
Keesokan harinya, Aaron membuka matanya dan merasakan ada seseorang di lengannya. Terasa hangat dan lembut menempel di dadanya. Mereka berdua saat ini berada dalam posisi intim.
Mabuk membuatnya merasa bingung seketika.
Wajahnya langsung muram. Tetapi tidak lama kemudian, dia mencium aroma Naura dan dia menyadari bahwa dirinya berbaring dikamar tidur rumahnya.
Alisnya tidak mengerut lagi, dia menatap wanita cantik yang saat ini berada di pelukannya.
Naura merawat Aaron tadi malam, dan dia tidur larut malam. Jadi, sekarang dia masih belum bangun, masih tertidur lelap.
Rambutnya yang panjang terurai. Rambut hitam dan halus menyebar di bantal. Dia mengenakan piyama warna putih. Wajahnya tampak memerah karena panas selimut. Dia tidak terlihat mempesona seperti setelah make-up biasanya. Tapi sebaliknya, itu malah menambahkan sedikit kekanak-kanakan dan keimutannya.
Aaron mengulurkan jarinya dan menyentuh ujung hidung Naura. Dia tersenyum dan bergumam. "Gadis kecil."
Seorang gadis kecil empat tahun lebih muda darinya.
Dia menatap Naura untuk waktu yang lama. Kemudian dia tidak bisa menahan dirinya, menundukkan kepalanya dan menciumnya dari alisnya ke ujung hidungnya. Kemudian dari ujung hidungnya turun ke dagunya.
Saat dia sudah mulai tergoda, Aaron segera turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
Setelah mandi, Aaron segar kembali. Melihat Naura masih tertidur, dia tidak bisa menahan diri untuk berjalan mendekatinya dan menatapnya lagi. Dia membantunya menyelipkan sudut selimut, kemudian berbalik untuk mengganti pakaiannya diruang ganti.
……
Naura dibangunkan oleh perutnya yang lapar.
Dia mengelus-elus perutnya dan duduk dari tempat tidur. Tiba-tiba dia teringat apa yang terjadi tadi malam. Dia menoleh untuk melihat ke sampingnya, dan menyadari di situ kosong. Lalu dia merasakan ada perasaan lega yang tidak dapat dijelaskan.
Pada saat yang sama, dia juga merasa sedikit kecewa.
Setelah melihat waktu sejenak, ternyata sudah jam sepuluh.
Aaron tidak memiliki kebiasaan bermalas-malasan ditempat tidur, dia selalu bangun pagi.
Setelah membersihkan diri, Naura mendengar suara pintu diketuk.
Orang-orang yang tinggal di rumah Aaron ini, yang mengetuk pintu hanyalah para pengawal. Naura bertanya dari dalam kamar, "Ada apa?"
Yang menjawab bukanlah suara dari seorang pria, melainkan suara seorang wanita. "Nyonya muda, apakah Anda akan turun untuk sarapan sekarang, atau aku akan membawakan sarapannya ke kamar?"
Sejak kapan ada pelayan datang ke rumah?
Naura berjalan dan membuka pintu. Ternyata dia melihat seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan sedang berdiri didepan pintu.
Wanita paruh baya itu tertegun sesaat ketika melihat Naura. Kemudian dia menundukkan kepala dan menyapanya dengan hormat. "Nyonya muda."
"Anda siapa?" Naura sangat ingat bahwa tidak ada pelayan didalam rumah ini.
"Aku Mei. Jika Nyonya muda tidak keberatan, Anda bisa memanggilku Bibi Mei."
Wanita paruh baya itu tersenyum dan sikapnya ramah.
__ADS_1
"Baiklah, Bibi Mei." Naura memanggilnya, kemudian bertanya. "Dimana Aaron?"
"Tuan Muda ada diruang kerja. Anda bisa kesana untuk mencarinya." Jawab Bibi Mei dengan tersenyum ramah.
Hanya mendengar beberapa kata saja, itu sudah membuat Naura mengerti bahwa Bibi Mei ini bukanlah pelayan biasa.
Naura segera mengganti pakaiannya dan pergi ke ruang kerja Aaron.
Dia mendorong pintu ruang kerja Aaron dan melihat Aaron sedang duduk didepan komputernya.
Aaron tidak menoleh, tetapi dia tau bahwa Naura yang masuk ke ruang kerjanya. "Apa kamu sudah sarapan?"
Naura menjawab dengan ragu-ragu. "Belum."
Apa yang terjadi semalam, membuat suasana hati Naura menjadi sangat rumit.
Dia merasa seperti ada dua orang yang sedang menariknya. Yang satu menyuruhnya untuk tetap tegas dengan pemikirannya sendiri, jangan mencintainya dan jangan bermesraan dengannya. Menjadi suami istri yang saling menghormati dengan Aaron sudah cukup.
Sedangkan yang satunya lagi, dia merasa Aaron sangat mempercayainya dan dia pasti ada di hatinya.
Dia ditarik sampai merasa sedikit kesal.
Ketika Aaron mendengar jawaban Naura, dia mengangkat pandangannya dan menatap Naura. Dia sedikit mengernyit. "Pergi sarapan dulu."
