
Membaca makian dari para netizen yang kasar, membuat Naura merasa marah dan tidak tahan lagi.
Dia pun mengambil ponselnya dan menelpon Marsha. Telepon tersambung lama baru kemudian diangkat oleh Marsha.
"Ada apa? Kenapa menelponku?" Tanya Marsha dengan datar dan terdengar lembut seolah tidak mengetahui tentang berira yang ada di sosial media.
"Tentang berita di internet, apa maksudnya?" Tanya Naura dengan datar dan tersenyum dingin, tapi hatinya dipenuhi dengan kemarahan.
Dia sudah melihat semua berita di sosial media juga diinternet. Bahkan semua media entertainment juga menulis berita tentang dirinya.
Banyak sekali orang sedang membahas berita tentang orang kaya di kota B ini. Tentu saja membuat perusahaan entertainment tidak ingin melewatkan kesempatan ini.
"Berita apa? Aku ini selalu sibuk. Sebelum kakak laki-lakiku kembali dari studynya di luar negeri, aku harus membatu ayah mengurus perusahaan. Tidak sepertimu yang selalu santai sampai tidak ada kerjaan melihat berita diinternet!" Ucap Marsha yang terdengar meremehkan dan menunjukkan bahwa dia memiliki kekuasaan dimana mana.
Marsha bekerja diperusahaan Affandi setelah lulus kuliah. Sedangkan Naura? Jangankan bekerja di perusahaan Affandi, setelah lulus kuliah dia pernah bicara dengan Merlin ingin ikut bekerja di perusahaan Affandi, tidak masalah jika berada diposisi terendah.
Tetapi Merlin juga meremehkannya. "Kemampuanmu tidak sebanding dengan kakakmu. kamu tidak akan bisa membatu apa-apa. Kamu cari kerja sendiri diluar sana!"
Apalagi Fajar Affandi. Dia lebih tidak mengurusi study dan pekerjaannya.
Memikirkan ini, kemarahan dihati Naura menjadi semakin bertambah.
"Kamu tidak usah berpura-pura tidak tau! Aku tau kalau kamu yang melakukan ini kan?! Kamu ingin melakukan apa, aku juga tidak pernah tau rencanamu. Tapi yang aku tau, meksipun kamu ingin menumpahkan lumpur sekalipun ditubuhku, itu tidak akan ada gunanya! Sekarang ini, aku adalah anggota keluarga Ardinata. Kalaupun keluarga Ardinata tidak menyukaiku, mereka juga tidak akan pernah dengan mudah membiarkan orang lain merusak nama baikku!"
Marsha terpaku sejenak dan raut wajahnya berubah ketika mendengar ucapan Naura. Dalam pikirannya, kalau Naura adalah gadis jelek dan sangat bodoh. Tapi, setelah menikah dengan Aaron dan masuk kedalam keluarga Ardinata, Naura menjadi tidak begitu bodoh.
Tidak ingin terlalu memikirkan ucapan Naura yang terdengar seperti orang pintar. Baginya, sedikit kepintaran saja tidak berarti apa-apa.
"Lalu, bagaimana dengan ibumu? Apa kamu sudah tidak peduli?" Tanya Marsha dengan tersenyum dan terdengar lembut.
__ADS_1
"Ibu? Terserah kamu!" Jawab Naura dengan datar sambil mengepalkan tangannya sangat erat.
Sebelumnya, setiap kali Marsha menyuruhnya untuk melakukan sesuatu, hanya dengan satu kalimat dari Merlin, Naura akan langsung menurut seperti seekor anjing peliharaan.
Jadi, Marsha tau kalau yang dipedulikan Naura adalah Merlin ibu kandungnya.
Setelah menjawab, Naura langsung menutup panggilan teleponnya dan meletakkan ponselnya kembali. Begitu dia meletakkan ponselnya, dia merasa seperti ada yang memperhatikannya.
