Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#52


__ADS_3

Ada seorang rekan kerja yang menghampiri Naura. "Naura, manajer menyuruhmu ke ruangnya sekarang. Katanya, ada yang ingin dia bicarakan denganmu." Ucap rekan kerja itu.


Naura tersenyum. "Oke, aku mengerti. Terimakasih ya."


Rekan kerja itu sebenarnya ingin bicara lagi kepada Naura, tapi dia mengurungkan niatnya. Semoga kamu beruntung. Batinnya.


Naura sebenarnya sama sekali tidak takut dengan manajer itu. Naura merasa kalau manajer itu tak lebih hanya seseorang yang cuma bisa menjilat orang saja.


Apalagi, sejak awal Naura sudah mempersiapkan diri.


Naura beranjak ke ruangan kantor manajer. Dia mengetuk pintu ruangan itu.


"Masuk!"


Naura pun mendorong pintunya dan masuk.


"Naura, kemarilah dan lihat. Ini bahan yang sudah aku buat, nanti kamu bawa untuk dipelajari."


Kedengarannya manajer ini mulai sok akrab.


"Baik, terimakasih Pak." Ucap Naura kemudian mengulurkan tangannya ingin mengambil dokumen tersebut.


Manajer itu sengaja meraba tangan Naura. "Tidak perlu buru-buru. Ayo, kita bahas kerjaan dulu."


Naura terdiam tanpa mengeluarkan suara. Dia ingin menarik tangannya, tapi manajer itu mengeratkan genggamannya. "Ayo sini, duduk disebelahku, duduk agak dekat biar lebih enak bicaranya."


Ini tidak bisa dibiarkan. Wajah Naura terlihat dingin. "Pak, tolong lepaskan tangan saya!"


Manajer itu mengira kalau dia sudah cukup memberikan Naura petunjuk. Tapi, dia tidak menyangka kalau ternyata Naura tidak peka.


Manajer itu pun mulai kesal dan tidak sabar. Dia pun menarik Naura menggunakan tangan satunya lagi dengan kuat kemudian melingkarkan lengannya dipinggang Naura. "Tadi kamu sudah mendengar apa yang dikatakan Nona Marsha kan? Kalau kamu patuh dan bisa membuatku senang, maka aku tidak akan mempersulitmu."


"Oh, begitu ya?" Ucap Naura sambil tersenyum melihatnya. Kemudian satu tangannya merogoh saku jasnya.


Manajer itu mengira kalau Naura ingin melakukan sesuatu. Dia pun mendekat ingin menciumnya, tapi sebelum dia mendekat, dia merasakan seluruh tubuhnya mati rasa. Matanya melotot sambil menunjuk Naura. "Kamu...apa yang...kamu lakukan?!" Bentaknya dengan suara terputus lalu dia jatuh kelantai dengan keras. 'Brukkk!'


Naura menyimpan kembali stun gun miliknya itu kedalam mantel yang dipakainya. Dia menginjak tubuh manajer yang tergeletak dilantai lalu mengambil dokumen di atas meja kemudian segera pergi keluar dari sana.


Setelah kejadian yang pernah dia alami di Bar 99 waktu itu, Naura menjadi lebih berhati-hati lagi sekarang.

__ADS_1


Beberapa rekan kerjanya yang berada diluar menatap terkejut pada Naura karena Naura bisa keluar dari ruangan manajer dengan cepat.


Melihat mereka yang menatapnya dengan tatapan terkejut, Naura membalas dengan senyuman manisnya. Kemudian dia kembali duduk. Begitu duduk, ponselnya berdering ada panggilan masuk.


Naura melihat nomor yang sedang memanggilnya sedikit familiar, tapi juga sedikit asing.


Sebenarnya, Naura enggan mengangkat panggilan teleponnya, tapi karena setiap hari dia selalu bertemu dengan orang ini, akhirnya dia terpaksa mengangkatnya. "Ada urusan apa menelponku?"


Aaron merasa suara Naura terdengar begitu dingin. Seketika dia merasa menyesal saat pertama kali bertemu dengan Naura dan dia memperkenalkan dirinya sebagai adik sepupunya.


Tapi, kalau sejak awal Naura tau dirinya adalah Aaron Daffa, mungkin dirinya tidak akan mendapatkan hal-hal yang menarik.


"Bagaimana hari pertama kerja?" Suara Aaron juga terdengar acuh.


Naura menghentikan gerakan tangannya yang sedang membalikkan halaman dokumen yang dia lihat. Dia merasa kalau laki-laki ini meneleponnya hanya sekedar ingin tau bagaimana keadaannya dihari pertamanya bekerja?


Naura menutup dokumennya. "Kamu menelponku hanya ingin menanyakan hal ini?"


