
Setelah melihat Naura, kedua wanita itu menjadi panik. Kemudian berpura-pura tenang dan menyapanya.
"Istri Tuan Muda Ardinata."
"Apa yang dibicarakan oleh kalian berdua? Aku juga ikutan, ya? Kalian tidak keberatan, kan?" Naura langsung duduk ditengah-tengah kedua wanita itu, menegakkan kepala dan dadanya, tangannya ditaruh diatas gaunnya, kedua kaki jenjangnya bersilang, memperlihatkan postur duduk yang begitu anggun.
Dulu, Naura juga pernah ikut kelas etiket ketika masih kuliah. Kalau tidak, dia pasti akan merasa ketakutan datang ke pesta perjamuan seperti ini.
Wajah kedua wanita itu tampak canggung, mereka tau bahwa Naura sudah mendengar percakapan mereka yang barusan.
Orang yang punya sedikit kedudukan, membicarakan orang lain dibelakang, kemudian mereka tertangkap basah dan mereka merasa sangat malu.
"Istri Tuan Muda Ardinata bercanda, ya? Anda bersedia mengobrol bersama kami, kami tentu saja sangat bersedia." Salah satu wanita dari mereka berkata dengan cepat.
Wanita satunya juga dengan cepat menyahut. "Iya, Istri Tuan Muda Ardinata, kulitmu sangat bagus, bagaimana cara kamu merawatnya?"
Kulit Naura sangat putih bersih dan halus, dia merasa iri melihatnya.
"Perawatan?" Naura menoleh kesamping melihatnya, matanya menatap lebar-lebar, menunjukkan ekspresi terkejut. "Aku tidak pernah melakukan perawatan, ini alami."
Setelah Naura selesai mengatakannya, dia menatap wanita itu sebentar, kemudian memandangnya dengan rasa ingin tau. "Dagumu sangat indah, apakah ini alami?"
Wanita itu menjawab dengan sangat bangga. "Tentu saja."
"Oh? Jika aku mengetuknya, tidak apa-apa kan?" Naura menunjukkan ekspresi bersemangat.
Di akademi perfilman, kecantikan alami tidak dibutuhkan. Wajahnya sudah pernah dioperasi dan itu terlihat jelas.
Seketika wajah wanita itu berubah setelah mendengarnya. "Ini...daguku...sebelumnya sedikit terluka. Istri Tuan Muda Ardinata, kamu ringan sedikit ya..."
Naura tersenyum. "Baiklah."
Senyuman Naura membuat wanita itu merinding.
Naura mengulurkan tangannya, wanita itu sangat panik dan langsung menutup wajahnya. Tidak disangka karena dia terlalu gugup, telapak tangannya mengenai dagunya.
"Ah--daguku!!" Sontak wanita itu berteriak, bangkit berdiri dan pergi.
Wanita lain yang melihatnya, matanya melotot tak percaya. "Dia....dagunya itu palsu?"
"Iya." Naura mengedipkan mata kepadanya, lalu dia mendekat dengan misterius. "Aku kasih tau kamu diam-diam, *********** juga palsu."
__ADS_1
Mata wanita itu melotot lebih lebar lagi. "Sial! Dia mengatakan dirinya wanita dengan kecantikan yang alami dan mengandalkan wajah palsunya untuk merebut laki-lakiku, brengsek!"
Setelah selesai mengatakan makian, wanita itu bangkit berdiri dan pergi dengan kesal.
Naura: "......"
Dia hanya merasa kesal karena kedua wanita itu mengatakan bahwa wajahnya palsu, jadi dia ingin membalasnya. Tapi, tidak disangka kedua wanita itu malah pergi duluan.
"Aku mencarimu, tidak disangka ternyata kamu ada disini."
Tiba-tiba terdengar suara Kairav, Naura mendongak dan melihat Kairav berjalan mendekatinya.
Mukanya sedikit merah dan sepertinya dia sudah banyak minum.
Naura menggeser duduknya kesamping untuk memberi ruang bagi Kairav untuk duduk.
"Kakak, apa kamu melihat Samuel?" Naura berencana ingin pulang karena sudah tidak ada urusan lagi.
Kairav tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak melihatnya, tidak tau dia pergi kemana tadi. Aku akan menelponnya nanti."
"Baiklah."
Pada saat ini, ada seorang pelayanan lewat, Naura memanggil pelayan itu. "Tolong tuangkan segelas air hangat."
Kairav tiba-tiba tertegun, kemudian berkata, "Tidak terlalu banyak."