Naura menoleh kearah pintu dengan wajah terkejut karena entah sejak kapan pintunya terbuka dan melihat sesosok laki-laki tinggi tegap sedang berdiri bersandar dikusen pintu memperhatikannya.
Siapa lagi kalau bukan 'Samuel'? Laki-laki yang sangat menyebalkan itu.
Seingatnya, semalam dia sudah mengunci pintu kamarnya. Tapi kenapa 'Samuel' bisa masuk?
"Kamu? Kenapa kamu bisa masuk?"
Wajah Naura berubah menjadi marah. "Keluar kamu!"
Tidak tau kenapa 'Samuel' bisa punya kunci kamarnya.
Aaron masih memperhatikan Naura yang menjadi sangat marah hingga wajahnya memerah. "Apa kamu sedang ada masalah?" Tanyanya dengan datar.
"Bukan urusan kamu!" Jawab Naura dengan menatapnya dingin sambil menarik selimutnya.
"Memang benar bukan urusanku. Tapi, kalau kamu memohon kepadaku, aku bisa mempertimbangkan untuk membantumu." Ucap Aaron menatap Naura dengan tatapan dalam.
Tentu saja Naura tidak akan mau memohon kepadanya.
Tidak ingin berlama-lama lagi, Aaron pun nerbalik dan pergi.
__ADS_1
Ketika keluar dari kamar Naura, Aaron melihat ada Ivan yang sedang berjalan menghampirinya kemudian membungkukkan badan memberi hormat.
"Tuan Muda, diinternet dan sosial media ada berita yang membahas Nyonya Muda. Apa kamu ingin mengurusnya?"
Mengingat ucapan Naura, Aaron menyunggingkan senyumnya. "Bukan urusanku! Kalau pun ingin membantunya, kita lihat dulu, apa dia mau dibantu atau tidak!" Jawab Aaron dengan datar kemudian melanjutkan langakahnya menuju ruang kerjanya.
Ivan terdiam sejenak. Dia memikirkan ucapan Tuan Mudanya barusan dan akhirnya dia masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Tuan Mudanya yang sulit ditebak.
Naura berusaha untuk tidak mempedulikan berita yang ada diinternet dan sosial media.
Naura tidak tau, kenapa tiba-tiba Marsha melakukan itu? Dia juga tidak ingin menebak. Yang dia tau, Evelyn sudah tau kalau dirinya menggantikan Marsha menikah dengan Aaron Daffa. Mungkin setelah ini, Evelyn akan langsung memotong lehernya.
Meskipun tau kalau Evelyn akan memotong lehernya, tapi Naura masih ingin menemuinya karena mereka sudah membuat janji bertemu di sebuah kafe yang ada dipinggiran kota.
Evelyn adalah seorang artis yang sudah punya banyak sekali penggemar disosial media. Kalau pergi ketempat yang ada banyak orang, takutnya akan ada penggemarnya yang mengenalinya.
Saat Naura tiba di kafe tersebut, dia sudah melihat Evelyn yang tiba lebih dulu darinya.
Evelyn memakai maker, dan rambut panjangnya digelung keatas. Memakai jaket tebal berwarna soft pink. Evelyn selalu memperhatikan penampilannya. Dia terlihat rapi. Ditambah wajahnya yang cantik, setiap orang yang melewatinya selalu melirik dia.
Sudah sejak dulu, dari saat masih sekolah, Evelyn sudah seperti ini. kemanapun dia berjalan, akan menjadi pusat perhatian. Dia bisa dengan mudah menarik perhatian orang.
"Sudah menuggu lama ya?" Tanya Naura sambil duduk didepan Evlyn dengan sedikit tidak enak hati.
"Kamu ini kan sekarang sudah menjadi Nyonya Muda Ardinata dan orang kecil sepertiku ini, sudah sewajarnya kalau harus menunggu kamu." Ucap Evelyn dengan pelan sambil bersedekap duduk bersandar disofa menatap Naura.
Naura terdiam tidak tau harus bicara apa.
...__________...
__ADS_1