"Aku hanya ingin mengingatkanmu kalau kamu masih berhutang makanan kepadaku. Lebih baik menentukan hari dulu, takutnya nanti bertabrakan dengan kegiatan yang lainnya. Kalau begitu malam ini saja. Pulang kerja, aku akan menjemputmu." Ucap Aaron kemudian langsung menutup sambungan teleponnya tanpa memberikan kesempatan Naura untuk menolaknya.


Naura terpaku sejenak. Dalam hati dia bertanya-tanya. Tadi pagi, dia berbicara tidak baik terhadap 'Samuel'. Seharusnya 'Samuel' marah kepadanya lalu memikirkan cara untuk berbaikan dengannya.


Hal ini membuat Naura merasa sedikit bingung.


Seketika Naura tersadar dari lamunannya saat mendengar ada rekan kerjanya berteriak. "Kalian cepat kesini! Pak manajer pingsan di ruangannya!"


Jarak antara ruangan manajer dengan ruangan Naura tidak jauh. Naura mendongak, melihat ada rekan kerja wanita berdiri dipintu sedang memanggil orang-orang.


Naura kembali menundukkan kepalanya untuk menyamarkan kehadirannya.


Akhirnya, Pak manajer dilarikan ke rumah sakit.


Diam-diam, Naura meraba stun gun keren miliknya disaku mantelnya. Hatinya merasa puas. Stun gun ini benar-benar sangat hebat. Bisa membuat seseorang langsung masuk rumah sakit.


Pak manajer dibawa ke rumah sakit, hingga sore tidak kembali lagi. Naura merasa, hari ini bisa melewati hari dengan tenang.


Saat pulang kerja, Naura bertemu Marsha di pintu lift.


Seharian ini, Naura hanya membaca dokumen. Dia merasa sedikit lelah dan tidak ada tenaga untuk bertengkar dengan Marsha. Karena itu, dia sedikit mundur kesamping membiarkan orang lain masuk kedalam lift lebih dulu.

__ADS_1


Ternyata Marsha tidak masuk kedalam lift dan didepan pintu lift hanya ada mereka berdua, Naura dan Marsha.


Mereka berdua hanya diam dan tidak ada satu dari mereka yang berinisiatif untuk memulai percakapan.


Pintu lift kembali terbuka. Mereka berdua masuk. Setelah masuk, Marsha menoleh menatap Naura dengan acuh. "Apa ada supir yang menjemputmu pulang? Kalau tidak ada, Lucky nanti akan mengajakku untuk makan malam, sekalian mengantarmu pulang."


Mendengar ini, Naura menatap Marsha dengan heran.


Ternyata, Lucky dan Marsha sudah kembali berhubungan?


Merasa kalau Naura sedang menatapnya, Marsha dengan rasa penuh percaya diri mengangkat dagunya, terlihat lebih arrogant.


"Tidak ada." Jawab Naura dengan datar. Setelah menjawab, Naura baru teringat kalau 'Samuel' tadi mengatakan akan datang menjemputnya.


Sebelumnya, Marsha dan Merlin selalu salah paham dengan hubungan Naura dengan 'Samuel'. Mereka mengira kalau Naura dan 'Samuel' berselingkuh. Dan sekarang, kalau sampai Marsha melihat 'Samuel' datang menjemputnya, bukankah........


Memikirkan ini, seketika Naura merasa pusing.


Pintu lift terbuka. Marsha keluar dan Naura berjalan dibelakangnya sambil diam-diam menelepon 'Samuel'.


Aaron dengan cepat mengangkat panggilan telepon dari Naura dan langsung bicara sebelum Naura bersuara. "Kamu ingin membatalkan janjimu untuk mentraktir aku dan membawa kabur ATM milik kakak sepupuku?"


Naura mengatupkan bibirnya dan terdiam.


Laki-laki ini benar-benar. Tidak bisakah dia bicara lebih baik sedikit kepadanya?😑


Eh, tunggu dulu....!😐


"Sekarang kamu sedang dimana?" Tanya Naura dengan rasa curiga.


Sebenarnya, Aaron sudah sampai di depan perusahaan Affandi menunggu Naura. Kalau tidak, bagaimana bisa dia berkata kalau Naura "diam-diam kabur".


"Didepan pintu perusahaan Affandi. Kalau memang tidak kabur diam-diam, cepat sedikit! Kalau kemalaman, tidak akan dapat tempat!" Jawab Aaron sambil menatap kearah pintu perusahaan Affandi kemudian langsung menutup teleponnya.


Naura menelponnya lagi, tapi Aaron langsung merejectnya.


Naura hanya ingin mengulur waktu sebentar baru kemudian keluar dari perusahaan. Berharap kalau Marsha dan Lucky sudah pergi.


Naura tidak ingin kalau sampai Marsha melihat 'Samuel' datang menjemputnya, bisa saja Marsha akan menyebarkan gosip, mengatakan kalau dirinya seorang wanita penggoda, menggoda adik sepupu suaminya dan lain sebagainya.

__ADS_1


...__________...


__ADS_2