Setelah selesai berkata, dia mengulurkan tangan dan meraih gelas di tangan Naura, tetapi malah memegang tangan Naura yang sedang memegang gelas.
Naura merasa tangannya hangat, dia terkejut dan ingin melepaskan tangannya, tapi Kairav sedang memegang tangannya, dia juga sedang memegang gelas, jadi dia tidak bisa melepaskannya.
Naura merasa kesal karena disentuh oleh pria lain, tapi dia berpikir bahwa Kairav sudah banyak minum dan matanya kabur. Kemudian dia mengerutkan keningnya dan berkata dengan sabar. "Kakak, kamu sudah terlalu banyak minum dan kamu memegang tanganku bukan gelasnya."
Kairav seolah-olah tidak mendengarnya, dia malah memegang tangan Naura lebih erat lagi dan sama sekali tidak bermaksud untuk melepaskan pegangannya.
Naura mencoba melepasnya, tapi tetap tidak dilepaskan.
Dia mengerutkan keningnya dan hendak berdiri. Sebuah sosok yang sangat akrab tiba-tiba muncul, dia mengulurkan tangan dan melepas paksa tangan Kairav dan Kairav masih tidak mau melepaskannya.
Naura mendongakkan kepalanya dan melihat wajah suram Aaron.
Aaron melihat Kairav tidak melepaskan tangan Naura, dia pun langsung menarik tangan Naura.
__ADS_1
Kairav memegangnya dengan sangat erat. Ketika tangan Naura ditarik paksa, seluruh punggung jarinya tampak merah, terasa sedikit sakit hingga air didalam gelas tumpah dan sebagian besar tumpah di tubuh Naura.
"Caroline...."
Gaun merah yang indah itu menjadi basah, gaun itu tipis dan sangat tidak enak dilihat ketika basah.
Aaron melepas jasnya dan segera memakaikannya di tubuh Naura, kemudian dia memberi perintah. "Antar kakak pulang!"
Pada saat ini, Naura juga melihat bahwa Ivan juga ikut dibelakang Aaron.
"Kamu...."
Naura ingin bertanya kepadanya kenapa dia datang, akhirnya ketika dia baru ingin berbicara, Aaron sudah menariknya dengan kasar menuju pintu belakang ruang perjamuan.
Posisi mereka saat ini tidak jauh dari pintu belakang ruang perjamuan, Aaron berjalan dengan cepat, dia seperti tidak ingin mendengarkan kata-kata Naura.
Naura ditariknya dengan paksa, setelah berjalan untuk waktu yang lama sambil mengenakan sepatu hak tinggi, kakinya sudah sakit sejak awal. Dia sama sekali tidak bisa mengikuti langkah Aaron. Ketika dia berjalan keluar dari ruang perjamuan, kakinya terkilir.
Naura kesakitan sambil menarik napas dalam-dalam, sedangkan Aaron sedang marah.
Aaron sama sekali tidak memperhatikan kondisi Naura, dia masih terus menariknya menuju ke arah lift.
Naura terkilir sekali lagi.
Dia kesakitan sampai ingin menangis. Dia sudah tidak tahan dan berteriak kepada Aaron. "Lepaskan aku!!"
Aaron baru berhenti pada saat ini. Ketika dia berbalik melihat Naura, wajahnya masih masih suram.
Hanya saja, ketika dia melihat mata Naura yang berkaca-kaca, raut wajahnya segera berubah. Dia menunduk untuk melihat dan bertanya. "Kakimu terkilir?"
Naura tersenyum dingin. "Ini semua berkatmu!"
Aaron berjongkok untuk melihat kakinya. Naura menahan sakit dan mundur selangkah. Dia membungkuk untuk melepaskan sepatunya dan melemparkannya ke arah Aaron, kemudian dia pergi dengan kaki telanjang.
Ada seorang pelayan hotel yang lewat dan menatapnya dengan penasaran.
Naura menatap dingin pelayan itu. "Lihat apa?! Apa kamu tidak pernah melihat orang yang berjalan dengan kaki telanjang?!"
Para pelayan di hotel bintang lima sudah terlatih dengan baik. Pelayan itu segera membungkuk hormat dan berkata, "Maaf, apakah perlu memanggilkan dokter untukmu?"
Naura berbalik untuk melihat Aaron. Pria itu masih berdiri disana dengan ekspresinya yang tidak dapat ditebak.
__ADS_1
Dia menunjukkan senyum mengejek, bahkan seorang pelayan lebih perhatian daripada dia.
...----------------...