikiranmu!" Naura tersenyum kecut. "Sejak awal, saat aku menikah dan masuk ke dalam keluarga Ardinata, walaupun kamu menunjukkan ketidaksukaanmu padaku, namun terkadang kamu menyentuhku, apa karena aku mirip dengan Caroline?!"


Kali ini, kegelapan yang ada diwajah Aaron menghilang, dan menunjukkan sebuah kepanikan. "Naura, kamu jangan asal bicara!"


Naura menyunggingkan sudut bibirnya, tersenyum dengan sangat dingin. "Kamu tidak berani menjawab, karena kamu tau dengan jelas, karena aku mirip dengan Caroline, sehingga kamu mendekatiku."


Samuel pernah mengatakan, jika Caroline berasal dari keluarga Suwandi. Nama lengkapnya adalah Caroline Theresia Suwandi.


Aaron memperlakukannya dengan baik, dengan spesial, bukan karena dia Naura. Tapi karena dia mirip dengan wanita yang bernama Caroline Theresia Suwandi.


Dia selalu menunjukkan padanya, melihat ke wanita lain.


Kebaikannya pada Naura, juga karena memikirkan wanita lain, yang dia bayangkan pada diri Naura.


Dia tidak pernah memiliki apapun, semua ini milik wanita yang bernama Caroline itu.


Walaupun di dalam benak Naura sudah mengerti akan semua ini, namun hatinya berharap mendapatkan sebuah penolakan dalam jawaban Aaron.


Dia berharap mendengarkan kata "bukan" dari mulut Aaron.


Namun Aaron tidak melakukannya.


Dia malah membalikkan tubuhnya dan pergi sambil membanting pintu, dengan bayangan yang terlihat panik.


Naura mendongakkan kepalanya, bersandar pada kepala ranjang, membuka matanya menatap atap yang berukir.

__ADS_1


Dia mendongakkan kepalanya, agar air matanya tidak dapat mengalir turun.


...----------------...


__ADS_2