
Karena ini hari jumat, Naura sama sekali tidak berencana untuk langsung pulang. Dia menunggu Samuel datang untuk pergi ke supermarket bersama.
Begitu Samuel naik mobil, dia berkata penuh semangat. "Merdeka!"
"Ada apa?" Tanya Naura.
"Minggu depan sudah libur." Jawab Samuel kemudian terbaring kaku di kursi belakang dengan wajahnya yang terlihat sangat senang.
Naura dengan kejam mengingatkannya. "Sebelum libur bukannya harus mengikuti ujian dulu?"
Samuel langsung terdiam.
……
Naura dan Samuel membeli banyak sekali barang di supermarket.
Setengah diantaranya adalah cemilan milik Samuel.
Kalau menurut kata-katanya, liburan musim panas akan segera tiba dan harus dinikmati baik-baik.
Naura baru saja mengeluarkan dompetnya untuk membayar, tapi dompetnya langsung dimasukkan kembali ke dalam tas oleh Samuel. "Tidak masuk akal jika wanita yang membayar saat pergi bersama dengan pria. Biar aku saja!"
Naura terdiam.
Apakah dia lupa bahwa dirinya adalah seorang pria saat dia tinggal di kontrakannya dan makan minum dengan gratis?
Uang yang dimiliki Samuel semua dihasilkannya dengan cara membantu orang lain mengerjakan tugas atau dari permainan gamenya, dia juga cukup lelah. Tentu saja Naura tidak tega menghamburkan uang pria itu. Tapi sayangnya, Naura tidak berhasil membujuk Samuel.
Tuan muda yang berada dalam masa remajanya ini terlihat kurus sampai seperti seekor kera. Namun, tenaganya sangat besar. Dengan kuat, Samuel menghalangi Naura supaya dia sendiri yang membayar.
Naura hanya bisa menyerah. Apalagi belanjaan miliknya hanya beberapa ratus ribu saja. Begitu mereka kembali, Naura akan membelikan beberapa barang untuk Samuel.
……
Malam harinya.
Naura baru saja menata lauk pauk yang sudah selesai dimasaknya di atas meja makan saat dia melihat Aaron yang dari luar berjalan masuk ke ruang makan dengan raut wajah yang tidak senang.
"Kenapa?" Tanya Naura.
"Paman bilang besok malam akan mengadakan acara perjamuan makan malam di Star Light, dan dia disuruh membawamu ikut." Tidak tau dari mana Samuel muncul dan langsung menjawab pertanyaan Naura.
Naura menatap Samuel setengah percaya, lalu bertanya pada Aaron. "Perjamuan makan apa?"
Aaron masih tidak bicara, dia duduk didepan meja makan.
"Kamu tidak ingin pergi?" Tanya Naura lagi.
Ekspresi Aaron sudah sangat menunjukkan bahwa dia sebenarnya tidak ingin pergi.
Samuel mendekat ke telinga Naura dan berbisik. "Kakak sepupu tidak ingin bertemu dengan paman."
Aaron tidak cocok dengan Faisal Ardinata, ayahnya. Sedikit banyak Naura juga dapat terpikirkan alasannya.
Salah satu alasannya tentu saja ada hubungannya dengan ibu Aaron. Namun Naura sudah tidak terlalu paham akan detail kondisi ini.
……
__ADS_1
Kembali ke dalam kamar, raut wajah Aaron masih tetap dingin.
Naura menghampiri dan membantunya melepaskan dasi. "Kalau kamu tidak ingin pergi ya tidak usah pergi. Bagaimanapun juga, dia tidak akan memaksamu."
Aaron sedikit membungkuk untuk menyelaraskan dengan tinggi Naura supaya wanita cantik itu mudah melepaskan dasinya.
Akan tetapi, bersamaan dengan dia membungkukkan tubuh, sepasang lengannya merangkul pinggang wanitanya dengan hasrat memiliki.
Naura langsung memelototinya tanpa bisa berkata apa-apa. "Lepaskan!"
Bukan hanya tidak melepaskannya, Aaron malahan lebih mendekatkan diri sambil tangannya mengerayapi punggung Naura. "Dasi saja sudah dilepaskan, bajunya sekalian tidak dilepas?"
Naura mendorongnya. "Mimpi saja sana!"
"Kalau begitu, aku saja yang membantumu melepaskan." Sambil bicara, jari jemari Aaron yang panjang yang semula ada dibelakang punggung meluncur ke bagian depan.
Napas hangat memenuhi ruangan dan hanya tersisa selembar kemeja yang membalut tubuh Naura saat dia masuk ke kamar.
Jemari Aaron dengan mulus meluncur dari kerah kemeja Naura dan dengan gerakannya yang mulus, kancing kemeja Naura pun terbuka secara teratur.
Naura merasa, begitu pria ini menutup pintu kamar, dia menjadi orang yang tidak punya rasa malu, yang tidak ada bandingannya.
……
Hari sabtu malam.
Naura duduk di sofa diruang tengah, di depannya berdiri sebaris penata rias, penata gaya dan penata busana.
Dan sedikit di belakang mereka adalah barisan gaun.
"Tuan Muda Ardinata yang menyuruh."
Walaupun Naura sendiri tau selain Aaron tidak mungkin ada orang lain yang bisa mengantarkan barang-barang ini. Tapi, tetap saja Naura merasa sedikit kesal.
Semalam, dia sudah bertanya pada Aaron mau pergi ke perjamuan makan malam atau tidak. Namun pria itu tidak menjawabnya secara lugas sehingga dia mengira pria itu tidak ingin pergi sehingga dia pun tidak menaruh perhatian lagi pada acara perjamuan makan malam itu.