Ekspresi wajahnya kembali menjadi sedingin es seperti biasanya, tidak ada bayangan seperti semalam sedikit pun.
Naura menghela nafas dan bertanya kepadanya. "Apa kamu yang merekrut Bibi Mei?"
"Dia dulu pernah merawat ibuku, keahliannya sangat bagus, ibuku juga sangat menyukainya. Kemudian ibuku meninggal, dan dia juga mengundurkan dirinya dan pulang ke rumahnya."
Setelah mengatakan itu, Aaron secara khusus menjelaskan. "Tidak ada pelayan di rumah, itu sangat tidak nyaman."
Naura mengerjapkan matanya. Jika dia tidak salah mengartikannya, Aaron deminya, dan sengaja meminta Bibi Mei untuk kembali bekerja?
Keraguan dan pemikiran Naura, semua tercermin di wajahnya. Aaron berdehem dan wajahnya menjadi muram. "Sana pergi sarapan."
"Oh." Naura berbalik dan berjalan perlahan menuju ke arah pintu untuk keluar.
Di tengah perjalanan menuju pintu, dia tiba-tiba berhenti, tersenyum seperti rubah kecil. "Aaron, apakah kamu tau apa yang kamu lakukan tadi malam?"
Aaron sedikit menyipitkan matanya. "Apa?"
Ketika Aaron berada di Star Light kemarin, dia memang memiliki ide memakai alasan mabuk untuk berbaikan dengan Naura.
Namun, kandungan alkohol jauh lebih kuat dari yang dia duga, dan dia benar-benar mabuk.
Dia tau bagaimana dia bisa pulang, dia juga tau bahwa Nauralah yang membantunya mengganti pakaiannya. Tetapi, beberapa detail kecil seperti apa yang pernah dia katakan, dia tidak begitu ingat.
"Bukan apa-apa. Aku pergi sarapan dulu." Melihat ekspresi wajahnya yang tidak berubah, Naura sudah tau bahwa Aaron tidak mengingatnya.
Baguslah Aaron tidak mengingatnya. Jika Aaron mengingatnya, tidak tau apakah Aaron akan memukulnya atau tidak!
__ADS_1
Ketika Naura sedang makan di ruang makan, Aaron juga turun.
Naura memakan bubur ayam sambil meliriknya dengan sudut matanya.
Apa yang akan dilakukan pria ini lagi?
Aaron duduk didepannya dengan ekspresi serius. Dia merenung sejenak, kemudian berkata. "Bukan kamu yang mirip dengannya, melainkan dia yang terlihat mirip denganmu."
"Ha?" Naura menatapnya dengan sendok dimulutnya.
Apanya dia seperti kamu, kamu seperti dia?
Aaron tidak menjelaskan lagi kepadanya. "Aku hanya akan mengatakan sekali saja, berhenti berpikir yang aneh-aneh lagi."
"Apa maksudmu?" Naura mengeluarkan sendok dari mulutnya dan bertanya dengan suara tertegun.
"Aku sudah mengatakannya, hanya kukatakan sekali saja."
Meskipun wajah Aaron tenang, matanya tampak tidak nyaman melihat arah lain.
Tanpa menunggu Naura berbicara, dia bangkit berdiri. "Aku masih ada urusan yang harus diselesaikan. Kamu makan saja."
Naura melihat punggung Aaron yang menghilang dari pintu ruang makan, kemudian dia baru sadar setelah itu, apa maksud Aaron.
Tidak mungkin dia masih mau mengurus makanan. Dia melempar sendoknya dan berlari mengejarnya.
Naura berlari mengejar Aaron dan berhenti didepannya. "Jelaskan apa yang baru saja kamu katakan."
"Aku sudah mengatakannya dengan sangat jelas." Aaron masih dengan wajah tanpa ekspresinya.
Naura tidak membiarkannya, dia mendongak menatap Aaron dan bertanya. "Siapa yang kamu katakan mirip seperti aku?"
Aaron menoleh ke samping tidak berbicara.
Hati Naura mulai berbunga-bunga, meskipun dia tau yang dimaksud adalah Caroline mirip seperti dirinya. Tetapi, Naura takut salah mendengarnya. Dia ingin mengkonfirmasinya lagi.
tapi Aaron adalah orang yang tegas. Dia mengatakan bahwa dia hanya akan mengatakannya sekali saja, tidak akan diulangi lagi.
Naura meraih tangannya dan menahan bibirnya.
Dia pernah menonton sebuah video, seperti seorang gadis centil dalam serial TV, bagaimana cara dia centil?
Naura menahan tangannya dan berbisik. "Bolehkah, kamu mengatakannya lagi...."
Aaron mengerutkan kening, melepaskan tangannya dengan jijik. "Aku masih ada urusan."
"......" Katanya mau menggombali pria itu?
Haha!
Naura menarik napasnya dalam-dalam, tersenyum lagi dengan bibir terangkat. Kemudian berlari ke ruang makan dengan sandal jepitnya.
__ADS_1
Aaron naik ke lantai dua dan meletakkan satu tangannya di pagar besi pembatas, melihat Naura berlari ke ruang makan dengan senyum diwajahnya, kemudian secara tidak sadar Aaron ikut tersenyum.
...----------------...