Sekarang kalau Aaron menyuruh orang untuk mengantarkan barang-barang ini, sudah jelas artinya ini semua untuk persiapan perjamuan makan malam.
Sedangkan Naura malah sama sekali tidak ada persiapan.
"Nyonya, kita tidak punya banyak waktu. Apakah sebaiknya kita mencoba baju-baju ini sekarang?" Ujar sang penata gaya.
"Tidak perlu terburu-buru, tunggu sebentar lagi." Selesai Naura bicara, dia mengeluarkan ponselnya, Aaron ternyata menelponnya terlebih dahulu.
Naura mengangkat teleponnya, namun tidak bersuara.
Aaron yang ada di ujung telepon sana pun terdiam sejenak, kemudian berkata. "Kamu sudah mencoba gaunnya?"
"Belum." Jawab Naura sambil sebelah tangannya yang kosong meminkan kukunya dengan asal, nada suaranya terdengar masa bodoh.
Aaron tentu saja dapat mendengar ketidaksenangan hati istrinya itu.
Dia seperti tertawa ringan sejenak, kemudian berkata. "Anggap saja aku memohon kepadamu sekali ini untuk menghadiri perjamuan makan malam. Aku akan mengabulkan satu permohonanmu."
Gerakan Naura yang sedang memainkan kukunya pun langsung terhenti. "Sungguh?"
"Ya." Aaron menyetujuinya.
__ADS_1
Naura menegakkan postur duduknya, menyunggingkan senyum dan berkata. "Kalau begitu---tidur di kamar terpisah saja!"
"Tidak mungkin." Aaron langsung menolak permintaannya.
Naura pun kembali bersandar di sofa, tau pria ini tidak mungkin semudah itu menyetujuinya. "Kalau begitu, tidak ada yang bisa didiskusikan lagi. Aku tidak akan pergi ke perjamuan makan malam!"
Siapa yang tidak akan marah?!
Walaupun Aaron dengan tiba-tiba memutuskan untuk pergi, tapi bagaimanapun juga seharusnya pria itu memberitahunya lebih dulu, bukan?
Masa seperti ini? Langsung menyuruh segerombol penata rias datang, bahkan tidak menanyakan pendapatnya, dan menggantikannya membuat keputusan! Siapa yang memberikan hak kepadanya?!
Kalau Aaron menyuruhnya pergi, maka Naura harus pergi?
Tidak salah Aaron bersikap percaya diri, tapi kediktatorannya terlalu kuat.
Sedangkan Naura, tidaklah sama seperti Merlin.
Dia tidak bisa melakukan apa yang Merlin lakukan, dimana Fajar mengatur semua kehidupannya. Bukan hanya tidak pernah mengeluh, tapi malah masih dapat merasa bahagia ditengah-tengah kehidupannya.
Naura langsung menutup teleponnya.
Dia melihat ke arah barisan para penata rias dan busana yang berdiri didepannya, lalu berkata. "Kalian pulanglah, aku tidak membutuhkan barang-barang ini."
……
Aaron memandangi ponsel ditangannya, dimana teleponnya baru saja ditutup oleh Naura. Matanya berkilat termangu.
Naura menutup telepon darinya?
Walaupun dia sudah terpikir akan kemungkinan Naura tidak senang hati atas dirinya yang secara mendadak membuat keputusan agar Naura menghadiri acara perjamuan makan malam, tapi dia tidak menyangka istrinya akan sekeras itu.
Ini benar-benar diluar perkiraannya.
Perjamuan makan malam akan dimulai pukul delapan malam, dan sekarang baru pukul enam sore. Masih ada waktu sekitar dua jam sebelum dimulai.
Waktu yang tersisa tidaklah banyak. Aaron bangkit berdiri sambil mengambil jaketnya dan berjalan keluar.
Sementara Christian datang dengan memeluk setumpuk dokumen dan segera menahan Aaron begitu melihat bahwa pria itu akan pergi. "Kamu mau pergi kemana? Semua ini masih belum selesai dikerjakan!"
Siapa juga yang ingin lembur di hari sabtu? Kalau saja bukan karena ini adalah pekerjaan darurat dan sedang sibuk-sibuknya, dia juga tidak mungkin datang.
"Tidak banyak waktu yang tersisa, kamu saja yang selesaikan." Aaron menepuk-nepuk pundak Christian dan dengan serius kembali berkata. "Kalau gerakanmu sedikit lebih cepat, sebelum jam 12 pasti bisa pulang."
Christian termangu, kenapa nada suara Aaron terdengar seperti pulang sebelum jam 12 malam saat lembur di hari sabtu itu termasuk pulang cepat?
Christian akan segera menangis. "Aishh, sebenarnya ini perusahaan siapa?!"
Aaron sudah berjalan ke pintu, namun dia menoleh dan berkata dengan lembut. "Punyamu."
Christian marah sampai lidahnya terasa kelu, tapi dia juga tidak membuang dokumen yang ada ditangannya ke lantai. Dia menjatuhkannya ke atas meja kerjanya lalu menunjuk Aaron. "Aku yang sudah hidup setua ini, tidak pernah bertemu orang yang tidak tau malu melebihi dirimu!"
"Kamu terlalu berlebihan."
Christian seketika terdiam dan hanya bisa membiarkan Aaron pergi. Dia juga merasa putus asa karena tidak pernah bisa menang bertarung melawan Aaron.
...----------------...
__ADS_1